Minggu, 02 Juni 2019

Lapak Baca Bergerak di Mandar (Suara Merdeka, 2 Juni 2019)


Lapak Baca Bergerak di Mandar
Oleh Setia Naka Andrian


Belakangan ini begitu menjamur laku literasi di berbagai daerah. Entah apa sebab, namun pasti segala itu bukan karena Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang digemborkan pemerintah. Para pegiat literasi seakan berasyik masyuk dalam geraknya, meski dalam lingkup lebih kecil, yakni di kampung halamannya masing-masing. Jika di dekat kampung halaman saya, di Kendal Jawa Tengah, ada geliat beberapa ruang (komunitas) yang kerap menjaga napas literasi yang tidak sekadar bergegiatan apa-adanya lalu seusai acara langsung berfoto dengan mengacungkan jari tangan berbentuk “L”.
Misalnya, Komunitas Lerengmedini Boja Kendal dengan salah satu programnya Wakul Pustaka, Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal dengan diskusi dan penebitannya, Lapak Baca Ora Niat dengan program lapak jalanannya, Jarak Dekat Kendal dengan program forum Jurasik (Jumat Sore Asik), diskusi-diskusi, serta penerbitan buku-buku indie-nya, Lesbumi Kendal, Sanggar Kejeling dengan perpustaan di kampung Sidomulyo, Lestra Kendal dengan program Hajatan Kebun Sastra.
Mei ini, terhitung sejak 1 Mei 2019 hingga nanti bulan ini usai, saya berkesempatan mengikuti Residensi Sastrawan Berkarta ke Wilayah 3T. Saya ditempatkan di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Tentu, bayangan saya sebelum berangkat residensi sudah menerawang jauh bagaimana geliat “Pusataka Bergerak” yang begitu kentara di Sulawesi Barat, khusunya di Polewali Mandar (Polman). Maka tak ambil waktu lama, beberapa hari selepas di Polman, saya langsung memburu beberapa pegiat literasi ‘bergerak’ di sini. Alhasil, berkat koneksi beberapa teman lama serta berkat jaringan internet yang aman, saya lekas dapat menghubungi beberapa pegiat literasi tersebut untuk lekas berjumpa. Sebutlah, di antaranya ada Muhammad Ridwan Alimuddin (Nusa Pustaka), Ramli Rusli (Rumah Pustaka), dan M. Rahmat Muchtar (Uwake’ Culture Foundation).
Suatu hari, saya pagi-pagi mengunjungi Nusa Pustaka. Disambut dengan hangat oleh Ridwan, yang tak lain, ia adalah penulis buku-buku kebaharian. Di antaranya berjudul Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? (2004), Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara (2009), Kabar Dari Laut (2013), Ekspedisi Bumi Mandar (2013), Orang Mandar Orang Laut (2013), dan beberapa judul lain. Bahkan saat ini, ia juga tengah proses penulisan buku tentang perhajian di tanah Mandar.
Pagi hari hingga siang, kami berbincang banyak hal perihal Mandar. Saya begitu terbantu, banyak informasi yang saya dapatkan tentang Mandar. Bagaimana alamnya, budaya, dan manusianya. Dan sore hari, saya berkesempatan untuk diajak melapak bersamanya. Ridwan pada sore itu hendak menuju ke sebuah perkampungan di tepi pantai Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia membawa sepeda yang membawa buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan anak-anak diangkut dalam tas yang digantungkan di kanan dan kiri boncengan sepedanya. Armada itu ia beri nama “Sepeda Pustaka”. Meski, Ridwan juga kerap melapak dengan menggunakan ATV Pustaka, serta “Perahu Pustaka” yang begitu moncer itu.
Bagi Ridwan, sesungguhnya bukan persoalan minat baca yang kurang bagi anak-anak, khususnya di sebuah perkampungan nelayan yang disinggahinya. Tidak sedikit didapati anak-anak yang berkerumun dan begitu antusias untuk memilih serta meminjam buku yang dibawanya. Begitu sampai tepi pantai (yang tak lain juga didapati para pembuat perahu Sandeq, perahu tercepat Nusantara itu), Ridwan menggelar lapaknya. Buku-buku ditata. Tanpa jeda lama, anak-anak di kampung pantai itu langsung bergegas memilih buku-buku yang dilapaknya. Ya, mereka anak-anak dari para nelayan dan pembuat perahu di tepi pantai itu.

Penuh Ketelatenan
Mereka berdesakan, mengantri, untuk meminjam buku. Mereka pinjam buku itu selama beberapa hari. Ridwan mencatat buku-buku yang mereka pinjam. Jika di antara mereka ada yang tak bisa hadir untuk meminjam, maka orangtua merekalah yang turut serta mengantrikan untuk meminjam buku. Hari lainnya pun, Ridwan akan dikerumuni anak-anak pantai itu. Terus begitu, berkelanjutan. Tiada pernah berkesudahan.
Pegiat lain yang saya jumpai, ialah M. Rahmat Muchtar dan Ramli Rusli. Kedua pegiat ini tak beda dengan apa yang dikerjakan Ridwan. Rahmat menggunakan “Bendi Pustaka” dan Ramli pun menggunakan “Sepeda Pustaka” seperti yang digunakan oleh Ridwan. Mereka sama-sama, menelusuri kampung-kampung di sekitar tempat tinggal mereka. Segala itu mereka kerjakan dengan penuh ketelatenan, kesabaran, dan ketabahan.
Ridwan, Rahmat, dan Ramli, tak jarang harus menyisihkan bahkan mengalahkan segala kebutuhan pribadi demi memanjangkan napas “Pustaka Bergerak” yang mereka kerjakan. Sudah tentu segala itu sangat menyita materi, tenaga, waktu, dan pikiran. Mereka harus berkeliling, menjemput para pembaca di kampung-kampung. Sebab bagi mereka, begitu yang lebih efektif. Anak-anak di jemput, lapak-lapak digelar di jalan-jalan kampung.
Sesungguhnya, mereka pun memiliki perpustakaan yang dikelola secara mandiri. Baik dibangun di dekat rumah atau di dalam rumah para pegiat literasi itu. Bahkan, ada di antara mereka yang rela menggunakan sepetak tanahnya untuk didirikan perpustakaan dan tak membangun rumah di area itu. ***

—Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal, sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menulis puisi, cerita pendek, esai, dan resensi buku. Kini ia sedang menjalani Residensi Sastrawan Berkarya dari Badan Bahasa di Polewali Mandar Sulawesi Barat.

Minggu, 24 Maret 2019

Jagat Visual pada Musim Politik (Suara Merdeka, 24 Maret 2019)

Jagat Visual pada Musim Politik
Oleh Setia Naka Andrian



Seantero Indonesia sedang hangat membincangkan pemilihan orang-orang nomor satu, dari wakil rakyat daerah hingga presiden dan wakil presiden. Di mana-mana riuh. Tak hanya suara menggedor telinga, mata khalayak pun dipaksa melihat wajah-wajah yang hendak berlaga di panggung pemilu. Wajah yang dipajang di jalan, menggoda sepenuh senyuman, menebar keramahan.
Para pegiat desain komunikasi visual Universitas Selamat Sri (Uniss) Kendal menyambut hal itu, beberapa waktu lalu. Mereka berpameran seni rupa “Ajar Wanter” di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kendal. Instalasi dari bambu tak bercat dan tali rafia begitu rupa menyangga karya mereka, menyulap ruang selayaknya gedung pameran. Siang itu, terselenggara pula obrolan, membincang “Desain Grafis dalam Pusaran Politik”. Pemantik dua dosen muda Uniss, Didung Pamungkas dan Dwi Hantoro, serta Hevy Indah Oktaria dari KPU Kendal. Ada kegelisahan di antara mereka.
Keinginan, impian, niatan untuk turut serta mewujudkan pesta demokrasi yang bersih, aman, dan penuh godaan visual. Bukan sampah visual. Sampah visual setidaknya tak lagi hanya ditempel semena-mena dan tak berizin resmi. Namun sebagai sesuatu yang mampu membuat mata khalayak jemu. Puluhan karya itu begitu menggoda.
Karya bermula dari duplikasi sederhana benda-benda di sekitar kita; sepatu tanpa kaki, botol minuman dalam pangkuan, potret wajah, kehidupan kecil di kampung halaman. Semua itu menggiring, menuju ke keberanian; menggoda siapa pun untuk belajar berani, bersuara, berbuat sesuai dengan kehendak diri dan khalayak. Segenap obrolan dan karya yang dipajang mengajak kita makin memahami kehadiran diri bagi diri sendiri, orang terdekat, dan khalayak lebih ramai. Bagaimana posisi dan tanggung jawab kita untuk menjaga, merawat, dan menyangga pesta penyerahan suara itu?

Tokoh Lama, Tokoh Baru
Kesadaran kolektif hadirin jadi riwayat tersendiri bagi kenyataan yang lewat, yang telah berlalu. Yang kerap menggedor, bahkan melukai mata kita. Benar, segala itu telah jadi santapan sehari-hari. Kita seakan disuguhi segala sesuatu yang sama.
Beragam foto yang dipajang dan dipamerkan, mengintai mata kita. Merekalah tokoh lama yang percaya diri berlaga kembali, sedangkan tokoh baru turut serta ambil gaya. Kita rindu, kapan lagi menemukan tokoh baru yang bermunculan karena laku dan gerak kemaslahatan mereka. Bukan tokoh yang menghadirkan wajah duluan di jalan dengan desain dan editan sedemikian rupa, tanpa kita ketahui seluk-beluk dan takdir dia di hadirat khalayak. Makin hari kita kian rindu tokoh yang hadir di lingkaran publik tanpa kehendak sendiri. Tokoh yang terpanggil, tercipta bersama suara alam, suara Tuhan yang dititipkan pada rakyat. Segala peristiwa dan kegelisahan itu menyadarkan kita, betapa tidak sedikit tokoh dan pemimpin yang selalu ingin tampak di muka.
Kerap berupaya mengendalikan tatapan mata kita, melalui foto program kerja, keberhasilan pemerintahannya. Segalanya dinampakkan melalui gambar dia. Bukan gambar rakyat, bukan figur yang menjalankan program atau sosialisasi yang ditawarkan pemangku kepentingan.
Betapa semua itu hadir begitu saja, berterus-terang, tanpa upaya meraih godaan visual di mata publik. Di forum di tengah pameran, beragam kegelisahan bertumpahruah. Adalah tanggung jawab bersama, tugas besar pegiat desain grafis, untuk memikirkan keberlangsungan gerak visual masyarakat. Sebab, makin hari pemangku kebijakan, para pemimpin, politikus, telah dibentuk dan disiapkan dengan cara apa saja untuk menggapai puncak.
Mereka hadir dengan diri yang seolah-olah, diri yang dipercantik melalui gerak media massa. Diri yang menguasai media massa atau bahkan memiliki media massa. Upaya pegiat desain komunikasi visual itu jadi jawaban tersendiri atas keinginan menjaga, merawat, dan menyangga pesta demokrasi yang sebentar lagi bergulir. Mereka memberanikan diri berbuat, menyumbang, dan memenuhi kesadaran kolektif khalayak. Mereka menyuguhkan, mengajak, menciptakan tatanan yang memberi harapan bagi harkat hidup rakyat. (28)

—Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari 1989, bermukim pula di kota itu. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menulis puisi, cerita pendek, esai, dan resensi buku.

Senin, 24 September 2018

Nama-Nama yang Muncul dalam Prosa dan Puisi (Jawa Pos, 23 September 2018)



Nama-Nama yang Muncul dalam Prosa dan Puisi
Oleh Setia Naka Andrian



Judul Buku                : Perihal Nama
Penulis                         : Widyanuari Eko Putra
Penerbit                       : Kelab Buku Semarang
Cetakan                       : I, Mei 2018
Jumlah Halaman          : 170 halaman
ISBN                           : 978-602-6694-43-0

Pemberian nama dari orangtua kepada anaknya, kerap kali melewati pertimbangan panjang. Bahkan tidak jarang, terjadi perdebatan alot di antara kedua orangtua tersebut. Sebelum sepenuhnya menjatuhkan suatu nama kepada sang anak yang baru saja menghirup napas ke dunia. Terkait nama yang tidak bisa dikata sederhana tersebut, pun dibahas panjang lebar dalam buku Perihal Nama karya Widyanuari Eko Putra (Kelab Buku Semarang, 2018).
Buku yang dicap sebagai kumpulan enam esai seputar prosa, puisi, dan buku tersebut mencoba menggiring pembaca menyelami ketidaksederhanaan penamaan tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra, baik prosa maupun puisi. Nama-nama yang dihadirkan dalam karya kerap dipertimbangkan pengarang, bagaimana kesesuaiannya dengan cerita yang diusung.
Bagi Widyanuari, dalam esai berjudul Yang Tersembunyi di Balik Nama, bahwasanya nama tercipta sebagai konsekuensi atas pertimbangan-pertimbangan: ideologi, konteks zaman, kebersesuaian dengan tema cerita, hingga eksplorasi yang semata-mata demi capaian estetik atau efek tertentu. (hlm. 45).
Widyanuari memberikan perhatian serius terhadap kehadiran nama-nama dalam berderet karya sastra. Di antaranya, novel Max Havelaar karya Multatuli (Eduard Douwe Dekker), Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo, novel Tetralogi Buru garapan Pramoedya Ananta Toer, Para Priyayi karya Umar Kayam, Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo, hingga karya-karya terbaru Triyanto Triwikromo, Ritus, Anak-Anak Mengasah Pisau, dan Ular di Mangkuk Nabi.
Dalam kasus penamaan yang dilakukan Triyanto, misalnya, Widyanuari menangkap kecenderungannya menciptakan nama-nama yang khas, berkesan gaib, mistis, dan ajaib. Nama-nama tersebut, di antaranya Manyar, Kabrut, Blandrek, Abilawa, Ragaula, Rudrat, Natasja Korolenko, Nyonya Bangsa.
Meskipun, dalam esai judul serupa, Widyanuari menghadirkan pernyataan dari Seno Gumira Ajidarma, berikut, “Sukab hanyalah sembarang nama yang saya pasangkan kepada setiap tokoh, sekadar karena saya malas “mengarang”,”
Pada kasus tersebut, Seno memberikan pernyataan bahwa penamaan tokoh-tokohnya dalam cerita dibuat sekenanya saja. Tentu banyak kita dapati bagaimana Seno menggunakan nama Sukab dalam beberapa cerpen-cerpennya. Lain kasus ketika Seno menggarap novelnya Kitab Omong Kosong. Tokoh-tokoh pewayangan serupa Togog, Prabu Janaka, Hanuman, Rama, Sinta, dan lainnya dihadirkan begitu rupa dalam novel yang mendekonstruksi cerita wayang tersebut.
Selanjutnya, dalam esai berjudul Sebuah Nama, Sebuah Cerita, Widyanuari menyingkap maksud pencantuman nama dalam puisi. Penyair-penyair serupa Chairil Anwar, Afrizal Malna, Iman Budi Santosa, Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, Erich Langobelen, Alex R. Nainggolan, Nurul Ilmi El-Banna, Sengat Ibrahim, M. Noeris, dan lainnya.
Nama-nama dicantumkan secara khusus dalam puisi. Puisi ditujukan untuk seseorang, diberikan, dihadiahkan, atas rasa kagum, penghormatan, ketakziman, dan lainnya. Seperti gubahan puisi Chairil Anwar, di antaranya pada judul “Kenangan untuk Karinah Moordjono”, “Hampa kepada Sri”, “Kawanku dan Aku kepada L. K Bohang” dan lainnya.
Menurut temuan Widyanuari, nama-nama seakan diabadikan secara terang-terangan di dalam puisi. Kerap kali diletakkan di bawah judul, atau bahkan tak sedikit pula nama-nama tersebut dicantumkan menyatu dalam judul, “Kepada Penyair Bohang”. Ada kalanya nama-nama dicantumkan dengan inisial, “Lelaki Empat Penjuru Kepada ULP” karya Iman Budi Santosa untuk Umbu Landu Paranggi. Didapati pula puisi-puisi gubahan Joko Pinurbo, berjudul “Rumah Kontrakan untuk ulang tahun SDD”, “Memo Celana untuk Iqbal”, “Rumah Persinggahan untuk S.S.”.
Dalam kedua esai panjang Widyanuari tersebut, nama-nama memiliki keberadaan yang tidak biasa, baik dalam prosa maupun puisi. Nama-nama mendapuk peran tersendiri dalam sebuah karya sastra. Nama-nama yang bermakna dan tidak semena-mena dihadirkan dalam karya sastra, serta nama-nama yang diberi kehormatan tersendiri saat dicantumkan dalam sebuah puisi.
Keempat esai berikutnya dicatat Widyanuari dengan tidak sepanjang esai pertama dan kedua. Judul esai Tidak Ada Jassin hari Ini, Upaya Menulis Ulang dan Menafsir, Menjelajahi Parodi ala martin, dan Pengorbanan Membaca Buku, seakan menjadi anak-anak yang berusia pendek. Meski, napas yang ditiupkan Widyanuari kepada esai-esai tersebut tetap sama. Hanya saja, pembaca barangkali akan merasa terganggu. Pengisahan nama-nama seakan kian memendek dan memudar.***

─Setia Naka Andrian, Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

Minggu, 16 September 2018

Seni dan Ruang Berkesenian di Kendal (Suara Merdeka, 16 September 2018)


Seni dan Ruang Berkesenian di Kendal
Oleh Setia Naka Andrian



Tak banyak yang mengira digedung kecil di belakang GOR Bahurekso Kendal kerap terselenggara aktivitas dari para pegiatseni. Tak sedikit seniman cukup belia berproses kreatif di gedung serupa bangunan taman kanak-kanak itu.
Ya, bangunan tua itu adalah Balai Kesenian Remaja (BKR). Rumah para pegiat seni dan ruang bertemu beberapa komunitas yang tersudut dipusat kota. Sangat tak tersentuh pembangunan, minim fasilitas. Gedung yang hanya didiami dan dirawat seadanya oleh para pegiatseni di segenap jalan sunyi mereka.
BKR kalah rupa dari taman kota,alun-alun, seputaran jalan pusat kota yang selalu riuh. Orang-orang itu sekadar ingin melepas lelah, mengatasi dahaga, atau mengenyangkan perut semata. Lalu mereka berfoto,bersama beberapa teman,mengabadikan momen seadanya dialun-alun, di Taman Garuda, di bawah lambang Indonesia yang gagah, menjulang ke langit.
Tak ada yang salah denganupaya pemerintah mempercantik pusat kota atau mendirikan bangunan yang gemebyar ke hadirat mata khalayak. Namun para penyuara kebijakan tentu harus mempertimbangkan pula keberadaan ruang kreatif di pusat kota. Sebuah ruang yangkerap menjadi rumah bertemu,berdiskusi, menyibak gagasan, proseskreatif, serta mempresentasikan karya cipta.
Bolehlah kita tengok, misalnya,gelaran Barang Bukti Theater Parade #4, parade teater reguler yang digarap Teater Atmosfer Kendal, beberapa waktu lalu. Kita akan disuguhi parade teater di gedung yang sempit. Sesungguhnya tak jadi soalbesar atau kecil ruang akan tampak dengan seberapa orang yang menghuninya. Nah, saat parade teater itu, penonton membeludak. BKR pecah oleh kisaran 130 penonton pada tiap sesi, baik sore maupun malam. Belum lagi aktivitas lain; forum mingguan Jurasik (Jumat Sore Asik) dan seabrek laku kesenian lain.
Jika memasuki ruang pertunjukan, saat membuka pintu gedung, kita langsung menghadapi penonton yang lesehan di karpet lusuh. Bahkan jika ada penonton yang hendak keluar, pintu gedung tak dapat terbuka dengan leluasa. Harus ada beberapa penonton merelakan diri bergeseratau berdiri. BKR seakan anak tiri, atau bahkan anak yang tak dianggap memiliki orang tua. Ia berdiri lemas diantara gerak pembangunan yangkerap menyuarakan diri untuk mempercantik kota.

Di Mana Saja
Dewasa ini kita seakan tak bisamengelak dan beranggapan: kesenian dapat kita nikmati kapan saja dandi mana saja. Gawai di genggaman seakan mampu menjawab segalanya, termasuk sebagai ruang menyibak jagat estetika. Kita menapaki segenap keindahan di sebuah media, diruang kedua, selepas diabadikan dari ruang pertama yang berdarah-darah.
Kita tentu mafhum, tak sedikit pulayang masih beranggapan kesenian masih selalu butuh gedung. Ruang untuk mempresentasikan karya cipta, selepas beberapa waktu ditempaproses panjang. Ruang yang menjadidapur untuk menggodok berbagai gagasan, ide kreatif, hingga bahasan kerja bersama antarkomunitas. Kendali Seni Kendal, misalnya. Itulah gelaran tahunan, yang disebut embrio festival kesenian, yang telah berlangsung dua kali, 2016 dan 2017. Dan, tahun ini pun sudah mulai digodok.
Bolehlah jika kita bersuara dan meyakini, panggung di ruang publik dibuka begitu lebar. Seniman dapat memanfaatkan untuk menyuguhkan karya cipta. Seniman rupa dapat leluasa menunaikan gagasan di dinding-dinding, di tembok-tembok, bahkan di jalanan yang kerap dilewati manusia, yang ditempa panas dan hujan sekalipun.
Penyair pun dapat membacakan sajak di pasar, di lampu merah, atau dimana saja yang memungkinkan disinggahibanyak mata. Guyuran kata-kata akan bebas memasuki tubuh baru, puluhan, bahkan ratusan hati, akan turut serta menyambut kehadiran upaya mereka menebar kesadaran kolektif.
Namun tetap saja gedung serupa BKR pastilah sangat mereka butuhkan. Apalagi jika ruang serupa itu hanya satu-satunya—gedung di pusat kota, dapat diakses dengan mudah. Rumah yang patut dipertahankan dan dirawat sebagai titik pertemuan para pegiat seni di Kota Bahurekso.***

— Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari 1989, dan bermukim pula di kota itu. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini sesekali menulis puisi, cerita pendek, esai, dan resensi buku.

Puisi, Wisata, dan Kota Literasi (Derap Guru, September 2018)


Puisi, Wisata, dan Kota Literasi
Oleh Setia Naka Andrian

Di Padang Panjang Sumatera Barat baru saja terselenggara perhelatan Temu Penyair Asia Tenggara 2018, pada 3 hingga 6 Mei 2018. Para penyair serumpun bahasa menulis puisi tentang kota. Puisi-puisi diberi tugas berat, mencatat kota! Puisi-puisi dipekerjakan oleh para penyair untuk menggiring publik melalui narasi sebuah Kota Hujan, Kota Serambi Makkah: Padang Panjang. Keelokan, kesejukan, hingga sejarah, budaya serta seabrek tetek-bengeknya menggoda penyair untuk menuliskannya dengan sepenuh energi dan estetika.
Ratusan penyair dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste hadir ke Padang Panjang bersama puisi-puisinya, anak nurani mereka. Ratusan penggubah puisi juga berkhidmat untuk memasang telingan atas paparan materi dari berbagai negara. Di antaranya, Abdul Hadi WM (Indonesia), Rusli Marzuki Saria (Indonesia), Phaosan Jehwae (Thailand), Rahimah Binti A. Hamid (Malaysia), dan Hjh Dyg Fatimah Hj Awang Chuchu Ismayah (Brunei Darussalam).
Penyair dan para puisi mengunjungi kota yang mempertemukan mereka dalam jagat kata-kata. Penyair dan para puisi menyapa kota “sesungguhnya”, mereka menginap dalam kampung-kampung wisata yang disuguhkan panitia, yakni Kubu Gadang dan Sigando. Dikarenakan sebelumnya, melalui puisi para penyair lebih dulu menerka keelokan, kesejukan, sejarah, budaya serta apa saja tentang sebuah kota. Jika barangkali, di antara para penyair ada yang belum sempat singgah di Padang Panjang.
Setidaknya kita mafhum, layak menuduh jika sebelumnya di antara para penyair ada yang hanya menjelajahi mesin pencarian serba tahu (baca: google) untuk melancarkan proses penciptaan puisinya. Bagi mereka yang belum sempat mengunjungi atau sama sekali belum pernah memiliki kontak sejarah maupun batin dengan Kota Hujan tersebut. Meskipun, tetap sah-sah saja.
Puisi masih tetap dituliskan. Puisi diberi tempat untuk menunaikan tugasnya. Puisi-puisi yang lahir dengan mengusung tema yang diminta panitia, segala tentang Padang Panjang. Dengan mengelaborasikan diksi: sejuk, hutan, hujan, kabut, dan gunung. Alhasil, dalam perhelatan tersebut diluncurkanlah buku kumpulan puisi Epitaf Kota Hujan (Padang Panjang dan Puisi-Puisi Penyair Asia Tenggara), yang merupakan puisi-puisi yang lolos seleksi sebagai tiket untuk mengikuti Temu Penyair Asia Tenggara. Puisi-puisi hasil kurasi dari Ahmadun Yosi Herfanda, Iyut Fitra, dan Sulaiman Juned.
Puisi-puisi tidak selesai hanya dibukukan. Puisi-puisi tidak hanya berhenti pada peluncuran dan diskusi. Dalam perhelatan Asia Tenggara itu, puisi-puisi bermisi menggaet pelancong dan pencanangan Padang Panjang sebagai Kota Literasi. Penyair dan para puisi diajak untuk bertandang di sebuah desa wisata, Kubu Gadang. Mereka disuguhi beraneka suasana, jajanan, makanan, rumah-rumah gadang, seni tradisi beladiri Silek Lanyak, serta sejumlah kesenian tradisi lainnya.
Dengan harapan, segala itu mampu menjadi kenangan tersendiri bagi penyair dan para puisi. Agar suatu saat nanti, jika barangkali para penyair Asia Tenggara bepergian di Sumatera Barat, maka Padang Panjang lah satu-satunya tempat untuk dikunjungi, satu-satunya kampung halaman yang patut untuk disinggahi kembali.
Seperti dalam penggalan puisi Badrul Munir Chair dalam buku Epitaf Kota Hujan. Berikut, Sehampar halaman, sesamar lekuk kain buaian/ kukenang hari lalu sebagaimana seorang juru kunci/ menghitung sisa-sisa hari sebelum gunung/ memeluk dan memanggilnya kembali.//
Berkat puisi, atas berbaik-hatinya kata-kata yang segalanya menarasikan Padang Panjang, akhirnya membuat kota itu dinobatkan sebagai Kota Literasi oleh Perpusnas RI. Tak lain, niatan tersebut sebagai wujud keseriusan Kota Padang Panjang mendukung Gerakan Literasi Nasional, yang akhir-akhir ini begitu lantang digemborkan seantero Indonesia ini.
Meskipun, kita boleh juga bertanya-tanya. Bukankah jika yang diundang untuk perhelatan Temu Penyair Asia Tenggara sudah tidak hanya penyair dari dalam negeri saja, sudah tentu pemerintah pusat harus turut serta. Dikarenakan, kali itu panitia yang menghelat acara se-Asia Tenggara tersebut hanya dari Pemerintah Kota Padang Panjang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padang Panjang, serta Forum Pegiat Literasi Padang Panjang semata. Sederhananya, bolehlah kita angkat topi kepada Padang Panjang, kepada para junjungan penyair dan segenap pegiat literasi di sana.
Dan di luar segala itu, boleh pula kita turut melempar sinis. Apa pula pengaruh perhelatan se-Asia Tenggara yang telah rampung itu, jika selepas acara tiada kita temukan perubahan apa-apa. Baik pada diri penyair, masa depan puisi, nasib gerakan literasi, hingga segala sesuatu yang berkait-paut pada sastra, kesenian, dan kebudayaan di Indonesia ini.***

─Setia Naka Andrian, Peserta Temu Penyair Asia Tenggara 2018. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang.

Senin, 03 September 2018

Puisi Setia Naka Andrian (Litera.co.id, 1 September 2018)


Kami Diajak Bertapa

Kami yang telah diajak bertapa
Bersama mereka, anak-anak
yang kerap girang sebelum petang
dititipkan kepada siapa-siapa

Kami yang telah diajak bertapa
Bersama mereka, ibu-ibu
pencuci piring di bawah pohon-pohon
yang gagal kekal
Sebelum segalanya tak tahu
akan ditumpahkan ke mana

Kami yang telah diajak bertapa
Bersamamu, Tuan
Kami rela menjadi rupa atau ketiadaan
Bahkan, kami telah mengirim kepadamu
Satu meter tanda tanya
di bawah kening-kening
yang tak sempat pecah itu
Meski kerap dibanting habis-habisan
di bawah hujan dan terik dadamu
yang kian tak lapang

Kau tahu, Tuan,
Bahwa dalam segenap kegagalan
dan segala degub yang kerap memilih hilang
Kami berupaya mengirim ke hadiratmu
Bersama para pemanjat pilu
Yang kian bersetia
dengan paras wajahmu
dan sisa hujan yang tanggal
dengan malu-malu

Demi keangkuhanmu, Tuan
Telah kami hancurkan
diri kami sendiri
Atas nama keriuhan dan kepenatan
Kami rela menggagalkan waktu
Yang kian bergerak mengelabui
cara buruk bunuh diri sendiri

Demi keangkuhanmu, Tuan
Yang tak pernah rela disiplin
Mengukur jejak-jejak kehilangan
Saat kami diburu benda-benda gagal
Yang kerap malih wujud
di balik kegagapan

Hingga di tengadah jalan
yang tak lagi lengang
Kami bersamamu, Tuan
Menghitung mundur jejak-jejak
yang berlalu
Selepas itu, betapa hari-hari kami
Seakan kian disembunyikan
dalam diri lain
yang tak sempat kita temukan
sebelum atau sesudahnya

Kami seakan tak pernah
mencari mata-matamu
yang urung bertekuk-tubuh itu
Bahkan guyur hujan ini, Tuan
Kali pertama segalamu tanggal
dari diri kami sendiri

Namun kami yakin, Tuan
Tuhan telah melepas kami di sini
Diminta mengembara dalam bara
Merencanakan dalam titik-titik tak berupa
yang mengumpamakan jejak dan doa-doa

Dan di ruang ini, Tuan
Kami seakan diciptakan kembali
Di antara kerangka masa depan
yang terbelah-belah

Kami diajak menumbuhkan kembali
Apa yang bermula dan apa yang bermuara
Bahkan, kami hendak diajak menyuarakan lagi
Bagaimana kepulangan
yang tumbuh di luar alam pikiran

Lalu selepas ini, akan kau kirim
ke mana lagi kami, Tuan
Jutaan jam yang lalu,
kami telah kau ajak
untuk menyeberangi sungai-sungai tanpa perahu
Kami juga kerap kali kau paksa
untuk mengarungi laut-laut
yang tak lagi biru

Dan kami semakin gagal, Tuan
Bahwa kamilah kabar
yang kau kirimkan kala itu
Saat segalanya tak sempat menanami dirinya
dengan segenap rindu
Kamilah misteri yang kau ajarkan
turun-temurun ke hadirat anak-cucu
Mitos dan mimpi buruk
yang telah kau ramu tanpa pintu

Kamilah kerja yang kau ciptakan
dari tubuh-tubuh renta
Riwayat kehilangan
yang terus menggerakkan
segala yang kerap bermula
dan tak pernah berakhir di mana-mana

Dan suatu saat nanti, Tuan
Ketika malam telah begitu berbinar
Memikirkanmu lagi adalah cara lain
Untuk berpandai memilih kekalahan
Segalanya melimpah ruah
Di balik nada dari mulut-mulutmu yang pecah

Kendal, Februari 2018


Maka Hijrahlah Kami

Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Menyusuri pagi-pagi
Yang tak sempat ditiduri
tubuhmu sendiri

Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Dari segala yang tak menemukan
suara yang kau janjikan
Hingga kami menemukan
Patahan-patahan luka
Yang dalam-dalam

Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Meninggalkan rupa wangi
Meninggikan arah telunjuk jari

Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Menyusupi liang-liang kecil
Yang tiada pernah kami temukan lagi

Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka bolehlah kami sebut diri
yang gagal ini
Diri yang angkuh,
Yang kerap mandi selepas
Hangus dalam bara apimu

Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Bolehkah kami bersimpuh
Di antara hutan-hutan
Yang tak lagi dikepung nama-namamu?

Kendal, Februari 2018


Lahir dari Rindu

lahirlah kami dari rindu
dan batu-batu
ketika segala hal
telah menjadi
selain dirimu

lahirlah kami dari rindu
dari segala napas
dan segenap kata
yang diucapkan
selain dari mulutmu

lahirlah kami dari rindu
dari duka, yang lupa
dikirimkan penyair,
para pemahat debu itu
yang kerap ragu
menciptakan dirinya
dari segenggam mimpi
yang lucu-lucu

lahirlah kami dari rindu
dari peperangan yang maha benar
yang memilih pergi,
mencari tahu
di mana kadar iman
di mana kepulangan panjang

Kendal, November 2017