Kamis, 09 Januari 2020

Kepada yang Bernapas Panjang


Kepada yang Bernapas Panjang


Sabtu, 23 November 2019 baru saja hinggap di layar laptop. Saya duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja kerja. Di depannya persis, ada jendela kaca yang sangat jarang dibuka. Saya biasa memandangi apa saja ke luar sana. Daun mapel berguguran. Orang-orang berlalu-lalang namun dengan langkah yang begitu sepi. Anak-anak kecil mengayuh sepeda dengan riang. Mereka berkejaran namun sama sekali tak berlomba kecepatan.

Terus saya pandangi luar sana. Semakin jauh. Bahkan sempat nyaris tenggelam dalam lamunan. Saya masih duduk. Namun seperti baru saja terbangun dari sebuah tidur pendek yang panjang. Meski sungguh, raga ini masih terjaga. Belum sampai memejamkan apa-apa.

Sedari tadi saya seperti merasakan ada yang aneh. Seakan ada yang tidak lengkap. Bahkan saya merasa janggal memposisikan tubuh saya sendiri. Ya, terus-terusan begitu. Entah kenapa, kamar menginap saya seperti dikunjungi orang-orang. Sejak berjam-jam yang lewat. Mereka nyaris mengitari saya, di samping dan belakang tubuh saya. Awalnya saya biarkan saja. Namun pelan-pelan saya penasaran, dan akhirnya saya beranikan untuk memandangi mereka satu-satu. Mereka menyambut hangat. Hangat sekali, tak sedingin 2° C di luar kaca jendela kamar. Udara nyaris beku, menjatuhkan daun-daun mapel yang menguning itu ke tanah basah.

Ini petang yang cukup aneh. Tak seperti biasanya. Sebab yang telah lalu, hanya satu-satu yang datang. Paling ya hanya mengintip dari jendela. Atau paling banter ya menempel di plafon kamar. Itu pun hadir saat saya sudah rebahan dan tersisa beberapa watt saja. Namun kali ini mereka hinggap bersamaan untuk hadir ke kamar lantai dua ini. Seperti sudah janjian saja dalam sebuah grup WhatsApp dengan diberi nama “Hinggapi Kamar Naka!”.

Bayangkan, kali ini mereka berkerumunan hadir di kamar saya. Petang-petang tengah malam pula. Ya, di kamar dalam sebuah rumah di perkampungan Waardeiland Leiden yang dipenuhi dengan rumah-rumah berdesain hampir serupa. Dinding-dinding bata terbuka yang khas rumah Belanda. Namun ingat, meskipun wujud rumah-rumahnya nyaris sama, ini bukanlah perumahan bersubsidi seperti yang saya tinggali di Kendal itu. Ya, rumah tipe 36 itu. Artinya berkamar tiga: dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Dan, berventilasi enam. Kalau di sini, berlantai tiga, berkamar lima, dan tidak berventilasi. Udara di luar keras dan beku!

Setelah memberanikan diri untuk memandangi tipis-tipis, pelan-pelan saya menyapa mereka. Meski hanya dengan mata saja. Belum bersapa suara. Takut jika nanti mengganggu penghuni lain di rumah ini. Sebab Leiden ini, saya rasakan seperti kota tua yang sunyi. Di jalanan, di pusat-pusat perbelanjaan, ruang perjumpaan manusia, semua terkesan jauh dari keriuhan suara. Apalagi saat di rumah. Belum lagi saat di jalanan kampung, seperti berjalan sendirian. Orang-orang tiada yang nongkrong membunuh waktu di luar. Entah sambil ngopi atau membakar rokok. Semua orang memilih di dalam rumah. Apalagi saat musim gugur mendekati musim dingin begini. Juara deh kalau ada yang berani berlamaan di luar. Apalagi kalau sampai dengan pakai kaos oblong!

Saya pandangi mereka satu-satu. Begitu pula kedua mata mereka dijatuhkan ke sekujur tubuh saya. Ya, saya seakan mengenal baik mereka. Banyak di antaranya begitu saya hafal, waktu-waktu lalu sering datang ke kamar ini. Meski datang sendirian, mengintip dari jendela, mengintai dari plafon, atau nyangkut di debu-debu yang nempel di layar monitor. Namun, sepertinya ada seorang yang lebih saya kenal. Ya, ia seolah juga mengenal saya. Bahkan lebih dari saya mengenalinya. Saya berpikir keras. Sesekali memejamkan mata. Kemudian membukanya lagi. Memejamkan mata lagi, dan membukanya lagi. Siapa ia sebenarnya? Mereka semua masih berdiri. Menatapku dengan hangat. Begitu pula seseorang yang saya rasa telah kenal lebih tadi. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Ya, benar. Ia mendekat. Saya tidak takut. Hanya sedikit deg-degan dan berdebar saja. Atau entah seperti apa, susah sekali menerjemahkan rasanya.

Ia kian mendekat. Sepertinya sudah sangat tua. Wajahnya seperti tak asing. Saya seakan kian akrab saja dengan wajah itu. Namun siapa ya? Sepertinya mirip dengan wajah kakek saya dari garis ibu. Ya, sepertinya tidak salah lagi. Saya begitu akrab dengan tipe wajah itu. Meski kakek saya pun telah meninggal jauh sebelum saya lahir. Saya hanya mampu melihat lukisan wajahnya di dinding kamar nenek. Itu pun sudah lama. Saat saya masih kecil. Namun entah kenapa lukisan itu saat ini sudah tak ada. Sudah hilang, dicuri orang, atau entah nenek menyimpannya rapat-rapat di tempat paling sembunyi.

Siapa ya? Aduh, kamar menginap saya ini juga tak begitu terang. Hanya nyala lampu baca saja yang bersinar. Fokus ke bawah. Sama sekali tak punya kekuatan lebih untuk menyinari sekitar. Hanya sisa-sisa cahaya saja yang menebar halus. Saya berpikir keras. Dalam hati berkecamuk. Apakah benar itu kakek buyut saya?

Lalu pelan-pelan kakek itu mendekati saya. Kian dekat saja. Sangat dekat. Namun saya tak kuasa memandanginya. Pandangan saya tujukan di layar monitor laptop. Ya, memukul-mukul huruf. Menulis catatan kecil yang sedang Anda baca ini. Kakek itu kian mendekat. Semakin dekat. Sangat dekat. Sungguh, kini berada tepat di samping kiri saya. Aduh, mau apa ini? Saya masih diam saja, membatu. Pandangan kaku di layar monitor. Namun jari-jari saya masih terus melanjutkan menulis. Ya, menulis catatan kecil ini.

“Nak, kenapa kamu di sini?”

“Maaf, maaf, Kek. Kakek bertanya kepada saya?”

“Ya, tanya kepadamu. Siapa lagi kalau bukan kepadamu?”

“Oh ya maaf, Kek. Saya kira melempar pertanyaan sembarangan saja.”

“Ya, tidaklah. Saya ini datang jauh-jauh ke sini ini serius. Sidak!”

“Ya, Kek. Sekali lagi maaf ya, Kek...”

“Ya, tak apa. Saya maafkan jauh-jauh tadi sebelum kamu minta maaf. Pertanyaan saya, kenapa kamu di sini?”

“Ya ini, Kek. Saya kan sedang residensi. Bukankah seluruh dunia tahu program residensi ini, Kek? Kok sampai kakek belum tahu?”

“Kakek kan ya sudah nggak sempat buka-buka koran atau medsos. Di akhirat sibuk. Banyak keindahan yang sayang untuk dilewatkan!”

“Oh ya, Kek. Ini saya sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud, Kek. Selama dua bulan tinggal di Leiden ini. Menjalani riset untuk menulis sastra. Begitu, Kek.”

“Coba kamu kisahkan dengan sungguh-sungguh, seperti apa saja yang kamu lalui. Namun ingat, tetap dengan pengisahan yang segar!”

“Lantas bagaimana dengan orang-orang itu, Kek?”

“Sama saja dengan Kakek, mereka menantimu untuk berkisah.”

“Oh ya, Kek. Begini, saat berangkat residensi ini, saya sudah mengantongi kisah kecil. Lengkap dengan patahan-patahan kisah dan bercak-bercak mitos yang melingkupinya. Namun tetap saja, saya masih membawa rasa penasaran mendalam. Dan, apa boleh buat. Saya harus mengunjungi negeri penjajah ini, untuk singgah di Leiden ini dan beberapa kota lain. Berharap agar bisa membantu diri saya ini untuk menyibak lebih dalam tentang pijakan tema yang hendak saya garap. Begitu, Kek.”

“Kau memburu naik apa?”

“Sepeda, Kek. Mau naik apa lagi. Biasanya juga naik bus, kereta, atau trem. Namun mahal, Kek. Lebih sering naik sepedanya. Ya, meski sesekali naik bus, kereta, atau trem itu. Buat icip-iciplah, Kek. Kakek pasti belum pernah naik kereta dan trem, bukan? Apalagi bus, pernah? Ah, Kakek generasi lampau sih.”

“Eh, kamu tak boleh begitu. Coba saja, kamu sampai di sini naik apa?”

“Naik pesawat dari Indonesia, Kek. Kenapa memang?”

“Salah. Kamu ke sini naik sebuah kendaraan, yang bernama masa lalu. Jangan sepelekan dengan yang dinamakan masa lalu. Jangan sepelekan sesuatu yang lampau. Kamu pasti tahu apa yang dikerjakan oleh Iksaka Banu itu, bukan?”

“Wah, Kakek kenal Iksaka Banu?”

“Lha iya dong. Sesekali di akhirat ya Kakek buka youtube. Salah satu penulis idola Kakek itu ya Iksaka Banu, yang melambung dengan karya-karyanya berkait-paut dengan sejarah kolonial itu. Langganan mendapatkan penghargaan pula. Pasti dong, Kakek mengidolakan.”

“Emang Kakek sudah baca buku cerpennya terbaru, Teh dan Pengkhianat itu?”

“Ya, belum.”

“Belum kok mengaku mengidolakan?”

“Ya bagaimana lagi, di akhirat sepertinya belum dipasok. Kalau youtube kan emang gampang, tinggal ketik nama saja langsung bisa dapat kabarnya. Apalagi zaman sekarang sudah banyak acara vlog itu.”

“Oh ya tak apalah, Kek. Mending mengikuti, daripada tidak sama sekali.”

“Ya, benar. Nah, itu Iksaka Banu sempat bilang dalam sebuah acara di youtube. Intinya, saat-saat ini menarik penulisan sastra yang berpijak pada sejarah. Yah, paling tidak bisa melengkapi sejarah yang ada. Dan, sebisanya menjadi tawaran lain melalui penulisan teks sastra itu.”

“Ya, Kek. Memang benar. Semoga saja nanti bisa menemukan karya segar dari residensi ini ya, Kek. Mohon doa dan restunya selalu ya, Kek...”

“Itu pasti. Nah, yang terpenting kamu harus mematangkan pijakan datamu untuk menyokong teks sastra yang hendak kamu tulis itu. Meskipun nantinya itu karya fiksi, namun dengan kematangan fakta sejarah, pasti setidaknya akan lebih bertenaga nantinya karyamu.”

“Ya, Kek. Saat berangkat saya sudah diberi saku oleh Pak Muslichin, guru sejarah saya semasa SMA itu, Kek. Yang dulu sering bela saya saat sering bandel dan bolos sekolah..”

“Oh baik banget gurumu. Namun kelewatan juga, anak bandel dan bolosan kok dibela ya...”

“Ya, tapi kan membelanya pilih-pilih, Kek. Bandel, bolosan, namun tetap yang baik hati.... Hehe...”

“Lantas bagimana lagi kelanjutannya?”

“Oh ya, Kek. Dari guru sejarah saya itu, saya juga di beri saku oleh Soelardjo Pontjosoetirto. Ia sempat meneliti tema yang saya selami ini pada 1971. Menarik banget, Kek.”

“Bagaimana dengan Soelardjo Pontjosoetirto? Dia suka naik sepeda juga?”

“Bukan perihal suka naik sepeda, Kek. Ini kata Soelardjo Pontjosoetirto, bahwasanya pada tahun tiga puluhan, tak lain pada masa pemerintahan Hindia Belanda, orang-orang sering mendengar cerita mengenai golongan orang yang sedang saya cari, Kek. Dalam cerita tersebut dikemukakan tentang yang menarik mengenai golongan orang-orang itu. Terutama terkait dengan asal-usul golongan orang-orang itu. Meski segalanya terkait dengan cerita miring, tidak wajar, dan sekitarnya. Tentunya bagi Soelardjo Pontjosoetirto, cerita semacam itu, secara kebetulan niscaya dapat membantu pemerintahan Hindia Belanda dalam memperteguh penjajahannya.”

“Kenapa begitu?”

“Ya begitulah, Kek. Pemerintahan Hindia Belanda tentunya paham, kala itu penduduk kita begitu bermacam-macam. Dari berbagai suku dan golongan yang memiliki dan memegang teguh etnosentrisme mereka masing-masing. Suku bangsa atau golongan satu dengan lainnya saling menghina, saling merendahkan. Segala itu yang dimanfaatkan.”

“Semacam mengadu domba begitu?”

“Ya, begitulah, Kek.”

“Lantas apa lagi, Nak?”

“Ya, sebenranya saya lebih menghindar dari segala persoalan semacam itu. Sebab saya rasa akan kurang nyaman juga. Saya akan lebih menelusur pada jejak-jejak di luar itu, Kek.”

“Apa itu? Kakek penasaran!”

“Namun maaf, Kek. Saya tak bisa sepenuhnya menjelaskan sekarang.”

“Kenapa bisa begitu? Kakek kan malah jadi tambah penasaran!”

“Biar saja Kakek penasaran. Bukankah itu malah akan lebih baik. Jadi Kakek akan menunggu-nunggu. Hehe.”

“Ah, kamu bisa saja. Kalau begitu, Kakek pergi dulu ya...”

“Wah, kenapa tergesa, Kek?”

“Kakek banyak urusan yang harus lekas diselesaikan di akhirat.”

"Kek, di akhirat, apa Tuhan suka minjemin sepeda?"

Kakek diam saja. Tak menjawab apa-apa. Hanya melempar senyum kecil. Itu pun hanya sebentar. Kakek membalikkan tubuhnya. Berjalan pelan menjauh dari saya. Orang-orang lainnya membuntuti. Mereka seakan lenyap begitu saja dalam dinding kamar menginap saya.

Alarm ponsel tiba-tiba berteriak keras. Saya terbangun. Tak seperti saat masa kecil di kampung halaman, saya kerap terbangun dengan bunyi kokok ayam yang ramai sekali. Bukan dibangunkan alarm dari ponsel.[]

Tidak ada komentar: