Minggu, 23 Oktober 2016

Wakul Pustaka dan Godaan Berliterasi (Jawa Pos, 23 Oktober 2016)

Wakul Pustaka dan Godaan Berliterasi
Oleh Setia Naka Andrian

Belakangan tidak jarang dan begitu panjang diperdebatkan perihal dunia cetak dan digital. Semua seakan memberikan riwayat masing-masing yang dirasa sama-sama kuat atas dua hal tersebut.
Namun, tetap saja buku-buku cetak, koran, atau majalah cetak tetap yang masih tetap dan perlu diperjuangkan. Seperti halnya yang dilakukan oleh Komunitas Lerengmedini (KLM) Boja Kendal Jawa Tengah.
Komunitas sastra di daerah kecil di Lereng Kebun Teh Medini yang begitu intens dalam program-program mulia dalam menggerakkan denyut sastra. Dari mulai Parade Obrolan Sastra dan Kemah Sastra yang sudah digelar tahunan dengan menghadirkan tokoh-tokoh sastra maestro, di antaranya Agus Noor, Ahmad Tohari, Remy Sylado, Korrie Layun Rampan, Martin Aleida, Iman Budhi Santosa dan sederet sastrawan lain.
Mereka kerap menjalankan gerakan tersebut selama berhari-hari di Bumi Perkemahan Lereng Medini. Menyuntuki buku, pentas baca puisi, hingga obrolan-obrolan kreatif yang terus didengungkan di sana.
Itu pun belum cukup atau menghentikan kegelisahan. Mereka buktikan, akhir-akhir ini KLM tengah gencar-gencarnya menggalakkan program mulianya yang diberi nama Wakul Pustaka. Dengan niatan sederhana, kata mereka, bahwasanya manusia tidak hanya cukup memberikan asupan untuk tubuh dengan hanya mengisi perut. Namun, bacaan-bacaan pun diperlukan manusia, khususnya bacaan sastra.
Buku-buku sastra tersebut, yang berupa puisi, cerpen, dan novel akan mereka letakkan di sebuah wakul, tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu yang biasanya digunakan oleh warga desa.
Wakul Pustaka itu kemudian mereka tawarkan ke warung-warung makanan yang ada di Boja. Dengan begitu, para pembeli akan menyantap buku-buku sastra tersebut. Mereka bisa menikmati puisi, cerpen atau novel atau bahkan buku-buku umum lainnya sembari menunggu makanan disajikan, atau selepas menyantap makanan.
Tentu sudah sangat wajar kita temukan di warung-warung makan, bertebaran koran-koran yang setiap hari diletakkan di meja-meja. Dengan dalih, para pelanggan merasa sedikit tergoda untuk membaca berita-berita atau apa saja yang ditawarkan dalam koran.
Godaan Wakul Pustaka seolah ingin menawarkan jika bacaan umum, dan sastra pada khususnya, itu juga sangat diperlukan untuk asupan gizi bagi jiwa manusia. Barangtentu, selain buku-buku dari tokoh-tokoh sastra nasional, buku terbitan komunitas mereka pun akan ditampilkan.
Jika ternyata dalam buku-buku bacaan tersebut juga didapati penulis lokal yang ternyata dikenal oleh para pelanggan di warung, KLM pun sangat berharap dengan begitu setidaknya akan membuat masyarakat Boja tergugah untuk mengenal dunia komunitas, dunia baca, dan dunia tulis-menulis lebih lanjut.
Lebih-lebih akan semakin mengepakkan sayap KLM yang selama ini berproses di Taman Baca Masyarakat (TBM) Pondok Maos Guyub di Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kendal. Banyak aktivitas yang dilakukan oleh KLM di taman baca tersebut.
Misalnya, Reading Group, proses tadarus novel buku dengan pelan-pelan setiap seminggu sekali yang dilakukan bersama anak-anak seusia sekolah di lingkungan desa tersebut. Dari mulai pembacaan novel-novel sastrawan Indonesia, hingga tokoh dunia semacam Ernest Hemingway dengan karyanya The Old Man and The Sea pun sempat disuntuki di ruang taman baca kampung tersebut. Bayangkan!
Bahkan, sempat pula dilakukan penghargaan tahunan yang diberikan kepada penulis puisi, cerpen, pembaca puisi, dan beberapa pelaku kreatif lainnya yang semua berasal dari lingkungan tersebut.
Segala aktivitas itu tentu dapat dicontoh dan dapat dikembangkan di daerah-daerah lain. Tentu butuh kesadaran dan penyadaran. Baik bagi para pegiat agar siap berdarah-darah menyusun strategi gerakan. Dan, dukungan bagi siapa saja untuk turut serta meramaikan, menyuarakan, dan menjaga makna gerakan literasi tersebut. Tentu semua akan berjalan beriringan. Patut kita contoh apa yang telah dilakukan KLM tersebut.***


─Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya “Perayaan Laut” (April 2016). Saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku puisi keduanya “Manusia Alarm”.

Tidak ada komentar: