Kamis, 12 September 2013

Seragam dan Tawuran Pelajar

Oleh Setia Naka Andrian

Seragam dan tawuran adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari ingatan para pelajar di negeri ini. Pelajar yang pada umumnya anak muda, masih butuh kenakalan dan bertindak hal-hal yang tidak wajar. Mereka tumbuh dari tubuh yang panas dan ingatan yang cerdas. Ingin selalu melompat-lompat dari penindasan-penindasan yang sering muncul dari lingkungan, bahkan dari tubuhnya sendiri. Barangkali kita tak sanggup membayangkan betapa liarnya mereka. Namun itulah pelajar, butuh tempat yang teduh untuk lari dari keterasingan-keterasingan dan kejenuhan yang timbul dari sekolah/ lingkungan belajarnya.
Sebenarnya mereka sangat sadar dengan apa yang dilakukan. Bahkan mereka juga dapat berhenti sendiri untuk meninggalkan kenakalan dan tawurannya. Karena barangkali sama halnya saat mereka melepas seragam sekolahnya ketika sampai di rumah. Benar-benar lepas. Karena setidaknya seragam mereka telah menjadi sejarah sebelum sampai di rumah. Seragam telah dikenakan untuk keliling kemana-mana sebelum mencium pintu kamarnya. Hingga akhirnya lelah dan mengadu pada kasur, bantal, berteriak di facebook dan barangkali juga berkicau di twitter.
Bayangkan saja, begitu dahsyatnya seragam sekolah menginap pada ingatan para pelajar. Karena seragam, mereka dapat leluasa berlari-lari di pinggir-pinggir jalan. Mereka juga lebih asyik nongkrong di alun-alun kota, berfoto-foto, atau sambil menggoda lawan jenis yang lewat. Karena seragam, mereka berani saling menghina antarsekolah gara-gara ikat pinggang dan sepatu dari sekolah lainnya tergadaikan hanya karena buku suplemen mata pelajaran dan uang saku yang tak wajar.
Yah, begitulah. Seragam dan tawuran telah menjadi dua sisi uang logam yang bersebelahan. Lalu kita dapat memilih perbandingannya, masa lalu kita dulu ketika berabu-abu putih dengan masa anak kita kali ini. Namun seyogyanya kita tak perlu sakit hati. Karena bagaimanapun kita kini menyaksikan mereka semakin manja karena seragam. Air mata tak lagi mampu berlinang gara-gara nilai ujian yang belum keluar. Juga mengenai sayembara-sayembara kreativitas yang sering terabaikan. Namun bagaimanapun tangis mereka adalah proposal permintaan tas dan ikat pinggang yang baru. Atau bahkan membanting-banting tubuhnya sendiri ketika hendak minta motor baru hingga mobil mewah. Dan, itu bukan kelaparan mereka. Hanya saja kekeliruan yang terjadi pada tubuh mereka sendiri. Atau bahkan sistem dan keraguan yang sering muncul dari rumah-rumah yang sering mereka anggap sebagai sekolah, dan sekolah yang barangkali selalu mereka anggap sebagai rumah. Atau bahkan lebih parah lagi, sebagai tempat nongkrong dan berpesta yang paling berlabel tralala. Lalu selanjutnya bagaimana, atau barangkali tak perlu lagi berseragam?***

BilikLipat, November 2012

Lawak Teater Guru Kepala Burung: Distorsi Ingatan Papua

Oleh Setia Naka Andrian

Naik kereta babi, ngok...ngok...ngok...
Siapa hendak turun...
Ke Bandung...ke Papua...babinya kok turun semua...
Ayolah kawanku cepat naik...babiku tak berhenti lama...
(Syair yang dinyayikan dalam pementasan bertajuk “Kado Kebudayaan Akhir Tahun” oleh Teater Gema IKIP PGRI Semarang, dengan mengusung pertunjukan Latar (Lawak Teater) dengan lakon “Guru Kepala Burung” karya dan sutradara Danang Septa Friawan. Kamis, 29 Desember 2011, di Gedung Pusat Lantai 7 IKIP PGRI Semarang).

Tradisi—ciptaan leluhur yang selalu memutar ingatan generasi selanjutnya. Semacam tradisi ospek, memihak pada individu tertentu dan melebar kepada individu lain sebagai wujud budaya yang traktat/ kesepakatan. Sehingga kita akan selalu mengenang tradisi sebagai sejarah yang memutar. Muncul dengan judul barang mahal yang mudah untuk kita beli.
Tradisi yang diusung oleh Danang Septa Friawan mengajak penonton untuk memutar distorsi/ penyimpangan ingatannya masing-masing tentang Papua. Kali ini sutradara berusaha membibirkan potongan-potongan tradisi yang muncul dari beragam ingatan penonton. Lalu mengubah pola realitas sosial dari berbagai potongan tradisi yang sudah terlanjur menjadi putaran gelimang sejarah, dan memporak-porandakan kepada penonton sebagai hal yang segar dari persoalan-persoalan sosial yang menjenuhkan. Segar, bukan hanya karena lawak/ banyolannya saja. Melainkan sederet kecemasan ingatan penonton tentang realitas sosial yang dijungkir-balikkan secara berhamburan dan berusaha menolak batin mereka untuk mengingat-ingat lebih tinggi.

Kereta Api Menjadi Kereta Babi
Awal pertunjukan yang riang dimunculkan melalui kehadiran tokoh anak-anak SD yang bernyanyi bersama. Mereka menggerakkan tubuh untuk berderet, berjalan dan memutar semacam kereta api yang bergandengan. Dengan sangat riang mereka menggemborkan lagu “naik kereta api” menjadi “naik kereta babi”. Alasan mereka dalam dialog, “karena di Papua tidak ada kereta api, adanya babi”. Maka mereka sepakat untuk mengganti kereta api menjadi kereta babi. Mereka terus berjalan dengan hentakan semangat, memutar mengelilingi pohon dan benda-benda yang berantakan di sekeliling sekolah dengan seragam yang bersih dan kompak—bendera Indonesia.
Kemunculan adegan tersebut secara tidak sengaja mengajak penonton untuk memihak batinnya masing-masing, bahwa itu tidak benar. Sehingga penonton semakin curiga untuk memproklamasikan mata dan batinnya agar semakin serius menyaksikan distorsi dialog, syair lagu dan tubuh mereka atas suguhan kebohongan-kebohongan yang sesungguhnya sudah diketahui dan disadari. Kebohongan pertama mencuat saat gebrakan awal pertunjukan, penonton beranggapan dan sangat tidak yakin jika semua siswa SD di tanah Papua berwajah bersih, kulit putih mulus, tampan dan cantik-cantik serta mengenakan seragam yang rapi dan bersih. Itu bukti bahwa sutradara yang sekaligus penulis naskah telah memporak-porandakan sebagian ingatan penonton untuk sedikit mengucurkan airmata ketika melihat kebohongan yang muncul. Karena penonton yakin di Papua sana tidak seperti yang dilihatnya di panggung, namun jauh sangat mengerikan. Ditambah lagi sentuhan lagu “Darah Juang” yang sempat dipopulerkan oleh aliansi LMDI (Liga Mahasiswa Demokrasi Indonesia) yang digunakan saat demo menggulingkan Soeharto. Dan kali ini lagu tersebut telah mengarak hati penonton untuk semakin mencumbui cerita. Berikut penggalan syairnya, “Mereka dirampas haknya. Tergusur dan lapar. Bunda relakan darah juang kami. Untukmu kami berbakti.”

Realitas Sosial dan Pendidikan yang Pelik
Selanjutnya beranjak pada proses pendidikan pelik yang dialami oleh anak-anak SD itu, mereka mengupas antara urusan perut dan otak yang berujung kelaparan dan tradisi malas belajar. Karena banyak orang bilang kedua hal semacam itu saling berkawin, logika tanpa logistik maka tidak jalan. Namun dalam pertunjukan ini, distorsi kembali diputar. Anggapan orang tentang logika tanpa logistik maka tidak jalan, runtuh seketika. Karena anak-anak SD itu sanggup menentukan budaya kritis melalui hal-hal kecil yang dihamburkan, ada beberapa keemasan yang tersembunyi. Hal itu ditunjukkan ketika mereka masih tetap riang dan bergembira dalam kelaparan, namun masih mampu dengan kritis mengubah lagu “naik kereta api” menjadi “naik kereta babi” atas dasar fenomena yang mereka tangkap bila di Papua tidak ada kereta. Entah itu mengalir atas ketidaksengajaan dari sutradara, atau ada upaya lain yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Namun hal itu menuntun penonton untuk mengemas kecemasan tertentu agar kembali memutar ingatan mereka. Secara tidak sengaja pula, penonton digiring untuk kembali mengingat persoalan-persoalan pelik di Papua. Entah tentang keemasan/ gemilang tradisi kritis yang terungkap dari anak-anak SD itu mengenai dampak negatif desentralisasi terkait pada banyaknya sumber alam yang hilang, mungkin tentang keadilan yang terpasung mati atau terpaksa bunuh diri, hingga nyawa-nyawa yang terbang begitu saja tanpa ada tindak lanjut yang tegas dari pihak pemegang kewenangan/ pemerintah setempat.
Namun begitulah yang patut disebut tradisi sebagai sejarah yang terus bergulir. Hingga sosok guru tidak mampu berbuat apa-apa. Seseorang yang seharusnya menjadi leader di bangku sekolah, kali ini hadir sebagai pecundang yang memilih kalah sebelum bertanding. Guru diam saja melihat kenakalan dan tingkah liar anak didiknya, contoh kecil ketika mengubah syair lagu “naik kereta api” menjadi “naik kereta babi”. Juga ketika anak-anak itu berbuat kekonyolan-kekonyolan yang tidak sesuai dilakukan di sekolah, guru tetap tidak mampu berkutik. Distorsi kembali bergulir dan semakin semena-mena. Namun kalau yang seperti ini, menjungkir-balikkan fakta atau memang terangkat dari realita?
Yang pasti tidak perlu dijawab. Biarkan menjadi perjalanan teater kedua, pinjam istilah Afrizal Malna. Bahwa kali ini penonton memiliki otoritas, berhak memilih jawaban tertentu dari hasil pengamatan serta pengalaman batinnya masing-masing setelah menyaksikan teater pertama yang disuguhkan di panggung pertunjukan itu. Dan tentunya penonton digiring untuk menemukan kritik tajam mengenai akibat desentralisasi pendidikan yang kurang tepat untuk daerah-daerah tertinggal/ pedalaman.

Banyolan yang Khas Ala Suku Pedalaman
Potret kehidupan suku pedalaman digarap cukup serius. Sehingga sangat berpotensi menggiring penonton untuk menyibak banyolan-banyolan yang segar dan mengocok perut. Sekelompok suku pedalaman yang membawa tombak, menari, bernyanyi ala Papua dan berlarian beramai-ramai dengan menunjukkan tradisi berkehidupan yang memikat itu telah berhasil menyihir penonton. Melalui kekonyolan-kekonyolan yang sengaja dihamburkan sebagai peredam empati mereka, selelah berulang kali dihujani realitas sosial yang memedihkan mata dan hati. Namun tidak semata kekonyolan saja yang dibeberkan dalam adegan ini. Ada suguhan yang cukup menarik dan menggelitik, ketika seorang kepala suku pedalaman yang masih percaya untuk menyekolahkan anaknya. Sungguh bertolak dari kerasnya pola pikir dan ideologi yang tertanam secara turun-temurun dari leluhurnya. Sang kepala suku masih mengimani untuk menitipkan anaknya di bangku SD. Walaupun dari adegan ini masih tetap saja mengocok perut penonton, garapan yang erat dengan khas banyolan atas dasar latar belakang ala suku pedalaman. Ditunjukkan ketika anak dari kepala suku pedalaman hendak berangkat sekolah dikawal oleh dua orang warga suku yang gemuk, berkulit hitam dan betampang lucu. Dengan tingkah laku yang lucu dan gila-gilaan pula.
Dan akhirnya, pertunjukan dipungkasi dengan kehancuran yang begitu saja. Penonton dibuat kaget, karena tiba-tiba terbaca ending-nya. Namun tetap saja penonton masih diguyur kondisi di atas panggung yang semakin berkecamuk. Ketika kehadiran tokoh yang dimaksudkan sebagai kaum kapitalis yang mampu membeli segalanya. Menyuap para pemegang kewenangan/ pemerintah setempat untuk menguasai tanah Papua dan menumpas masyarakat suku pedalaman. Termasuk guru yang dituduh sebagai pelopor Gerakan Separatis Papua Merdeka, lalu akhirnya guru itu dibunuh juga. Anak-anak SD—simbol generasi pewaris tradisi keadilan yang terpasung, dihadirkan kembali dalam babak yang paling pungkas. Mereka tak mampu berbuat apa-apa. Hanya mengeluh, berdoa dan menangis atas kematian seluruh warga suku pedalaman, orangtua serta guru mereka. Kemudian anak-anak SD itu kembali menyanyikan lagu “Darah Juang”, sambil membawa lilin yang menyala sebagai wujud penerangan yang redup. Simbol ilmu/ pendidikan yang pudar.
Guru Kepala Burung—penggambaran atas leader yang paling penting dalam pondasi berkehidupan melalui pendidikan. Hadir sebagai konstruksi yang gagal atas perkawinan tubuh manusia dan kepala burung. Manusia yang seharusnya utuh atas akal pikirannya, namun runtuh ketika berkepala burung. Dan jika manusia dimaksudkan sebagai burung yang berpotensi untuk terbang melangit, namun runtuh pula ketika burung yang bertubuh manusia dan tidak bersayap.
Begitulah tradisi tentang sejarah yang memutar ingatan kita terhadap Papua. Akhirnya memang menjadi sebuah percumbuan mata dan batin kita atas gelimang distorsi yang muncul dari berbagai dialog, syair lagu, hingga distorsi tubuh yang bermacam-macam. Penonton secara tidak sadar diculik diam-diam untuk sejenak menikmati kepedihan-kepedihan yang hingga saat ini selalu saja berakhir distorsi. Lalu kita semakin sulit mengingat, karena setiap hari lahir jutaan distorsi dalam tubuh kita—Indonesia.***

Pandean Lamper, 311211.

Selasa, 03 Januari 2012

Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Jawa Pos, 6 November 2011)


Abdi Doa Kepada Kekasihnya, Mati

ingatkah, ketika kau ada karena sesuap nasi dan berkepung pada piring penumbuk padi?
kau pun dibesarkan pada air pembuat beling-beling yang tak lagi sempat pecah
dan meresap ke tanah

sarangkatahati, 131209, 07.59 pm.


Kunang-kunang Kota

jika benar kau ijinkan aku untuk membuka pintu kamarmu,
setiap malam pasti aku akan mengirimimu sepasang nyala lilin yang teduh
satu nyala dariku dan satunya lagi pesananmu
kau memintaku untuk mengambil nyala kita bersamaan,
ketika tuhan masih sempat menatakan rapi pinjaman cerita untuk kita
biar lah, ingin kutaruh sebagai pengganti nyala kunang-kunang kota dalam canda petang yang pernah kita lalui malam itu
ketika pertama kali aku memberanikan untuk bercerita tentang mataku yang tersenyum melihat matamu
yang tak tahu akan kau buang atau bahkan kau kubur sedalam-dalam
semoga ingatan rasa itu masih belum lupa
dan permohonanku pun tak begitu mewah,
aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik
berkendara pada seluas isi dan berdongeng lembut untuk berteduh menidurkanmu

kampusikippgri, 310110, 05.34 pm.


Surat Menginap di Surga

aku ingin para nabi saja yang mengedit tulisanku,
dan para malaikat asyik minum kopi sambil membaca cerpen-cerpenku

lalu aku ingin tidur nyenyak dalam telapak tangan bidadari pilihanku,
sambil melukiskan doa-doa kecil sebagai garis telapak tangannya,
agar sama-sama mengingat, satu sebagai kreator dan satunya lagi memberi kanvas,
kekal bersama menamai satu menara,
sebagai rumah berteduh hasil pertemuan yang saling,
hingga selalu merindu, untuk tiba pada perpanjangan kontrak menginap di surga..

sarangkatahati, 280210, 09.28 pm.


Cerita Keabadian untuk Kekasihnya, Mati

ingin kuceritakan kematinku kepadamu,
agar kelak kau cipta rumah yang tepat untuk keabadianku:
dan kau kelelahan tak mampu menyusulku,
karena ternyata surga belum bahagia

sarangdiksicantik, 110110, 10.02 pm.


Surga Gergaji Tua

hampir setiap detik umat manusia dari penjuru dunia terinfeksi untuk berkaca dan menyempatkan diri walau hanya sekedar dibilang cuci muka oleh para tetangga
menimba luka sederhana dan mengabaikan bahagia sesaatnya pada tuan-tuan pelindung pohon tua yang tak rela menggigitkan gergajinya di sungai,
juga tentang anggapan para tetangga dan campur tangan kakek buyutnya untuk mengkaji paksa pembringasan gigi gergajinya
kali ini gergaji dan kayu yang sama rata tuanya tak sanggup untuk membunuh segera,
nyawa terlalu murah dan terlalu mudah untuk malu berkaca bila hanya sekedar tutup muka saja
karena apa pun itu, semua tetap berjalan sama
gergaji akan tetap berteman kayu,
sungai akan tetap mandi di sungainya sendiri,
dan aliran terpaksa mati untuk alirannya sendiri
tak ada yang seimbang,
kecuali bila tak hanya sekedar penajam untuk membabat penyanggamu saja, tuan
dan untuk mati adalah surga terkecil yang belum sanggup dicuri

sanggarteaterruang, 261109, 08.28 am.


monumen lampu dalam botol


botol-botol kecil mulai dibariskan
diantara perhentian proyek jembatan yang menanti gunting pita
mereka berdiri tegak, bungkuk menyuapi kolom-kolom yang masih kosong dan menunggu
kaki mereka adalah roda yang malas berputar,
sengaja lupa pakai sandal dan sengaja digerus-gesekkan di bibir nona-nona swalayan
botol-botol kecil itu menunggu pesanmu, tuan!
tapi kenapa kok doa-doa mereka masih saja sama?
ya itu-itu saja, bergerak tidak, baju bebas sopan juga tidak
masih wajar dan standar kategori kamar mandi, kawan!
bagi mereka itu lebih nyaman,
jauh masih berat dulu, kawan!
wajib ikut petak umpet bawa obor!
iya, sangat betul!
tak perlu kita meruncingkan bambu!
tinggal guyur badan, ambil sabun dan sedikit senandung,
kita bisa terkenal, kawan!
lalu kapan kita akan berjuang untuk tenar?
ya tinggal foto-foto saja dibawah buku sejarahnya,
gampang bukan?
kita pura-pura mantapkan ambil peran mereka.
itu sama saja, doa kita bukan cinta
hanya sebatas menempel foto-foto pejuang didekat jendela
semua sia-sia, kawan
kenapa kita harus nyalakan lampu dalam botol?
berfoto keluarga menyerupakan jasa, tapi bangga menghiraukan pesan dalam botolnya.

gedungwanitakendal, 081109, 10.39 am.


Musim Selingkuh

musim selingkuh adalah bukan gerimis ataupun kesepian yang ramai pada kerumunan anak-anak kecil yang berebut sarung untuk mengaji
musim selingkuh adalah bukan mimpi, bukan senja yang cantik ataupun cerita fiksi yang terbakar mati oleh redaktur setelah termuat pada koran hari minggu
musim selingkuh juga bukan sekedar sesuap kecup perbincangan nona-nona manula yang sedang menunggu prosesi pemakaman untuk dirinya sendiri

tapi ada yang bilang, katanya musim selingkuh adalah panjang ciuman yang tidak lebih dari seribu karakter, dan kira-kira jaraknya mampu keliling satu juta halaman lingkar dada spasi tunggal, tak lupa menggunakan permen rasa aneka buah sebagai lipstik dengan font dipertebal dan dicetak miring,
dan semua itu adalah pura-pura

sanggargema, 220610, 04.15 pm.


Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 2 Oktober 2011)


Bidadari Tidur dalam Kitab Suci

dua ribu gerimis yang lalu membuatku kepanasan karena dua ribu lima ratus kaki dan jari-jarinya adalah katanya dan itu semua adalah dua ribu hektar tanah pewarisan orang tuaku yang malu lebih dari dua ribu lima ratus air mata yang belum khatam karena ternyata ayah dari orang tuaku menimbun uang dalam bantal dan terbakar obat nyamuk yang mengapikan hutang pada kasur sejak dijemur sebelum pulang sebagai tempat tidur, dan kakekku terbakar mati juga

aku bingung kepadamu, nak karena wajahmu seperti bukan dari daging, malah banyak orang menyebutmu juga bukan wajah tempat tidur yang diranjangkan oleh kedua orang tuamu itu adalah katanya, kakekku bilang begitu

dan ternyata, kakekku pernah juga bilang kepadaku yang katanya dari kakeknya kalau rokok hisapan terakhir yang disebut hidup itu adalah katanya,

katanya kakekku lagi, tidak akan ada bidadari jika ada dua ribu tahun yang lalu wanita disebut perkasa dan laki-laki disebut manja itu adalah katanya, dan tidur dalam kitab suci adalah bukan bidadari, kecuali bidadari yang mau ditelanjangi kitab suci itu adalah bukan bidadari-bidadari yang ada dua ribu tahun lalu baru belajar mandi

sanggargema, 030610, 02.03 am.


Cincin Seikat Rambut

:f

aku rindu pada doa yang belum sempat tidur,

pada beberapa warna langit sebelum wajahmu mengitarinya

aku ragu pada kawan serumah,
dan aku ingin kau membawaku lari,
jika pernah kau ikatkan rambutmu pada jari manisku

dan tiba-tiba kau titipkan bekas bibirmu pada pipiku,
agar sengaja mengirim isyarat untuk berdoa pada lidahku

dan bibirku tersenyum memandangimu,
tak lagi lari kecuali tenggelam menapaki lesung pipimu

sanggargema, 170110, 02.50 am.



Air Mata Lilin

ingin kuciptakan lilin dari air matamu
ketika nyalanya mengalir menapaki lesung pipimu

biarkan dia menangis, pura-pura lupa hingga bibirmu mau melumatnya dengan sadar
merasakan tiupan dari bibirmu sendiri,
bila bibirku tak kau izinkan untuk mengakrabi bibirmu dan menawarkan canda pada lidahmu

depanparitama, 301109, 01.00 am.



Menara Layang-layang

aku adalah hiasan terbang dan takut kau tenggelamkan,
berjinak dari tetunas-tetunas hijau yang masih lunas dan belum sempat kau perhutangkan kepada lorong-lorong sepi menuju peribadatan utusan para nabi di pojok-pojok rumah tetangga,

tentunya kau paham dengan pelunasan warnanya, yang ternyata menyerupa lepas pada kerudung hijaumu, jika ada sungai ngalir yang belum sempat kering dan disekitarnya adalah rumput-rumput yang sengaja terbakar oleh kehausan dalam tubuhnya,

maka jangan pernah ada lagi luka berdesakan akibat kilau yang tak paham dari arus perjalanan air tanah menuju kerdip matamu, jangan pernah ada jika kau belum sempat menyerupakan luka yang terpaksa ngalir tanpa kemauan tindak miring dari pelunasan- pelunasan yang sering, karena kita akan menyumbatnya sebelum sanggup menawarkan canda pada rumah kita,

dan jika rumput dianggap basah dalam sekujurnya, maka kita akan bersama-sama untuk mengelap permukaan telapak tangan kita, hingga jari-jarinya akan menekuk dan memperkuat kepalan dalampusatnya, dan tak lagi ada dingin yang nggigil kecuali nadi kita sanggup menerawang pada jari-jari manis untuk seikat rambut yang mengalung pada pertengahnya,


lalu dengan seadanya kita akan bersama-sama menerbangkan menara layang-layang dari ujung telunjuk yang ngarah, dan tak terasa telah tujuh bulan kita dipertemukan dalam hidangan makan malam dengan menu pilihan yang kita surgakan, berupa ingatan yang laku, berupa serupaan yang madu, dan berupa cahayaan yang merdu, pada telingaan yang ngalun, reruntun tak ragu dalamsegala seruan seisi rumah kita.
:diksicantik.

kampusikippgri, 150310, 07.21 pm.



Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari 1989. Masih tinggal bersama kedua orang tua dan seorang adiknya di Tabag Masjid RT 01/ RW07, Desa Kertomulyo, Kec Brangsong, Kab Kendal, Jateng. Lulus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Semarang (2011), kini sedang melanjutkan studi pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang; Berteater bersama Teater Gema IKIP PGRI Semarang, penulis naskah drama dan sutradara Hayalan Padang Tandus


Selasa, 06 Juli 2010

Bulan Terlanjur Pecah: Estetika Fantasi Potongan Puzzle


Bulan Terlanjur Pecah:
Estetika Fantasi Potongan Puzzle
Setia Naka Andrian

Potongan-potongan puzzle tak pernah mempermasalahkan kepada sesamanya tentang diberi atau memberinya, tentang dibebani atau membebaninya, tentang mencari atau dicarinya. Tapi yang ada adalah pemahaman terhadap sesamanya. Maka bila kita saling memahami seperti halnya potongan-potongan puzzle tadi, tentunya tak akan ada yang lepas dari kenyataan perannya, seperti halnya bila tak kan ada puzzle yang lepas sebelum pemain puzzle itu sendiri yang melepas dan memporak-porandakannya. Maka pahami orang-orang disekitar kita, sebelum pemahaman itu sendiri yang akan mati selamanya dan tak kan pernah menemui kita.
Kenapa saya menyeret puzzle? Berdasarkan asumsi saya, dalam hal ini puzzle lumayan berkawin dengan cerpen Bulan Terlanjur Pecah karya Khoirul Maftuhah. Dalam hal ini, Bulan Terlanjur Pecah sebut saja BTP karya MTH, telah (sedikit) memperbincangkan tubuh yang pecah/ rontok/ ambrol, atau entah itu hanyalah perumpamaan yang bagi MTH untuk mempermanis atau mungkin ada hal lain yang mendasar tentang apa yang ingin diungkapkan.
Bagi saya pribadi, BTP cukup menarik. Awalnya saya merasa hampir stroke ketika membaca cerpen ini, ketika waktu itu MTH memberikan hard copy BTP kepadaku. Tapi tunggu dulu, itu mungkin saya lumayan terkecoh dengan kalimat awal dalam cerpen ini. Memang saya pribadi mengakui kalau cerpen ini memiliki daya pikat tersendiri pada bagian kalimat-kalimat awal pada paragraf pertama dan beberapa kalimat pada paragraf berikutnya. Dalam kutipan,
Lewat tengah hari, Bulan mencari dirinya. Mencari pecahan tubuhnya yang terlanjur pecah. Di teras rumah, di bawah kolong meja, bahkan di atas bantal dan sprei.

Saya benar-benar merasa terpukau setelah berekreasi pada awal kalimat/ paragraf pertama tersebut. Juga pada beberapa larik kalimat berikutnya yang membuat stroke saya semakin akut dan semakin menjadi-jadi, berikut kutipannya,
Hujan menitik deras, memayungi desa yang terletak di kaki gunung kidul itu. Bulan masih sibuk mencari pecahan dari tubuhnya. Siang ini, jari-jemarinya pecah dan jatuh di bawah kolong meja. Setelah jari-jarinya ketemu dan berhasil di pasang olehnya. Giliran rambut-rambutnya membeku dan mulai pecah satu persatu. Dan berserakan di lantai. Ia segera meraih handuk dan melilitkan ke kepalanya yang sudah tak berambut lagi. Jika kepalanya sudah mulai hangat maka Ia akan memasang kembali rambut-rambut hitam panjangnya helai demi helai. Hingga utuh seperti semula. Begitulah selalu kehidupan Bulan jika musim penghujan tiba.

Lalu mari kita telusuri lebih dalam BTP karya MTH ini. Potongan tubuh yang pecah, bagi saya secantik potongan-potongan puzzle tadi. Hanya saja, dalam pecahan tubuh BTP, secara keseluruhan (asumsi saya) MTH kurang memperhitungkan bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan ketika memporak-porandakan pecahan-pecahan tubuh tokoh Bulan dan merangkaikannya kembali pada bentuk/ wujud Bulan yang utuh dan cantik seperti yang diungkap MTH. Dalam hal ini MTH belum menampakkan sesuatu yang detail, mungkin karena malu-malu, atau mungkin karena bingung berperang pada pecahan-pecahan tubuh yang saya anggap kurang diperhitungkan tadi.
Yang pertama, mari kita telusuri estetika dari BTP. Persepsi/ tanggapan saya tentang estetika/ keindahan dalam teks sastra merupakan sesuatu yang bermanfaat atau berguna, sesuatu yang baik, sifat yang baik, dan segala hal yang baik serta segala hal yang memiliki keutamaan jika dibandingkan pada sesuatu hal lain diantaranya. Misalnya saja, pada sebuah pesta ada sejumlah orang yang datang bergelintingan dari segala bentuk dan rupa juga beberapa nasib yang berbeda-beda pula, berkumpul menjadi satu. Seketika ada salah satu diantara tamu undangan yang sedang menikmati anggur merah dan membanting gelas minumannya di tengah-tengah pesta. Pasti hal ini merupakan hal yang utama dan sedikit menonjol dari sekelilingnya. Walaupun semua orang yang ada dalam pesta tersebut sama-sama meminum anggur merah dan lumayan mabok.
Dalam hal ini estetika dapat diartikan juga sebagi sesuatu yang bermanfaat atau berguna. Sesuatu yang memiliki keutamaan dan sesuatu yang bersifat baik. Keutamaannya adalah ketika penulis menuangkan segala hal yang akan diungkapnya benar-benar memilih rangkaian kata yang benar-benar utama dan dengan mengurangi atau tanpa adanya kata-kata yang tidak terlalu penting kehadirannya. Seperti halnya MTH menyuguhkan:
Giliran rambut-rambutnya membeku dan mulai pecah satu persatu. Dan berserakan di lantai. Ia segera meraih handuk dan melilitkan ke kepalanya yang sudah tak berambut lagi. Jika kepalanya sudah mulai hangat maka Ia akan memasang kembali rambut-rambut hitam panjangnya helai demi helai.

Cukup begitu jelas pemilihan kata-katanya, MTH telah melewati pengurangan kata-kata yang dirasa kurang perlu kehadirannya. MTH memenggalnya hingga terasa terbentuk ungkapan yang begitu cerdas dan menyegarkan.
Lalu mari kita telusuri penciptaan fantasi dalam BTP karya MTH. Dalam hal ini, terciptanya fantasi sepenuhnya merupakan dorongan kuat jiwa bawah sadar pengarang. Pemunculannya terbentur pada prinsip-prinsip realitas yang dikehendaki oleh ego yang bersifat represif/ menekan, tentang pengungkapan sesuatu hal yang belum tentu terpikirkan oleh orang lain, karena semua ini merupakan harga mati yang ada pada diri manusia. Tentunya hal tersebut seperti diada-ada kemunculannya. Seperti memaksa tapi tidak terlihat terpaksa. Seperti teryakini tidak ada tapi terlihat seolah-olah ada dan nyata. Dalam kutipan,
Seperti yang diperkirakan. Tubuhnya mulai tak bisa digerakkan. Tangannya mulai membeku, kepalanya beku, bibirya lebih beku. Kini, total ia tak dapat bergerak. Hanya matanya yang sedikit melirik kearah tamunya. Tangannya jatuh ke tanah dan pecah. Di susul hidung, bibir dan rambutnya. Jatuh ke tanah satu persatu dan pecah.

Fantasi dalam kutipan BTP diatas memang kedengarannya begitu cerdas dan segar, saya pun geleng-geleng dibuatnya. Namun setelah saya sedikit mengakar pada setiap perjalanan ungkapnya, ternyata ada sedikit yang terlupa atau mungkin itu disengaja oleh MTH. Tapi menurut saya, ini merupakan hal yang dapat dibilang cukup fatal, ketika pada paragraf berikutnya ada hal yang saya rasa kurang masuk akal, walaupun pada kenyataannya disebut fantasi adalah segala hal yang merupakan akal-akalan dari akal pikiran manusia dengan daya mimpi/ imajinasi yang menggebu. Tentunya juga harus memperhatikan hal yang masuk akal, dalam BTP yang menyatakan Bulan telah memunguti anggota tubuhnya satu per satu, dan memasangnya sesuai tempatnya semula, padahal tangannya pun ikut jatuh ke tanah dan pecah. Lalu dengan apa Bulan memunguti bgian tubuhnya yang pecah dan terjatuh ke tanah? Tapi juga tidak tahu kalau ternyata tidak dengan tangan, melainkan dengan menggunakan bagian tubuh yang lain ketika memunguti bagian-bagian tubuhnya yang pecah dan terjatuh ke tanah. Mungkin bisa juga meminjam tangan setan untuk memungutinya. Hehe. Dalam kutipan,
Hingga rintik hujan mulai reda, dingin perlahan hilang. Bulan memunguti anggota tubuhnya di lantai satu persatu. Ia memasangnya sesuai tempat semula.

Lalu mari kita telusuri lagi BTP karya MTH ini. Selanjutnya kita akan dipertemukan pada olahan kata-kata yang cukup tragis tapi kurang nyaris tragis. Kenapa saya bilang cukup tragis tapi kurang nyaris tragis? Bagi saya MTH kurang memperhitungkan segala hal yang akan diungkap. Walalaupun sebenarnya ungkapannya begitu cerdas dan segar. Hanya saja MTH kurang memberikan peran yang kuat terhadap hal-hal yang diungkapnya. MTH telah menghadirkan sesuatu hal tetapi kekuatannya seperti hanya tempelan-tempelan yang bagi saya kurang berkait kuat dalam alur penceritaannya. Misalnya saja pada kejadian yang cukup sering MTH ungkap, pada tubuh Bulan yang sewaktu-waktu pecah dan terjatuh ke tanah. Hal ini bagi saya kurang kuat, karena MTH saya nilai kurang jeli atau mungkin ada sedikit kelalaian ketika menempatkan semua itu. Tubuh Bulan yang pecah dan benar-benar terjatuh ke tanah tak tahu arahannya akan dibawa kemana, misalnya akan dinobatkan sebagai kejadian yang benar-benar terjadi atau sebagai perumpamaan yang mendasari sesuatu yang tersirat. Dikatakan sebagai perumpamaan saja tapi ternyata kejadian itu disajikan secara nyata, dan bila dikatakan itu hal yang nyata tetapi kenapa dibagian awal terlihat seperti perumpamaan. Juga ada penguat bila hal itu perumpamaan ketika di akhir-akhir cerita ternyata cukup terkait kuat bila hal itu merupakan perumpamaan ungkap dari MTH. Ketika hal tersebut merupakan kebekuan cinta Bulan ketika ditinggal kekasihnya, Purnama. Dalam kutipan yang bagi saya menunjukkan keberadaan dua hal yang cukup membingungkan, antara sebagai kejadian yang benar-benar terjadi atau sebagai perumpamaan yang mendasari sesuatu yang tersirat. Dikatakan sebagai perumpamaan saja tapi ternyata kejadian itu disajikan secara nyata, berikut kutipan yang saya anggap sebagai hal yang diungkap nyata/ benar-benar terjadi ketika tubuh Bulan pecah dan terjatuh ke tanah,
Bulan tinggal di daerah pegunungan yang memiliki suhu sangat rendah. Jika musim penghujan tiba, suhunya memang luar biasa dingin. Dan itu akan membuat tubuh Bulan membeku. Dan pecah satu persatu. Tentu saja bukan hal yang wajar. Kejadian itu tak pernah di ketahui oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Termasuk ayah Bulan yang tinggal serumah pun tak pernah tahu akan peristiwa yang ditimpa putri semata wayangnya itu.

Mas Dharmo yang melihat hal itu tak bisa berkata apapun. Mulutnya berbentuk oval yang makin terbuka lebar. Rokok yang masih mengepulkan asap di bibirnya jatuh ke tanah. Ia menampar pipinya berulang kali. Berharap bahwa yang di lihatnya hanya mimpi atau khayalan semata. Bulu kuduknya mulai merinding, Ia merasakan sakit atas tamparannya sendiri itu. Ia lari keluar rumah, dan jatuh tersungkur di pelataran. Mencoba berdiri, lantas berlari memasuki mobil yang dikemudikan sopirnya.

Dan berikut kutipan yang saya anggap sebagai perumpamaan ketika tubuh Bulan pecah dan terjatuh ke tanah,
Ia berbicara dengan dirinya sendiri. Sembari meremas-remas jari jemarinya. Ingatannya melayang jauh empat tahun silam. Tepat ketika rembulan malam tengah mengapung di pusara langit, sebentuk sabit. Bintang-bintang berpendar seperti titik-titik garam di atas pasir hitam. Di sebuah malam yang telah menghilangkan Purnama, kekasih Bulan.

“Bulan, katakan padaku tentang sebuah cinta.” Kata Purnama.
“Kebekuan.”
“Kenapa?”
“Seperti yang kau ajarkan kepadaku dua hari yang lalu ketika hujan turun, bahwa kebekuan kita, ketika tersentuh cinta yang lain, itulah namanya cinta.”
“Lantas apakah kau akan membeku untukku?”
“Aku mencintaimu, tentu aku bersedia membeku untukmu.”
“Baik, berjanjilah bahwa ketika hujan turun maka kau akan membeku untukku.”
“Aku janji. Tapi kaulah yang akan membuatku jadi hangat. Sehingga ketika aku membeku, maka kau akan datang untuk menghangatkanku“
“Baiklah, aku janji.”
“Tapi Bulan, aku harus pergi sekarang. Kuharap kau baik-baik saja disini. Aku akan kembali bersama rintik hujan untuk menghangatkanmu.”

Dari kutipan diatas ada dua hal pengungkapan MTH yang bagi saya kurang berkawin, ketika MTH harus menyajikan kebekuan tubuh Bulan yang benar-benar nyata membeku dan kebekuan tubuh Bulan yang hanya membeku sebagai perumpamaan saja ketika cinta Bulan yang membeku. Hal yang kedua saya sebut perumpamaan kebekuan cinta Bulan karena telah diungkap MTH ketika perbincangan Bulan dan Purnama, kekasihnya. Ketika Bulan mau membekukan tubuhnya hanya karena cinta Bulan terhadap Purnama. Apakah dapat kita tangkap jika seseorang bilang aku akan membeku, maka dengan sekejap tubuhnya akan membeku? Memang tak ada hukum yang menyayatkan tentang hal-hal yang kurang dapat dianggap tak wajar tak boleh disajikan dalam sebuah cerita, tapi mari kita tilik lagi apa fantasi itu. Hal dapat dikatakan dikatakan fantasi apabila hal tersebut memang seperti hanya ada dalam mimpi saja, biasa dan akrab disebut day dreaming, dan terciptanya fantasi sepenuhnya merupakan dorongan kuat jiwa bawah sadar pengarang. Pemunculannya terbentur pada prinsip-prinsip realitas yang dikehendaki oleh ego yang bersifat represif/ menekan, tentang pengungkapan sesuatu hal yang belum tentu terpikirkan oleh orang lain, karena semua ini merupakan harga mati yang ada pada diri manusia. Tentunya hal tersebut seperti diada-ada kemunculannya. Seperti memaksa tapi tidak terlihat terpaksa. Seperti teryakini tidak ada tapi terlihat seolah-olah ada dan nyata. Pada kenyataannya disebut fantasi adalah segala hal yang merupakan akal-akalan dari akal pikiran manusia dengan daya mimpi/ imajinasi yang menggebu. Tentunya juga harus memperhatikan hal yang masuk akal dan tepat pada hal kesesuaiannya. Seperti halnya juga pada hal yang begitu tiba-tiba dan mengagetkan ketika MTH menghadirkan kematian ayah Bulan yang begitu tiba-tiba tanpa permulaan awal penyebab yang begitu kurang saya tangkap dan kurang saya mengerti penyebabnya. Dalam kutipan,
Musim hujan baru saja tiba di tahun ke-lima. Hujan sehari-hari menjadi sangat akrab di desa Bulan. Bulan pun melewati hari-harinya dengan kebekuan. Pintu rumahnya selalu tertutup rapat. Ia tak pernah keluar rumah semenjak kematian ayahnya, ketika musim kemarau tengah menggeragapi desanya. Para pemuda tak lagi hilir mudik melamar Bulan. Mereka tak lagi merasa bahwa Bulan masih hidup.

Padahal kita semua tahu, dalam segala hal yang kita perbuat pasti mau tak mau harus memperhatikan ketepatannya/ kepantasannya/ kesesuaiannya terhadap sesuatu hal, dalam bahasa jawa kita yakini sebagai unggah-ungguh. Seorang pencerita harus dapat memahami segala tindakan yang akan dilakukan terhadap sesuatu hal/ orang. Maka harus memperhatikan bagaimana kita akan menghadapi hal ini dan hal itu, dan tidak menutup kemungkinan kita akan memiliki anggapan/ tindakan yang berbeda-beda dan akan memiliki strategi yang berbeda-beda pula dalam menghadapi beberapa hal yang berbeda-beda tersebut. Maka seorang penulis bagi saja harus mampu mempertimbangkan segala hal yang akan diperbuat tersebut secara benar-benar matang, tidak hanya tempelan atau sekedar pemanis-pemanis belaka yang nantinya akan hanya seperti kita yang mengemut permen, yang setelah habis, kita tidak akan lagi menemukan manisnya lagi ketika kita berhadapan dengan orang lain dalam perbincangan yang berbeda. Karena kita akan dibuat lupa yang tak ada lagi manis yang tersisa. Tapi beda lagi ketika kita dihadapkan pada saat kita mengunyah cabe, pada lain kesempatan/ pada lain waktu kita dipertemukan pada orang lain maka kita akan tetap ingat ketika bertemu orang lain tersebut. Rasa cabe yang begtu pedas masih dapat kita rasakan dan masih dipertanyakan oleh orang lain. Kenapa denganmu kok muka merah begitu? Kenapa denganmu kok terburu-buru meminum es seperti baru kemah di padang pasir saja? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain sebagainya tentang hal karena mengunyah cabe tersebut.
Jadi, menurut saya seperti yang digemborkan dalam Meja Cerpen “ Mari kita purbakalakan tradisi malas berprosa!” Maka ya benar-benar jangan malas berprosa, kita jangan sampai membuat prosa seperti halnya mengetik pesan singkat/ sms. Tulis secara mendetail yang benar-benar berkait alur yang jelas dan kuat, bukan kita yang hanya menyajikan sebuah cerita yang malah membingungkan pembaca, karena kemalasan kita dalam berprosa. Mungkin ini hanya sebuah oret-oretan yang tak begitu bernila, tapi akan lebih bernilai jika ada yang mau menanggapi tulisan ini agar lebih membangun. Saya rasa ini semua belum tentu dapat saya lakukan dan saya terapkan dalam proses kreatif, tapi setidaknya ini semua sedikit gugatan untuk kita agar mau membudayakan gugatan-gugatan yang mampu membentuk dan menjadikan, bukan gugatan yang malah menguburkan.
Sekali lagi, “Mari kita purbakalakan tradisi malas berprosa!”


sarangdiksicantik, 100610, 09.53 am

Meraba Langkah Kreatif [Setia Naka Andrian]


Meraba Langkah Kreatif
Setia Naka Andrian

Mengawali sebuah langkah memang tidak mudah. Pasti akan dihadapkan pada keterbatasan-keterbatasan yang membuat langkah kita menjadi tersendat, terhenti sejenak, bahkan terkadang hingga berhenti total dan tak dapat melangkah. Memang ada kalanya kita terasa kehabisan akal untuk memulainya. Merasa kurang saat mendapatkan sesuatu. Tapi juga kadang kita menggebu-gebu hingga selalu bermunculan ide-ide yang menghentak-hentak hingga semua termuntahkan tanpa batasan-batasan. Nah, bila itu terjadi ada kalanya pula belum tentu ide/ pemikiran yang kita dapatkan dapat menjadi sebuah pemikiran yang cemerlang dan kreatif.
Dalam hal ini, kita tidak boleh hanya diam, hanya menuangkan saja tanpa melewati pengendapan dan perenungan. Maka kita harus mampu menggugat setiap ide-ide yang kita tuangkan tadi. Misalnya dengan melakukan sebuah pembahasan karya/ diskusi kecil-kecilan. Nah, dari itu kita akan mendapatkan semacam pencerahan untuk sedikit menggugat tentang pemikiran/ ide-ide yang kita tuangkan tadi. Jadi tidak semata-mata kita muntah lalu membersihkan muntahan tadi bila telah mengotori lantai atau baju.
Ibaratnya orang muntah tadi, pasti akan terlihat makanan-makanan yang telah kita makan sebelumnya. Entah itu es cendol, bakso, nasi goreng dan makanan-makanan kecil lainnya. Sehingga kita dapat mengupas tentang apa yang telah kita tuangkan benar-benar sebanding dengan apa yang telah kita dapatkan dan yang terekam dalam otak. Entah itu yang diperoleh dari buku-buku tua peninggalan jaman perang Majapahit, entah itu dari buku sisa jaman kolonial Belanda atau mungkin tentang sesuatu yang terekam oleh mata serta yang dialami tiap-tiap individu.
Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam penemuan-penemuan ide/ pemikiran cemerlang. Tentunya kita harus yakin terlebih dahulu tentang apa yang akan kita lakukan. Lalu kita membawanya menuju pemahaman yang wajar dan standar dari apa yang kita miliki. Mustahil rasanya bila berpikir muluk-muluk tapi ternyata yang kita tuangkan menjadi sebuah gagasan yang di cap ora karuwan oleh orang-orang yang kita anggap tua atau mungkin yang dituakan dalam bidangnya. Nah, kita perlu berpikir realistis sebagaimana berbalut pada hal-hal yang kita sadari, kita yakini, dan tentang hal-hal terdekat di sekeliling kita. Jadi nggak usah berpikir jauh-jauh sampai nembus langit dan nendang bintang, nanti malah tambah kerepotan lagi ketika mikir ingin turun. Malah bakal tambah lebih sakit bila mungkin nanti terjatuh. Jadi ya sebaiknya kita tuangkan sesuatu yang paling dekat dengan mata kita, hal yang paling kita mengerti dan yang paling akrab pada diri kita.
Memang ada kalanya juga kita harus berpikir jauh. Misalkan tentang kegelisahan-kegelisahan tentang suatu hal yang dianggap tidak masuk akal. Tentang ajaran-ajaran agama yang dirasa kita membingungkan. Lalu kita mencoba untuk mencari jalan keluar untuk mencapai sebuah kebenaran tertentu tentang keberadaan tersebut. Jadi ya semua sah-sah saja. Semua tergantung pada niat dan kehendak. Yang terpenting adalah berani memulai dan berani melangkahkan sedikit demi sedikit walaupun hanya sejengkal.
Nah, ada lagi. Ukuran estetika juga perlu diperhatikan. Ini merupakan sebuah terasi pada beraneka macam sambal. Karena ada rasa tersendiri atas kehadiran terasi tersebut. Kurang bila tanpa itu. Sama halnya ketika menuangkan sesuatu hal, kita wajib memikirkan nilai estetika. Karena tanpa ukuran estetika, sesuatu yang kita tuangkan nampak tak memiliki rasa. Kekuatannya seakan terabaikan bila nilai satu ini tidak diikutsertakan. Dan mungkin akan jadi bahan cemoohan. Walaupun disamping itu kita juga harus memikirkan tentang gagasan dan tema yang akan kita tuangkan.
Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan? Bergegas cuci kaki tangan dan mengelap muka lalu tidur? Ataukah kita akan mengelelawar dan menjadi penguasa malam atas kehendak-kehendak aneh serta kegelisahannya?
Yah, yang terpenting ya kita harus berani dan rela mati-matian saja untuk terus berkarya. Kalau kita sudah benar-benar yakin dan merasa ingin berjalan pada dunia gores-menggores ini. Kata orang, ibaratnya kalau sudah terlanjur basah setengah badan ya nyebur saja biar basah semua. Tapi bagi saya pribadi ya mending jangan nyebur, bukannya takut air atau pemalas mandi. Mending kita siapkan perahu untuk berlayar diatas air tadi, lalu kita akan melihat orang-orang yang serba kebasahan. Kita paham tentang air itu, kita tetap akrab dengan air itu, tanpa kita harus nyebur dan serba kebasahan.
Intinya ya bekerja cerdas, bukan bekerja keras.

Pengakuan Kecil


Saya terlahir dari keluarga dan lingkungan yang jauh dari dunia sastra. Saya tidak tahu apa itu puisi, makanan apa sih puisi? Terbuat dari apa sih puisi? Saya tidak tahu sama sekali tentang puisi. Lalu seiring waktu yang terus berjalan dan membuat usia saya semakin bertambah, saya mulai sedikit-sedikit mengenal puisi. Saya mulai mengenal puisi ketika duduk di bangku sekolah dasar. Ketika saya masih duduk di bangku kelas 5 (lima) sekolah dasar, waktu itu saya ditunjuk untuk mengikuti lomba baca geguritan (puisi Jawa) tingkat kecamatan, mewakili SD N Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal.
Sejak itu pula saya mulai mengenal sedikit tentang “apa itu puisi?” Waktu itu saya menyebut puisi adalah sebagai sebuah ungkapan hati yang ditulis dengan bahasa yang indah. Yang terangkai lewat kata-kata yang enak didengar dan mengandung makna yang dalam dari sang penulis. Hingga saat ini saya masih ingat betul tentang penggalan syair geguritan yang pernah saya baca waktu itu. “Ing pucuking wektu, kumudu kudu dak pilih laku, iki apa iku.” Bagi saya kata-kata itu mengandung arti yang sangat dalam dan masih terngiang hingga saat ini. Tentang seorang manusia yang harus mampu menentukan pilihan dalam hidupnya, karena dalam kehidupan pasti manusia akan dihadapkan pada berbagai pilihan yang harus dan wajib dipilih.
Sejak saat itu pula saya mulai menulis puisi, merangkai kata-kata tentang segala sesuatu yang saya alami pada waktu itu. Ketika saya duduk di bangku kelas 6 (enam) sekolah dasar, saya mulai mengenal cinta. Saya merasa mulai menyukai lawan jenis. Ada satu cewek yang saya suka pada waktu itu. Lalu saya mulai menulis puisi tentang cewek yang saya kagumi tersebut. Tapi dengan bahasa Indonesia, bukan dengan bahasa Jawa tentang geguritan yang mengawali saya mengenal puisi. Karena mungkin bahasa Indonesia lah yang paling dekat dengan diri saya. Walaupun saya tinggal pada sebuah desa yang sebagian besar masyarakatnya pasti menggunakan bahasa Jawa.
Nah, ketika itu pun saya terus-terusan menulis puisi tentang cewek sekelas yang saya kagumi. Tertulis di buku-buku pelajaran, di meja dan kursi sekolah hingga sempat saya tulis di celana seragam sekolah. Alasan saya menulis puisi tersebut karena saya belum berani mengungkapkan isi hati saya terhadap cewek yang saya kagumi tersebut. Entah kenapa dan masalahnya apa saya juga kurang begitu mengerti. Memang cewek itu merupakan seorang cewek yang selau berlangganan peringkat pertama sejak kelas satu sekolah dasar. Saya sempat menjadi peringkat dibawahnya, ketika saya dan cewek tersebut duduk di bangku kelas dua. Tapi seiring dengan kenaikan kelas saya menuju ke kelas yang lebih tinggi, maka semakin merosot pula peringkat/ rangking prestasi saya. Mungkin karena semakin nakal dan semakin jarang belajar karena lebih banyak bermain dari pada membuka buku pelajaran.
Setelah saya berada di bangku sekolah menengah pertama (SMP), tepatnya di SMP N 2 Brangsong, saya mulai lebih mengenal apa itu puisi. Karena saya mendapat materi puisi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya terus menulis puisi, bukan karena tugas yang diberikan dari guru tentang tugas menulis puisi, tapi memang kemauan saya sendiri untuk menulis puisi. Mungkin masih sama alasannya kenapa saya menulis puisi, masih sama ketika masih di bangku sekolah dasar. Ketika saya tidak berani mengungkapkan sesuatu secara langsung, maka saya tulis kegelisahan tersebut dalam sebuah puisi. Tapi saat di bangku SMP, saya tidak lagi hanya karena masalah saya ketika tidak berani mengungkapkan perasaan kepada cewek yang saya suka, tetapi juga luapan hati saya kepada orang tua ketika saya dilarang melakukan sesuatu yang saya suka, ketika saya dimarahi ibu karena terlalu banyak bermain dan bandel karena jarang tidur di rumah. Juga kegelisahan saya ketika di sekolah, tentang ketidaksepahaman saya terhadap aturan-aturan sekolah dan keseringan saya mendapat marah setiap pagi karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah/ PR.
Pada waktu SMP, menulis puisi sudah menjadi makanan keseharian dan sudah menjadi menu utama. Walaupun tidak pernah mengikuti lomba-lomba menulis puisi. Entah pada waktu itu tidak ada lomba atau mungkin karena guru saya tidak tahu kalau saya suka menulis puisi. Tapi saya selalu aktif mengirim puisi-puisi saya ke mading sekolah, dan kebetulan setiap saya mengirim, puisi-puisi saya selalu diterbitkan dan di pajang dalam majalah dinding sekolah. Mulai saat itu pula banyak teman-teman yang tahu kalau ternyata saya suka menulis puisi. Walaupun puisinya pun nggak karuhan, bahkan sangat jelek, tapi pada saat itu kelihatannya teman-teman mulai menyukai puisi-puisi saya. Ada juga sebagian teman-teman saya yang meminta untuk dibuatkan puisi, yang katanya ingin dikasihkan kepada cewek. Waktu itu pun saya sangat berhutang budi dan merasa tertolong oleh puisi. Karena saya memberanikan diri untuk menembak cewek dengan bantuan runtutan kata-kata dari sebuah puisi yang saya ciptakan, dan akhirnya juga saya mendapatkan cewek tersebut. Yah, walaupun tidak bertahan lama.
Ketika saya duduk di bangku SMA, tepatnya di SMA N 2 Kendal, kebiasaan menulis puisi masih melekat erat pada diri saya. Kata-kata dan tema yang saya ungkapkan pun menjadi semakin melebar. Dari yang tadinya waktu SD hanya membahas tentang cewek yang saya kagumi dan tak berani mengungkapkannya, dari yang pada saat SMP terlalu sering dimarahi guru dan orang tua, lalu pada waktu SMA saya sudah merambah pada tema yang menyangkut tentang hidup, agama dan ajaran Tuhan serta tuntutan-tuntutan Tuhan terhadap manusia dan juga janji-janji Tuhan.
Sehingga pada waktu saya duduk di bangku kelas 2 (dua) SMA, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia melihat puisi saya, lalu beliau menyukai puisi tersebut dan akhirnya puisi-puisi saya di kirim ke majalah sastra Horison. Akhirnya pun dua puisi saya masuk pada kakilangit majalah sastra Horison edisi XXXXI tahun 2006 dengan membawa nama SMA N 2 Kendal. Puisi saya berjudul “Sesal Kubur” dan “Mengilhami Arti Pagi”. Walaupun puisi yang berjudul “Mengilhami Arti Pagi” tertulis sebagai karya teman sebangku saya, karena mungkin pada waktu itu saya kurang tahu betapa besar arti dari sebuah karya.
Pada waktu kelas 2 (dua) SMA itu pula, kali pertama saya menulis sebuah naskah drama “Otak Generasi Muda”. Saya menyuteradarai serta menjadi salah satu aktornya. Ketika saat itu ada materi drama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan mendapat tugas menyajikan pementasan drama. Walaupun pada waktu SMA saya tidak mengikuti ekstra kurikuler teater, tetapi saya tetap semangat dan kerja keras dan yakin untuk menulis naskah sendiri, menyuteradarai dan menjadi salah satu aktornya. Dalam pementasan drama tersebut pun terdapat pembacaan puisi karya saya yang berjudul “Limbah Demokrasi”. Dan pada waktu SMA, puisi-puisi saya kerap masuk dan diterbitkan di majalah Ganesa Kabupaten Kendal.
Setelah lulus SMA, saya masuk di perguruan tinggi swasta IKIP PGRI Semarang, tahun 2007. Di kampus tersebut saya bergabung dengan Teater Gema. Di situ saya pernah melakukan sebuah penggarapan teater dalam lakon “Hayalan Padang Tandus”, saya menulis naskah tersebut dan menyuteradarainya. Juga pernah saya melakukan sebuah penggarapan teater dalam kelas yang merupakan tugas mata kuliah, dalam lakon “Negeri Topeng” yang kebetulan naskah dan suteradaranya saya sendiri.
Di kampus IKIP PGRI Semarang, keinginan dan kemauan keras saya untuk terus menulis semakin menggebu-gebu. Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat berarti bagi diri saya pribadi. Orang-orang yang selalu memberi semangat dan dukungan terhadap saya. Termasuk dosen saya dan sastrawan serta seniman-seniman yang ada di Semarang. Di kampus ini pun saya mendirikan sebuah komunitas sastra kecil-kecilan, Komunitas Sastra Lembah Kelelawar. Sehingga saya semakin semangat dan semakin menggandrungi dunia tulis. Hingga puisi-puisi saya sering di muat di koran Suara Kampus IKIP PGRI Semarang, cerpen saya di majalah Vokal IKIP PGRI Semarang. Serta saya pernah mengikuti Lomba Penulisan Karya Sastra SELEKDA (Seleksi Seni Tingkat Daerah) BPSMI Jawa Tengah mewakili IKIP PGRI Semarang. Puisi saya berjudul “Pengajian”, juara 1 menulis puisi Kajur dan HIMA PBSI IKIP PGRI Semarang, Desember 2008, juara 2 menulis cerpen Kajur dan HIMA PBSI IKIP PGRI Semarang, Desember 2008 dan finalis 20 besar g-Mag Presents Telkomsel Writing Awards 2009 - Cerpen Asik, dan cerpen saya yang berjudul “Bukan Jelmaan Adam” yang merupakan karya dari 20 besar finalis dibukukan dalam antologi cerpen “Bila Bulan Jatuh Cinta” penerbit Gradasi Semarang.
Saat ini, tulisan menjadi salah satu bagian dari hidup saya. Merupakan sebuah catatan sejarah hidup saya pribadi dengan orang-orang yang saya cintai, catatan bersama teman-teman saya, orang tua, keluarga, serta kehidupan masyarakat dan juga agama saya, hingga catatan keadaan sosial budaya bangsa dan negara Indonesia.
Setiap kata yang saya tulis saya anggap mempunyai sebuah kekuatan. Memiliki keberadaan yang nyata dan menggembol alasan yang kuat. Dari kata tersebut, lalu berjalan menuju frasa, kalimat, bait, hingga pada sebuah kesatuan tulisan yang utuh. Entah itu puisi, cerpen ataupun naskah drama yang kerap saya tulis. Yang tidak pernah luput dari sebuah pemadatan kata.
Dalam menulis, saya tidak pernah berpikir panjang untuk mengawali sebuah tulisan dan mencari sebuah ide untuk memulai menulis. Yang saya lakukan adalah membunyikan kata, frasa atau kalimat, dan memuntahkan dengan tulus ikhlas kata-kata yang keluar dari hati. Dalam istilah Jawa “Ceplas-ceplos atau clemang-clemong”. Lalu saya perkosa kata-kata itu, hingga terangkai menjadi frasa, kalimat, hingga akhirnya menjadi sebuah kesatuan tulisan yang utuh. Tulisan yang telah melewati sebuah pengendapan dan perenungan.
Saya merupakan seseorang yang suka menulis tetapi tidak begitu suka membaca. Bagi saya membaca adalah melihat keadaan sekeliling saya. Menikmati susah dan senang hidup, merekam segala fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar saya. Sesuatu yang saya rasakan dan sesuatu yang benar-benar saya lakukan, saat saya merasa risau dan gelisah tentang suatu hal dan kejadian yang menimpa diri saya, orang yang saya cinta, orang tua, teman-teman, agama serta sesuatu yang terjadi pada bangsa dan negara ini.
Menulis bagi saya adalah ketika saya merasa tidak puas terhadap sesuatu yang saya dapatkan dalam alam nyata, lalu saya berlari menuju alam hayal, menjadi penguasa dan melampiaskan segala-galanya tentang sesuatu yang hendak saya gapai. Ketika dalam alam nyata saya masih belum merasa puas dan masih selalu kalah. Dan yang terpenting bagi saya, menulis adalah “pakai hati tetapi jangan sampai dimasukkan ke hati.”

Setia Naka Andrian
koordinator komunitas sastra lembah kelelawar
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia IKIP PGRI Semarang, 2007.