Sabtu, 22 Oktober 2016

Pengajaran Sastra Kita (Tribun Jateng, 22 Oktober 2016)

Pengajaran Sastra Kita
Oleh Setia Naka Andrian

Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia baru saja digelar di Hotel Bidakara Jakarta Selatan, 18-20 Oktober ini. Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang 107 sastrawan dalam perhelatan bertajuk Peran Sastrawan dalam Pendidikan Karakter Masyarakat tersebut.
Beberapa narasumber yang hadir di antaranya Dadang Sunendar, Gufran Ali Ibrahim, Remy Sylado, Putu Fajar Arcana, Maman Suherman, Maman S. Mahayana, Nirwan Dewanto, dan Dino Umanuk.
Dalam musyawarah tersebut berlangsung diskusi masalah kesastraan yang ada di seluruh Indonesia yang dibahas bersama-sama sehingga menjadi bahan rekomendasi.
Ada beberapa hal menarik yang diperbincangkan. Terutama pada sidang komisi pembinaan sastra terkait peningkatan mutu apresiasi sastra melalui pengajaran. Misalnya saja dalam pembelajaran sastra banyak didapati karya sastra yang sebenarnya tidak cocok dengan teori sastra yang ada, namun dicocok-cocokkan. Seharusnya, teori mengikuti karya sastra yang ada, jika tidak ada teorinya, maka ciptakan teori yang baru.
Lebih-lebih pada peredaran buku-buku sastra di sekolah atau di perguruan tinggi. Tidak sedikit di antara sekolah/kampus yang masih belum update buku-buku sastra yang berkembang saat ini. Perpustakaan masih dinilai belum menampung karya-karya sastra baru. Misalnya, pada karya-karya sastra yang mendapat penghargaan dalam perhelatan-perhelatan sastra tertentu.
Maka pada forum, sastrawan yang hadir menyuarakan betapa sangat penting negara atau Badan Bahasa berkenan untuk merekomendasikan buku-buku sastra yang layak untuk diedarkan di sekolah/kampus. Perlu adanya kurator yang berkompeten untuk menentukan buku-buku sastra mana saja yang harus dikonsumsi siswa/mahasiswa.
Barang tentu peredaran karya-karya sastra yang bagus dan bernas akan menunjang penciptaan generasi unggul yang kreatif, baik di lingkungan sekolah maupun kampus. Siswa/mahasiswa saat ini masih dinilai sangat kering dan begitu jauh dengan iklim dunia literasi yang seharusnya.
Bolehlah, misalnya, dapat kita lihat, saat ini siswa/mahasiswa dalam hal apresiasi sastra masih hanya terhenti pada apresiasi baca. Sangat banyak didapati lomba baca puisi/cerpen. Belum pada tahapan mencipta karya, menulis karya. Entah dalam lomba atau lokakarya tertentu untuk menciptakan generasi-generasi pencipta.
Persoalan sangat rendahnya masyarakat kita dalam hal membaca buku, tentu menjadi masalah besar bagi bangsa ini. Segenap peserta forum pun begitu gelisah menyikapi virus malas membaca ini.
Coba kita simak saja, msyarakat kita akan sangat lebih menyukai menyaksikan/menonton film daripada membaca kisah yang difilmkan tersebut. Masyarakat kita akan lebih berbahagia terbahak-bahak menyaksikan Dono beserta teman-teman Warkopnya dari pada mencoba mencari buku-buku novel karyanya.
Lebih-lebih, tidak sedikit guru-guru atau pengajar di sekolah atau di perguruan tinggi yang masih begitu abai dengan pergerakan atau apa saja yang terjadi pada perkembangan sastra saat ini. Sastra koran seperti apa, sastra dari gerakan komunitas seperti apa, siapa saja sastrawan muda yang bermunculan, atau siapa saja sastra yang menjadi nominasi berbagai ajang penghargaan kesastraan, entah puisi, cerpen atau kritik sastra.
Tidak malah hanya melulu berkutat pada karya sastra masa lalu yang terkadang sudah sangat ketinggalan. Itu terkadang yang membuat pengajaran sastra kita menjadi sangat kuno. Sudah sangat puas hanya saja mengajarkan atau membacakan puisi "Aku Ingin" dari Sapardi Djoko Damono dengan cuma hasil "copy paste" dari internet, tanpa mengetahu seperti apa dalam bukunya.
Belum ada upaya pengajar kita berkeinginan melek literasi, dengan cara update karya-karya baru yang lebih segar. Misalnya saja jika puisi bolehlah diajak menekuri buku puisi Tidak Ada New York Hari Ini karya M Aan Mansyur yang begitu populer dalam film Ada Apa dengan Cinta 2, buku puisi Sarinah karya Esha Tegar Putra, Mendengarkan Coldplay karya Mario F. Lawi atau bahkan mengajar menyuntuki buku puisi karya penyair sarung Joko Pinurbo yang terbaru, Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu.
Belum lagi sangat sedikit pengajar kita yang mau mendatangi beberapa gerakan sastra yang ada di sekitar. Misalnya, saja jika di dekat-dekat Semarang dan Kendal ini, siapa yang mau meluangkan waktu untuk mendatangi acara obrolan buku semacam yang diselenggarakan oleh Kelab Buku Semarang dengan tawaran buku-buku sastra bagus yang dibahas dalam forum. Belum lagi perhelatan sastra tahunan yang diselenggarakan Komunitas Lerengmedini Boja Kendal, misalnya dalam Parade Obrolan Sastra atau Kemah Sastra.
Padahal sudah menjadi rahasia umum jika dalam forum obrolan dan kemah tersebut mendatangkan banyak tokoh-tokoh sastra kita. Sebut saja Agus Noor, Ahmad Tohari, Remy Sylado, Korrie Layun Rampan, Martin Aleida, dan sederet maestro lainnya banyak didatangkan di situ.
Belum lagi gerakan literasi Wakul Sastra yang saat ini sedang dijalankan Heri C. Santosa dalam komunitas tersebut dengan meletakkan buku-buku di warung-warung makan di Boja. Niatan mereka sederhana, bahwa diri manusia tidak hanya butuh kenyang perut saja. Jika hanya itu, lalu apa bedanya manusia dengan hewan. Namun jika sudah begini, sesunggunya hanya ada satu jawaban. Yakni, semua butuh kesadaran. Jika karya sastra itu kemuliaan, maka tentu pengajaran sastra adalah ibadah yang begitu mulia.***

─Setia Naka Andrian, Penulis Buku “Perayaan Laut” (2016). Peserta Munas Sastrawan Nasional 2016.


Minggu, 16 Oktober 2016

Puisi Setia Naka Andrian (Media Indonesia, Minggu, 16 Oktober 2016)


Sejak Langit Merah

Sejak langit merah
Kita seakan tidur di hari paling terjaga
Betapa tidak,
Rumah-rumah kita begitu cepat
berubah-ubah warna

Kita, kian hari merasa tiada daya
Melihat doa dan janji
yang seakan tiada beda rupa-rupanya
Seperti dada kita yang mekar
dan kempis tiba-tiba
Serupa diri kita yang bising
Lalu tiba-tiba hening dengan terpaksa
Seakan menjadi paling rahasia
Mimpi dan masa depan kita dibeli
Dengan peluru pula,
dengan begitu tragis dan tiba-tiba

Kita lihat bersama,
hari-hari semakin sia-sia saja,
katamu,
Lalu kau merasa asing dengan diri sendiri
Suaramu seakan lantang,
ditanam dengan dalih yang beterbangan
Tubuhmu seolah membara,
Dihidupkan di depan speaker
yang meledakkan janji belaka
Dan perabotan kotor yang menumpuk
Ditumbuhkan paksa di dada-dada kita
Lalu selanjutnya,
kita seakan dibuat sangat butuh tangan mereka
Menunggu renovasi dapur
Menanti tanda tangan dan stempel
Hingga semua semakin tak berujung-ujung

Sejak langit merah
Di dapur, kita kian sengsara
Bumbu-bumbunya dipalsu di mana-mana
Aroma rempah yang dulu tak bersekat di lidah kita
Kini seakan mati-matian untuk meminangnya

Lihatlah pula, halaman dan ladang rumah kita
Pelan-pelan disapu habis
Kita seakan semakin dipisahkan
dengan milik kita sendiri

Sejak langit merah
Kita seakan sering mengendarai
ibu kandung kita sendiri
Lalu di luar sana banyak yang bertanya,
Tunggangan seperti apa ibumu itu?
Bukankah kau yang dikendarainya?
Lihat saja, jarak dan ingatan,
kian hari semakin fiktif-fiktif saja
dalam hitungan-hitungan tak terduga
Lalu kini kita tiada berkeputusan,
Merah ini, warna-warna rumah kita kini
Semakin tiada bermuara,
Tak pernah benar menembus dada kita,
Apa lagi nurani
yang sering digemborkan
di panggung-panggung mereka


Kendal, Agustus 2016


Pesan Ibu

Sekolahlah, Nak
Agar kelak kau hidup mulia
Kau akan membalik diri sendiri
Di atas telapak tanganmu sendiri
Selepas orang lain lari pagi
Kau akan hangat pula
Dengan degub dadamu sendiri

Sekolahlah, Nak
Agar kelak kau mampu mandi
Kau akan mengerti,
Jika pagi-pagi akan tinggal serumah
dengan sore hari
Dan kau akan tersenyum manis
Melihat tanganmu sendiri
yang mengaduk secangkir kopi

Sekolahlah, Nak
Sebelum hari-harimu kacau
Memilih hidup tanpa nyali
Tinggal serumah dengan sejarah
Yang kata mereka sungguh tak pasti
Masa lalu yang terus dibuat-buat
Diulang-ulang di sepanjang momen negeri paling ngeri
Sepanjang tahun,
kau akan kebingungan memilih mana yang pasti
Lalu akhirnya kau akan lebih sepakat
dengan jalan mati bunuh diri


Kendal, Agustus 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

Rendra, Ziarah Kata dan Doa (Republika, 9 Oktober 2016)

Rendra, Ziarah Kata dan Doa
Oleh Setia Naka Andrian

Agustus lalu, tepat tujuh tahun meninggalnya W.S. Rendra, penyair Si Burung Merak yang begitu dikenal seantero negeri ini. Beberapa kota di negeri ini, daerah dan lingkup kecil semacam komunitas sastra, khususnya puisi, seakan khidmad mendengar gelimang kata-kata yang terus mengalir dari sajak-sajak Rendra.
Begitupun yang penulis lakukan bersama Forum Ngaji Ngopi Ngudud dan Kelab Buku Semarang, menyelenggarakan Ziarah Puisi Rendra di Mukti Cafe. Buku puisi Doa untuk Anak Cucu (Bentang, 2013) dan Puisi-Puisi Cinta (Bentang, 2015) menjadi riwayat tersendiri bagi khazanah perpuisian Rendra, dan bagi sastra Indonesia tentunya.
Melaui Doa untuk Anak Cucu (DUAC), Rendra seakan begitu yakin dalam menerawang masa depan keyakinannya. Ia seakan nampak berpegang pada Tuhan yang Esa, Allah SWT, semenjak ia menentukan bahwa Islam sebagai muara imannya. Nampak jelas dalam puisi Gumamku, ya Allah, berikut penggalannya:
Angin dan langit dalam diriku,/ gelap dan terang di alam raya,/ arah dan kiblat di ruang dan waktu,/ memesona rasa duga dan kira,/ adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah!
Rendra, dalam puisi tersebut begitu berserah, segalanya tertuju kepada tuhannya, Allah. Melalui hal tersebut menjadi catatan lain tentang riwayat keislaman Rendra, lebih-lebih roh pementasan Kasidah Barzanji menjadi titik temu perjumpaannya di jalan muslim. Rendra seolah berambisi menyuarakan kemerdekaannya dalam bertuhan. Rendra sempat mengatakan, “bahwa dalam sajak-sajakku merupakan yoga bahasa, semacam ruang ibadah, puisiku adalah sujudku.”
Kuntowijoyo dalam bukunya Maklumat Sastra Profetik (2006) menyatakan bahwa pengarang yang shalat dengan rajin, zakatnya lancar, haji dengan uang halal, Islamnya tidak kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah.
Barangtentu, itu dilakukan Rendra dalam bukunya DUAC, tanpa beribadah melalui karya, segala yang dilakukan di dunia seakan belum menyeluruh keislamannya. Bisa juga disimak melalui bagian akhir puisi Gumamku, ya Allah berikut:
Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu/ Agama adalah kemah para pengembara/ Menggema beragam doa dan puja/ Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.
Rendra bersuara begitu lantang dalam menyuarakan agama. Bahkan dalam penggalan tersebut menunjukkan betapa agama menjadi pengembaraan umat manusia di dunia. Rendra mengajak kita, bahwa ragam doa dan puja dalam tubuh-tubuh agama.
Bahkan agama yang sama pun akan didapati beraneka cara menyuarakan keagungan tuhannya. Namun tetap dalam muara yang sama, atas kebaikan yang sama dan untuk kemaslahatan bersama.
Dalam DUAC menjadi penanda tersendiri bagi perjalanan sajak-sajak Rendra. Buku ini seakan menjadi karya yang entah dikehendaki atau bahkan sangat tidak dikehendakinya. Mengingat jika buku ini lahir setelah beberapa tahun ia meninggal.
Namun, setidaknya sang penyunting (Edi Haryono) sempat memperbincangkan bersama Rendra tentang penerbitan buku ini. Edi yang mendapat titipan beberapa sajak yang terangkum dalam buku ini, dan sebagian lagi yang disimpan Ken Zuraida (ida, istri Rendra).
Melalui buku DUAC ini pun, Rendra begitu gelisah, bagaimana nasib anak cucunya kelak. Nampak dalam penggalan puisinya Kesaksian Akhir Abad berikut:
O, anak cucuku di zaman Cybernetic!/ Bagaimana akan kalian baca prasasti dari zaman kami?/ Apakah kami akan mampu/ menjadi ilham kesimpulan/ ataukah kami justru menjadi masalah di dalam kehidupan?
Rendra berpanjang-lebar dalam 6 halaman dalam mencatat doa-doa kegelisahannya dalam puisi ini. Ia seakan mengajak generasi mendatang lebih tertantang dengan yang dilontarkannya.
Rendra ketakukan dengan anak cucunya yang hidup di zaman serba mudah. Segala informasi dan apa pun bisa dengan leluasa dilahap dengan sangat cepat. Kebaikan dan keburukan akan berdampingan bahkan saling berlomba untuk mendarat di mata siapa saja.
Rendra dalam puisi tersebut pun menanamkan kegetiran atas Indonesia, nampak jelas dalam penggalan berikut:
O, Indonesia! Ah, Indonesia!/ Negara yang kehilangan makna!/ Rakyat sudah dirusak atas tatanan hidupnya./ Berarti sudah dirusak dasar peradabannya./ Dan akibatnya dirusak pula kemanusiaannya./ Maka sekarang negara tinggal menjadi peta/ itu pun sudah lusuh/ dan hampir sobek pula.
Ratap tangis mendera Rendra, atas segala kedaulatan tanah dan air Indonesia yang belum sepenuhnya digenggam bangsa ini. Melalui buku puisinya DUAC, seakan Rendra ingin melihat masa depan anak cucunya lebih baik daripada kehidupannya saat itu, saat ia masih hidup, saat masih gagah menyuarakan segala ratap dan kegelisahannya melalui sajak-sajaknya.
Selain buku DUAC, dalam obrolan malam itu pun hadir dengan begitu hangat buku Rendra yang bertajuk puisi-puisi cintanya. Begitu membius khalayak yang malam itu melepas perjumpaan dengan doa-doa yang bertebaran untuk almarhum.
Dalam puisi-puisi cintanya tersebut, terbagi atas tiga bagian, Puber Pertama, Puber Kedua, dan Puber Ketiga. Dalam kumpulan ini, menjadi bukti masa-masa pencarian cinta Rendra. Alam semesta menjadi pijakan bagaimana ia menemukan cinta-cintanya.
Misalnya saja dalam penggalan puisi Hai, Ma! Berikut:
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara/ dijauhi ayah-bunda/ dan ditolak para tetangga./ Atau aku telantar di pasar./ Aku berbicara tetapi orang-orang tidak mendengar,/ mereka merobek-robek buku/ dan menertawakan cita-cita./ Aku marah. Aku takut./ Aku gemetar/ namun gagal menyusun bahasa.
Seorang Rendra, dalam puisi tersebut merasa dirinya terbuang. Ia begitu tak berarti apa-apa. Pada posisi semacam itu, ia seakan semakin berupaya menemukan cinta-cintanya. Dalam keadaan yang tersudut dan merasa bahwa kehidupan menggiringnya untuk menjadi semakin dewasa, semakin mendekati sempurna.
Itu pada bagian puber ketiga, dan tentu akan beda nuansa cintanya pada bagian puber pertama dan puber kedua. Bagian-bagian tersebut menjadi jarak yang tak pernah saling meninggalkan, namun sangat erat meriwayatkan bagaimana perjalanan Rendra dalam menggapai cinta-cintanya di semesta ini. Dan kita saat ini, menyimak beragam kemuliaan melalui sajak-sajak Rendra, Ziarah kata, doa-doa serta sejarah manusia, pergulatan penyair menjadi jawaban yang masih terus bergulir selamanya.***


─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Penulis buku puisi, “Perayaan Laut” (April 2016). Pegiat Forum Ngaji Ngopi Ngudud.

Jumat, 07 Oktober 2016

Afrizal Malna; Fenomena Tubuh dan Bahasa (Derap Guru, Oktober 2016)


Komunitas Penjaga Literasi (Derap Guru, Oktober 2016)


Puisi Setia Naka Andrian (Pikiran Rakyat, 4 September 2016)

Hari Kedelapan Belas

hari ini, kita telah melipat baju-baju
yang kita kenakan di tahun lalu
di sana dihiasi lampu, wajah-wajah manusia,
sungai, dan ikan-ikan yang menguap ketika berenang;
hari ini kita banyak lupa ingatan,
riwayat kamar-kamar berserakan di dadamu,
banyak kenangan yang memilih binasa
dalam takdir sebuah kota,
hingga kini, sebelum menutup jendela,
kau, memilih menjadi hari yang paling kuasa;
manusia berangkat kerja, menjadi pasukan,
menjadi serigala, pemangsa kebahagiaan,
pejinak tragedi, dan lain-lain;
hari ini, kita menepi, melukis bantal
dengan pelangi, menghabisi diri orang-orang
yang membutakan matanya sendiri
dengan sendok, garpu, pecahan beling,
dan tanah sisa hujan;
hari ini, kita belajar berlari, di tepi jalan
yang sedang dilewati pasukan malapetaka
ketika kita belum mampu mengubah diri
menjadi segitiga

Sanggargema, Maret 2015


Hari Sepenuh Puisi

ia kabarkan hari-harinya sepenuh puisi
dari hutan, dari jalan raya, dari tembok,
dari sungai, bukit, pohon dan dari segala arah,
hingga dari dalam kamar, mereka berebut bernyanyi
dengan irama dan nada dasar yang berloncatan,
mereka menaiki puisi pelan-pelan, mengelilingi
kota-kota yang berloncatan di atas kepalamu,
semacam kera-kera pemungut hati yang berantakan;
sungguh, kau diamkan hari-harimu yang berbinar
kau tuangkan kepedihanmu dalam segelas anggur
dan kau tiadakan kemenanganmu, malam-malam
mengucur deras, dari keningmu, dari takdirmu,
dari seberapa dalam doa mengepal menjadi
riwayat dan takdirmu,
lalu darimu, puisi berlari mengejar masa depan
yang sedang tidur panjang
ia tak lagi mau sarapan pagi, katanya, hari sudah
begitu kenyang menyaksikan penyakit yang piatu
dan lupa menyusui anak-anaknya,
tak ada lagi obat batuk yang mampu menyembuhkan
lukanya, hingga kau jarang memenuhi gizi untuk
puisi-puisimu, padahal katamu:
puisi adalah satu-satunya anak nuraniku
hingga akhirnya puisi tinggal nama,
penyair kehilangan nyawa,
puisi semakin memburuk, tak mau dibujuk,
mereka lari, memilih mengasingkan diri,
menceburkan diri dalam sungai yang kering

Saranglilin, Maret 2015


Perihal Tidur

sayang, aku tidur dulu di pungungmu ya; nanti tolong
bangunkan aku pukul 17 tepat, karena nanti aku harus
mencari hujan; aku ingin mengajaknya membasahi
pohon yang telah lama tumbuh di jantungku,
katanya, ia pohon yang ingin cepat mati,
ia ingin tidur panjang, dan mengubur dirinya di dadaku,
tolong ya, karena di sana setiap hari terdapat perempuan
menangis yang bersetia menunggu peluru,
katanya, ia selalu bersembunyi di dada-dada para pemerkosa
yang datang tak berkepala; mereka meminum api-api
di atas ladang rahasia, hingga ada seperangkat doa
yang kau lahirkan dari dalam penjara,
ya, benar, mereka dilindungi para penjaga yang gemar
membakar batu; aku tak tahu, kenapa batu diam saja,
ia tak kepanasan, ia tak kedinginan,
atau barangkali ia sedang tidur, ia lelah, karena sering
dipinjam orang-orang yang keras kepala,
ah, kau malah mengira jika aku bohong,
padahal sungguh, semua menyaksikan,
bahkan jika kau mau, mereka siap untuk membinasakan
dirinya sendiri; termasuk kelak kau, aku, dan semua orang
yang membenci hari-hari tidur,
kita akan lelap bersama, menyaksikan mimpi-mimpi
yang menidurkan kita, sebagai diri yang sementara,
sebagai jiwa yang paling pura-pura,

TBRS, Maret 2015


Sabtu, 10 September 2016

Membangun Kota dengan Seni (Tribun Jateng, 10 September 2016)

Membangun Kota dengan Seni
Oleh Setia Naka Andrian

Nasib kota sebuah kota tentu menjadi tanggung jawab bersama. Tidak melulu urusan pemerintah saja, yang biasanya kerap kali lebih mementingkan bangunan infrastrukturnya ketimbang sumber daya manusianya.
Peran seniman lokal bisa jadi sebagai tumpuan utama. Kenapa begitu, karena bagaimanapun sejarah dan usia kota tidak bisa lepas dari nilai-nilai estetis di dalamnya. Baik terkait ketahanan filosofis dan kulturalnya. Itu tanggung jawab seniman, bukan?
Saya ingat, apa yang dikisahkan Tubagus P. Svarajati (2012) dalam sepenggal esainya, “Meski kita paham, hingga sekarang, langka seniman kita yang mendokumentasikan perkembangan atau riwayat kota secara serius dan metodis.”
Seniman kita, seakan begitu abai dengan kota yang melahirkan dirinya. Bahkan, jika di antara mereka masih selalu dihinggapi beragam apologia sebelum melakukan apa-apa. Maka cepat atau lambat, takdir sebuah kota akan berhenti begitu saja.
Dalam hal ini, jika kita simak di Kendal, selama lima tahun terakhir telah banyak bermunculan komunitas-komunitas seni kreatif. Baik yang fokus bersastra, seni rupa, teater, musik, film, dan lainnya. Seakan menyibak belantara kota melalui seabrek aktivitas saban harinya. Namun apa arti semua itu, jika program-program kreatif belum menyentuh bahkan sangat jauh dengan aktivitas pendokumentasian riwayat kota secara serius. Sebab, nasib sebuah kota akan tetap selalu bertarik magnet, antara sebuah kenyataan dan gagasan.
Komunitas seni kreatif layaknya hanya akan menjadi angin lalu, yang akan tumbuh berkembang beberapa saat. Lalu pada akhirnya pelan-pelan menunggu tumbang atau menemui ajal, kehancuran, mati suri, dan entah istilah mengerikan lainnya. Memang, sangat sulit kita temukan, misalnya, beberapa kelompok yang begitu berjaya pada masa lalu dan hingga saat ini masih bergerak atau menyisakan catatan kemuliaan di mata publik.
Sebut saja, jika di Kendal memiliki Teater Semut, dengan Aslam Kusatyo sebagai sutradara sekaligus aktor kawakan yang konon salah satu tokoh yang begitu mati-matian menghidupi khazanah teater dan sastra di tanah Bahurekso ini. Tentu, hingga saat ini masih terdengar, mengingat bagaimana ia diakui telah melahirkan jawara-jawara lomba teater, baca dan tulis puisi misalnya, bagi kalangan pelajar.
Begitu pula, ia dicatat melahirkan generasi penerus yang khusyuk menekuni sebagai pengajar ekstrakurikuler teater di beberapa sekolah. Bolehlah kita sebut beberapa tokoh muda. Di antaranya Akhmad Nasori, Hidayat Kliwon, dan Sobiron, misalnya. Ada pula yang mendirikan kelompok baru, sebut saja Akhmad Sofyan Hadi, aktor yang sempat menyabet juara II monolog dalam ajang Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) 2008, sebagai salah seorang pendiri Jarak Dekat dengan beberapa aktivitas yang berniat menghidupi teater di Kendal. Walaupun tetap saja, jika di kota tetangga (Semarang) kesenian teaternya dihidupi oleh teater-teater kampus, maka di Kendal diramaikan dengan teater-teater sekolah (pelajar SMA sederajat). Hal tersebut dibuktikan selama bertahun-tahun dengan terselenggaranya beberapa parade teater yang dihuni oleh berjubel kelompok teater dari sekolah.

Generasi Patah-Patah
Sudah sepatutnya, masa lalu kesenian kota memiliki generasi kebanggaan, komunitas yang diagung-agungkan, atau tokoh-tokoh yang diidamkan menjadi tumpuan masa depan sebuah kelompok pada khususnya, atau nasib kota pada umumnya. Namun kenyataannya, kota seakan tak mampu memberikan apa-apa. Seorang seniman yang seharusnya menjadi ujung tombak, motor penggerak roda kesenian di sebuah kota, yang konon katanya karena persoalan klasik, maka di antara mereka pelan-pelan meninggalkan kota ini. Sebut saja misalnya, salah seorang sastrawan ternama di negeri ini, Ahmadun Yosi Herfanda. Penyair kelahiran Kaliwungu Kendal, mantan redaktur sastra koran Republika yang kini telah menetap di Jakarta sebagai penyair religius-sufistik. Ia banyak menulis cerpen, kolom dan esei sastra. Sehari-hari ia mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong dan ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Tentunya, sederet persoalan tadi, atau kendala apapun tidak akan mampu menghalangi sebuah gerakan kesenian yang benar-benar khusyuk dan berasyik-masyuk dalam bidangnya masing-masing. Semua lini sudah seharusnya mampu berbaur untuk menentukan nasib sebuah kota. Barangtentu kita ingat, beberapa waktu lalu ketika Kendal Expo 2016, Bupati Kendal, Mirna Annisa, meluncurkan program “Kendal Permata Pantura”. Bupati yang masih terhitung belum lama ini menjabat, dengan seabrek program yang diidamkannya, tentu perlu dukungan dan kawalan yang ketat.
Mengingat pada bulan-bulan ini, sedang fokus pada peresmian Kawasan Industri Kendal dan mulai aktifnya Pelabuhan Tanjung Kendal. Lalu, apakah konsep besar yang disuarakan melalui Kendal Permata Pantura cukup masyhur dengan didirikannya kawasan industri dan pelabuhan baru saja? Lalu bagaimana nasib beberapa destinasi wisata semacam Pantai Sikucing, Goa Kiskendo, Curug Sewu? Jika mengidamkan kota ini menjadi permatanya pantura, apakah tempat-tempat itu hanya akan dibiarkan dengan pola pengembangan yang setengah-setengah dan sewajarnya saja?
Tentu jawabannya, sudah waktunya Kendal memiliki agenda festival kesenian yang diselenggarakan tahunan. Jika kita mau tengok kota-kota tetangga, taruhlah festival rutin FKY (Festival Kesenian Yogyakarta), lalu Dieng Culture Festival. Sudah sepatutnya, Kendal tidak hanya sekadar menciptakan kegiatan sebatas selebrasi semata, atau bahkan yang hanya terkesan sebagai pasar malam semata. Maka dalam hal ini, peran serta segenap seniman dalam berbagai bidang pun sangat dibutuhkan. Pemerintah kabupaten dengan dinas-dinas terkaitnya sangat mustahil mampu mensukseskan kerja besar tersebut.
Jika sudah ada keterlibatan kelompok-kelompok seniman, yang kebanyakan anak muda tersebut, tentu kota ini saya yakin tidak akan kesulitan menentukan arah gerak masa depan kotanya. Tentu, jika semua sudah benar-benar niat ingsun untuk meriwayatkan kota secara serius dan metodis. Baik melalui sastra, seni rupa, film, maupun teater. Festival yang menyuarakan seni kontemporer yang tidak mengesampingkan nilai tradisi dan filosofis kota. Tentu Kendal pelan-pelan akan menggema di penjuru kota, bahkan seantero negeri ini. Dengan seruan, “Kenali Kendal!” Tempat-tempat wisata dikelola dengan sajian tontonan sekaligus tuntunan seni dan budaya. Selanjutnya, pundi-pundi pendapatan daerah pun akan terdongkrak. Kota berangsur-angsur akan semakin merekonstruksi masa depannya yang kian gemilang. Semoga.***



─Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya “Perayaan Laut” (April 2016).