Minggu, 09 Oktober 2016

Rendra, Ziarah Kata dan Doa (Republika, 9 Oktober 2016)

Rendra, Ziarah Kata dan Doa
Oleh Setia Naka Andrian

Agustus lalu, tepat tujuh tahun meninggalnya W.S. Rendra, penyair Si Burung Merak yang begitu dikenal seantero negeri ini. Beberapa kota di negeri ini, daerah dan lingkup kecil semacam komunitas sastra, khususnya puisi, seakan khidmad mendengar gelimang kata-kata yang terus mengalir dari sajak-sajak Rendra.
Begitupun yang penulis lakukan bersama Forum Ngaji Ngopi Ngudud dan Kelab Buku Semarang, menyelenggarakan Ziarah Puisi Rendra di Mukti Cafe. Buku puisi Doa untuk Anak Cucu (Bentang, 2013) dan Puisi-Puisi Cinta (Bentang, 2015) menjadi riwayat tersendiri bagi khazanah perpuisian Rendra, dan bagi sastra Indonesia tentunya.
Melaui Doa untuk Anak Cucu (DUAC), Rendra seakan begitu yakin dalam menerawang masa depan keyakinannya. Ia seakan nampak berpegang pada Tuhan yang Esa, Allah SWT, semenjak ia menentukan bahwa Islam sebagai muara imannya. Nampak jelas dalam puisi Gumamku, ya Allah, berikut penggalannya:
Angin dan langit dalam diriku,/ gelap dan terang di alam raya,/ arah dan kiblat di ruang dan waktu,/ memesona rasa duga dan kira,/ adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah!
Rendra, dalam puisi tersebut begitu berserah, segalanya tertuju kepada tuhannya, Allah. Melalui hal tersebut menjadi catatan lain tentang riwayat keislaman Rendra, lebih-lebih roh pementasan Kasidah Barzanji menjadi titik temu perjumpaannya di jalan muslim. Rendra seolah berambisi menyuarakan kemerdekaannya dalam bertuhan. Rendra sempat mengatakan, “bahwa dalam sajak-sajakku merupakan yoga bahasa, semacam ruang ibadah, puisiku adalah sujudku.”
Kuntowijoyo dalam bukunya Maklumat Sastra Profetik (2006) menyatakan bahwa pengarang yang shalat dengan rajin, zakatnya lancar, haji dengan uang halal, Islamnya tidak kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah.
Barangtentu, itu dilakukan Rendra dalam bukunya DUAC, tanpa beribadah melalui karya, segala yang dilakukan di dunia seakan belum menyeluruh keislamannya. Bisa juga disimak melalui bagian akhir puisi Gumamku, ya Allah berikut:
Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu/ Agama adalah kemah para pengembara/ Menggema beragam doa dan puja/ Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.
Rendra bersuara begitu lantang dalam menyuarakan agama. Bahkan dalam penggalan tersebut menunjukkan betapa agama menjadi pengembaraan umat manusia di dunia. Rendra mengajak kita, bahwa ragam doa dan puja dalam tubuh-tubuh agama.
Bahkan agama yang sama pun akan didapati beraneka cara menyuarakan keagungan tuhannya. Namun tetap dalam muara yang sama, atas kebaikan yang sama dan untuk kemaslahatan bersama.
Dalam DUAC menjadi penanda tersendiri bagi perjalanan sajak-sajak Rendra. Buku ini seakan menjadi karya yang entah dikehendaki atau bahkan sangat tidak dikehendakinya. Mengingat jika buku ini lahir setelah beberapa tahun ia meninggal.
Namun, setidaknya sang penyunting (Edi Haryono) sempat memperbincangkan bersama Rendra tentang penerbitan buku ini. Edi yang mendapat titipan beberapa sajak yang terangkum dalam buku ini, dan sebagian lagi yang disimpan Ken Zuraida (ida, istri Rendra).
Melalui buku DUAC ini pun, Rendra begitu gelisah, bagaimana nasib anak cucunya kelak. Nampak dalam penggalan puisinya Kesaksian Akhir Abad berikut:
O, anak cucuku di zaman Cybernetic!/ Bagaimana akan kalian baca prasasti dari zaman kami?/ Apakah kami akan mampu/ menjadi ilham kesimpulan/ ataukah kami justru menjadi masalah di dalam kehidupan?
Rendra berpanjang-lebar dalam 6 halaman dalam mencatat doa-doa kegelisahannya dalam puisi ini. Ia seakan mengajak generasi mendatang lebih tertantang dengan yang dilontarkannya.
Rendra ketakukan dengan anak cucunya yang hidup di zaman serba mudah. Segala informasi dan apa pun bisa dengan leluasa dilahap dengan sangat cepat. Kebaikan dan keburukan akan berdampingan bahkan saling berlomba untuk mendarat di mata siapa saja.
Rendra dalam puisi tersebut pun menanamkan kegetiran atas Indonesia, nampak jelas dalam penggalan berikut:
O, Indonesia! Ah, Indonesia!/ Negara yang kehilangan makna!/ Rakyat sudah dirusak atas tatanan hidupnya./ Berarti sudah dirusak dasar peradabannya./ Dan akibatnya dirusak pula kemanusiaannya./ Maka sekarang negara tinggal menjadi peta/ itu pun sudah lusuh/ dan hampir sobek pula.
Ratap tangis mendera Rendra, atas segala kedaulatan tanah dan air Indonesia yang belum sepenuhnya digenggam bangsa ini. Melalui buku puisinya DUAC, seakan Rendra ingin melihat masa depan anak cucunya lebih baik daripada kehidupannya saat itu, saat ia masih hidup, saat masih gagah menyuarakan segala ratap dan kegelisahannya melalui sajak-sajaknya.
Selain buku DUAC, dalam obrolan malam itu pun hadir dengan begitu hangat buku Rendra yang bertajuk puisi-puisi cintanya. Begitu membius khalayak yang malam itu melepas perjumpaan dengan doa-doa yang bertebaran untuk almarhum.
Dalam puisi-puisi cintanya tersebut, terbagi atas tiga bagian, Puber Pertama, Puber Kedua, dan Puber Ketiga. Dalam kumpulan ini, menjadi bukti masa-masa pencarian cinta Rendra. Alam semesta menjadi pijakan bagaimana ia menemukan cinta-cintanya.
Misalnya saja dalam penggalan puisi Hai, Ma! Berikut:
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara/ dijauhi ayah-bunda/ dan ditolak para tetangga./ Atau aku telantar di pasar./ Aku berbicara tetapi orang-orang tidak mendengar,/ mereka merobek-robek buku/ dan menertawakan cita-cita./ Aku marah. Aku takut./ Aku gemetar/ namun gagal menyusun bahasa.
Seorang Rendra, dalam puisi tersebut merasa dirinya terbuang. Ia begitu tak berarti apa-apa. Pada posisi semacam itu, ia seakan semakin berupaya menemukan cinta-cintanya. Dalam keadaan yang tersudut dan merasa bahwa kehidupan menggiringnya untuk menjadi semakin dewasa, semakin mendekati sempurna.
Itu pada bagian puber ketiga, dan tentu akan beda nuansa cintanya pada bagian puber pertama dan puber kedua. Bagian-bagian tersebut menjadi jarak yang tak pernah saling meninggalkan, namun sangat erat meriwayatkan bagaimana perjalanan Rendra dalam menggapai cinta-cintanya di semesta ini. Dan kita saat ini, menyimak beragam kemuliaan melalui sajak-sajak Rendra, Ziarah kata, doa-doa serta sejarah manusia, pergulatan penyair menjadi jawaban yang masih terus bergulir selamanya.***


─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Penulis buku puisi, “Perayaan Laut” (April 2016). Pegiat Forum Ngaji Ngopi Ngudud.

Jumat, 07 Oktober 2016

Afrizal Malna; Fenomena Tubuh dan Bahasa (Derap Guru, Oktober 2016)


Komunitas Penjaga Literasi (Derap Guru, Oktober 2016)


Puisi Setia Naka Andrian (Pikiran Rakyat, 4 September 2016)

Hari Kedelapan Belas

hari ini, kita telah melipat baju-baju
yang kita kenakan di tahun lalu
di sana dihiasi lampu, wajah-wajah manusia,
sungai, dan ikan-ikan yang menguap ketika berenang;
hari ini kita banyak lupa ingatan,
riwayat kamar-kamar berserakan di dadamu,
banyak kenangan yang memilih binasa
dalam takdir sebuah kota,
hingga kini, sebelum menutup jendela,
kau, memilih menjadi hari yang paling kuasa;
manusia berangkat kerja, menjadi pasukan,
menjadi serigala, pemangsa kebahagiaan,
pejinak tragedi, dan lain-lain;
hari ini, kita menepi, melukis bantal
dengan pelangi, menghabisi diri orang-orang
yang membutakan matanya sendiri
dengan sendok, garpu, pecahan beling,
dan tanah sisa hujan;
hari ini, kita belajar berlari, di tepi jalan
yang sedang dilewati pasukan malapetaka
ketika kita belum mampu mengubah diri
menjadi segitiga

Sanggargema, Maret 2015


Hari Sepenuh Puisi

ia kabarkan hari-harinya sepenuh puisi
dari hutan, dari jalan raya, dari tembok,
dari sungai, bukit, pohon dan dari segala arah,
hingga dari dalam kamar, mereka berebut bernyanyi
dengan irama dan nada dasar yang berloncatan,
mereka menaiki puisi pelan-pelan, mengelilingi
kota-kota yang berloncatan di atas kepalamu,
semacam kera-kera pemungut hati yang berantakan;
sungguh, kau diamkan hari-harimu yang berbinar
kau tuangkan kepedihanmu dalam segelas anggur
dan kau tiadakan kemenanganmu, malam-malam
mengucur deras, dari keningmu, dari takdirmu,
dari seberapa dalam doa mengepal menjadi
riwayat dan takdirmu,
lalu darimu, puisi berlari mengejar masa depan
yang sedang tidur panjang
ia tak lagi mau sarapan pagi, katanya, hari sudah
begitu kenyang menyaksikan penyakit yang piatu
dan lupa menyusui anak-anaknya,
tak ada lagi obat batuk yang mampu menyembuhkan
lukanya, hingga kau jarang memenuhi gizi untuk
puisi-puisimu, padahal katamu:
puisi adalah satu-satunya anak nuraniku
hingga akhirnya puisi tinggal nama,
penyair kehilangan nyawa,
puisi semakin memburuk, tak mau dibujuk,
mereka lari, memilih mengasingkan diri,
menceburkan diri dalam sungai yang kering

Saranglilin, Maret 2015


Perihal Tidur

sayang, aku tidur dulu di pungungmu ya; nanti tolong
bangunkan aku pukul 17 tepat, karena nanti aku harus
mencari hujan; aku ingin mengajaknya membasahi
pohon yang telah lama tumbuh di jantungku,
katanya, ia pohon yang ingin cepat mati,
ia ingin tidur panjang, dan mengubur dirinya di dadaku,
tolong ya, karena di sana setiap hari terdapat perempuan
menangis yang bersetia menunggu peluru,
katanya, ia selalu bersembunyi di dada-dada para pemerkosa
yang datang tak berkepala; mereka meminum api-api
di atas ladang rahasia, hingga ada seperangkat doa
yang kau lahirkan dari dalam penjara,
ya, benar, mereka dilindungi para penjaga yang gemar
membakar batu; aku tak tahu, kenapa batu diam saja,
ia tak kepanasan, ia tak kedinginan,
atau barangkali ia sedang tidur, ia lelah, karena sering
dipinjam orang-orang yang keras kepala,
ah, kau malah mengira jika aku bohong,
padahal sungguh, semua menyaksikan,
bahkan jika kau mau, mereka siap untuk membinasakan
dirinya sendiri; termasuk kelak kau, aku, dan semua orang
yang membenci hari-hari tidur,
kita akan lelap bersama, menyaksikan mimpi-mimpi
yang menidurkan kita, sebagai diri yang sementara,
sebagai jiwa yang paling pura-pura,

TBRS, Maret 2015


Sabtu, 10 September 2016

Membangun Kota dengan Seni (Tribun Jateng, 10 September 2016)

Membangun Kota dengan Seni
Oleh Setia Naka Andrian

Nasib kota sebuah kota tentu menjadi tanggung jawab bersama. Tidak melulu urusan pemerintah saja, yang biasanya kerap kali lebih mementingkan bangunan infrastrukturnya ketimbang sumber daya manusianya.
Peran seniman lokal bisa jadi sebagai tumpuan utama. Kenapa begitu, karena bagaimanapun sejarah dan usia kota tidak bisa lepas dari nilai-nilai estetis di dalamnya. Baik terkait ketahanan filosofis dan kulturalnya. Itu tanggung jawab seniman, bukan?
Saya ingat, apa yang dikisahkan Tubagus P. Svarajati (2012) dalam sepenggal esainya, “Meski kita paham, hingga sekarang, langka seniman kita yang mendokumentasikan perkembangan atau riwayat kota secara serius dan metodis.”
Seniman kita, seakan begitu abai dengan kota yang melahirkan dirinya. Bahkan, jika di antara mereka masih selalu dihinggapi beragam apologia sebelum melakukan apa-apa. Maka cepat atau lambat, takdir sebuah kota akan berhenti begitu saja.
Dalam hal ini, jika kita simak di Kendal, selama lima tahun terakhir telah banyak bermunculan komunitas-komunitas seni kreatif. Baik yang fokus bersastra, seni rupa, teater, musik, film, dan lainnya. Seakan menyibak belantara kota melalui seabrek aktivitas saban harinya. Namun apa arti semua itu, jika program-program kreatif belum menyentuh bahkan sangat jauh dengan aktivitas pendokumentasian riwayat kota secara serius. Sebab, nasib sebuah kota akan tetap selalu bertarik magnet, antara sebuah kenyataan dan gagasan.
Komunitas seni kreatif layaknya hanya akan menjadi angin lalu, yang akan tumbuh berkembang beberapa saat. Lalu pada akhirnya pelan-pelan menunggu tumbang atau menemui ajal, kehancuran, mati suri, dan entah istilah mengerikan lainnya. Memang, sangat sulit kita temukan, misalnya, beberapa kelompok yang begitu berjaya pada masa lalu dan hingga saat ini masih bergerak atau menyisakan catatan kemuliaan di mata publik.
Sebut saja, jika di Kendal memiliki Teater Semut, dengan Aslam Kusatyo sebagai sutradara sekaligus aktor kawakan yang konon salah satu tokoh yang begitu mati-matian menghidupi khazanah teater dan sastra di tanah Bahurekso ini. Tentu, hingga saat ini masih terdengar, mengingat bagaimana ia diakui telah melahirkan jawara-jawara lomba teater, baca dan tulis puisi misalnya, bagi kalangan pelajar.
Begitu pula, ia dicatat melahirkan generasi penerus yang khusyuk menekuni sebagai pengajar ekstrakurikuler teater di beberapa sekolah. Bolehlah kita sebut beberapa tokoh muda. Di antaranya Akhmad Nasori, Hidayat Kliwon, dan Sobiron, misalnya. Ada pula yang mendirikan kelompok baru, sebut saja Akhmad Sofyan Hadi, aktor yang sempat menyabet juara II monolog dalam ajang Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) 2008, sebagai salah seorang pendiri Jarak Dekat dengan beberapa aktivitas yang berniat menghidupi teater di Kendal. Walaupun tetap saja, jika di kota tetangga (Semarang) kesenian teaternya dihidupi oleh teater-teater kampus, maka di Kendal diramaikan dengan teater-teater sekolah (pelajar SMA sederajat). Hal tersebut dibuktikan selama bertahun-tahun dengan terselenggaranya beberapa parade teater yang dihuni oleh berjubel kelompok teater dari sekolah.

Generasi Patah-Patah
Sudah sepatutnya, masa lalu kesenian kota memiliki generasi kebanggaan, komunitas yang diagung-agungkan, atau tokoh-tokoh yang diidamkan menjadi tumpuan masa depan sebuah kelompok pada khususnya, atau nasib kota pada umumnya. Namun kenyataannya, kota seakan tak mampu memberikan apa-apa. Seorang seniman yang seharusnya menjadi ujung tombak, motor penggerak roda kesenian di sebuah kota, yang konon katanya karena persoalan klasik, maka di antara mereka pelan-pelan meninggalkan kota ini. Sebut saja misalnya, salah seorang sastrawan ternama di negeri ini, Ahmadun Yosi Herfanda. Penyair kelahiran Kaliwungu Kendal, mantan redaktur sastra koran Republika yang kini telah menetap di Jakarta sebagai penyair religius-sufistik. Ia banyak menulis cerpen, kolom dan esei sastra. Sehari-hari ia mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong dan ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Tentunya, sederet persoalan tadi, atau kendala apapun tidak akan mampu menghalangi sebuah gerakan kesenian yang benar-benar khusyuk dan berasyik-masyuk dalam bidangnya masing-masing. Semua lini sudah seharusnya mampu berbaur untuk menentukan nasib sebuah kota. Barangtentu kita ingat, beberapa waktu lalu ketika Kendal Expo 2016, Bupati Kendal, Mirna Annisa, meluncurkan program “Kendal Permata Pantura”. Bupati yang masih terhitung belum lama ini menjabat, dengan seabrek program yang diidamkannya, tentu perlu dukungan dan kawalan yang ketat.
Mengingat pada bulan-bulan ini, sedang fokus pada peresmian Kawasan Industri Kendal dan mulai aktifnya Pelabuhan Tanjung Kendal. Lalu, apakah konsep besar yang disuarakan melalui Kendal Permata Pantura cukup masyhur dengan didirikannya kawasan industri dan pelabuhan baru saja? Lalu bagaimana nasib beberapa destinasi wisata semacam Pantai Sikucing, Goa Kiskendo, Curug Sewu? Jika mengidamkan kota ini menjadi permatanya pantura, apakah tempat-tempat itu hanya akan dibiarkan dengan pola pengembangan yang setengah-setengah dan sewajarnya saja?
Tentu jawabannya, sudah waktunya Kendal memiliki agenda festival kesenian yang diselenggarakan tahunan. Jika kita mau tengok kota-kota tetangga, taruhlah festival rutin FKY (Festival Kesenian Yogyakarta), lalu Dieng Culture Festival. Sudah sepatutnya, Kendal tidak hanya sekadar menciptakan kegiatan sebatas selebrasi semata, atau bahkan yang hanya terkesan sebagai pasar malam semata. Maka dalam hal ini, peran serta segenap seniman dalam berbagai bidang pun sangat dibutuhkan. Pemerintah kabupaten dengan dinas-dinas terkaitnya sangat mustahil mampu mensukseskan kerja besar tersebut.
Jika sudah ada keterlibatan kelompok-kelompok seniman, yang kebanyakan anak muda tersebut, tentu kota ini saya yakin tidak akan kesulitan menentukan arah gerak masa depan kotanya. Tentu, jika semua sudah benar-benar niat ingsun untuk meriwayatkan kota secara serius dan metodis. Baik melalui sastra, seni rupa, film, maupun teater. Festival yang menyuarakan seni kontemporer yang tidak mengesampingkan nilai tradisi dan filosofis kota. Tentu Kendal pelan-pelan akan menggema di penjuru kota, bahkan seantero negeri ini. Dengan seruan, “Kenali Kendal!” Tempat-tempat wisata dikelola dengan sajian tontonan sekaligus tuntunan seni dan budaya. Selanjutnya, pundi-pundi pendapatan daerah pun akan terdongkrak. Kota berangsur-angsur akan semakin merekonstruksi masa depannya yang kian gemilang. Semoga.***



─Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya “Perayaan Laut” (April 2016).

Senin, 01 Agustus 2016

Makam Leluhur dan Kemuliaannya (Jawa Pos, 31 Juli 2016)


Makam Leluhur dan Kemuliaannya
Oleh Setia Naka Andrian

Judul Buku                : Tarian Dua Wajah
Penulis                         : S. Prasetyo Utomo
Penerbit                       : Alvabet
Cetakan                       : I, Juni 2016
Jumlah Halaman          : 268 halaman
ISBN                           : 978-602-9193-86-2

Prasetyo memilih pengisahan novelnya ini dengan gaya realis-imajinatif. Membaca novel ini, sederhana memang, namun sadar atau tidak, pembaca akan disuguhi seabrek goncangan batin terkait bergelimang fenomena spiritual.
Novel diyakini menjadi cara ampuh bagi sebagian pengarang untuk lebih dalam menemui pembacanya, ketimbang melalui karya sastra lain termasuk puisi dan cerpen.
Itu disebabkan novel setidaknya lebih lantang menyuarakan pengisahannya, dengan tidak perlu banyak mengerutkan dahi pembaca. Seperti yang dapat pula kita rasakan ketika membaca novel S. Prasetyo Utomo, Tarian Dua Wajah (Alvabet, Juni 2016).
Prasetyo menggiring pembaca dengan suguhan persoalan makam leluhur di sebuah perkampungan dengan begitu bergejolak. Pertanyaan-pertanyaan di benak pembaca pelan-pelan menyambar tanpa henti, tatkala tokoh-tokoh mulai dihadirkan.
Termasuk tokoh Sukro yang begitu sentral sebagai salah satu keturunan Nyai Laras, leluhur kampung yang sudah meninggal. Nyai Laras adalah penari istana pada masa silam yang tenar seantero negeri. Yang kemudian diyakini terdapat titisannya, Dewi Laksmi, penari muda berbakat yang berkesempatan berkeliling dunia karena lenggok tubuhnya yang memukau.
Prasetyo memilih pengisahan novelnya ini dengan gaya realis-imajinatif. Sebuah ikhtiar tersendiri untuk lebih luas mencapai semua kalangan pembaca. Cerita awal dibuka dengan begitu getir, terkait kehidupan keluarga kecil Sukro yang tengah mempersiapkan proses melahirkan dari istrinya, Aya.
Masalah klise menghadang mereka, perihal kekurangan uang untuk biaya kelahiran. Akhirnya, Sukro, sang suami harus menagih kekurangan uang yang belum diberikan oleh pembeli. Seorang pengusaha yang membayar tanah Sukro, tanah bukit warisan leluhur yang terdapat makam leluhurnya, Nyai Laras.
Makam yang berangsur-angsur menjadi perdebatan bagi barga sekitar. Sebab, makam tersebut kerap digunakan sebagai tempat pemujaan bagi orang-orang di luar daerah yang setiap hari hilir-mudik berdatangan.
Membaca novel ini, sederhana memang, namun sadar atau tidak, pembaca akan disuguhi seabrek goncangan batin terkait gelimang fenomena spiritual. Prasetyo begitu pelan mengaduk-aduk batin pembaca, dengan nuansa realis-imajinatifnya, seakan menggiring keberhasilan dalam menguasai keyakinan pembaca.
Di situ, mulailah sejarah manusia baru diciptakan atas pergulatan persoalan yang sudah sangat sering kita jumpai dalam keseharian. Namun pengisahan-pengisahannya seakan diombang-ambing hingga menuju penyelesaikan yang tak terduga. Atau bahkan jawaban-jawaban atas segenap persoalan tersebut sangat sulit dipijaki dalam keseharian kita.
Misalnya saja, dalam pengisahan tokoh Aji, anak dari Sukro (dituduh merampok,  membunuh) dan seorang ibu bernama Aya (penyanyi kelab malam). Aji yang sejak lahir sudah ditinggal ayahnya mendekam di penjara, kemudian ketika usia satu tahun, ia dititipkan kepada pakde Rustam (kakak kandung Sukro).
Aji tumbuh dalam penuh tekanan. Hari-harinya yang sangat jauh dengan kasih sayang kedua orang tua. Ditambah kekerasan fisik dan mental yang terus dilakukan oleh bude dan anak-anak pakdenya.
Namun setelah beranjak dewasa, Aji memilih untuk meninggalkan rumah pakdenya. Dia meyakinkan diri untuk belajar di pesantren Kiai Sodik. Setelah berproses di pesantren, ternyata nampak kemuliaan-kemuliaan jiwa Aji. Hingga akhirnya, dia dinikahkan dengan Salma, anak Kiai Sodik yang jernih hatinya. Walaupun awalnya, hal tersebut kurang disetujui oleh istri Kiai Sodik, mengingat siapa Aji, siapa orangtuanya.
Prasetyo, dalam novel ini pun mengisahkan sosok Kiai Sodik dalam sisi kebimbangan-kebimbangannya. Menggambarkan betapa diri manusia, entah seberapa tinggi derajat dan kemuliaannya di mata masyarakat, tetap saja masih ada celah-celah kekurangannya.
Kerap dikisahkan Kiai Sodik mengadu kepada ibunya, ia meminta pendapat, atas kekhilafan yang dilakukan. Misalnya saja ketika dia sempat mampu menyembuhkan orang sakit keras, namun lain waktu dia gagal meski sempat begitu yakin mampu mengulangi keberhasilan sebelumnya.
Orang sakit kedua yang berusaha disembuhkannya meninggal. Proses persiapan pemakaman pun akhirnya dilakukan di lingkungan pesantren, masyarakat dan santri menyaksikan, menghadiri ritual pemakaman.
Hal itu seakan diciptakan Prasetyo untuk mengajak kita melihat bagaimana kondisi masyarakat saat ini. Biasanya segala sesuatu bermuara pada ruang-ruang santri, lingkaran-lingkaran kiai. Namun, tatkala waktu terus bergerak, masyarakat kita seakan bergerak pula kepandaian pemahamannya dalam menyikapi kehidupan.
Semua bisa goyah, semua memiliki celah kebimbangan jika dipertemukan dengan segenap peranti duniawi. Begitu kiranya sedikit kemuliaan yang dikisahkan dalam novel. Karya Prasetyo ini setidaknya memberi beberapa pandangan terhadap kita, mengajak kita menelusuri ruang-ruang kecil yang melimpah nilai.***

─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Menulis buku puisi “Perayaan Laut” (April 2016).

Roh Spiritual di Jagat Fiksi (Suara Merdeka, 31 Juli 2016)

Roh Spiritual di Jagat Fiksi
Oleh Setia Naka Andrian

Novel terbaru S Prasetyo Utomo, Tarian Dua Wajah (2016) seakan menyeret saya memaknai gelimang kisah manusia dari tokoh-tokoh yang dihadirkannya. Benak saya diguyur aroma spiritual yang memadukan seni dan moralitas, seperti ditegaskan sampul apik bergambar penari cantik dengan dua topeng di kedua tangannya. Nyai Laras, seorang penari istana, yang diyakini sebagai leluhur sebuah daerah dalam latar novel.
Prasetyo, membuka dengan kisah getir lelaki muda kekar bernama Sukro, keturunan Nyai Laras yang dihadapkan persoalan ekonomi. Sukro berupaya keras memenuhi biaya kelahiran istrinya. Ia harus menjual tanah warisan yang terdapat pekuburan leluhurnya yakni, makam Nyai Laras. Persoalan muncul, ketika tak semua uang pembayaran tanah diberikan. Sukro membunuh pengusaha yang membeli tanahnya, karena tidak melunasi kekurangan penjualan tanah tersebut.
Sukro dipenjara 15 tahun atas tuduhan perampokan dan pembunuhan. Keluarga kecil Sukro menjadi berantakan. Aya, istri Sukro, selepas melahirkan anaknya, Aji, kembali menjadi penyanyi di sebuah kelab malam. Aji dititipkan kepada kakak iparnya di kota. Aji tumbuh meremaja dengan penuh tekanan dari istri kakak ipar beserta anak-anaknya.
***
Prasetyo pelan-pelan menyuguhkan roh spiritual selebar-lebarnya dalam segenap pengisahannya. Spiritual di sini memberi arah serta melakukan kritik atas realitas yang ada. Pun terkait pengisahan nilai-nilai kemuliaan begitu leluasa disuguhkan melalui tokoh-tokohnya dengan lantang, panjang dan saling berkaitan. Gelimang gerak manusia ditawarkan melalui tema, karakter dan ideologi tertentu. Prasetyo seakan menekuri catatan keyakinan yang bertebaran dalam keseharian hidupnya. Aktivitas kemanusiaan yang luhur pun sedemikian rupa ditawarkan tanpa mengerutkan dahi pembaca. Siapa pun seolah tergerak untuk tak habis-habis menemukan diri sendiri dalam pengisahannya.
Misalnya Aji, santri muda yang merupakan anak Sukro (pembunuh, perampok) dan Aya (penyanyi kelab malam), kemudian menjadi menantu kiainya, Kiai Sodik. Ia dinikahkan dengan seorang anaknya yang cantik dan jernih hatinya. Dalam hal ini, Prasetyo mencoba mendobrak kelaziman yang barangkali sangat jarang ditemukan dalam kehidupan kita. Prasetyo mengupayakan keyakinan Barker (2013) dalam melaksanakan kerja empiris yang ditekankan dalam tradisi kulturalis, mengeksplorasi cara manusia menciptakan makna kultural.
Dikisahkan pula, sosok Kiai Sodik, yang tetap teguh tidak mengusik sarang lebah madu di pesantrennya. Ada pembeli yang berkali-kali datang namun tetap saja tidak diberikan. Hingga suatu ketika, Kiai Sodik jatuh sakit, istrinya menyarankan agar salah seorang santri mengambil sarang lebah madu untuk Kiai Sodik. Namun ia menolak, katanya masih banyak obat dari dokter yang belum diminum. Suatu saat, lebah ratu dan gerombolannya berterbangan memasuki kamar Kiai Sodik dan bersarang di usuk kamar sang kiai. Madu memenuhi tiap-tiap liang sarang, hingga madu leleh, menetes tepat di bibir Kiai Sodik yang terbaring di bawahnya. Kiai Sodik berangsur membaik, hingga akhirnya sembuh.
Kiai Sodik pun mampu menerawang gerak manusia. Termasuk Aji dan ayahnya, Sukro. Bahkan ia mampu menyembuhkan orang sakit. Namun, tidak semua yang dijalani dan kemampuan yang dimilikinya berjalan mulus. Suatu saat ia bisa menyembuhkan orang sakit, lain waktu tidak, ketika ia lalai dan takabur, seakan mendahului kehendak tuhannya.
***
Prasetyo seakan membangun realitasnya sendiri melalui persoalan-persoalan pelik yang belum tentu dapat diselesaikan dalam dunia nyata. Konflik dimunculkan dengan mengejutkan dan diselesaikan sedemikian panjang dan tak terduga. Ini menjadi kekuatan tersendiri, sebagaimana Kuntowijoyo (2013) menyatakan sastra menjadi sistem simbol yang fungsional, bukan sekadar trivialitas rutin sehari-hari dan biasa-biasa saja. Prasetyo mencoba melarikan pengisahannya jauh dari kedangkalan persoalan keseharian yang membosankan dan tidak terselesaikan, yang sering kita temui dalam kehidupan nyata.
Prasetyo menciptakan penjara apik antara diri pembaca, moralitas, dan dunia teksnya sendiri. Ia mencoba mengurai persoalan sederhana di sekitar kita yang diselesaikan dengan takjub. Walaupun, lagi-lagi ia mengulang kegetiran yang hampir sama dalam novel pertamanya, Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (2009).


─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Menulis buku puisi “Perayaan Laut” (April 2016).