Senin, 27 Oktober 2014

Puisi, dan Semacam Ingatan Kecil tentang Kegenitannya

Oleh: Setia Naka Andrian

Barangkali, ini bukan kali pertama kita menjumpai puisi. Sengaja atau tidak disengaja, pasti cukup mesra perjumpaan kita dengan puisi. Banyak jalan yang kita tempuh hingga akhirnya kita mengakui keberadaan puisi. Entah perjumpaan kita dengan sepenuh paksaan atau setebal kemesraan yang panjang. Pasti masing-masing dari kita juga punya jalan yang berbeda dalam proses penemuannya. Proses dan jalan yang tidak pendek. Hingga kita benar-benar mengakrabi dan yakin bahwa puisi bukan lagi tuntutan mata pelajaran saja, namun di antara kita barangkali telah menganggap puisi sebagai kebutuhan, terapi jiwa, dan kegenitan-kegenitan lain sebagainya.
Seseorang menulis puisi, bukan berarti sebatas ia sedang ingin menulis puisi. Namun lebih pada puisi yang ingin ditulis oleh seseorang. Serius, saat ini puisi cukup merasa kesepian. Puisi saat ini barangkali cukup disepelekan oleh seseorang di sekeliling kita, mereka menganggap puisi masih sebagai barang antik yang hanya beredar dan dinikmati orang-orang tertentu dalam keunikan-keunikan tertentu pula. Lebih-lebih mengenai peredaran puisi di lingkungan bangku sekolah hingga kursi-kursi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra yang cukup berdesakan tiap tahunnya. Barangkali kita cukup paham, bagaimana muara puisi di lingkungan tersebut hanya akan berakhir di laci dan di bawah kursi saja. Berakhir dalam tumpukan tugas-tugas dan skripsi yang menumpuk kesepian di perpustaan. Jarang yang masih dimusimkan kembali sebatas dalam perdebatan-perdebatan kecil sambil menghisap aroma kopi. Ya, semoga tidak separah kecurigaan tersebut.
Namun setidaknya saya pribadi cukup angkat topi dengan proses kreatif yang dilakukan M. Lukluk Atsmara Anjaina. Ia sebagai siswa MTs, sebuah lembaga pendidikan setingkat SMP dengan pengaruh cukup besar mengenai pelajaran agama Islam. Setidaknya, Anja telah melampaui dirinya yang tidak sebatas sebagai siswa semata. Saya yakin, tidak semua siswa seusianya, baik di sekolahnya maupun di luar sekolahnya melakukan proses keratif yang sama. Barangkali sekelas mahasiswa pun bisa dihitung jari, siapa saja yang percaya terhadap puisi dan menggilainya semacam yang dilakukan Anja.
Sekali lagi, secara pribadi, saya angkat topi. Paling tidak, dengan membaca beberapa puisi yang ditulis Anja menjadi ingatan tersendiri bagi saya. Barangkali kenangan masa lalu proses kreatif saya ketika masa SMP tak sebaik yang dialami Anja saat ini. Saya ingat betul, dulu saya menikmati pertumbuhan proses kreatif hanya sebatas nasib sebagai individu semata. Forum-forum semacam yang dilakukan Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) Kendal belum saya jumpai saat itu. Benar-benar berdikari (baca: berdiri di atas kaki sendiri). Saat itu, akses bacaan saya sebatas rak-rak di perpustaan sekolah yang berada di desa. Sungguh sepi, tak ada yang menggairahkan dan tak cukup kegenitan puisi yang saya jumpai. Maka ketika saya lapar untuk mengintip puisi yang cukup merdu, saya harus merelakan mengajak kakak saya ke Semarang, mengunjungi toko buku, dan tidak membelinya, hanya membaca saja di toko. Hal tersebut saya ulangi kembali dengan intensitas yang cukup serius ketika beranjak SMA. Bahkan saat itu saya menyebarkan virus menular tersebut kepada beberapa teman, membolos sekolah demi menghitung buku-buku baru di sebuah toko buku nasional di Semarang. Ya, masih tetap sama, tetap hanya membaca di toko saja, karena saat itu uang hanya terpaksa untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah saja. Tak ada uang lebih untuk membeli buku-buku cerpen atau puisi. Ya, jika hendak membeli buku cerpen atau puisi, barangkali hanya tiap semester sekali. Itu pun hanya memanfaatkan korupsi bulanan iuran sekolah yang saya selinapkan, maaf ya bapak dan ibu. Ini sekadar kenakalan sederhana pada masa kecil saja.
Lalu, bagaimana posisi siswa saat ini, di luar Anja? Apakah masih musim beberapa ingatan kecil saya tersebut? Tentu, kita yakin, dan dapat menjawabnya dengan pelan-pelan sambil menghela napas, menghisap aroma kopi atau mengepulkan asap. Kita yakin, saat ini terlalu banyak pilihan. Segala sesuatu saat ini begitu berdesakan mengantri di depan mata kita dan menarik tubuh kita untuk lekas memeluknya erat-erat. Barangkali tanpa harus bersusah payah mencari, segalanya telah disuguhkan dengan cuma-cuma di depan mata. Sebuah proses penemuan saat ini tak begitu berdarah jika dibandingkan dengan penemuan-penemuan yang ditemukan pendahulu-pendahulu kita. Lebih-lebih anak-anak sekolah saat ini, sudah banyak pilihan, termasuk beragam game, dan bermacam temannya yang sering kita temukan dalam fitur-fitur gadget mutakhir saat ini. Barangkali, jika kita ingat, pendahulu kita, atau barangkali kita sempat berakraban bahwa hiburan saat itu jika tidak mendengarkan sandiwara radio ya bermalasan bersama komik dengan tawaran-tawaran imajinasi yang sangat menggiurkan. Jika masa lalu sudah muncul media elektronik, barangkali semacam televisi dengan segenap kematiannya belum begitu manja seperti yang kita simak saat ini. Atau paling tidak, ketika itu kita masih berbangga melakukan aktivitas discovery kecil-kecilan di hutan atau di kebun-kebun yang ada di kampung halaman kita, tentunya banyak hal yang dapat kita kenang serta kita diskusikan dengan teman sebaya. Paling tidak itu yang mengikat ingatan kita, bahkan sampai kapan pun akan membekas lebih tajam dari mainan-mainan yang kita jumpai saat-saat ini dalam dunia gadget yang begitu cepat berganti seri.
Sudahlah, kita lupakan pelan-pelan beberapa hal yang cukup cerewet itu. Saya rasa puisi Anja dalam proses kreatifnya lebih leluasa menemukan kegenitannya dalam puisi. Berkali-kali saya bilang, bahwa saya pribadi sangat angkat topi terhadap prosesnya. Saya rasa kita semua yang hadir dalam lingkaran ini juga merasa begitu. Terlepas dari bagaimana takdir beberapa puisi yang ditulis Anja yang didiskusikan saat ini, paling tidak ia telah memulai dan tentunya sangat mendapat dukungan dari lingkaran diskusi ini. Bukan bermaksud apa-apa, dalam catatan ini tak banyak yang dapat saya sampaikan mengenai puisi-puisi yang ditulis Anja. Namun, saya berjanji kelak jika Anja lebih bersetia lagi dengan puisi, dan lebih berakraban lagi dengan puisi-puisi di luar dirinya, saya akan berupaya menemui tubuh beserta puisinya sambil menghisap aroma kopi. Bagaimana pun, saya cukup khawatir akan ada kecurigaan-kecurigaan lain jika sebatas mengakrabi puisinya saja, tanpa menemui tubuh dan sedikit bertamasya dengan jiwa penulisnya.
Barangkali pada catatan ini ada yang perlu saya sampaikan untuk Anja, namun ini bukan berarti menggurui, sebatas guru pun tak cukup untuk menggurui jika ia masih merasa kemenangan selalu menguasai dalam benaknya. Begini Anja, setidaknya, saat ini hingga saat-saat berikutnya, bahwa puisi sebagai sebuah sastra merupakan definisi kedua kalinya. Penciptaan puisi tak pernah akan lepas dari representasi penulis terhadap kehidupan agama, kehidupan sosial dan kehidupan individual. Saya rasa, sebagai pribadi yang tumbuh di lingkungan pendidikan agama, khususnya Islam, tentunya akan ada banyak hal yang kamu temukan. Sehingga sedikit pesan pertama untuk Anja, coba setelah lingkaran ini, upayakan untuk sedikit mengurangi tulisan yang masih sibuk dengan dirimu sendiri. Lepaskan dengan sepenuh kelepasannya, hingga benar-benar merasakan bahwa Tuhan telah menggerakkan tanganmu dalam menulis. Ketika tulisanmu sudah berhasil, barangkali itu semua bukanlah semata tulisanmu, namun sudah ada campur tangan Tuhan dalam tulisanmu. Percayalah! Apa ada segala sesuatu di dunia ini yang hadir tanpa campur tangan Tuhan?***

*Tulisan ini disebar dalam NgopiSastra #1 PSK (Pelataran Sastra Kaliwungu) | Selasa, 7 Oktober 2014 |19.45 - 22.00 WIB | di Rumah Puisi Langit Kendal, Jl. KH. Thohari Brangsong Kab. Kendal (Barat Alfamart Brangsong) ke Selatan 200 m | Baca dan Bedah Puisi Lukluk Anjaina


Puisi, Muara Individu Beragama

Oleh Setia Naka AndrianJudul               : Bumi di Atas Langit
Penulis            : Bahrul Ulum A. Malik
Penerbit          : Pelataran Sastra Kaliwungu dan Langit Kendal Publishing
Tahun             : Mei, 2014
Tebal              : 55 hlm
Puisi lahir dari kehidupan agama, kehidupan sosial, dan kehidupan individual. Sebagai sebuah teks sastra, puisi kerap disebut second time of definition, sehingga penciptaan karya sastra tidak lepas dari representasi antara kehidupan agama, kehidupan sosial dan kehidupan individual. Demikian pula ketika membaca puisi Bahrul Ulum A. Malik yang terhimpun dalam Bumi di Atas Langit (2013). Kehidupan agama begitu lekat dalam pilihan kata-katanya. Bahrul dalam puisinya telah melempar pertanyaan, dan setelah itu terjawab dari wirid yang mengalir dari ingatan yang dicatatnya sebagai individu yang beragama.
Nampak dalam puisi “Bumi di Atas Langit” berikut: Langit!/ Tiangnya hujan berarak awan// Segala arah adalah tujuan // Tak ada timur selatan barat atau utara// Semua jalan satu tujuan. Dalam penggalan tersebut Bahrul sangat berhati-hati dalam mencatat ingatan dan segala hal pernah diperoleh atau segala sesuatu yang sempat dialaminya. Barangkali ia sangat jarang berbohong. Saya merasa ia benar-benar setia pada catatan perjalanan hidupnya. Tindakan serta segala hal mengenai tingkah laku menjurus pada harkat dan martabat sebagai hamba yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing yang tak tertandingi oleh mahluk ciptaan Tuhan lain. Sanggup menemukan pelbagai masalah dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana. Selalu menggunakan akal dalam menyelesaikan masalah—akal budi. Mengandalkan pikiran, selalu cermat dan tidak emosional dalam menghadapi masalah.Simaklah dalam puisi “Subuh” berikut: Bismillah/ menyebutMu lirih dalam doa subuhku, Tuhan// hamba yang kemarin siang mengetuk pintu rumahMu// sepi, tak ada siapasiapa, suwung!! Hampir ada kemiripan dari keseluruhan puisi yang terhimpun dalam buku pertamanya ini. Dalam hal proses penciptaan dan strategi tertentu yang mendasari wiridnya dalam berpuisi nampak begitu berhati-hati. Segala sesuatu dilakukan dengan sangat hati-hati.Puisi-puisinya memberikan sepetak gambaran dan penerangan yang mampu memprediksi bahwa dirinya akan selalu dihadapkan pada pelbagai tindakan yang menyeluruh. Sebagi dirinya sendiri, dari, oleh dan untuk diri sendiri pula. Manusia mengakui keberadaannya, ia ‘ada’ atas dirinya. Lahir sebagai pribadinya, dan akan meneruskan kelanjutan-kelanjutan dalam kelangsungan hidupnya sendiri yang berkepanjangan. Maka ia akan merasa sama sekali tidak mengikat maupun tidak pula ingin diikat oleh sesamanya. Dalam arti benar-benar berdiri sebagai individu yang mampu menaruh persoalan dan memecahkannya. Serta menanam penyakit dalam dirinya sekaligus akan mengobatinya, karena ia yakin Allah sebagai tuhannya, serta tuhan dalam puisinya. Termaktub jelas dalam puisi “RestuMu Ya Rabb” berikut: Rabb/ dalam semak belukar berakar// dalam rimba yang ku jamah/ dalam lubang yang menjerat// hamba yang dhaif lemah ini/ tersesat pada malam liang/ mencuri ajal di gerbang awan// hamba sendirian/ tuhan// hamba tak brani menatap atau bicara langsung padaMu.Namun Bahrul juga merasakan ketika harus dihujani beberapa persoalan yang ‘sederhana’. Segala bentuk pengorbanan pun akan senantiasa menjadi persoalan yang pelik bagi sesamanya. Misalnya hal tersebut kurang disepakati oleh orang lain yang paling terdekat secara biologis maupun psikis, antara ia dengan orangtua, sanak saudara, hingga kepada pasangan (baca: pacar, suami/ istri). Dikarenakan ia ingin menjadi individu yang benar-benar tunggal untuk penemuan dan perenungan-perenungan tertentu dalam hal kelangsungan harkat dan martabatnya sebagai manusia seutuhnya. Pertanggungjawabannya dilakukan ketika ia harus menentukan pilihan yang ‘tersembunyi’ atas dasar perilaku yang sering dianggap menyimpang dan kurang disepakati oleh sesamanya. Namun hal itu mutlak sebagai jalan yang wajib ditempuh. Dan kali ini ia tetap tegar sebagai individu yang saling, walaupun sebenarnya ia tetap hadir untuk dirinya yang tak terpecahkan sebagai simbol utuh. Nampak dalam puisi “Sejenak” berikut: sejenak saja kekasih// kau temani aku di sini// hingga fajar atau matahari/ menemu kita berduaan.// sejenak saja kekasih/ aku ingin kau ada di sisiku// semalam saja kekasih// atau kalau tidak/ kau tak akan pernah melihatku lagi// sejenak saja//Nampak juga secara tegas dalam puisi “Hawa Adam dan Hawa” berikut: kita yang pernah terusir lantaran khuldi.// untuk kedua kalinya kita terusir lagi/ lantaran apa lagi?// bukan karena khuldi kekasih.// bukan karena iblis.// bukan karena tuhan yang membenci kita.// untuk kedua kalinya kita terusir.// kali ini lantaran jibril.// hingga kita terlempar jauh,/ jauh dan hilang.// entah di mana kita sekarang...// aku ingin pulang adam,/ antarkan aku!!// tunggulah sampai embun memandikan jasadku!! Sehingga sangat jelas, bahwa Bahrul dalam puisi-puisinya menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang begitu pelik, namun ia juga menjawabnya dalam puisi itu. Ia begitu berhati-hati dalam mencatat segala sesuatu tentang dirinya yang benar-benar nampak (ingin) sebagai individu yang luhur. Dalam puisi-puisinya ia selalu berupaya menemukan pelbagai masalah, memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana, dan selalu bermuara pada catatan hidupnya sebagai individu yang beragama.****Tulisan ini merupakan sebuah catatan pelan-pelan dari Buku Kumpulan Puisi "Bumi di Atas Langit" karya Bahrul Ulum A. Malik, dimuat di Rakyat Jateng (Sabtu, 18 Oktober 2014).

Minggu, 06 Juli 2014

Guru Saya Rajin Minum Susu

Oleh Setia Naka Andrian



Dalam ingatan yang terus memanjang, saya mulai gemar meraba seberapa penting guru mengikat tubuhku. Karena saya yakin guru dan murid memiliki keseimbangan yang berimbang antara keduanya. Clifford Geertz dalam Abangan, Santri, Priyayi membibirkan bahwa sistem guru diletakkan atas dasar perbedaan bakat spiritual di antara berbagai individu dan kelompok, bakat yang bisa ditingkatkan tetapi hanya sampai titik tertentu. Sehingga kita tak pernah akan mampu membaca status spiritual dan kemampuan batin seseorang hanya melalui aspek-aspek luarnya saja. Sehingga seorang pengamen dalam kenyataannya bisa saja lebih tinggi bakat spiritualnya dari seorang gubernur.
Semacam dokter dengan pasien, guru merupakan ayah simbolis bagi muridnya. Sehingga kita tak heran jika banyak menjumpai seorang ayah yang lebih tenang menceritakan sosok gurunya daripada sejarah orangtuanya sendiri. Saya kali ini pun akan lebih banyak memutar ingatan tentang ayah simbolis tersebut. Karena memang banyak hal yang dapat saya kenang dari bangku sekolah, ketimbang dari rumah. Melihat dari masa kecil hingga sekarang telah membuktikan bahwa hari-hari saya habis termakan jam pelajaran sekolah dan tugas-tugas yang menggenangi pikiran setiap malam. Hingga terkadang susah tidur, lalu menggiring saya untuk keluar menuju tempat nongkrong bersama teman-teman senasib.
Saya pun ingat, sejak umur empat tahun sudah dilempar orangtua saya untuk nangring di bangku TK ketika pagi hari. Lalu dilanjut siangnya di TPQ/ Madrasah. Kemudian malamnya harus mengaji kepada kiai di masjid. Hingga waktu sisa dalam sela-sela kerangkeng sekolah itulah yang saya gunakan semaksimal mungkin untuk bermain bersama teman-teman. Entah itu main kelereng, petak umpet, hingga sesekali membolos sekolah untuk pergi ke hutan untuk bermain sambil berburu mangga atau buah-buah musiman lainnya.

Beberapa Guru Berpengaruh (dari Beribu Guru yang Mencuri Perhatian)
Pertama, adalah kedua orangtuaku tersurga. Karena bagamanapun banyak pertunjukan yang kami rayakan bersama-sama. Walaupun sesungguhnya saya sangat kekurangan waktu untuk sekadar berjabat bibir dengan mereka. Karena kedua orangtuaku termasuk para pekerja keras, saya harus sulit bertemu mereka ketika nyala mahari masih berdendang di bumi. Hingga saya sering menangis ketika sore hari sepulang dari Madrasah, banyak teman-teman yang disambut oleh kedua orangtunya. Namun saya sendiri harus tanpa mereka, hanya nenek saja yang menyambutku dengan mata yang cukup berkaca pula. Ah, biarlah. Walau bagaimanapun, kedua orangtua saya merupakan pahlawan tersendiri atas tanggung jawabnya.
Sesuai dengan syair lagu berikut ini, yang sering dibisikkan oleh ibu ke telinga saya. Dondong opo salak/ duku cilik-cilik/ gendhong apa mbecak/ mlaku thimik-thimik/ adik nderek ibu/ tindak menyang pasar/ ora pareng rewel/ ora pareng nakal/ mengko ibu mesti mundhut oleh-oleh/ kacang karo roti/ adik diparingi/. Terlihat jelas, bahwa orangtua saya memberi banyak pilihan tentang hidup, tentang kemandirian, juga tentang kasih sayang mereka ketika semua yang dilakukan memang untuk anaknya, pasti akan membawa buah tangan untuk saya saat itu dan masa depan. Tentang banyak pilihan yang mereka berikan kepada saya dalam menjalani putaran roda usia dan tanggung jawab hidup yang semakin memanjang seiring dengan angka yang terus berlari menggerus kontrak hidup ini.
Kedua, adalah guru TK. Waktu itu adalah awal mula saya dikenalkan huruf-huruf hingga terangkai kata dan kalimat yang semakin memjanjikan saya untuk sedikit berprosa membaca nasib. Dan saya rasa guru (awal) inilah yang paling berpengaruh, sejak awalnya saya tidak mengetahui apa-apa hingga mampu mengeja dan merangkai kalimat serta membibirkan dialog-dialog dalam buku-buku yang kesepian. Juga yang mengajariku bagaimana lipatan kertas menjadi bermacam binatang dan kapal terbang. Walaupun sekarang saya sudah lupa bagaimana cara membuatnya.
Saya ingat betul, dulu ada dua guru TK yang membimbing. Yakni bu Paijem dan bu Sur. Waktu itu pun saya sering merepotkan kedua orang tersebut. Setiap pulang sekolah, saya diantar oleh salah satu dari guru saya itu. Karena waktu itu saya berangkat bersama dengan bapak yang sejalan dengan tempat kerjanya. Namun ketika pulang saya sering tidak ada yang menjemput. Hingga saya diantar oleh bu Sur atau bu Paijem menuju ke rumah, atau seringnya ke tempat kerja paman saya yang kebetulan berdekatan dengan sekolah.
Waktu itu pun ternyata saya sudah punya mata yang cukup nakal, saya lebih memilih untuk diantar bu Sur. Walaupun ia hanya mengenakan sepeda, sedangkan bu Paijem mengendarai motor. Karena secara usia ia lebih muda, dan terlihat cantik ketimbang bu Paijem yang sudah setengah baya. Namun terkadang saya dengan terpaksa harus diantar bu Paijem, ketika bu Sur berhalangan atau ada urusan lain.
Ketika TK pun saya memiliki kenangan yang cukup cantik. Waktu itu selain saya mengagumi sosok guru (bu Sur), saya juga dipertemukan dengan seorang perempuan yang saya rasa sangat baik kepada saya. Namanya Nana, ia berusia satu tahun lebih tua ketimbang saya. Saya ingat betul, karena saya sempat dipertemukan kembali ketika kita sama-sama sudah duduk di bangku SD, namun kita berbeda sekolah. Waktu itu saya kelas lima dan ia kelas enam. Dipertemukan pada sebuah andong, ketika saya sedang bepergian dengan ibu. Juga ia sama, dengan ibu tercintanya. Namun saya cukup menyesal waktu pertemuan itu. Saya malu-malu, begitu pula ia. Sehingga tak sempat saya berucap terimakasih, bertegur sapa atau sekadar menanyakan kabar. Namun saya masih ingat betul bagaimana nyala matanya yang mengitari mataku. Dan saya masih tetap tak mampu berbuat apa-apa hingga sekarang jejaknya hilang.
Saya menganggap ia juga salah seorang guru. Perempuan kecil yang sering menolong saya ketika terjatuh dari ayunan, ia pun sering mengantrikan saya untuk bergiliran bermain pada suatu permainan yang ada di TK saya tersebut. Waktu itu saya cukup terkagum dengan perempuan yang dalam ingatan saya cukup menawan. Dan sepertinya itulah kali pertama saya menemukan miniatur cinta dari seorang lawan jenis. Hehe.
Ketiga, adalah guru SMA. Ada pahlawan khusus yang sempat menyelamatkan saya ketika SMA. Dua guru  yang setelah saya telusuri ternyata telah sering menyelamatkanku dari bahaya-bahaya ketika kenaikan kelas. Karena ketika itu saya sering membolos dan sempat cuti cukup lama saat hinggap beberapa waktu tanpa sebab ke Jakarta. Kedua guru itu pun yang telah secara diam-diam mengirim tulisan saya ke beberapa media sastra, dan ternyata termuat berkali-kali. Padahal waktu itu saya sangat tidak paham tentang email dan sekawan-kawannya itu. Salah satu guru pun sering membela saya habis-habisan di hadapan guru-guru yang lain ketika rapat akhir tahun. Namun pada akhirnya tetap saja saya terselamatkan, hingga kelas dua saya masuk ke kelas favorit yakni kelas IPA. Begitu juga ketika kelas tiga. Walaupun saya sering mendapat rangking satu, namun dari bawah. Hehe.
Saya pun hingga kini tak paham, betapa jaman telah menjerumuskan saya ke jalan yang benar (bagi saya). Karena begitu baik alam dan manusia memihak saya. Seperti halnya ketika saya harus tersesat di kampus pendidikan yang entah ini hingga benar-benar khatam. Saya juga sempat khawatir di awal pertemuan dengan orang-orang yang cukup sangat gila dalam menangani hidup, dalam beberapa komunitas yang bangsat, namun saya yakin, saya begitu berguru kepadanya. Dalam ending-ending pada adegan-adegan tertentu saya sering menemukan kebahagiaan yang megah.
Maka bagaimanapun beberapa guru berpengaruh (dari beribu guru yang mencuri perhatian) saya tersebut hingga kini menjadi musim tersendiri untuk saya kenang. Semacam doa yang selalu muncul dari ingatan yang berbunga-bunga dan terus menunggu-nunggu.***

Rumah Diksi, Juli 2012

Tulisan ini dimuat dalam buku kumpulan esai "Mengingat Guru" UKM Kias, April 2012.

Jumat, 18 April 2014

Bikin Video Klip Sebagai Kado Ultah (Harian Rakyat Jateng, 17 April 2014)

http://rakyatjateng.com/berita-702-bikin-video-klip-sebagai-kado-ultah.ht
ml

SEMARANG, RAKYATJATENG.COM - Berawal dari keinginan sederhana dari seorang lelaki yang hendak memberikan kado istimewa pada ulang tahun kekasihnya, kado yang berbeda dari yang lainnya. Maka, ia pun memberikan kado ulang tahun berupa lagu dan video klip hasil karyanya sendiri. Laki-laki muda tersebut adalah Setia Naka Andrian, mahasiswa yang saat ini baru saja mendapatkan gelarpascasarjana di Universitas Negeri Semarang.
Naka, sapaan akrab dari laki-laki berusia 25 tahun asal Kendal tersebut biasa menghabiskan hari-harinya berkreativitas di Semarang. Ia sering kali turut serta dalam berbagai komunitas di Kota Lumpia tersebut. Di antaranya yakni komunitas Sastra Lembah Kelelawar, Teater Gema, Teater Nawiji dan Rumah Diksi Kendal. Pada hari Selasa, 15 April 2014 di Rumah Kos Plewan 1 No 41 Semarang, sebuah video klip digarap dengan sederhana namun dengan kesungguhan layaknya musisi sungguhan. Seluruh ruangan kamar kos ditutup rapat dengan menggunakan kain hitam yang biasanya digunakan untuk pertunjukan teater.
“Awalnya ini iseng, ya impian sederhana seorang cowok yang hendak memberikan kado ulang tahun untuk pacarnya. Karena saya berniat memberikan sesuatu yang lain, maka saya berupaya membuat lagu. Lagu itu berjudul ‘Seribu Bayang dalam Ponsel’. Setelah jadi, lalu saya minta untuk diaransemen oleh Mas Arfin Arca Kendal untuk kemudian dilanjutkan ke Mas Iwan Franzy agar bias jadi video klip sekalian,” ujar Naka.
"Sudah puluhan kali lebih membuat video klip semacam itu. Bahkan tidak hanya dari dalam kota saja, luar kota pun sering dibuat. Namun, ia mengaku baru kali itu diminta untuk membuat video klip oleh seorang anak kos di kamar kosnya. Pastinya sangat panas karena ruangan kamar kos benar-benar disulap layaknya studio pembuatan video klip dari label besar,” tutur Iwan Franzy, pria asli kelahiran Kendal yang juga DOP (Director of Photography) Arca Production Kendal.
Pada kesempatan pembuatan video klip dari Naka itu, ia juga dibantu dari kawan-kawan Komunitas Musisi Kendal. Biar bagaimanapun, aktivitas semacam rekaman lagu, pembuatan video klip dan lain sebagainya yang terkait dengan kreativitas anak muda saat ini juga diramaikan oleh kawan-kawan komunitas tersebut.
Arca Production Kendal sendiri sudah berdiri sejak 2009 lalu. Production house tersebut memulaidebutnya dengan proses kreatif recording musik yang diramaikan oleh teman-teman musisi Kendal.Lalu, pada tahun 2013, tim Arca mulai mengembangkan gerak kreativitasnya menuju pembuatan video klip dengan kualitas yang bisa ditandingkan. “Kalau tidak percaya, nanti bisa dilihat upload video kami di youtube. Kami sempat mengupload video semacam band dari Doit dan beberapa band musisi-musisi indie,” ungkap Arfin Rizka, Direktur Arca yang merupakan lulusan Universitas Negeri Semarang Jurusan Musik.

Naka menambahkan bahwa untuk konsep video klip yang benar-benar pertama itu, memang benar-benar sangat melelahkan. “Saya rasa jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan saat mengisi vokal ketika rekaman dilangsungkan beberapa bulan yang lalu. Dan ini memang proses kebut-kebutan karena digunakan untuk kado ulang tahun pada bulan April ini,” pungkas Naka. (Ely)




Sabtu, 26 Oktober 2013

Ulasan dalam Meja Cerpen #9 Komunitas Lembah Kelelawar

Kematian Tokoh Perempuan dalam Cerita
Setia Naka Andrian

Jika kamu seorang tokoh perempuan dalam pertunjukan teater, maka kamu adalah orang pertama yang patut berbangga. Kamu tiba-tiba akan melompat seribu kali lipat dibandingkan kehidupanmu yang sebenarnya. Kamu tidak sekadar menjadi tokoh perempuan dalam panggung, namun kamu telah sampai menjadi cerita sekaligus panggung pertunjukan itu sendiri. Jika kamu telah melampaui dirimu sendiri sebagai perempuan, dirimu sebagai cerita serta dirimu sebagai panggung.
Maka untuk saat ini hingga beberapa saat yang belum dapat saya tentukan, saya yakin, jika kamu masih merasa sebagai perempuan, maka saya tidak pernah percaya jika kamu memilih mati begitu saja dalam ceritamu. Kamu berpotensi untuk berkembang menjadi apa saja. Kamu pasti akan menjadi barang bukti yang paling berlanjut untuk dibicarakan orang-orang. Semua itu akan mudah, selama kamu masih menjadi perempuan yang berjalan dan mengepakkan sayap, bukan yang memilih mati dalam ceritamu sendiri.
Tokoh perempuan dalam cerpen Kunang-kunang yang Beterbangan karya Adefira Lestari adalah persoalan pertama yang saya khawatirkan sejak memulai  membaca cerita. Walaupun sebelum tokoh perempuan tersebut, judul cerita juga membuat saya cukup kecewa. Bayangan saya sudah lari ke mana-mana. Saya memikirkan hal yang aneh-aneh mengenai kunang-kunang. Barangkali siapa pun akan merasakan seperti itu. Kunang-kunang benar-benar saya harapkan akan membangun cerita yang menghadirkan karakter-karakter yang hidup di dunia realitas keseharian dan memperlihatkan hal-hal yang tidak sekedar biasa atau bahkan aneh dalam cerita ini.
Namun ternyata begitu cerita ini dibuka, saya sepertinya langsung bisa menebak. Waduh sepertinya kunang-kunang tidak begitu terlibat banyak dalam cerita ini. Saya berpikir, ini pasti Adefira akan menyuarakan pertarungan emosi dan kehampaan perempuan. Jangan-jangan cerita ini akan terkesan cerewet dan tergesa-gesa menyuarakan emosinya. Ternyata benar, barangkali siapa saja yang membaca akan mengalami hal sama seperti yang saya rasakan. Sebenarnya bisa jadi bukan persoalan serius kalau tokoh perempuan digarap dengan serius dan tidak tergesa-gesa. Namun cerita sudah dibuka dengan takdir, dan di situ terdapat perempuan. Siapa saja pasti akan menebak, bahwa cerita ini adalah kematian tokoh perempuan─ketidakberdayaan perempuan.
“Takdir Tuhan tak pernah salah, Nora. Termasuk pertemuan kita sekarang. Percayalah. Tuhan lebih tahu sesuatu yang tidak kita ketahui,” itulah perkataan terakhir Hamid yang kudengar sebelum ia pergi meninggalkanku di sebuah halte.
Barangkali takdir dan perempuan dalam cerita Adefira ini sudah terlalu banyak mengotori pikiran kita. Dari mulai gosip-gosip tetangga hingga yang kerap hadir dari sinetron. Intinya sama, pemakluman. Perempuan pasti yang memaklumi. Namun saya untuk sementara ini juga ikut-ikutan memaklumi, dan berusaha untuk melanjutkan membaca cerita. Saya mencoba sejenak melupakan tokoh perempuan, Nora─yang terkesan lahir sebagai diri yang tergesa-gesa.
Setelah saya melanjutkan cerita, ternyata yang saya khawatirkan terjadi lagi. Setelah dihadapkan dengan tokoh perempuan, kini tiba-tiba muncul lagi tokoh anak perempuan. Menurut saya ini persoalan baru lagi, kehadiran Abidah juga tiba-tiba dengan penuh ketidakjelasan. Misalnya mengenai anak yang kemungkinan hasil hubungan di luar nikah, kenapa juga Abidah bisa sekolah? Padahal tidak memiliki kejelasan status ayahnya atau status lainnya.
***
Sebenarnya saya sangat berharap banyak dari cerita Adefira ini, banyak hal yang menurut saya perlu digarap lagi. Bagi saya, perempuan dalam cerita adalah ladang garapan utama yang dapat dikembangkan ke mana saja. Saya tidak akan mempersoalkan bagaimana latar belakang penulis, jika sudah berani menulis, misalnya mengenai kebinalan perempuan, maka ya seharusnya harus berani mengembangkan sebinal-binalnya perempuan. Jika sudah berani menenggelamkan kaki hingga paha, maka harus siap pula jika suatu saat ada tokoh yang harus menenggelamkan seluruh tubuhnya. Misalnya dalam ending cerita, Nora begitu saja menyerah. Dia tidak berbuat apa-apa.
....
pernyataan itu kembali kudengar dari bibir Hamid. Dia menggenggam tanganku. Erat. Sangat erat. Hingga aku pun sulit melepaskannya.
Saya rasa, sebejat-bejatnya perempuan, pasti dia juga punya perasaan. Dalam hal ini, Nora pasti punya cinta yang tulus. Tidak semudah itu dia melupakan penderitaan selama ditinggal Hamid. Lalu apakah semudah itu Nora? Saya yakin, banyak pekerja seks komersial yang memiliki pacar sebenarnya, walaupun dia banyak memiliki pacar hitungan semalam atau hitungan jam. Itu bukti bahwa Nora juga seharusnya bisa semacam itu, bisa sakit hati, bisa terluka yang sulit sembuh, dan lainnya.
Selain tokoh perempuan, dari cerita ini juga saya temukan ada hal kecil yang menurut saya perlu digarap. Mengenai kehadiran tokoh-tokoh yang sekiranya berpengaruh atau tidak. Misalnya kehadiran tokoh Wulan dan Tito dengan pernikahannya. Lalu ada pula Tanu yang menurut saya juga belum digarap secara serius keberadaannya. Barangkali kehadiran tokoh yang kuat akan membentuk cerita yang kuat pula. Atau dari cerita yang ampuh akan melahirkan tokoh yang kuat? Namun terserah, itu pilihan. Percaya atau tidak, itu juga pilihan. Kita juga diperkenankan untuk memilih memulai dari mana saja. Namun saya yakin, barangkali Adefira akan berhasil menulis Kunang-kunang yang Beterbangan ini jika berkenan mempertimbangkan tokoh-tokohnya. Misalnya dengan menghadirkan Nora yang tidak hanya menjadi perempuan yang menyerah begitu saja. Tidak hanya melacur yang begitu saja, tidak hanya melahirkan Abidah dari Hamid yang begitu saja. Atau mungkin berani membunuh tokoh yang sekiranya diperlukan hanya sementara saja. Barangkali.***


Setia Naka Andrian, berkicau di @setianaka