Selasa, 24 Januari 2017

Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 22 Januari 2017)

Nak, Pukul Kebodohanmu

Nak, pukul kepalamu
Luka takkan kau temui
dari tanganmu sendiri
Nak, pukul mulutmu
Bicara takkan kau lukai
dari lidahmu sendiri

Nak, lupakan isi kepalamu
Ketika itu,
kau akan bahagia,

“Ibu, aku nampak lebih sehat
Melampaui tanganmu,
mulutmu, lidahmu
Atau bahkan sekujur tubuh
Namun tidak lebih,
untuk menjadi sepertimu,
yang mati-matian memukul
kebodohan-kebodohanku.”

Ibu berkata,
“Hari sudah larut. Lekas tidur.
Robohkanlah rumahmu.
Besok ibu tidak masak lagi.”

Semarang, Januari 2017



Resensi Remang-Remang Kontemplasi oleh Usman Roin (Tribun Jateng, 22 Januari 2017)

Belajar Budaya Lewat Esai

Judul Buku        :  Remang-Remang Kontemplasi: Bunga Rampai 2009-2016
Penulis                :  Setia Naka Andrian
Penerbit              :  Rumah Diksi Pustaka, Kendal
Cetakan              :  November 2016
Tebal                   :  x + 248 halaman
ISBN                   :  978-602-6250-25-4

MEMBACA-esai satrawan kadang membingungkan karena begitu dalamnya kata yang digunakan untuk mewakili ungkapan rasa, ide dan gaya pemikirannya. Hingga, orang awam kadang tidak bisa langsung memahami apa yang disampaikan. Namun siapa sangka melalui buku ”Remang-Remang Kontemplasi” karya Setia Naka Andrian ini, pembaca akan dibawa pada gaya bahasa yang renyah dalam menyikapi persoalan dunia bila ditinjau dari aspek budaya dan sastra. Terlebih, penulis juga fasih soal sastra dan budaya.
Buku ini hadir sebagai pergulatan ide yang ’mahal’, karena dihimpun dari gagasan-gagasan kecil yang muncul untuk kemudian diteruskan melalui sebuah kontemplasi  yang alhasil kemudian disajikan menjadi utuh. Maka saat membaca buku ini pembaca akan mendapati esai dari tiga hal, mulai dari seni budaya, satra, dan pendidikan. Semua esai tersebut punya nafas budaya dan sastra yang begitu kental namun bukan yang membingungkan melainkan lugas, nyata, dan mampu menguliti sebuah ide persoalan yang terjadi tanpa tirai selembarpun.
Buku setebal 248 halaman ini sebenarnya karya yang telah disajikan sudah terlebih dahulu tayang di beberapa media masa. Tentu ini menjadi nilai plus karena secara konseptual pemikiran sudah dilemparkan ke publik untuk kemudian coba dihimpun dalam bunga rampai secara utuh.
Akhirnya, betapa mahalnya nilai buku ini karena gagasan ’yang tercecer’ kemudian coba disatukan menjadi buku dan dihadirkan ke pembaca. Pesannya tidak lain agar saat punya ide segera olah, jangan didiamkan melainkan dilanjutkan dalam kontemplasi yang mendalam. So, buku ini layak dibaca karena mengajak kepada pembaca membangun potensi kreatif diri yang terpendam agar bisa dibaca orang lain.
 


Peresensi  :  Usman Roin
Mahasiswa S2 PAI UIN Walisongo Semarang

dan Penulis Buku ’Langkah Itu Kehidupan’.

Rabu, 18 Januari 2017

Narasi 'Miring' Pendidikan Kita (Wawasan, 18 Januari 2017)

Narasi ‘Miring’ Pendidikan Kita
Oleh Setia Naka Andrian

Lagi-lagi ada kasus yang mencoreng pendidikan kita. Sepertinya tidak pernah ada henti-hentinya persoalan menyelimuti pendidikan kita. Jika tidak persoalan dari dalam, ada masalah terkait kekerasan terhadap siswa yang dilakukan guru,  dan yang dilakukan wali murid terhadap guru. Selanjutnya baru-baru ini masih ada saja didapati hukuman fisik terhadap siswa kita. Mereka terlambat masuk sekolah, lalu diberi hukuman fisik di bawah guyuran hujan deras. Akhirnya membuat mereka tumbang pingsan dan harus menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit.
Melihat kasus tersebut, tentu masyarakat kita tidak akan terima alasan apa pun dari pihak sekolah. Kasus ini, tentu menjadi tambahan untuk deretan persoalan pendidikan kita. Bagaimana akan maju dan berkualitas sesuai cita-cita pendidikan nasional kita, jika masih saja ada hambatan-hambatan. Pastinya segala hal yang merugikan bagi siswa, guru, sekolah, bahkan bagi masa depan pendidikan kita.
Apa pun alasannya, segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun fisik, tak seharusnya dilakukan oleh pengelola sekolah. Sekolah yang tentunya diidamkan bagi siswa sebagai tempat menuntut ilmu, bersosialisasi, berproses kreatif, menemukan jati diri, dan tentu sebagai ruang menjalani proses pendewasaan. Namun, jika masih saja ada suatu hal yang seperti kasus tindak kekerasan di sekolah tersebut. Maka, pendidikan di benak anak didik kita akan menjadi tempat yang membosankan, keras, dan menakutkan.

Butuh Pendidikan Ideal
Masyarakat kita, orangtua murid, barang tentu anak didik kita, sangat butuh pendidikan yang ideal. Seperti halnya yang dicatat Sutari Imam Barnadib (1983), bahwasanya Ki Hajar Dewantara dalam Taman Siswa selalu menitik-beratkan pendidikan yang bertumpu pada pertumbuhan anak didik secara harmonis.
Pendidikan kecerdasan, pikiran, kesusilaan, keindahan, dan keluhuran budi pekerti. Tidak lupa pula terkait pertumbuhan dan perkembangan jasmani. Juga pekerjaan tangan (keterampilan) mendapatkan perhatian, termasuk pendidikan kesenian yang mendapat perhatian istimewa, di antaranya seni suara, seni tari, seni lukis, seni sastra. Meskipun, segala itu perlu penggenjotan terus-menerus.
Laku harmonis dalam pendidikan, keselarasan dalam mensukseskan rencana dan cita-cita pendidikan, tentu yang utama menjadi tanggung jawab bagi pengelola sekolah. Lebih-lebih bagi nakhoda sekolah, yang tentu bertugas memegang komando tertinggi di atas kapal pelayaran pendidikan.
Kita semua pasti juga telah sadar. Masyarakat kita sadar. Bagaimana kondisi anak didik kita sekarang ini. Pola pikir dan segenap pemahamannya tentu berbeda dengan masa-masa anak didik yang hidup pada era 1980 atau 1990. Anak didik kita saat ini seakan merasa telah memiliki banyak pilihan. Segalanya seakan telah terpenuhi, dan dengan mudah mereka peroleh. Apa lagi era cyber seperti sekarang ini. Interaksi mereka terhadap teman sepergaulan, komunitas anak muda, bahkan terhadap dunia luar, segalanya dapat ditempuh hanya dalam hitungan detik.
Informasi tumbuh dan berlangsung dengan begitu cepat. Tentu, segala itu membuat anak didik kita seakan kehilangan kendali, jika memang misalnya, lingkungan tertentu kurang berpihak atau mungkin kurang menyenangkan baginya. Maka selanjutnya, anak didik kita akan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Tidak peduli yang dilakukannya berdampak positif atau negatif.

Memberi "Nilai Lain"
Terkait berderet penggambaran tersebut, sekolah yang dalam hal ini sebagai ruang berproses bagi anak didik kita. Maka, haruslah berupaya atau bahkan harus mampu menciptakan segala yang dibutuhkan anak, agar sekolah mendadi ruang menjalani proses pendidikan yang harmonis tadi.
Paling tidak, kepala sekolah sebagai nakhoda harus memberikan contoh positif. Mampu memberikan kebijakan atas tawaran yang menarik terhadap anak-anak didiknya. Harus sanggup memberikan ‘nilai’ lain, selain proses mengguyur materi pelajaran semata. Sekolah harus memompa penciptaan godaan bagi anak didiknya. Misalnya yang sempat disinggung tadi, terkait penyediaan ekstrakurikuler jasmani dan kesehatan (olahraga), kesenian, atau keistimewaan dukungan terhadap beragam kegiatan positif lainnya.
Setidaknya, godaan tersebut akan menjadi rangsangan lain, agar siswa merasa betah berproses di sekolah. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut, paling tidak akan mengurangi aktivitas mereka di luar sekolah yang kiranya tidak bermanfaat. Kali ini, sekolah perlu mempertimbangkan iklim kegiatan positif bagi segenap anak didik dengan berbagai perlakuan istimewanya. Bukan malah membatasi atau malah melarang mereka. Maka yang berkembang saat ini, sekolah-sekolah sudah mulai berlomba-lomba dalam memberikan godaan atas penyediaan ekstrakurikulernya. Baik ekstra olahraga, kesenian, maupun tawaran aktivitas positif lainnya.***


─Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Bukunya yang telah terbit, “Perayaan Laut” (2016) dan “Remang-Remang Kontemplasi” (2016). Saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku puisi “Manusia Alarm”.

Selasa, 10 Januari 2017

Narasi Bus Masyarakat Kita (Wawasan, 10 Januari 2017)

Narasi Bus Masyarakat Kita
Oleh Setia Naka Andrian

Kita tentu paham, transportasi umum di negeri ini tentu masih meriwayatkan berderet persoalan yang belum kunjung selesai. Terutama di Semarang. Meskipun Pemerintah Kota (Pemkot) telah menciptakan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang dengan patokan tarif yang begitu murah, sekali jalan hanya dengan biaya umum Rp 3.500, dan pelajar hanya Rp 1.000. Namun masih saja menyisakan pekerjaan rumah yang dilontarkan masyarakat. Misalnya saja terkait kenyamanan, ketersediaan bus, serta jalur operasi.
Wali Kota Semarang, Hendar Prihadi (Radar Semarang, Minggu, 8/1) mengungkapkan bahwa pihaknya terinspirasi atas peristiwa ‘Om Telolet Om’ untuk menarik minat masyarakat agar beralih ke transportasi umum. Momen tersebut dimanfaatkan Pemkot dengan meluncurkan armada baru. Godaan diberikan dengan sebanyak 20 armadanya dilengkapi dengan klakson telolet. Akan diluncurkan pada Kamis (12/1) untuk Koridor I Mangkang - Penggaron. Selanjutnya, pada bulan Februari 2017, akan diluncurkan armada Koridor V PRPP – Dinar Mas, dan Koridor VI Undip – Unnes.
Upaya penambahan armada bus BRT serta perbaikan lainnya yang dilakukan Pemkot Semarang, tentu menjadi jalan tersendiri dalam rangka pemenuhan alat transportasi umum yang memadahi. Hal tersebut tentu menjadi godaan tersendiri dan akan membentuk mental masyarakat kita untuk lebih menggemari angkutan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi. Paling tidak, upaya tersebut akan sedikit mengurangi beragam persoalan lalu lintas, termasuk kecelakaan dan kemacetan di jalan raya.
Jika kita simak saat ini, kemacetan yang menggila sudah tidak lagi menjadi milik ibukota semata. Angka kecelakaan lalu lintas pun tiap tahun selalu meningkat. Kota-kota lain seperti Semarang, kini turut serta meramaikan persoalan tersebut. Barang tentu, kecelakaan, kemacetan, hingga kontak emosi bagi para pengguna jalan itu sebagian besar disebabkan karena kepadatan arus kendaraan.

Tak Percaya Angkutan Umum
Selama ini, masyarakat kita seakan tidak lagi percaya dengan keberadaan transportasi/angkutan umum. Mereka berdalih, bahwa dengan menggunakan angkutan umum, perjalanan mereka akan lebih lambat untuk sampai tujuan. Lebih lagi, perihal penyelenggara jasa angkutan umum yang dinilai kerap kurang berpihak kepada masyarakat kita. Serupa dengan sepenggal pengisahan God Bless dalam lagunya Bis Kota berikut.
Kulari mengejar laju bis kota. Belomba-lomba saling berebutan. Tuk sekedar, mendapat tempat di sana. Kucari dan terus kucari-cari. Namun semua kursi telah terisi dan akhirnya aku pun harus berdiri. Bercampur dengan peluh semua orang. Dan bermacam aroma bikin kupusing kepala. Serba salah, nafasku terasa sesak. Berimpitan berdesakan, bergantungan. Memang susah, jadi orang yang tak punya. Kemanapun naik bis kota.
Dalam lagu tersebut, begitu jelas bagaimana bus kota diriwayatkan. Berebut bus kota, kursi penuh, serta bermacam aroma keringat yang membuat udara pengap. Hingga ditegaskan, dengan terpaksa bus kota akhirnya hanya diminati orang-orang tak punya saja. Dikisahkan oleh /rif, dalam pengisahan serupa, bus kota hanya dinikmati bagi orang tak punya saja, Salah Jurusan. Tapi sayang uangku tak cukup. Hanya cukup untuk bayar bis. Tapi sayang uangku tak cukup. Hanya cukup untuk bayar bis kota. Ku terjepit dalam bis. Yang telah penuh beraneka aroma.
Lagu berjudul Bis Kota yang dipopulerkan Franky Sahilatua pun memberikan ruang pengisahan serupa mengenai bus kota. Berikut syairnya, Berjalan di bawah lorong pertokoan. Di Surabaya yang panas. Debu-debu ramai beterbangan. Di hempas oleh bis kota. Bis kota sudah miring ke kiri. Oleh sesaknya penumpang. Aku terjepit disela-sela ketiak para penumpang yang bergantungan. Bis kota sudah miring ke kiri. Oleh sesaknya penumpang. Aku terjepit disela-sela ketiak para penumpang yang bergantungan. Berjalan di bawah lorong pertokoan. Di Surabaya yang panas. Debu-debu ramai beterbangan dihempas oleh bis kota.
Belum lagi yang dikisahkan Slank dalam lagunya berjudul BMW. Kemacetan, kesumpekan, menjadi santapan masyarakat kita. Berikut penggalan syairnya, Kebenaran mau rekaman di Jack Sound. Naik bis dari Potlot ke Pluit. Jalanan berantakan, semberautan. Agak sumpek, macet... Sore hari capek habis rekaman. Naik taksi dari Pluit ke potlot. Biar cepat terpaksa lewat jalan tol. Tetap aje (uughhh) macet...
Beberapa lagu tersebut, setidaknya telah mewakili seabrek riwayat persoalan transportasi umum kita. Bus sebagai salah satu angkutan umum yang sesungguhnya diidamkan masyarakat kita. Namun karena angkutan umum kita banyak menyisakan persoalan, akhirnya mereka lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi.

Mengakar Lama
Walaupun sesungguhnya, narasi bus sudah begitu lama mengakar di benak masyarakat kita. Jika kita tengok, misalnya saja pada anak-anak muda (remaja) sejak era 60-an, mereka telah menggemari dan begitu akrab dengan narasi tentang bus. Hingga mereka tergiring melalui pengisahan syair Koes Plus dalam lagu Bis Sekolah, dalam penggalan berikut. Bila ku pergi bersama kekasihku. Ku kan merasa gembira riang slalu. Bila menunggu sendiri. Sendiri hatiku sunyi. Dan hatiku kan bernyanyi. Bernyanyi lagu sepi. Bis sekolah yang kutungu. Kutunggu tiada yang datang. Ku telah lelah berdiri. Berdiri menanti nanti.
Narasi tentang bus bagi masyarakat kita, tentu telah meriwayatkan banyak hal. Dari mulai kritik terhadap gerak roda transportasi, fenomena telolet yang menggila, upaya pemerintah dalam menanggapinya, hingga pada wilayah keindonesiaan. Barang tentu, cerminan masyarakat kita akan begitu nampak ketika berada di bus. Misalnya saja, bagaimana penyikapan ‘kelelakian’ atau ‘kepemudaan’ masyarakat kita. Bagaimana laku kita ketika melihat ada penumpang lain yang berjenis kelamin perempuan, ibu-ibu yang menggendong anak, orang cacat, atau bahkan bagi penumpang yang lebih tua. Kita akan tetap diam saja, pura-pura baca buku, pura-pura memejam (mengantuk), atau kita relakan tempat duduk kita untuk mereka. Walaupun sudah pasti, banyak tempelan di bus yang mengingatkan kita.***


─Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya “Perayaan Laut” (April 2016). Saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku puisi keduanya “Manusia Alarm”.

Selasa, 03 Januari 2017

Remang-Remang Kontemplasi

Ada salah seorang teman bertanya kepada saya, "Kenapa kamu menulis?" Saya jawab, "Karena saya bodoh." Lalu ia bertanya lagi, "Kenapa bodoh, buktinya kau bisa menulis banyak hingga terkumpul menjadi buku?" Saya jawab lagi, "Karena bibir saya terbatas, ingatan saya terbatas, tenaga saya pula, usia saya tentu juga terbatas. Dengan tulisan, dengan karya, segala itu setidaknya akan lebih memanjang."
Pembicaraan kami pun terhenti. Kami sama-sama menyeruput kopi. Saya menghela napas, dalam batin, "Paling tidak, selain kebodohan-kebodohan dan dosa-dosa, ada karya-karya yang ditinggalkan di dunia ini."
Ini kabar kecil, dalam waktu dekat ini, jika tidak akhir bulan Januari ya awal bulan Februari. Saat-saat kalau tidak salah mendekati momen-momen hari kelahiran saya. Maka, buku "Remang-Remang Kontemplasi" ini, kali pertama akan diobrolkan di Teras Budaya Prof. Mudjahirin Thohir Sabranglor Kaliwungu Kendal yang akan diselenggarakan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu. Terkait waktu penyelenggaraan yang pasti, dan siapa saja yang akan didapuk menjadi pemantik obrolan, nanti segera akan diunggah.
Monggo, bagi siapa saja yang berminat hadir, bisa meluangkan sejenak waktunya untuk berjabat sapa dengan kami. Jika berminat dengan buku setebal 250 halaman, berisi tiga bagian: seni budaya, sastra, dan pendidikan, yang hendak diobrolkan ini, silakan bisa inbox, atau sms/wa 085641010277. Harga buku 35 ribu. Terima kasih. Salam.

Rabu, 14 Desember 2016

Menimbang (Ketiadaan) UN (Wawasan, 14 Desember 2016)

Menimbang (Ketiadaan) Ujian Nasional
Oleh Setia Naka Andrian

Saya masih ingat betul, betapa ketakutannya diri saya ini ketika kali pertama hendak menghadapi Ujian Nasional (UN). Yakni pada jenjang pendidikan dasar (SD), saat itu masih disebut Evaluasi Belajar Tahap Nasional (Ebtanas) tahun 2001.  Barangtentu hal itu sangat dirasakan pula oleh siswa saat ini. Jika kita runut beberapa istilah ujian tersebut, di antaranya Ujian Negara (1965-1971), Ujian Sekolah (1972-1979), Evaluasi Belajar Tahap Nasional (1980-2002), Ujian Akhir Nasional (2003-2004), dan Ujian Nasional (2005-sekarang).
Dalam perjalanan panjangnya, deretan ujian tersebut menjadi riwayat momok yang tiada terkira bagi siswa kita. Ujian menjadi sebuah titik akhir yang diyakini sebagai jalan penting. Jalan sangat akhir dan satu-satunya. Seolah proses-proses sebelumnya dan proses lainnya tidak begitu berarti jika sudah hendak berhadapan dengan UN. Mata pelajaran (mapel) lain yang tidak diujikan nasional pun menjadi terabaikan, tidak diajarkan dengan sebagai manamestinya seperti mapel nasional tersebut. Jika saya kala itu hendak UN pada jenjang SD, ya hanya Matematika, bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) saja yang diguyur mati-matian oleh guru kelas saya.
Bahkan, saya ingat betul kala itu. Dari mulai SD hingga SMA, kerap kali pada semester akhir menjelang ujian, segenap siswa diguyur mati-matian untuk menyuntuki mata pelajaran (mapel) yang akan diujikan nasional. Maka tentu, mapel yang tidak diujikan nasional kerap kali dirampas waktunya. Misalnya pada mapel yang dinilai sangat sulit semacam matematika, pagi merampas jam mapel lain, dan siangnya masih ada tambahan jam pelajaran lagi. Bahkan sempat pula, pagi hari ada tambahan jam pelajaran pula sebelum waktu masuk kelas pada jam pelajaran yang semestinya.
Bayangkan, pengisahan tersebut sungguh sangat mengerikan. Tentu hal serupa masih terjadi hingga saat ini. UN menjadi ujian akhir yang menyeramkan. Lebih-lebih, pada masa saya kala itu, tidak ada ujian ulang. Jika tidak lulus ya sudah. Akan mengulang sekolah pada jalur kejar paket, di antaranya Kejar Paket A (SD), Kejar Paket B (SMP), dan Kejar Paket C (SMA). Itu bagi saya sangat mengerikan. Semester akhir menjelang ujian, saya sangat kehilangan waktu bermain. Begitu pula kehilangan waktu untuk sekolah diniah (madrasah) yang biasa dijalankan pada siang hingga sore hari. Lalu malamnya pun, saya juga kehilangan waktu untuk mengaji kepada kiai di kampung halaman. Semua tersita untuk mempersiapkan ujian.
Orangtua pun tentu tak berani mengganggu. Segala aktivitas yang seharusnya dilakukan semacam mencuci baju, membersihkan kamar, semua tidak diperintahkan kepada saya. Sungguh, segalanya begitu menyeramkan. Jika saya ingat kembali masa itu, saya rasa begitu tragis. Seakan UN menjadi penentu utama dan sama sekali tidak ada lainnya. Sebagai tolok ukur utama, dan sangat menutup penilaian lainnya.
Hingga akhir-akhir ini begitu ramai diperbincangkan mengenai moratorium UN. Berhari-hari bergulir menjadi diskusi publik yang bergelimang seakan tiada hentinya. Segenap pemangu kepentingan pendidikan, praktisi, politikus, bahkan hingga Presiden Jokowi turut andil dalam persoalan yang sebenarnya sudah menjadi penyakit tahunan bagi dunia pendidikan kita.
Tidak sedikit pihak pun, menginginkan agar dilaksanakan penghentian pelaksanaan UN. Wacana yang digulirkan Mendikbud Muhadjir Effendy ini, sekan hanya menungu ketuk palu peraturan presiden tentang penghentiannya. Namun, tentu segala ini harus benar-benar ditimbang dengan baik. Jangan sampai segala ini hanya akan menjadi tindakan-tindakan yang terkesan gegabah. Jangan sampai pula, segala ini akan dinilaimasyarakat sebagai penyakit lama, yakni pemerintahan (menteri) baru maka hadir pula kebijakan baru. Menteri baru, maka bergulirlah kurikulum baru.
Tentu masyarakat kita sudah sangat pandai. Masyarakat sudah mampu menilai. Tentu kita semua juga sangat paham, setiap orang (pemimpin) memiliki caranya masing-masing untuk memajukan bangsa dan negara ini. Barangtentu, segala itu ada baik dan buruknya. Ada pula kekurangan dan kelebihannya. Maka, barangtentu yang terpenting adalah segala yang diputusan itu sudah menjadi keharusan yang memang sudah melalui pertimbangan dan riset yang matang. UN hilang bagus, diganti dengan evaluasi lain, tentu bagus. Asal tepat dan sesuai dengan kebutuhan serta tetappada jalur tujuan pendidikan kita.
Seperti halnya misalnya jika benar jadi, UN tingkat dasar dan menengah dikelola pemerintah daerah, lalu UN tingkat atas dikelola pemerintah provinsi, misalnya. Segala itu butuh persiapan yang matang. Pmerintah harus mempersiapkan siapa saja yang akan membuat soal di tingkat daerah dan provinsi terebut. Sudah layak atau belum para pembuat soal tersebut. Jika belum, bagaimana solusinya.
Lalu tetap harus pula mengantisipasi kecurangan-kecurangannya. Tingkat nasional saja banyak ditemui kasus, bagaimana lagi jika tingkat dan provinsi yang ruang lingkupnya lebih kecil. Seperti itu kiranya. Yang pasti, ujian harus tetap ada. Entah bentuknya seperti apa. Karena jika sampai tidak ada ujian, bisa jadi siswa kita tidak akan pernah akan belajar sama sekali. Tentu ujian juga perlu sebagai ajang kompetisi positif, sebagai pembentuk mental petarung sejati tentunya. Semoga.


─Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya “Perayaan Laut” (April 2016). Saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku puisi keduanya “Manusia Alarm”.