Jumat, 18 April 2014

Bikin Video Klip Sebagai Kado Ultah (Harian Rakyat Jateng, 17 April 2014)

http://rakyatjateng.com/berita-702-bikin-video-klip-sebagai-kado-ultah.ht
ml

SEMARANG, RAKYATJATENG.COM - Berawal dari keinginan sederhana dari seorang lelaki yang hendak memberikan kado istimewa pada ulang tahun kekasihnya, kado yang berbeda dari yang lainnya. Maka, ia pun memberikan kado ulang tahun berupa lagu dan video klip hasil karyanya sendiri. Laki-laki muda tersebut adalah Setia Naka Andrian, mahasiswa yang saat ini baru saja mendapatkan gelarpascasarjana di Universitas Negeri Semarang.
Naka, sapaan akrab dari laki-laki berusia 25 tahun asal Kendal tersebut biasa menghabiskan hari-harinya berkreativitas di Semarang. Ia sering kali turut serta dalam berbagai komunitas di Kota Lumpia tersebut. Di antaranya yakni komunitas Sastra Lembah Kelelawar, Teater Gema, Teater Nawiji dan Rumah Diksi Kendal. Pada hari Selasa, 15 April 2014 di Rumah Kos Plewan 1 No 41 Semarang, sebuah video klip digarap dengan sederhana namun dengan kesungguhan layaknya musisi sungguhan. Seluruh ruangan kamar kos ditutup rapat dengan menggunakan kain hitam yang biasanya digunakan untuk pertunjukan teater.
“Awalnya ini iseng, ya impian sederhana seorang cowok yang hendak memberikan kado ulang tahun untuk pacarnya. Karena saya berniat memberikan sesuatu yang lain, maka saya berupaya membuat lagu. Lagu itu berjudul ‘Seribu Bayang dalam Ponsel’. Setelah jadi, lalu saya minta untuk diaransemen oleh Mas Arfin Arca Kendal untuk kemudian dilanjutkan ke Mas Iwan Franzy agar bias jadi video klip sekalian,” ujar Naka.
"Sudah puluhan kali lebih membuat video klip semacam itu. Bahkan tidak hanya dari dalam kota saja, luar kota pun sering dibuat. Namun, ia mengaku baru kali itu diminta untuk membuat video klip oleh seorang anak kos di kamar kosnya. Pastinya sangat panas karena ruangan kamar kos benar-benar disulap layaknya studio pembuatan video klip dari label besar,” tutur Iwan Franzy, pria asli kelahiran Kendal yang juga DOP (Director of Photography) Arca Production Kendal.
Pada kesempatan pembuatan video klip dari Naka itu, ia juga dibantu dari kawan-kawan Komunitas Musisi Kendal. Biar bagaimanapun, aktivitas semacam rekaman lagu, pembuatan video klip dan lain sebagainya yang terkait dengan kreativitas anak muda saat ini juga diramaikan oleh kawan-kawan komunitas tersebut.
Arca Production Kendal sendiri sudah berdiri sejak 2009 lalu. Production house tersebut memulaidebutnya dengan proses kreatif recording musik yang diramaikan oleh teman-teman musisi Kendal.Lalu, pada tahun 2013, tim Arca mulai mengembangkan gerak kreativitasnya menuju pembuatan video klip dengan kualitas yang bisa ditandingkan. “Kalau tidak percaya, nanti bisa dilihat upload video kami di youtube. Kami sempat mengupload video semacam band dari Doit dan beberapa band musisi-musisi indie,” ungkap Arfin Rizka, Direktur Arca yang merupakan lulusan Universitas Negeri Semarang Jurusan Musik.

Naka menambahkan bahwa untuk konsep video klip yang benar-benar pertama itu, memang benar-benar sangat melelahkan. “Saya rasa jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan saat mengisi vokal ketika rekaman dilangsungkan beberapa bulan yang lalu. Dan ini memang proses kebut-kebutan karena digunakan untuk kado ulang tahun pada bulan April ini,” pungkas Naka. (Ely)




Sabtu, 26 Oktober 2013

Ulasan dalam Meja Cerpen #9 Komunitas Lembah Kelelawar

Kematian Tokoh Perempuan dalam Cerita
Setia Naka Andrian

Jika kamu seorang tokoh perempuan dalam pertunjukan teater, maka kamu adalah orang pertama yang patut berbangga. Kamu tiba-tiba akan melompat seribu kali lipat dibandingkan kehidupanmu yang sebenarnya. Kamu tidak sekadar menjadi tokoh perempuan dalam panggung, namun kamu telah sampai menjadi cerita sekaligus panggung pertunjukan itu sendiri. Jika kamu telah melampaui dirimu sendiri sebagai perempuan, dirimu sebagai cerita serta dirimu sebagai panggung.
Maka untuk saat ini hingga beberapa saat yang belum dapat saya tentukan, saya yakin, jika kamu masih merasa sebagai perempuan, maka saya tidak pernah percaya jika kamu memilih mati begitu saja dalam ceritamu. Kamu berpotensi untuk berkembang menjadi apa saja. Kamu pasti akan menjadi barang bukti yang paling berlanjut untuk dibicarakan orang-orang. Semua itu akan mudah, selama kamu masih menjadi perempuan yang berjalan dan mengepakkan sayap, bukan yang memilih mati dalam ceritamu sendiri.
Tokoh perempuan dalam cerpen Kunang-kunang yang Beterbangan karya Adefira Lestari adalah persoalan pertama yang saya khawatirkan sejak memulai  membaca cerita. Walaupun sebelum tokoh perempuan tersebut, judul cerita juga membuat saya cukup kecewa. Bayangan saya sudah lari ke mana-mana. Saya memikirkan hal yang aneh-aneh mengenai kunang-kunang. Barangkali siapa pun akan merasakan seperti itu. Kunang-kunang benar-benar saya harapkan akan membangun cerita yang menghadirkan karakter-karakter yang hidup di dunia realitas keseharian dan memperlihatkan hal-hal yang tidak sekedar biasa atau bahkan aneh dalam cerita ini.
Namun ternyata begitu cerita ini dibuka, saya sepertinya langsung bisa menebak. Waduh sepertinya kunang-kunang tidak begitu terlibat banyak dalam cerita ini. Saya berpikir, ini pasti Adefira akan menyuarakan pertarungan emosi dan kehampaan perempuan. Jangan-jangan cerita ini akan terkesan cerewet dan tergesa-gesa menyuarakan emosinya. Ternyata benar, barangkali siapa saja yang membaca akan mengalami hal sama seperti yang saya rasakan. Sebenarnya bisa jadi bukan persoalan serius kalau tokoh perempuan digarap dengan serius dan tidak tergesa-gesa. Namun cerita sudah dibuka dengan takdir, dan di situ terdapat perempuan. Siapa saja pasti akan menebak, bahwa cerita ini adalah kematian tokoh perempuan─ketidakberdayaan perempuan.
“Takdir Tuhan tak pernah salah, Nora. Termasuk pertemuan kita sekarang. Percayalah. Tuhan lebih tahu sesuatu yang tidak kita ketahui,” itulah perkataan terakhir Hamid yang kudengar sebelum ia pergi meninggalkanku di sebuah halte.
Barangkali takdir dan perempuan dalam cerita Adefira ini sudah terlalu banyak mengotori pikiran kita. Dari mulai gosip-gosip tetangga hingga yang kerap hadir dari sinetron. Intinya sama, pemakluman. Perempuan pasti yang memaklumi. Namun saya untuk sementara ini juga ikut-ikutan memaklumi, dan berusaha untuk melanjutkan membaca cerita. Saya mencoba sejenak melupakan tokoh perempuan, Nora─yang terkesan lahir sebagai diri yang tergesa-gesa.
Setelah saya melanjutkan cerita, ternyata yang saya khawatirkan terjadi lagi. Setelah dihadapkan dengan tokoh perempuan, kini tiba-tiba muncul lagi tokoh anak perempuan. Menurut saya ini persoalan baru lagi, kehadiran Abidah juga tiba-tiba dengan penuh ketidakjelasan. Misalnya mengenai anak yang kemungkinan hasil hubungan di luar nikah, kenapa juga Abidah bisa sekolah? Padahal tidak memiliki kejelasan status ayahnya atau status lainnya.
***
Sebenarnya saya sangat berharap banyak dari cerita Adefira ini, banyak hal yang menurut saya perlu digarap lagi. Bagi saya, perempuan dalam cerita adalah ladang garapan utama yang dapat dikembangkan ke mana saja. Saya tidak akan mempersoalkan bagaimana latar belakang penulis, jika sudah berani menulis, misalnya mengenai kebinalan perempuan, maka ya seharusnya harus berani mengembangkan sebinal-binalnya perempuan. Jika sudah berani menenggelamkan kaki hingga paha, maka harus siap pula jika suatu saat ada tokoh yang harus menenggelamkan seluruh tubuhnya. Misalnya dalam ending cerita, Nora begitu saja menyerah. Dia tidak berbuat apa-apa.
....
pernyataan itu kembali kudengar dari bibir Hamid. Dia menggenggam tanganku. Erat. Sangat erat. Hingga aku pun sulit melepaskannya.
Saya rasa, sebejat-bejatnya perempuan, pasti dia juga punya perasaan. Dalam hal ini, Nora pasti punya cinta yang tulus. Tidak semudah itu dia melupakan penderitaan selama ditinggal Hamid. Lalu apakah semudah itu Nora? Saya yakin, banyak pekerja seks komersial yang memiliki pacar sebenarnya, walaupun dia banyak memiliki pacar hitungan semalam atau hitungan jam. Itu bukti bahwa Nora juga seharusnya bisa semacam itu, bisa sakit hati, bisa terluka yang sulit sembuh, dan lainnya.
Selain tokoh perempuan, dari cerita ini juga saya temukan ada hal kecil yang menurut saya perlu digarap. Mengenai kehadiran tokoh-tokoh yang sekiranya berpengaruh atau tidak. Misalnya kehadiran tokoh Wulan dan Tito dengan pernikahannya. Lalu ada pula Tanu yang menurut saya juga belum digarap secara serius keberadaannya. Barangkali kehadiran tokoh yang kuat akan membentuk cerita yang kuat pula. Atau dari cerita yang ampuh akan melahirkan tokoh yang kuat? Namun terserah, itu pilihan. Percaya atau tidak, itu juga pilihan. Kita juga diperkenankan untuk memilih memulai dari mana saja. Namun saya yakin, barangkali Adefira akan berhasil menulis Kunang-kunang yang Beterbangan ini jika berkenan mempertimbangkan tokoh-tokohnya. Misalnya dengan menghadirkan Nora yang tidak hanya menjadi perempuan yang menyerah begitu saja. Tidak hanya melacur yang begitu saja, tidak hanya melahirkan Abidah dari Hamid yang begitu saja. Atau mungkin berani membunuh tokoh yang sekiranya diperlukan hanya sementara saja. Barangkali.***


Setia Naka Andrian, berkicau di @setianaka

Kamis, 12 September 2013

Kaliwungu-Kendal: Reuni dan Produksi Budaya Identitas

Oleh Setia Naka Andrian

Lagi-lagi daerah (kecil) mengambil bagian untuk muncul dalam peta kesastraan Indonesia. Rumah, puisi dan penyair menjadi produksi identitas dalam berproses. Karena barangkali puisi lahir―selanjutnya ditentukan masa depannya oleh penyair dalam rumahnya masing-masing. Entah itu rumah yang ditinggalkan, rumah yang dipulangi, atau bahkan rumah yang hanya mukim dalam kenangan setelah mereka menang ketika menemukan rumah yang menculiknya.
Setelah beberapa waktu lalu di Sragen sempat mempertemukan penyair-penyair dari seluruh Indonesia untuk menulis puisi dengan tema seragam (Sragen), kini Kendal pun menyusul (berbunyi). Namun di kota tersebut menggiring hal yang tak sama. Sabtu (19/1) Plataran Sastra Kaliwungu mempertemukan beberapa penyair kelahiran Kendal yang barangkali kini telah diculik kota lain, serta beberapa yang memilih menetap di Kendal.
Sebut saja nama besar yang diculik kota lain dan telah dibesarkan di kota tersebut. Yakni Ahmadun Yosi Herfanda, yang kini telah menetap di Jakarta sebagai penyair religius-sufistik. Juga banyak menulis cerpen, kolom dan esei sastra. Sehari-hari dia mengajar pada Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong dan ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Selanjutnya ada Gunoto Sapharie dan Mudjahirin Tohir yang barangkali meninggalkan rumah namun tak jauh-jauh, yakni di Semarang.
Malam itu mereka bersama penyair-penyair (muda) Kendal saling berjabat kisah mengenai proses kreatif dan rumah kreatif (komunitas). Karena barangkali kini kota itu semakin menggeliat dengan munculannya berbagai komunitas, sebut saja Lestra, Bongkar, Rumah Diksi, Tebing, Omah Gores, Komik, Plataran Sastra kaliwungu, serta Lerengmedini. Komunitas yang bergelimang itu semakin mencuat dengan tatanan sustainable community dalam kegiatan-kegiatan bersama.
Dalam pertemuan (reuni) tersebut, juga telah dibagikan dummy Antologi 18 Penyair asli kelahiran Kendal yang dalam waktu dekat akan terbit. Kita berharap semua itu tidak sebatas reuni karya semata. Karena barangkali pertemuan bukanlah sebatas pembukuan bersama. Paling tidak dengan adanya puisi-puisi yang terkumpul, penyair-penyair yang terlibat dapat semakin membawa diri sebagai senjata untuk melakukan ikhtiar penemuan dan permenungan lain.
***
Budaya identitas mereka suguhkan (?). Ratusan halaman berisi puisi atas segala bentuk teriakan penyair untuk membela dirinya sendiri, bahkan rakyat (tertindas). Penyair dengan senjata andalan licentia poetarum melenggang-menari dengan kebebasan mengucurkan bahasa dalam puisi-puisinya. Sejalan dengan yang ditegaskan Teeuw (1983), bahwa bahasa yang digunakan dalam karya sastra cenderung menyimpang dari penggunaan bahasa sehari-hari.
Lalu apakah puisi masih menjadi puisi atau telah mampu berubah wujud menjadi identitas yang juga bakal diproduksi masyarakat? Atau sebatas diproduksi penyair untuk dirinya sendiri saja? Ketika puisi telah berupaya menjadi sejarah, kota, tradisi, mitos, bahkan puisi yang sebatas menjadi pesta estetika setiap kali hadir dalam diskusi-diskusi yang berpusingan.
Jika kita menengok lebih jauh yang terjadi di Banyumas, karya fenomenal Ronggeng Dukuh Paruk dari Ahmad Tohari. Identitas yang dimunculkan dari penulis telah menjadi milik masyarakat sepenuhnya. Pembaca telah menemukan jati diri dalam karya yang ditelurkan. Yang tidak hanya menjadi milik masyarakat sastra Banyumas atau masyarakat umum Banyumas saja. Namun sepenuhnya telah menjadi kepunyaan orang Indonesia dan menjadi salah satu kekayaan sastra Indonesia. Lalu kelak apakah Kendal sanggup menemukan hal yang sama?
Barangkali tidak menjadi persoalan untuk kota produktif semacam Kendal. Karena pada kenyataannya kota tersebut belakangan ini telah menerbitkan beberapa antologi puisi: Gusdurku, Gusdurmu, Gusdur kita; Merajut Sunyi Membaca Nurani; Sogokan kepada Tuhan; Tidak Ada Titik, Masihkah Kalian Melawan?; Tebing; serta antologi cerpen Kausal. Semoga segala itu bukan sebatas produksi identitas yang penuh dengan kesepian-kesepiannya saja. Namun kelak mampu menempatkan sastra sebagai aktivitas rutin yang semakin memiliki rumah yang kuat. Kendal, khususnya Kaliwungu dengan kota santrinya, barangkali kelak akan memunculkan sastrawan religius-sufistik semacam Ahmadun Yosi Herfanda. Semoga.***

Puisi: Eksistensi Tubuh yang Bersilaturahmi

Oleh Setia Naka Andrian

Puisi adalah makhluk penyair yang paling berbudi. Tindakan serta segala hal mengenai tingkah lakunya menjurus pada harkat dan martabat sebagai hamba yang luhur. Mengalir atas kemuliaan daya saing yang tak tertandingi oleh mahluk (puisi) ciptaan penyair lain. Sanggup menemukan pelbagai masalah dan memilah solusi atas pengungkapan yang paling bijaksana.
Namun ada kalanya puisi belum sanggup menyelesaikan kecemburuan di antara sesamanya. Seringkali egonya meninggalkan prasangka buruk bagi estetika puisi lainnya. Tingkah laku dalam pemenuhan kesehariannya pun menjadi ujung yang paling agung untuk memilih dan memilah pelbagai perselisihan dalam silaturahmi di media.

Idealisme Penyair sebagai Jurus Tersembunyi
Budi murni seseorang tak mungkin mengenal yang di luar pengalaman, karena pengetahuan budi itu selalu mulai dengan pengalaman. Metafisika murni tidak mungkin terjadi (Kant dalam Poedjawijatna, 1978).
Hal itu memberi sepetak penerangan bahwa penyair akan selalu dihadapkan pelbagai tindakan menyeluruh. Sebagai dirinya, dari, oleh dan untuk dirinya sendiri pula. Penyair mengakui keberadaan puisinya, puisi ‘ada’ atas dirinya. Lahir sebagai pribadinya, dan akan meneruskan hidupnya sendiri yang pendek atau berkepanjangan. Maka ia akan merasa sama sekali tidak mengikat maupun tidak pula ingin diikat oleh sesamanya. Dalam arti benar-benar berdiri sebagai individu yang mampu menaruh persoalan dan memecahkannya—menanam penyakit dalam dirinya sekaligus akan mengobatinya.
Segala bentuk pengorbanan pun akan senantiasa menjadi persoalan yang pelik bagi sesamanya. Misal hal tersebut kurang disepakati oleh orang lain yang paling terdekat secara biologis maupun psikis, antara ia dengan orangtua, saudara, hingga kepada pasangan (baca: pacar, suami/ istri). Dikarenakan ia ingin menjadi individu yang benar-benar tunggal untuk penemuan dan perenungan tertentu dalam masa depan harkat dan martabatnya sebagai penyair seutuhnya. Pertanggungjawabannya dilakukan ketika ia harus menentukan pilihan yang tersembunyi atas dasar perilaku yang sering dianggap menyimpang dan kurang disepakati oleh sesamanya. Namun hal itu mutlak sebagai jalan yang wajib ditempuh penyair.

Konservasi Puisi dalam Jagad Penyair
Kita sering menguping bahwa individu tak dapat terbelah lagi. Ia hadir atas kehendak diri sendiri sebagai manusia perseorangan. Lahir untuk menemukan kontrol sebagai “aku” (penyair) untuk bersaing dengan sesamanya. Pun puisi yang dilepas oleh penyair dan telah dibekali nasibnya masing-masing. Entah akan diam saja atau berusaha untuk mengubah agar lebih baik.
Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas. Yakni sebagai manusia perseorangan. Sebagai diri sendiri untuk melakukan kesehariannya masing-masing agar menemukan kesejatian dirinya masing-masing pula (Lysen, 1967).
Dapat kita lihat penyair di sekitar penyair lainnya. Mereka berdiri sendiri dalam pelbagai hal yang sama. Namun sesungguhnya berbeda. Penyair dibilang sejenis, tapi tidak sama. Karena para penyair berupaya untuk membeda-bedakan diri. Masing-masing ingin menunjukkan capaian estetika kepada penyair lain agar mendapat pengakuan sebagai hadiah atas kerja cerdas yang dilakukannya. Sehingga penyair lain akan merasa bahwa ia mampu memperoleh yang diinginkan. Maka otomatis penyair yang lain itu akan mempelajari pemenuhan capaian tersebut.
Para penyair pada puncaknya masing-masing dapat dilihat dari rumahnya (kelompok/ komunitas) jika mereka telah mencapai tingkat peradaban yang lebih tinggi dibandingkan rumah lain. Sedangkan penyair yang primitif adalah penyair yang masih sedikit diferensiasinya. Maka para penyair/ rumah yang lebih maju tersebut menunjukkan corak dari sifat-sifat dan tabiat yang semakin berkasta dalam jagad estetika. Mereka akan lebih tangguh, dapat melakukan beraneka rupa pekerjaan dapur estetika yang dijalankan dalam perkembangan arus perpuisian modern.
Lalu bagaimanakah diferensiasi itu terjadi? Penyair yang “primitif” tidak dapat berkembang dalam berdikari semata. Ia tidak mungkin mampu mencapai peradaban estetika yang lebih baik jika hanya mengandalkan pembawaan alam sahaja yang telah dimiliki sejak lahir. Karena tanpa pengaruh faktor-faktor tertentu dari luar tubuh penyair, perkembangan tidak akan begitu saja terguyur dari langit. Maka, mari bersilaturahmi.***

RumahDiksi, Agustus 2012

Mati Suri─Sastrawan (Kampus)

Oleh Setia Naka Andrian

Siapa yang bertanggung jawab atas keberadaan bibit-bibit (sastrawan) yang mondar-mandir pada lingkungan kampus? Para dosen? Atau keberadaan mahasiswa itu sendiri atas berbagai penunjang kreativitasnya?
Semua benar, berbagai pihak bertanggung jawab atas masalah ini. Dirinya sendiri otomatis, pasti paling bertanggung jawab atas survive-nya. Lalu dosen juga punya pengaruh besar, keterlibatannya pun cukup memiliki singgasana. Ia berfungsi sebagai pengarah dan pengaruh. Memang dalam proses kreatif sesungguhnya tak perlu seorang guru/ dosen pun pasti bisa jadi. Namun, kali ini dan dalam tulisan ini menyatakan bahwa guru/ dosen berpengaruh dalam proses kreatif seseorang. Ia menuntun pada jalur aman. Ketika dalam persidangan kelas seorang guru/ dosen menindaklanjuti beberapa orang yang disinyalir memiliki sedikit amunisi untuk bergelut dalam sastra. Semisal saja diberikan sedikit kelonggaran waktu dan tempat semisal siswa/ mahasiswa tersebut dimungkinkan harus pernah/ sering bolos sekolah/ kuliah. Ini bukan semata-mata karena pembelaan bagi orang-orang yang memiliki sedikit atau bahkan banyak kegiatan di luar pelajaran/ kuliah. Namun ini adalah keadaan yang memang harus diadili.
Beberapa waktu lalu saya pernah menjumpai mahasiswa yang ternyata ia sering tidak masuk kuliah. Bila masuk pun ia sering terlambat masuk kelas. Setelah ditelusuri ternyata ia merupakan mahasiswa yang sering/ aktif mengikuti/ nebeng pada kegiatan/ aktivitas di luar kampus. Nah, karena terlalu serinya membolos, berangkat dengan tidak berangkat lebih banyak tidak berangkatnya, bahkan ia sempat tidak mengikuti ujian tengah semester, juga sempat tidak mengikuti ujian akhir semester. Lalu bagaimana bila Anda sebagai guru/ dosennya? Apa yang akan dijatuhkan terhadap mahasiswa nggondhes tersebut? Dikondom saja otaknya ya? Biar nggak keluyuran kemana-mana imajinasi dan kreativitasnya? Hahaha
Dalam hal ini, diharapkan guru/ dosen mau mempertimbangkan dengan begitu matang. Jangan langsung memvonis begitu saja sehingga mahasiswa tersebut tak mampu berbuat apa-apa ketika kehilangan nilai, bahkan dipersulit untuk mendapatkan nilai. Maka tolong lah, diberi kesempatan mahasiswa tersebut untuk sedikit berbicara pada ujian susulan dengan peran yang sama seperti halnya ujian yanmg dilakukan oleh mahasiswa lainnya. Karena saya yakin hal yang dilakukannya di luar kampus belum tentu dan bahkan tidak dapat dilakukan oleh semua mahasiswa pada umumnya. Memang semua benar, bila yang di kampus selalu datang masuk kuliah dan mengikuti ujian pasti dimungkinkan mendapat nilai bagus. Namun apakah mahasiswa itu juga mampu melakukan hal yang digeluti oleh mahasiswa aktif di luar tadi? Semisal undangan-undangan yang terkait tentang sastra, antologi bersama, festival sastra mahasiswa, baik lokal maupun nasional?
Guru/ dosen juga berpengaruh terhadap iklim sastra di kampus. Semisal ketika dapat menghasilkan para peneliti sastra yang benar-benar matang dengan teori dan lincah menelisik karya. Ia mampu menggiring mahasiswanya yang tidak hanya mencari nilai. Dengan bertanya mendapat nilai (pikir mahasiswa pada umumnya), padahal pertanyaannya terkadang sangat ngawur, asal tanya, pertanyaan yang sudah ditanyakan teman lainnya dan sudah dijawab diulang ditanyakan lagi, pertanyaan yang sudah tak perlu ditanyakan tapi ditanyakan lagi. Uh, kacau-kacau. Haha
Peran dosen/ kampus terhadap iklim sastra juga sebenarnya sangat memiliki singgasana. Semisal, tiap tahunnya berapa kampus melahirkan karya lewat skripsi-skripsinya. Namun, berapa skripsi-skripsinya yang benar-benar berpengaruh dari penulisnya? Skripsi yang benar-benar dari hati ataukah skripsi demi toga? Hehe
Nah, bisa dibilang, mahasiswa yang sering tidak masuk kelas karena sering mengikuti aktivitas di luar tadi, termasuk sebagai mahasiswa yang mati suri. Ia terkesan mati dalam urusan kelas, namun sesungguhnya ia menggelegar hidup di luar sana. Banyak yang dilakukan di luar sana. Tetap sekolah/ kuliah dan juga tetap keluar. Maka ia adalah insan yang patut dibilang ampuh, ketika ia dapat melakukan lebih terhadap sesuatu yang dilakukan oleh orang lain. Maka semoga saja kelak orang-orang tersebut akan mendapatkan sesuatu yang lebih juga dari yang telah didapatkan oleh orang lain, amin.
Seperti halnya seniman yang sering digemborkan telah mati dan jarang beraktivitas. Namun pada kenyataannya ia tetap menjalani proses kreatif, misalnya saja ketika seorang seniman masih tetap berproses kesenian dengan siswa-siswa SD, SMP atau SMA─sebagai guru pengajar tentunya. Namun ia masih tetap menghidupi seni, ia tetap berproses, walaupun terkadang terkesal mati─mati suri. Maka marilah tetap berproses. Jangan lelah terhadap satu hal. Karena masih banyak yang harus dan dapat kita lakukan. Satu tak dapat, cari yang lain. Yang lain belum dapat, maka teruslah berjuang untuk mendapatkan yang lain lagi. Selamat. ***