Kamis, 09 Januari 2020

Kepada yang Bernapas Panjang


Kepada yang Bernapas Panjang


Sabtu, 23 November 2019 baru saja hinggap di layar laptop. Saya duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja kerja. Di depannya persis, ada jendela kaca yang sangat jarang dibuka. Saya biasa memandangi apa saja ke luar sana. Daun mapel berguguran. Orang-orang berlalu-lalang namun dengan langkah yang begitu sepi. Anak-anak kecil mengayuh sepeda dengan riang. Mereka berkejaran namun sama sekali tak berlomba kecepatan.

Terus saya pandangi luar sana. Semakin jauh. Bahkan sempat nyaris tenggelam dalam lamunan. Saya masih duduk. Namun seperti baru saja terbangun dari sebuah tidur pendek yang panjang. Meski sungguh, raga ini masih terjaga. Belum sampai memejamkan apa-apa.

Sedari tadi saya seperti merasakan ada yang aneh. Seakan ada yang tidak lengkap. Bahkan saya merasa janggal memposisikan tubuh saya sendiri. Ya, terus-terusan begitu. Entah kenapa, kamar menginap saya seperti dikunjungi orang-orang. Sejak berjam-jam yang lewat. Mereka nyaris mengitari saya, di samping dan belakang tubuh saya. Awalnya saya biarkan saja. Namun pelan-pelan saya penasaran, dan akhirnya saya beranikan untuk memandangi mereka satu-satu. Mereka menyambut hangat. Hangat sekali, tak sedingin 2° C di luar kaca jendela kamar. Udara nyaris beku, menjatuhkan daun-daun mapel yang menguning itu ke tanah basah.

Ini petang yang cukup aneh. Tak seperti biasanya. Sebab yang telah lalu, hanya satu-satu yang datang. Paling ya hanya mengintip dari jendela. Atau paling banter ya menempel di plafon kamar. Itu pun hadir saat saya sudah rebahan dan tersisa beberapa watt saja. Namun kali ini mereka hinggap bersamaan untuk hadir ke kamar lantai dua ini. Seperti sudah janjian saja dalam sebuah grup WhatsApp dengan diberi nama “Hinggapi Kamar Naka!”.

Bayangkan, kali ini mereka berkerumunan hadir di kamar saya. Petang-petang tengah malam pula. Ya, di kamar dalam sebuah rumah di perkampungan Waardeiland Leiden yang dipenuhi dengan rumah-rumah berdesain hampir serupa. Dinding-dinding bata terbuka yang khas rumah Belanda. Namun ingat, meskipun wujud rumah-rumahnya nyaris sama, ini bukanlah perumahan bersubsidi seperti yang saya tinggali di Kendal itu. Ya, rumah tipe 36 itu. Artinya berkamar tiga: dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Dan, berventilasi enam. Kalau di sini, berlantai tiga, berkamar lima, dan tidak berventilasi. Udara di luar keras dan beku!

Setelah memberanikan diri untuk memandangi tipis-tipis, pelan-pelan saya menyapa mereka. Meski hanya dengan mata saja. Belum bersapa suara. Takut jika nanti mengganggu penghuni lain di rumah ini. Sebab Leiden ini, saya rasakan seperti kota tua yang sunyi. Di jalanan, di pusat-pusat perbelanjaan, ruang perjumpaan manusia, semua terkesan jauh dari keriuhan suara. Apalagi saat di rumah. Belum lagi saat di jalanan kampung, seperti berjalan sendirian. Orang-orang tiada yang nongkrong membunuh waktu di luar. Entah sambil ngopi atau membakar rokok. Semua orang memilih di dalam rumah. Apalagi saat musim gugur mendekati musim dingin begini. Juara deh kalau ada yang berani berlamaan di luar. Apalagi kalau sampai dengan pakai kaos oblong!

Saya pandangi mereka satu-satu. Begitu pula kedua mata mereka dijatuhkan ke sekujur tubuh saya. Ya, saya seakan mengenal baik mereka. Banyak di antaranya begitu saya hafal, waktu-waktu lalu sering datang ke kamar ini. Meski datang sendirian, mengintip dari jendela, mengintai dari plafon, atau nyangkut di debu-debu yang nempel di layar monitor. Namun, sepertinya ada seorang yang lebih saya kenal. Ya, ia seolah juga mengenal saya. Bahkan lebih dari saya mengenalinya. Saya berpikir keras. Sesekali memejamkan mata. Kemudian membukanya lagi. Memejamkan mata lagi, dan membukanya lagi. Siapa ia sebenarnya? Mereka semua masih berdiri. Menatapku dengan hangat. Begitu pula seseorang yang saya rasa telah kenal lebih tadi. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Ya, benar. Ia mendekat. Saya tidak takut. Hanya sedikit deg-degan dan berdebar saja. Atau entah seperti apa, susah sekali menerjemahkan rasanya.

Ia kian mendekat. Sepertinya sudah sangat tua. Wajahnya seperti tak asing. Saya seakan kian akrab saja dengan wajah itu. Namun siapa ya? Sepertinya mirip dengan wajah kakek saya dari garis ibu. Ya, sepertinya tidak salah lagi. Saya begitu akrab dengan tipe wajah itu. Meski kakek saya pun telah meninggal jauh sebelum saya lahir. Saya hanya mampu melihat lukisan wajahnya di dinding kamar nenek. Itu pun sudah lama. Saat saya masih kecil. Namun entah kenapa lukisan itu saat ini sudah tak ada. Sudah hilang, dicuri orang, atau entah nenek menyimpannya rapat-rapat di tempat paling sembunyi.

Siapa ya? Aduh, kamar menginap saya ini juga tak begitu terang. Hanya nyala lampu baca saja yang bersinar. Fokus ke bawah. Sama sekali tak punya kekuatan lebih untuk menyinari sekitar. Hanya sisa-sisa cahaya saja yang menebar halus. Saya berpikir keras. Dalam hati berkecamuk. Apakah benar itu kakek buyut saya?

Lalu pelan-pelan kakek itu mendekati saya. Kian dekat saja. Sangat dekat. Namun saya tak kuasa memandanginya. Pandangan saya tujukan di layar monitor laptop. Ya, memukul-mukul huruf. Menulis catatan kecil yang sedang Anda baca ini. Kakek itu kian mendekat. Semakin dekat. Sangat dekat. Sungguh, kini berada tepat di samping kiri saya. Aduh, mau apa ini? Saya masih diam saja, membatu. Pandangan kaku di layar monitor. Namun jari-jari saya masih terus melanjutkan menulis. Ya, menulis catatan kecil ini.

“Nak, kenapa kamu di sini?”

“Maaf, maaf, Kek. Kakek bertanya kepada saya?”

“Ya, tanya kepadamu. Siapa lagi kalau bukan kepadamu?”

“Oh ya maaf, Kek. Saya kira melempar pertanyaan sembarangan saja.”

“Ya, tidaklah. Saya ini datang jauh-jauh ke sini ini serius. Sidak!”

“Ya, Kek. Sekali lagi maaf ya, Kek...”

“Ya, tak apa. Saya maafkan jauh-jauh tadi sebelum kamu minta maaf. Pertanyaan saya, kenapa kamu di sini?”

“Ya ini, Kek. Saya kan sedang residensi. Bukankah seluruh dunia tahu program residensi ini, Kek? Kok sampai kakek belum tahu?”

“Kakek kan ya sudah nggak sempat buka-buka koran atau medsos. Di akhirat sibuk. Banyak keindahan yang sayang untuk dilewatkan!”

“Oh ya, Kek. Ini saya sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud, Kek. Selama dua bulan tinggal di Leiden ini. Menjalani riset untuk menulis sastra. Begitu, Kek.”

“Coba kamu kisahkan dengan sungguh-sungguh, seperti apa saja yang kamu lalui. Namun ingat, tetap dengan pengisahan yang segar!”

“Lantas bagaimana dengan orang-orang itu, Kek?”

“Sama saja dengan Kakek, mereka menantimu untuk berkisah.”

“Oh ya, Kek. Begini, saat berangkat residensi ini, saya sudah mengantongi kisah kecil. Lengkap dengan patahan-patahan kisah dan bercak-bercak mitos yang melingkupinya. Namun tetap saja, saya masih membawa rasa penasaran mendalam. Dan, apa boleh buat. Saya harus mengunjungi negeri penjajah ini, untuk singgah di Leiden ini dan beberapa kota lain. Berharap agar bisa membantu diri saya ini untuk menyibak lebih dalam tentang pijakan tema yang hendak saya garap. Begitu, Kek.”

“Kau memburu naik apa?”

“Sepeda, Kek. Mau naik apa lagi. Biasanya juga naik bus, kereta, atau trem. Namun mahal, Kek. Lebih sering naik sepedanya. Ya, meski sesekali naik bus, kereta, atau trem itu. Buat icip-iciplah, Kek. Kakek pasti belum pernah naik kereta dan trem, bukan? Apalagi bus, pernah? Ah, Kakek generasi lampau sih.”

“Eh, kamu tak boleh begitu. Coba saja, kamu sampai di sini naik apa?”

“Naik pesawat dari Indonesia, Kek. Kenapa memang?”

“Salah. Kamu ke sini naik sebuah kendaraan, yang bernama masa lalu. Jangan sepelekan dengan yang dinamakan masa lalu. Jangan sepelekan sesuatu yang lampau. Kamu pasti tahu apa yang dikerjakan oleh Iksaka Banu itu, bukan?”

“Wah, Kakek kenal Iksaka Banu?”

“Lha iya dong. Sesekali di akhirat ya Kakek buka youtube. Salah satu penulis idola Kakek itu ya Iksaka Banu, yang melambung dengan karya-karyanya berkait-paut dengan sejarah kolonial itu. Langganan mendapatkan penghargaan pula. Pasti dong, Kakek mengidolakan.”

“Emang Kakek sudah baca buku cerpennya terbaru, Teh dan Pengkhianat itu?”

“Ya, belum.”

“Belum kok mengaku mengidolakan?”

“Ya bagaimana lagi, di akhirat sepertinya belum dipasok. Kalau youtube kan emang gampang, tinggal ketik nama saja langsung bisa dapat kabarnya. Apalagi zaman sekarang sudah banyak acara vlog itu.”

“Oh ya tak apalah, Kek. Mending mengikuti, daripada tidak sama sekali.”

“Ya, benar. Nah, itu Iksaka Banu sempat bilang dalam sebuah acara di youtube. Intinya, saat-saat ini menarik penulisan sastra yang berpijak pada sejarah. Yah, paling tidak bisa melengkapi sejarah yang ada. Dan, sebisanya menjadi tawaran lain melalui penulisan teks sastra itu.”

“Ya, Kek. Memang benar. Semoga saja nanti bisa menemukan karya segar dari residensi ini ya, Kek. Mohon doa dan restunya selalu ya, Kek...”

“Itu pasti. Nah, yang terpenting kamu harus mematangkan pijakan datamu untuk menyokong teks sastra yang hendak kamu tulis itu. Meskipun nantinya itu karya fiksi, namun dengan kematangan fakta sejarah, pasti setidaknya akan lebih bertenaga nantinya karyamu.”

“Ya, Kek. Saat berangkat saya sudah diberi saku oleh Pak Muslichin, guru sejarah saya semasa SMA itu, Kek. Yang dulu sering bela saya saat sering bandel dan bolos sekolah..”

“Oh baik banget gurumu. Namun kelewatan juga, anak bandel dan bolosan kok dibela ya...”

“Ya, tapi kan membelanya pilih-pilih, Kek. Bandel, bolosan, namun tetap yang baik hati.... Hehe...”

“Lantas bagimana lagi kelanjutannya?”

“Oh ya, Kek. Dari guru sejarah saya itu, saya juga di beri saku oleh Soelardjo Pontjosoetirto. Ia sempat meneliti tema yang saya selami ini pada 1971. Menarik banget, Kek.”

“Bagaimana dengan Soelardjo Pontjosoetirto? Dia suka naik sepeda juga?”

“Bukan perihal suka naik sepeda, Kek. Ini kata Soelardjo Pontjosoetirto, bahwasanya pada tahun tiga puluhan, tak lain pada masa pemerintahan Hindia Belanda, orang-orang sering mendengar cerita mengenai golongan orang yang sedang saya cari, Kek. Dalam cerita tersebut dikemukakan tentang yang menarik mengenai golongan orang-orang itu. Terutama terkait dengan asal-usul golongan orang-orang itu. Meski segalanya terkait dengan cerita miring, tidak wajar, dan sekitarnya. Tentunya bagi Soelardjo Pontjosoetirto, cerita semacam itu, secara kebetulan niscaya dapat membantu pemerintahan Hindia Belanda dalam memperteguh penjajahannya.”

“Kenapa begitu?”

“Ya begitulah, Kek. Pemerintahan Hindia Belanda tentunya paham, kala itu penduduk kita begitu bermacam-macam. Dari berbagai suku dan golongan yang memiliki dan memegang teguh etnosentrisme mereka masing-masing. Suku bangsa atau golongan satu dengan lainnya saling menghina, saling merendahkan. Segala itu yang dimanfaatkan.”

“Semacam mengadu domba begitu?”

“Ya, begitulah, Kek.”

“Lantas apa lagi, Nak?”

“Ya, sebenranya saya lebih menghindar dari segala persoalan semacam itu. Sebab saya rasa akan kurang nyaman juga. Saya akan lebih menelusur pada jejak-jejak di luar itu, Kek.”

“Apa itu? Kakek penasaran!”

“Namun maaf, Kek. Saya tak bisa sepenuhnya menjelaskan sekarang.”

“Kenapa bisa begitu? Kakek kan malah jadi tambah penasaran!”

“Biar saja Kakek penasaran. Bukankah itu malah akan lebih baik. Jadi Kakek akan menunggu-nunggu. Hehe.”

“Ah, kamu bisa saja. Kalau begitu, Kakek pergi dulu ya...”

“Wah, kenapa tergesa, Kek?”

“Kakek banyak urusan yang harus lekas diselesaikan di akhirat.”

"Kek, di akhirat, apa Tuhan suka minjemin sepeda?"

Kakek diam saja. Tak menjawab apa-apa. Hanya melempar senyum kecil. Itu pun hanya sebentar. Kakek membalikkan tubuhnya. Berjalan pelan menjauh dari saya. Orang-orang lainnya membuntuti. Mereka seakan lenyap begitu saja dalam dinding kamar menginap saya.

Alarm ponsel tiba-tiba berteriak keras. Saya terbangun. Tak seperti saat masa kecil di kampung halaman, saya kerap terbangun dengan bunyi kokok ayam yang ramai sekali. Bukan dibangunkan alarm dari ponsel.[]

Selasa, 07 Januari 2020

Waktu Indonesia Bagian Bercerita

Tiga puluh tiga puisi di buku ini setidaknya menunjukkan pribadi Setia Naka Andrian yang tak kunjung lelah berurusan dengan puisi. Ada puisi yang ia tulis pada 2008 dan ada pula yang 2019. Masing-masing puisi itu mewakili satu tahap kreatif dalam hidupnya. Dan sebab membentang nyaris sebelas tahun, bisa dipahami jika perhatian Naka sangatlah beragam.



Sesekali ia begitu personal berkisah tentang kisah asmaranya. Di lain waktu ia menulis puisi untuk orang-orang yang ia hormati. Pada satu kesempatan Naka agak mengeluh tentang kondisi kota yang kelewat membuatnya hampir frustasi, dan pada kesempatan lain ia bisa begitu ingin berbincang dengan Tuhan lewat puisi-puisinya. Bamun satu yang terlihat jelas, keinginannya menulis riwayat orang-orang Kalang juga kentara di beberapa puisinya—objek yang memang tengah ia pelajari dua tahun belakangan.



Buku ini tentu saja bukan capaian puncak Naka, tetapi pantas disebut paling lengkap mencatat perjalanan puitik hingga hidupnya. Sejak Naka masih tampak semrawut semasa mahasiswa, hingga bertahun-tahun kemudian ia berubah menjadi sosok penyair sekaligus pengajar yang rajin dan beroleh kesempatan melangkahkan kaki ke Polewali Mandar dan bahkan hingga Leiden, Belanda, semata-mata demi urusan puisi.



Tentu saja perjalanannya itu semata-mata demi agar ia beroleh semacam “capaian” dalam menulis puisi. Masih jauh memang, tetapi Naka tampak sekali tak tengah bermalas-malasan untuk sampai di posisi yang hendak ia tuju itu.



Judul: Waktu Indonesia Bagian Bercerita

Penulis: Setia Naka Andrian

Tebal: 109 halaman

Penerbit Beruang, Semarang.

Pesan awal: 07  -17 Januari 2019

Harga: Rp60.000 → Rp50.000



*Khusus 100 pembeli pertama beroleh poster eksklusif bertandatangan penulis.

Pemesanan: 085292375768

Senin, 06 Januari 2020

Raih Beasiswa ke Belanda, Siap Buat Buku Puisi (Suara Merdeka, 6 Januari 2020)


Tubuh Identitas di Jagat Kanvas

Tubuh Identitas di Jagat Kanvas
Oleh Setia Naka Andrian



Sore itu, 16 September 2018, selepas memarkir motor dan tiba di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, saya mencoba melangkahkan kaki pelan-pelan menuju ruang pameran bertajuk Identity yang digarap Sanggar Lontong Opor (SLOP) Kendal. Sungguh kali itu saya begitu deg-degan (berdebar) bercampur perasaan bahagia tak terkira yang begitu aneh dan lain-lain, ketika menghadiri pameran yang digawangi SLOP Kendal selama 15 hingga 21 September 2018. Bahkan saking bahagianya, saya dengan sengaja berniat untuk tidak mengikuti prosesi pembukaan pamerannya. Saya sengaja, agar setidaknya saya lebih leluasa hinggapi ruang pameran saat dibenamkan sunyi. Merayakan kebahagiaan yang hakiki, paling tidak, ini hiburan tersendiri bagi penenun estetika kota kecil seperti saya ini. Kehadiran saya pada hari selanjutnya di pameran tersebut pun sempat pada pagi hari yang sangat pagi. Saat beberapa teman yang bermalam di gedung BKR Kendal masih terlelap dalam lelah, selepas menggenjot acara pembukaan dan meladeni tamu di hari pertama pameran.
Entah disebut laku macam apa ini, hanya saja, saya hendak berupaya menemukan diri saya, diri di sekitar saya, serta diri khalayak dalam pameran yang ditawarkan SLOP Kendal tersebut. Dengan tanpa campur tangan godaan prosesi pembukaan pameran, siapa pemberi sambutan dan siapa yang membuka pameran, atau iming-iming apa saja yang memungkinkan dijatuhkan di dalamnya. Yang pasti, saya sepenuhnya ingin digoda oleh karya-karya hasil ciptaan 13 perupa yang menyuguhkan karyanya. Karya-karya ciptanya saja, bahkan tidak pula untuk godaan-godaan lain yang dimungkinkan akan muncul dari para perupanya. Menyambut pameran ini, bagi saya, setidaknya tentu tak lain karena ini pameran kali pertama yang terselenggara di BKR Kendal dalam dua tahun ke belakang ini. Saat dua tahun ini memang di BKR Kendal telah cukup riuh diramaikan beberapa aktivitas kesenian, baik dari teater, musik, sastra, film, tari, dan lainnya. Kehadiran pameran tersebut seakan menjadi oase tersendiri bagi khazanah jagat estetika di kota kecil serupa Kendal.
Dua tahun belakangan, baru kali ini pameran seni rupa hinggapi BKR. Maka sungguh, saya pribadi, dan tentu saya yakin tidak sedikit yang lain pun turut bahagia menyambut pameran ini. Meski, secara entah kebetulan atau tidak, bahwasanya pameran SLOP Kendal ini merupakan pameran kali pertama yang diselenggarakan kelompoknya, selama berdiri pada 29 Juni 2017. Meski sempat disampaikan oleh seorang pegiat, bahwa SLOP ini merupakan hasil “bermetamorfosart” (baca: istilah dari Dante, pegiat SLOP) dari Kendal Sketcher yang tentu sudah sempat berproses kreatif jauh lebih lama sebelumnya. Saat saya memasuki ruang pameran, sontak mata saya langsung tergoda, tak bisa mengelak untuk menerobos hingga sudut ruang pameran, dalam tampilan karya yang dipajang memutar melingkupi dinding gedung persegi panjang dari BKR Kendal tersebut. Karya yang menggoda mata saya kali pertama adalah lukisan karya M. Ghilmanul Faton yang ia beri titel Destruction, (2018, Acrylic on Canvas, 80 x 65 sentimeter).
Mata dan batin saya dijatuhkan berkali-kali untuk khidmat dalam perjalanan imajinasi tak terduga yang entah akan dibawa ke mana. Bahkan, Ghilman seakan menjerumuskan saya dalam dimensi waktu yang tak menentu, mana mula, mana muaranya. Namun, tentu segala itu tak disuguhkan Ghilman dengan semena-mena. Ia tetap memberikan tawaran atas jalan-jalan terbaik untuk para penikmat yang sedang berasyik-masyuk menyibak karyanya. Ghilman berbaik hati, menciptakan banyak pintu yang dapat segera dipenuh-sesaki mata dan batin penikmat karyanya. Meski, Ghilman mengusung karyanya dalam gerbong surealisme. Ia menjatuhkan bergelimang persoalan di sekitar perusakan, pemusnahan, penghancuran, pembinasaan, dalam jagat kanvasnya. Ia seakan khusyuk menekuri ragam peristiwa yang dikabarkan begitu tegas. Ia menyerukan berita-berita penghancuran “identitas” manusia dalam sebuah “surat kabar” penuh warna “lubang interpretasi”.
Selanjutnya, mata saya digoda dengan kehadiran lukisan Tak Ada Kuda Troya di Tanah Hijau karya Moch. Taufiqurrohman (2018, Acrylic on Canvas, 65 x 60 sentimeter). Dari karya tersebut, Taufiq hendak menyuarakan dan membangun keyakinan kepada khalayak, bahwa Indonesia (Tanah Hijau) ini tak akan pernah menemui kisah yang serupa dengan kisah Kuda Troya di Yunani. Ketika orang-orang Yunani hendak memasuki kota Troya dan memenangkan peperangan. Taufiq telah menawarkan “kesegaran” gagasan yang dijatuhkan dalam jagat “dominasi” hijau. Taufiq seakan mengajak khalayak yakin, dan lekas membenamkan imajinasi masyarakat tentang Indonesia yang akan bubar. Meski dapat kita simak, berbagai persoalan ekonomi, politik, sosial telah muncul di mana-mana. Bahkan persoalan sangat seksi yang berkait-paut dengan agama. Namun tidak, segalanya akan tetap baik-baik saja. Indonesia kaya segalanya, bangsa ini sanggup mengatasinya!
Berikutnya, ada godaan lagi yang dihadirkan dalam jagat estetika A. M. Dante dalam titel Mencuri Dengar (2018, Acrylic on Canvas, 100 x 80 sentimeter). Dante di situ menyajikan sebuah kegelisahan yang ia tangkap di sekitarnya. Terkait peristiwa-peristiwa kekinian yang, misalnya bertebaran di jagat media sosial. Orang-orang seakan ada saja alasan untuk selalu ingin tahu tentang apa saja yang dialami, dilakukan, atau yang mengidap pada diri lain. Apalagi tentang segala sesuatu yang beraroma tak sedap tentang seseorang. Pastilah akan menjadi tranding topic di media sosial, dengan tanda pagar (tanda #) paling ramai digunjing, disimak, dan dibagikan orang-orang.
Meski dari karya Dante tersebut digulirkan dalam jagat kanvasnya dengan cukup sederhana dan bernuansa paradoksal. Ia hadirkan dengan sosok muda yang sedang “mencuri dengar” melalui sebuah kaleng makanan instan yang ditempel rapat di telinga kiri. Dari tawaran Dante tersebut, seakan mengguyur mata dan batin khalayak yang telah khidmat menyimak karyanya, agar setidaknya turut serta mengamini atas segala fenomena itu. Perihal betapa berharganya waktu yang diberikan Tuhan kepada kita, setiap harinya, setiap jamnya, setiap menit dan setiap detiknya. Lantas, apakah segala itu hanya akan kita habiskan untuk mengintai diri-diri lain di sekitar kita, dan kita ikut-ikutan untuk mencatat segala yang beraroma tak sedap? Lalu kita mencari celah untuk menyalahkannya, menghujatnya, menjatuhkannya? Dante seakan mengajak kita untuk kembali melihat diri kita, melihat kekurangan kita, dan tentu selanjutnya yang harus kita lakukan adalah melihat kelebihan diri lain di sekitar kita. Bukan melihat kekurangannya!
Tiga karya tersebut, setidaknya telah menjadi pijakan tersendiri (setidaknya) bagi saya, untuk selanjutnya memasuki karya-karya lainnya. Meski, saya pun tak bisa mengelak, bahwasanya 11 karya lain (dari 10 perupa, dikarenakan ada seorang perupa yang menyajikan dua karya dalam pameran) turut serta menopang “identitas” yang ditawarkan SLOP Kendal dalam pamerannya. B. Pecut Sumantri dalam Political Game (2017, Acrylic on Canvas, 50 x 40 sentimeter); Didung Putra Pamungkas dalam Petak Umpet (2017, Acrylic, Marker on Canvas, 100 x 100 sentimeter); Maghfur Jazil dalam Tirto Kahuripan (2018, Oil on Canvas, 80 x 60 sentimeter); Nanang Arifuddin dalam Penghuni Ruang Cinta (2018, Charocal Powder on Canvas, 90 x 70 sentimeter); Ali Ahmad Murtadho dalam Bertaruh (2018, Acrylic, Pastel on Canvas, 100 x 90 sentimeter); Saufit Anam dalam Confidence (2018, Acrylic on Canvas, 80 x 60 sentimeter); Lutfi Haidani Akhsan dalam Blackletter Freestyle (2018, Pigment Mixmedia on Canvas, 80 x 60 sentimeter); M. Rifqi Mubarok dalam Save Me (2018, Acrylic, Ballpoint, White Market on Canvas, 120 x 80 sentimeter); Hendriyanto PSK dalam Still Life (2018, Oil on Canvas, 45 x 60 sentimeter); dan Sukirno dalam Wanita dan Bunga Kerta (2018, Oil on Canvas, 80 x 60 sentimeter) serta Seikat Seruni (2018, Oil and Marker on Canvas, 80 x 60 sentimeter).
Segala identitas yang ditawarkan para perupa telah disambut hangat oleh mata dan batin khalayak. Mereka telah mutlak menghadirkan tubuh-tubuh identitas dalam karya-karyanya. Tubuh-tubuh identitas yang tak hanya bergulir dari dalam diri para perupa semata. Namun telah begitu rupa hinggap pada identitas lain, yang sepenuhnya hadir dalam tubuh-tubuh identitas yang baru. Tubuh-tubuh identitas yang dibawa oleh “kepala” politik, “leher” ekonomi, “tangan” sosial, “dada” agama, “jari-jari” kemanusiaan, dan lainnya. Dari segala itu, selanjutnya berhamburanlah identitas yang dirombak, identitas yang (barangkali) tak dikehendaki oleh mata dan batin kita sekalipun seakan telah turut serta dihadirkan dalam karya-karya dalam pameran tersebut. Dan perlu dicatat, segala itu dijatuhkan para perupa SLOP Kendal di jagat kanvas dengan tidak semena-mena!***

—Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal, sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menulis puisi, cerita pendek, esai, resensi buku, dan beberapa aktivitas lain yang masih biasa-biasa saja. Dapat disapa 24 jam tanpa henti melalui nomor ponsel (WA): 085641010277, setianakaandrian@upgris.ac.id dan beberapa media sosial yang dikelolanya.



























Rabu, 01 Januari 2020

Waktu Indonesia Bagian Bercerita (Penerbit Beruang, Januari 2019)

Dulu, dulu sekali. Kau sudah mahir membaca. Sedangkan aku masih belajar mengeja. Lalu selanjutnya, kau telah mahir bicara apa saja. Sedangkan aku hanya mendengarkan segala yang keluar dari mulutmu yang begitu tralala.



Selamat datang, Waktu Indonesia Bagian Bercerita. Semoga semua bahagia menyambut semesta dalam angka genap 2020 ini...

Senin, 30 Desember 2019

Segala tentang Hitungan


Segala tentang Hitungan
Oleh Setia Naka Andrian

Angka 2019 akan segera bergeser menjadi angka genap 2020. Tentu tak sedikit di antara kita yang turut serta menyambutnya dengan serius, biasa saja, atau bahkan menolaknya. Ada yang menyambut sekadarnya. Berdiam diri di depan rumah, sambil menanti tabur kembang api yang dipaksa meledak dari kejauhan. Atau menyambut serius dan berharap tidak biasa-biasa saja, berharap tidak selesai begitu saja atau hilang dengan begitu cepatnya.
Misalnya saja yang (akan) dikerjakan (dihimpun) oleh Tanjung Alim Sucahya dan Andaru Mahayekti. Ya, dua anak muda jomblo yang sempat mengaku diri mereka masih berantakan itu. Jumat (27 Desember) lalu memang saya berjumpa mereka di Bojonggede, desa lahir dan tinggalnya Tanjung. Saat itu kami berbincang tentang beberapa hal, lalu gelisah, lalu ingat angka tahun, ingat laku dalam diri personal dan komunal.
Cukup panjang perbincangan dan berderet kegelisahan yang kami panjatkan. Akhirnya, selepas makan siang di sebuah warung, bersepakatlah untuk membuat sebuah terbitan (bundelan) yang dicetak terbatas untuk menyambut pergantian tahun. Ya, saya cukup bahagia, ketika Tanjung dan Andaru mengetuk palu. Meski dengan was-was.
Dan kali ini, di ujung angka bulan ini, saya ingin turut serta menyambutnya dengan catatan pendek, sederhana, biasa-biasa saja ini. Yang mengusik saya, tentu perihal hitungan. Sungguh, hitungan begitu kentara mengusik benak dan batin saya kali ini. Barangkali juga Anda, atau bisa jadi tidak sama sekali.
Meski jika boleh sedikit menepi dan menyingkir sejenak, hitungan itu bukan hak kita. Ada Yang Maha Menghitung, yang akan mengakhiri segala penjumlahan gerak hidup-mati kita. Namun dalam medan proses kreatif, kita harus berani menghitung itu. Bahkan, perihal laba dan rugi pun harus dihitung. Tentu, segala itu tidak langsung menuju hitungan mentah. Atau hitungan-hitungan yang nampak saja, yang menggedor mata kita semata.
Bagi saya sendiri misalnya, penghujung tahun ini menjadi momen yang cukup membuat was-was. Paling tidak, meski saya belum merasa ini tahun paling berarti, namun saya merasa angka 2019 menjadi sejarah cukup panjang tersendiri dalam proses kreatif. Baik dalam diri personal, maupun komunal bersama kerja-kerja kreatif bersama kawan-kawan di Kendal. Ya, paling tidak ada dua jejak lawatan yang saya kerjakan. Pertama, saat dipercaya menjalani residensi penulisan di Polewali Mandar Sulawesi Barat selama satu bulan, dan residensi penulisan di Leiden Belanda selama dua bulan. Belum lagi beberapa aktivitas lain yang menyita benak dan batin, baik dalam diri maupun di luar dan di sekitar diri saya.
Sekali lagi, meski saya kerap menganggap itu sebagai anugerah terbesar dalam tahun ini, namun semua itu menjadi was-was tersendiri. Bagaimana selepasnya. Apa yang akan saya kerjakan. Apa yang selanjutnya akan saya tunaikan. Paling tidak dalam hal proses penciptaan. Saya cukup gelisah. Bagaimana kiranya dengan tahun selanjutnya? Bagaimana dengan proses penciptaan tahun selanjutnya di angka 2020? Saya takut, jika ternyata semua akan bergulir biasa-biasa saja. Atau bahkan semakin menurun, lebih parah dan hacur dari apa yang dikerjakan sebelumnya. Jatuh dalam lubang yang sama!
Menarik memang, saat-saat dalam kerja di kedua tanah residensi itu. Saya menjadi cukup terbiasa untuk berbaik sangka dengan hitungan-hitungan. Seberapa jauh mata memandang, seberapa pendek hati kecil menerawang, seberapa tebal ingatan dan catatan bergandengan. Itu yang setidaknya menghinggapi saya dalam membunuh hari-hari di tanah residensi. Dan tentu, semakin ke sini, semakin banyak hal yang terasa belum selesai. Banyak yang harus lekas ditunaikan. Dan pastinya, tak sedikit pula kemalasan dan kegagalan-kegagalan yang kian menggerogoti harkat penciptaan (karya).
Meski sungguh, jika boleh sekadar membahagiakan diri, telah banyak yang terjadi, telah tak sedikit yang dikerjakan, terutama bersama beberapa kawan di Kendal. Yang tentu, segala itu lebih mending jika dibandingkan dengan kerja-kerja komunitas lain. Namun apakah semua itu cukup? Tentu tidak, boleh berbahagia sejenak. Selepas itu, kembalilah gelisah! Jangan berharap semua akan baik-baik saja. Jangan berharap semua akan jatuh di pangkuan dengan tiba-tiba.
Dan semakin ke sini, saya kerap berbangga diri, saat melihat kampung halaman, di kota kelahiran saya (Kendal) ini telah bergulir tidak sedikit aktivitas kreatif dari berbagai kepala anak muda dan bermacam rupa komunitas. Ini sungguh membahagiakan. Hanya saja, sepertinya selepas itu tidak cukup bahagia begitu semata. Tidak cukup berbangga diri saja. Semua harus disambut dan dirayakan tidak hanya dengan percuma.
Sudah saatnya mulai menghitung. Meski paling sederhana, coba menengok diri sendiri. Mohon maaf, ini misalnya yang sedang saya coba dan upayakan pada diri saya sendiri. Paling tidak, sungguh biadabnya saya, jika belum apa-apa sudah merasa tua. Sudah merasa telah mendapatkan segalanya. Dan tiba-tiba saya ingat penggalan syair “Tong Kosong” (Slank): Sedikit ngerti ngaku udah paham. Kerja sedikit maunya kelihatan. Otak masih kayak TK kok ngakunya sarjana. Ngomong-ngomongin orang kayak udah jagoan.
Itu yang bagi saya sangat bahaya. Dalam hati: “Ya Tuhan, jauhkanlah hamba dari segala itu. Jangan sampai. Sebab bagaimana, jika misalnya itu terjadi. Saya akan merasa telah mampu melabeli diri sendiri. Belum apa-apa sudah menyebut dan menempeli diri dengan sebutan pengamat budaya. Belum apa-apa sudah mengaku sebagai pemerhati bidang tertentu. Apalagi jika semua itu, dengan begitu percaya dirinya dilabelkan dalam biodata yang ditulis sendiri. Ya Tuhan, jauhkanlah hamba dari segala itu. Jauhkan. Belum lagi, Tuhan, jika menciptakan sesuatu, saat mencipta karya tertentu masih ingin menghitung berapa penonton yang hadir. Saat hamba menulis, masih menghitung berapa buku atau unggahan di blog yang dibaca orang. Lalu hamba akan marah-marah, menggonggong penuh sesal dan duka mendalam di status media sosial. Jauhkan hamba dari segala itu, Tuhan. Jauhkan.”
Meski saya yakin, segala itu pekerjaan berat. Namun sudah saatnya hitungan itu tidak lagi dijatuhkan sekadar pada hitungan di luar kerja artistik. Buat apa? Buat apa menghitung berapa kali menyelenggarakan festival seni? Buat apa selalu berpusingan memaksakan diri setiap setahun sekali, sebulan sekali harus menyelenggarakan selebrasi acara yang ujung-ujungnya hanya akan berakhir pada foto-foto yang menjamur di media sosial semata?
Kalau itu sebuah kerja yang dikerjakan sendiri, dengan jerih-penat sendiri, dengan kepala sendiri, bahkan dengan menyisihkan uang sendiri. Buat apa jika masih terjebak dalam segala hal di luar medan artistik? Buat apa tunduk dalam hitungan-hitungan di luar medan artistik itu? Saya kira, tak ada gunanya. Itu hanya akan membuat kita semakin lemah dalam menghitung substansi kerja kreatif kita. Lalu jika sudah kian larut begitu, hari-hari akan terasa melelahkan. Semua akan dirasa memuakkan. Setiap kali berjumpa dengan diri lain di luar diri kita akan kian panas saja. Saling menyalahkan. Saling mengumpat, menabur amarah, dan segala hal yang sia-sia. Lalu tak terasa, usia telah menjatuhkan diri kita dalam lubang angka yang sudah cukup tua.
Dan tiba-tiba sadar, ternyata seumur-umur hanya melakukan berbagai hal yang itu-itu saja. Bahkan merasa kerap jatuh pada lubang yang sama. Lebih-lebih ternyata dirasa kerap memproduksi kegagalan-kegagalan yang berulang-ulang setiap tahunnya. Lalu kemudian yang tersisa hanya lelah yang mendarah-daging pula. Kemudian hanya mampu menimbun kenangan yang muncul dari mulut yang dibesar-besarkan. Tak ada riwayat jelas, tak ada jejak arsip, tak ada dokumentasi matang, tak ada yang dibanggakan dan diwariskan kepada generasi setelahnya. Semua hanya timbunan omong kosong belaka. Yang hanya dibesar-besarkan pula.***

—Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal, sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menulis puisi, cerita pendek, esai, resensi buku, dan beberapa aktivitas lain yang masih biasa-biasa saja. Dapat disapa 24 jam tanpa henti melalui nomor ponsel (WA): 085641010277, setianakaandrian@upgris.ac.id dan beberapa media sosial yang dikelolanya.

Kaceb! (Tribun Jabar, 29 Desember 2019)



Kaceb!
■cerpen Setia Naka Andrian



Apa yang mengendus dari otak Kaceb jika harus mengayuh becak pada hari yang begitu panas? Ditambah lagi sedang musim bulan puasa. Matahari benar-benar terasa di atas kepalanya. Rasa panas seketika memanggang tubuhnya yang hitam pekat itu. Karena bagaimanapun semua orang tahu, jika kalor pasti akan meluncur menuju benda-benda yang hitam atau yang gelap-gelap semacam kulitnya si Kaceb. Begitulah orang-orang memanggilnya. Walaupun sesungguhnya Kaceb sudah tidak tepat lagi jika dipanggil dengan tambahan gelar “si”. Kaceb sudah hampir purna sebagai lelaki setengah baya. Usianya pun kini sudah genap enam puluh lima tahun.
Kaceb hidup sebatangkara tanpa istri, apalagi anak. Ia benar-benar mandiri. Menurut kabar yang beredar di warung-warung kampung ini pun sungguh mengharukan. Bahwa si Kaceb merupakan seorang anak tunggal dari seorang ayah yang juga bekerja sebagai tukang becak. Itu mungkin masih sebagai kabar biasa dan ringan-ringan saja, jika ada seorang tukang becak yang berasal dari anak seorang tukang becak pula. Namun, ada yang membuat warga kampung tak jadi terharu dengan kisah si Kaceb, malah dianggap lucu. Katanya dulu ayahnya si Kaceb itu bernama Tukang Becak. Karena ternyata ayah dari ayahnya si Kaceb, atau bisa disebut kakeknya si Kaceb, juga merupakan seorang tukang becak pula. Maka dari itu ayahnya si Kaceb diberi nama Tukang Becak oleh kakeknya.
Konon menurut kabar yang juga beredar di warung-warung kampung ini, kakek si Kaceb yang bernama Abdul Kasur, merupakan seseorang yang memprakarsai alat transportasi yang bernama becak di kota ini. Terlampau dulu sekali katanya, ketika masa itu kakek si Kaceb masih menggunakan tenaga kaki untuk menjalankan roda-roda becaknya. Hingga pada masa itu becak baru menggunakan roda dua yang berjajar dan di atasnya ada semacam tempat duduk layaknya becak-becak yang ada di jaman sekarang. Lalu kakek si Kaceb menariknya dari depan melalui dua batang kayu yang agak melengkung.
Kakek si Kaceb terkenal sebagai sosok pekerja keras. Ia dulunya bekerja sebagai juru angkat di rumah megah pedagang Tionghoa. Juru angkat itu bahasa kerennya masa itu, kalau sekarang orang-orang menyebutnya sebagai kuli. Becak itu pun ia kenali ketika bekerja di situ. Becak yang dikenal orang-orang setempat berasal dari bahasa Hokkien, yakni be chia yang berarti kereta kuda itu digunakan oleh kakek si Kaceb sebagai alat untuk mengangkut barang dagangan orang Tionghoa majikannya tersebut.
Lalu lambat laun dan tidak terasa telah bertahun-tahun kakeknya si Kaceb mengabdikan diri sebagai juru angkat kepada orang Tionghoa itu. Akhirnya muncul masalah klise yang sering orang-orang ketahui dari keluhan para pedagang, yakni bangkrut. Kakek si Kaceb pun akhirnya mau tidak mau harus hengkang dari jabatan juru angkat itu setelah roda perdagangan orang Tionghoa tersebut dinyatakan resmi gulung tikar. Kakeknya merasa sangat sedih saat itu. Karena itulah pekerjaan satu-satunya yang sanggup dilakukan untuk menghidupi seorang istri tercinta dan seorang anaknya, yakni ayahnya si Kaceb yang bernama Tukang Becak.
Ternyata kakeknya tidak mau angkat kaki juga dari rumah orang Tionghoa itu. Berhari-hari ia tetap ndongkrok di rumah megah juragannya. Walaupun kemegahan rumah juragannya pun semakin purna pula, karena barang-barang seisi rumah terkuras habis untuk menebus kebangkrutan bisnis perdagangannya. Yang katanya, kebangkrutan itu terlahir akibat dari ulah istrinya yang tertipu oleh lelaki muda tampan yang kebetulan orang Tionghoa juga. Istrinya main cinta belakang dengan pemuda itu. Maka akhirnya istrinya menuruti segala yang diinginkan oleh pemuda itu, asalkan servis yang diberikan pemuda itu mampu memuaskannya.
Itu semua pun terjadi karena ternyata istrinya telah bertahun-tahun tidak dijatah oleh suaminya, lelaki setengah baya Tionghoa itu. Yang katanya sudah tidak kuat lagi. Lalu akhirnya bertahun-tahun pula istrinya main cinta belakang dengan pemuda tampan itu. Segala harta benda yang diacungi oleh pemuda itu pasti akan diberikan. Pemuda itu pun tetap senang dan bangga-bangga saja menjadi laki-laki simpanan. Walaupun bertahun-tahun meladeni perempuan tua yang sudah lumutan namun masih kegatelan itu.
Lalu istrinya pun kemudian diceraikan. Meninggalkan dua orang anak yang hanya tinggal nama. Keduanya sudah lama mati berboncengan naik sepeda. Mati berjamaah karena kecelakaan tertabrak kereta api ketika hendak berangkat sekolah tingkat awal dulu, setaraf Sekolah Dasar.
Lelaki Tionghoa yang sudah senja itu pun kini hanya dapat mengenang ending yang serba salah. Ia sebenarnya juga sangat merasa bersalah kepada dirinya sendiri. Karena ia merasa akar permasalahan dari kebangkrutan usahanya itu akibat dirinya yang tak mampu memenuhi kebutuhan istrinya. Jadi ia mencoba lapang dada saja. Walaupun semua telah pergi dari pelukannya. Istrinya pergi, hartanya juga lari. Hanya hutang-hutang saja yang masih terus menunggunya untuk segera dilunasi satu persatu.
***
                       
Ternyata kakek si Kaceb belum mau juga angkat kaki dari rumah orang Tionghoa itu. Berhari-hari yang hampir seminggu ia tetap ndongkrok di rumah megah juragannya yang kini kosong tidak berisi apa-apa. Berhari-hari itu mereka berdua saling bercerita tentang keluarganya masing-masing, dari mulai masalah menghidupi anak dan istri hingga bagaimana cara membahagiakan istri. Termasuk juga masalah nafkah malam hari yang sering ditunggu-tunggu oleh setiap istri.
Orang Tionghoa itu pun semakin sedih yang menjadi-jadi. Bayangkan saja, apa rasanya seorang lelaki yang ditinggal dan dihianati oleh istrinya karena ia telah tak lagi mampu memberi nafkah malam hari. Sungguh sangat kasihan bila ada laki-laki semacam itu. Mungkin sebab itu juga yang menjadikan kakeknya si Kaceb tak kuasa pergi meninggalkan juragannya sendirian menikam kesedihan. Karena semua orang yang dulu di dekatnya telah tiada. Termasuk seluruh pekerjanya, penjaga pintu gerbang, penjaga toko, tukang kebun, juga para juru dapurnya. Semuanya pergi jauh-jauh meninggalkan juragan yang tinggal sebatang rokok itu. Dulu orang-orang menyebutnya begitu. Lelaki Tionghoa tua yang tinggal sebatang rokok. Karena ia perokok berat. Lebih-lebih ketika masa kebangkrutan itu. Selalu hampir setiap waktu ia menghisap rokok. Ibaratnya yang ada dalam puisi-puisi pemuda jaman sekarang, lelaki setengah baya itu adalah kereta yang asapnya terus memanjang dan tak pernah ada henti-hentinya.
“Kenapa kau tidak mau pergi dari rumah ini? Aku sudah tidak lagi memiliki apa-apa. Aku sudah tidak kuat membayarmu,” ucap juragan setengah baya yang telah benar-benar hampir tak menjadi juragan itu. Wajahnya yang keriput nampak menunggu jawaban dari kakeknya si Kaceb yang tak kunjung juga menyambut dengan kata-kata. Wajahnya mencoba berakraban dengan matanya yang kian melulu bertanya-tanya juga. Raut mukanya nampak murung campur gelisah dan kesedihan yang entah. Kepalanya seringkali menunduk resah dengan kopyah hitam yang menutupi beberapa gelintir rambutnya yang hampir genap memutih. Sambil matanya berkaca-kaca mengenang dan sangat menyesal ketika telah bertahun-tahun tak sanggup memberi nafkah malam hari kepada istri tercintanya. Nyaris air matanya mengucur, namun selalu tertahan akibat ingat kelaki-lakiannya ketika mulutnya tiap beberapa detik mengasap yang terus memanjang dan tak pernah ada henti-hentinya itu.
***

Setelah genap satu minggu, kakek si Kaceb akhirnya terpaksa harus angkat kaki dari rumah juragan yang telah bertahun-tahun menjadi tumpuan hidupnya. Dengan sangat terpaksa ia harus meninggalkannya jauh-jauh karena malam itu tiba-tiba rumah megah yang kosong itu menjadi gempar dan dikepung orang-orang. Ketika juragannya diketahui telah bunuh diri dengan memotong kemaluannya sendiri. Darah mengucur dari pangkal kemaluannya hingga merahnya merambah ke hampir seluruh tubuhnya. Entahlah kenapa, mungkin karena ia begitu menyesal dengan diri dan tubuhnya yang memiliki kemaluan semacam itu. Hingga ia membanting-banting dan memukul-mukulkan batang kemaluannya ke seluruh tubuhnya hingga darah berhamburan kemana-mana dan ia benar-benar kehilangan nyawa.
Kakek si Kaceb benar-benar angkat kaki. Selamanya, juragan Tionghoa itu tinggal kenangan. Mayatnya diurus oleh sebuah asuransi yang ternyata sudah dipersiapkan oleh mendiang sejak dulu semasa hidupnya jaya. Sehingga rumah serta tanahnya itu pun diurus asuransi tersebut. Namun dari kekosongan rumah itu masih menyisakan sebuah becak yang ternyata dulu dipakai kerja oleh kakek si Kaceb. Becak itu tidak sengaja terdampar di belakang rumah dan tertumpuk sampah-sampah, yang membuat penagih hutang tidak tahu keberadaan benda itu. Akhirnya becak itu pun dibawa pulang oleh kakek si Kaceb, setelah ditanyakan kepada pihak asuransi mengenai becak itu menjadi hak siapa. Ternyata pihak asuransi mengatakan bahwa becak tidak termasuk hak mereka, hanya rumah tanpa seisinya dan tanahnya saja yang diasuransikan untuk mengurus kematian juragan Tionghoa itu.
***

Kakek si Kaceb pulang ke rumah. Menemui seorang istri tercinta dan seorang anak, si Tukang Becak—ayahnya si Kaceb. Selanjutnya mereka hidup cukup bahagia. Kakek si Kaceb menjadi tukang becak. Mengemudikan untuk mencari nafkah guna menghidupi anak dan istrinya.
Namun konon setelah berjalannya waktu, pemerintahan Belanda pada masa itu melarang keberadaan becak. Karena jumlahnya yang semakin bertambah, yang katanya membahayakan keselamatan penumpang dan menimbulkan kemacetan. Entah kemacetan yang seperti apa, dalam cerita-cerita yang beredar di warung-warung semacam itu.
***

Lambat laun hingga negeri ini merdeka dan setelah meninggalnya kakek si Kaceb, becak masih tetap eksis juga pada masa ayahnya si Kaceb. Walaupun pada masa itu sempat ada aturan dari Gubernur, mengenai larangan terhadap angkutan yang memakai tenaga manusia, membatasi beroperasinya becak, hingga meletus razia mendadak di daerah bebas becak. Karena becak dianggap sebagai biang kemacetan, simbol ketertinggalan kota, dan dikatakan sebagai alat angkut yang tidak manusiawi. Walaupun pada sisi lain becak juga mulai tergerus persaingan dengan kehadiran ojek motor, mikrolet dan metromini.
Masa itu pemerintah juga mendatangkan 10.000 minica (bajaj, helicak, minicar) untuk menggantikan 150.000 becak. Pemerintah memprogramkan para tukang becak untuk beralih profesi menjadi pengemudi kendaraan bermotor itu. Dengan semena-mena pemerintah menggaruk becak dan membuangnya jauh-jauh dari ingatan para tukang becak. Namun si Tukang Becak, ayah si Kaceb tetap bertahan dengan becaknya. Hingga akhirnya ia meninggal, kemudian profesinya berlanjut diwariskan kepada keturunan selanjutnya, yakni si Kaceb. Sosok yang kini dikenal dan akrab di mata orang-orang, yang memiliki nama lengkap Kaceb Gnakut. Nama yang merupakan kebalikan dari nama ayahnya, Tukang Becak. Dibaca dari belakang.
Begitulah kisahnya yang terus berlanjut hingga masa ini. Si Kaceb yang sudah hampir purna sebagai lelaki setengah baya. Usianya sudah genap enam puluh lima tahun. Ia tetap mengayuh becak. Walaupun hari begitu panas pada musim bulan puasa semacam ini. Ia tetap hidup sebatangkara tanpa istri dan anak. Karena menurut kabar yang beredar di warung-warung, ia tetap setia dengan becak yang memiliki sejarah tersendiri bagi keluarganya. Keluarga becak.
Namun hingga kini ia berani memutuskan dengan serius untuk tidak ingin menikah. Bukan karena takut tak sanggup menafkahi atau mencukupi kebutuhan hidup anak dan istri, melainkan ia takut memiliki anak. Ia punya ketakutan tersendiri jika kelak anaknya menjadi tukang becak lagi. Tekadnya, ia ingin memutus keturunan keluarga sampai dirinya. Keluarga becak.***

Kendal,  Juli 2016 - Leiden, November 2019