Sabtu, 22 Oktober 2016

Pengajaran Sastra Kita (Tribun Jateng, 22 Oktober 2016)

Pengajaran Sastra Kita
Oleh Setia Naka Andrian

Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia baru saja digelar di Hotel Bidakara Jakarta Selatan, 18-20 Oktober ini. Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang 107 sastrawan dalam perhelatan bertajuk Peran Sastrawan dalam Pendidikan Karakter Masyarakat tersebut.
Beberapa narasumber yang hadir di antaranya Dadang Sunendar, Gufran Ali Ibrahim, Remy Sylado, Putu Fajar Arcana, Maman Suherman, Maman S. Mahayana, Nirwan Dewanto, dan Dino Umanuk.
Dalam musyawarah tersebut berlangsung diskusi masalah kesastraan yang ada di seluruh Indonesia yang dibahas bersama-sama sehingga menjadi bahan rekomendasi.
Ada beberapa hal menarik yang diperbincangkan. Terutama pada sidang komisi pembinaan sastra terkait peningkatan mutu apresiasi sastra melalui pengajaran. Misalnya saja dalam pembelajaran sastra banyak didapati karya sastra yang sebenarnya tidak cocok dengan teori sastra yang ada, namun dicocok-cocokkan. Seharusnya, teori mengikuti karya sastra yang ada, jika tidak ada teorinya, maka ciptakan teori yang baru.
Lebih-lebih pada peredaran buku-buku sastra di sekolah atau di perguruan tinggi. Tidak sedikit di antara sekolah/kampus yang masih belum update buku-buku sastra yang berkembang saat ini. Perpustakaan masih dinilai belum menampung karya-karya sastra baru. Misalnya, pada karya-karya sastra yang mendapat penghargaan dalam perhelatan-perhelatan sastra tertentu.
Maka pada forum, sastrawan yang hadir menyuarakan betapa sangat penting negara atau Badan Bahasa berkenan untuk merekomendasikan buku-buku sastra yang layak untuk diedarkan di sekolah/kampus. Perlu adanya kurator yang berkompeten untuk menentukan buku-buku sastra mana saja yang harus dikonsumsi siswa/mahasiswa.
Barang tentu peredaran karya-karya sastra yang bagus dan bernas akan menunjang penciptaan generasi unggul yang kreatif, baik di lingkungan sekolah maupun kampus. Siswa/mahasiswa saat ini masih dinilai sangat kering dan begitu jauh dengan iklim dunia literasi yang seharusnya.
Bolehlah, misalnya, dapat kita lihat, saat ini siswa/mahasiswa dalam hal apresiasi sastra masih hanya terhenti pada apresiasi baca. Sangat banyak didapati lomba baca puisi/cerpen. Belum pada tahapan mencipta karya, menulis karya. Entah dalam lomba atau lokakarya tertentu untuk menciptakan generasi-generasi pencipta.
Persoalan sangat rendahnya masyarakat kita dalam hal membaca buku, tentu menjadi masalah besar bagi bangsa ini. Segenap peserta forum pun begitu gelisah menyikapi virus malas membaca ini.
Coba kita simak saja, msyarakat kita akan sangat lebih menyukai menyaksikan/menonton film daripada membaca kisah yang difilmkan tersebut. Masyarakat kita akan lebih berbahagia terbahak-bahak menyaksikan Dono beserta teman-teman Warkopnya dari pada mencoba mencari buku-buku novel karyanya.
Lebih-lebih, tidak sedikit guru-guru atau pengajar di sekolah atau di perguruan tinggi yang masih begitu abai dengan pergerakan atau apa saja yang terjadi pada perkembangan sastra saat ini. Sastra koran seperti apa, sastra dari gerakan komunitas seperti apa, siapa saja sastrawan muda yang bermunculan, atau siapa saja sastra yang menjadi nominasi berbagai ajang penghargaan kesastraan, entah puisi, cerpen atau kritik sastra.
Tidak malah hanya melulu berkutat pada karya sastra masa lalu yang terkadang sudah sangat ketinggalan. Itu terkadang yang membuat pengajaran sastra kita menjadi sangat kuno. Sudah sangat puas hanya saja mengajarkan atau membacakan puisi "Aku Ingin" dari Sapardi Djoko Damono dengan cuma hasil "copy paste" dari internet, tanpa mengetahu seperti apa dalam bukunya.
Belum ada upaya pengajar kita berkeinginan melek literasi, dengan cara update karya-karya baru yang lebih segar. Misalnya saja jika puisi bolehlah diajak menekuri buku puisi Tidak Ada New York Hari Ini karya M Aan Mansyur yang begitu populer dalam film Ada Apa dengan Cinta 2, buku puisi Sarinah karya Esha Tegar Putra, Mendengarkan Coldplay karya Mario F. Lawi atau bahkan mengajar menyuntuki buku puisi karya penyair sarung Joko Pinurbo yang terbaru, Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu.
Belum lagi sangat sedikit pengajar kita yang mau mendatangi beberapa gerakan sastra yang ada di sekitar. Misalnya, saja jika di dekat-dekat Semarang dan Kendal ini, siapa yang mau meluangkan waktu untuk mendatangi acara obrolan buku semacam yang diselenggarakan oleh Kelab Buku Semarang dengan tawaran buku-buku sastra bagus yang dibahas dalam forum. Belum lagi perhelatan sastra tahunan yang diselenggarakan Komunitas Lerengmedini Boja Kendal, misalnya dalam Parade Obrolan Sastra atau Kemah Sastra.
Padahal sudah menjadi rahasia umum jika dalam forum obrolan dan kemah tersebut mendatangkan banyak tokoh-tokoh sastra kita. Sebut saja Agus Noor, Ahmad Tohari, Remy Sylado, Korrie Layun Rampan, Martin Aleida, dan sederet maestro lainnya banyak didatangkan di situ.
Belum lagi gerakan literasi Wakul Sastra yang saat ini sedang dijalankan Heri C. Santosa dalam komunitas tersebut dengan meletakkan buku-buku di warung-warung makan di Boja. Niatan mereka sederhana, bahwa diri manusia tidak hanya butuh kenyang perut saja. Jika hanya itu, lalu apa bedanya manusia dengan hewan. Namun jika sudah begini, sesunggunya hanya ada satu jawaban. Yakni, semua butuh kesadaran. Jika karya sastra itu kemuliaan, maka tentu pengajaran sastra adalah ibadah yang begitu mulia.***

─Setia Naka Andrian, Penulis Buku “Perayaan Laut” (2016). Peserta Munas Sastrawan Nasional 2016.


1 komentar:

Aditya Begitu Saja mengatakan...

Aditya putra utama
4C
Tulisan yang satu ini merupakan tulisan yang memuat banyak fakta fakta yang hadir dalam kehidupan manusia sehari hari. Dari siswa/mahasiswa yang kurangnya akan pengetahuan tentang dunia luar dari zona nyaman mereka. Padahal mereka sebenarnya sudah sering sekali mendengar bahwa buku adalah media untuk menambah pengetahuan dan wawasan seseorang. Tetapi mereka hanya mengetahui saja dan tidak sama sekali mau membaca buku. Mereka hanya menyukai hal2 instant yang sudah tersajikan matang dihadapan mereka. Tanpa mau tau cara sang pencipta tulisan tersebut berproses membaca dan observasi dahulu sebelum membuat tulisan. Yang mereka tahu hanya menulis uneg uneg di dalam media sosial mereka masing masing. Hanya untuk ingin diperhatikan oleh pengguna lain tulisan uneg2 mereka tersebut. Padahal masih banyak media yang dapat menampung segala uneg uneg agar lebih bermanfaat dan bisa di baca oleh anak cucu kita. Media tersebut adalah buku.