Minggu, 06 Mei 2018

Cermin Jiwa: Politik dan Jagat Pesantren (Suara Merdeka, 6 Mei 2018)



Cermin Jiwa; Politik dan Jagat Pesantren
Oleh Setia Naka Andrian



Jagat pesantren, dewasa ini begitu rupa menjadi sorotan bagi elite politik. Santri, ulama, kiai seakan lahir sebagai magnet tersendiri bagi mereka yang hendak menampilkan diri dalam panggung politik. Pesantren setidaknya telah mengambil salah satu posisi (sasaran utama) untuk memperoleh kemenangan yang diidam-idamkan.
Sudah jelas, pesantren diyakini masyarakat sebagai jagat sunyi yang tak henti-hentinya memproduksi makna, identitas, hingga segala hal tentang pembentukan akhlak mulia bagi umat beragama. Rumah bagi para pengeja ilmu agama tersebut pun hingga kini masih begitu kuat menempa ingatan publik. Pesantren dengan segenap isinya, selalu diberi tempat di mata dan batin masyarakat kita.
Untuk itu, tak sedikit calon pemimpin kita yang kerap sowan kepada segenap pesantren seantero tanah Jawa ini. Dari mulai sekadar minta doa restu, hingga menggandeng putra kiai, atau salah seorang insan terbaiknya untuk maju bersama dalam panggung politik.
Seolah-olah pesantren menjadi sebuah tameng, rumah berlindung jika barangkali didapati beragam anggapan buruk yang bertebaran di telinga masyarakat. Atau setidaknya mampu menanam kepercayaan lebih dan yang pasti, mendongkrak ‘suara’. Sebab, sampai kapan pun pesantren tetaplah menjadi rujukan, segala mula dan muara, rumah berteduh bagi insan beragama, atau bagi siapa saja yang berhasrat menanam citra baik dalam tubuhnya.
Melalui novel Cermin Jiwa (Alvabet, Juli 2017), S. Prasetyo Utomo mengisahkan sebuah keluarga yang dihuni sepasang suami-istri setengah baya dan seorang anak perempuan belia. Merekalah Abah, Umi, dan Zahra. Abah mengalami kekalahan dalam pemilihan wakil rakyat. Abah, seorang pemilik ladang dan toko bunga. Suatu ketika ia mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Namun ia gagal, meski segalanya telah dipertaruhkan. Termasuk tanah, mobil, dan tabungan.
Selepas itu, Abah berniat menenangkan diri, kembali berguru di sebuah pesantren yang sempat ia tinggali semasa muda. “Aku ingin kembali berguru pada kiai di pesantren Lembah Bayang-Bayang, seperti pada masa mudaku. Melupakan keguncangan hatiku.” (hlm. 12).
Abah berniat menepikan diri. Ia telah tersadar, bahwa ia tak berjodoh menjadi wakil rakyat. Meski awalnya ia belum bisa sepenuhnya menerima. Selepas Umi, istrinya, mampu menyadarkan, maka Abah berniat kembali berguru ke pesantren. Abah memilih jalan sunyi, selepas persoalan berat menimpa hidupnya. Menapaki kembali jalan yang dikehendaki nuraninya, selepas diterpa kehancuran bertubi-tubi.

Gelagat Elite Politik
Prasetyo dalam novel ini memberikan tawaran lain pula, yakni didapati tokoh yang menyabung nasibnya dalam pemilihan wakil rakyat. Tokoh tersebut menang, namun tidak lama kemudian ia tak mampu mengendalikan nafsu. Maka segala itu menjerumuskannya ke penjara, akibat terbelit kasus korupsi.
Didapati pula kisah lain, seorang tokoh yang hendak maju dalam pemilihan Bupati. Ia berkunjung dan hendak meminta restu kepada Kiai Sepuh, pengasuh Pesantren Lembah Bayang-Bayang, tempat Abah berguru dan menenangkan batin.
Calon bupati tersebut mengumbar janji kepada Kiai Sepuh, termasuk ingin membangun jalan menuju pesantren. Akhirnya, Kiai Sepuh mengizinkan, memberi restu kepada calon bupati. Abah pun sempat heran, kenapa Kiai Sepuh memberikan restu.
Calon bupati tersebut pun menang dan sudah berkuasa, namun jalan menuju pesantren masih tetap belum dibangun seperti yang dijanjikan. Kiai Sepuh tetap tenang, tak mengaharap apa-apa. Abah begitu heran, pasti akan terjadi sesuatu.
Akhirnya terdengar kabar, bahwa bupati yang berkuasa tersebut ditangkap, ditahan, dan dibawa ke pengadilan. Semua orang pun tahu maksud Kiai Sepuh mendukungnya, hanya untuk menggiringnya ke penjara. “Aku baru sadar, Kiai Sepuh mendukung bupati itu untuk menemukan takdirnya di penjara,” kata Kiai Maksum, sebelum menghentak tali kendali kudanya. (hlm. 33).
Dari beberapa penggalan kisah tersebut menunjukkan, betapa Prasetyo menampakkan gelagat elite politik di sekitar kita. Keberadaan pesantren yang kerap kali diperhitungkan dalam melancarkan gerak roda kelompoknya demi mencapai kekuasaan yang mutlak.
Bumbu-bumbu lain pun dihadirkan oleh Prasetyo, yakni terkait persoalan tarik-ulur pembangunan pabrik semen di Lembah Gunung Bokong. Perlawanan, kecaman, pengkhianatan menjadi putaran gerak politik tersendiri. Negara pun turut serta dalam peristiwa daerah tersebut, selepas persoalan berlarut-larut dan memanjang hingga menjadi isu nasional.
Dalam novel ini, Prasetyo seakan menggarap sebuah dunia dengan segala kemungkinan yang kokoh, melalui kejernihan jiwa beberapa tokoh yang dihadirkan. Segalanya seakan menyelinap dalam benak dan batin kita. Menggelinding dalam roda keseharian yang tentu akan begitu mudah kita tunjuk di koran, televisi, dan segala media massa yang beterbangan di sekitar kita.***

Senin, 12 Maret 2018

Pengamen Jamaah Jumat (NU Online, 11 Maret 2018)


Pengamen Jamaah Jumat
cerpen Setia Naka Andrian

“Allahumma shalli shalatan kamilatan wa salim salamaan tamman 'ala sayyidinaa Muhammadin alladzi tankhallu bihil-'uqodu wa tanfariju bihil-kurobu wa tuqdho bihi-lkhawa-'iju wa tunaalu bihi-rroghoibu wa khusnul-khowatimi wa yustatsqol-ghomaamu bi wajhihil-karimi wa 'ala alihi washohbihi fi kulli lamkhatin wa nafasin bi 'adadi kulli ma'luumin laka,” begitulah yang ia lantunkan pada setiap jumat-jumat.
Siapa pun pasti hafal bagaimana tubuh perempuan. Undakan yang berkelok, namun bukan semacam sungai. Banyak yang bilang bentuk biola paling cocok untuk mengingatnya. Juga perawakan semampai yang sering diidamkan lelaki sejagad. Lalu bagaimana jika perempuan itu sudah senja. Orang-orang pasti malas meliriknya. Apalagi membayangkan untuk sekadar inspirasi ketika mandi yang biasa dilakukan anak-anak muda saat kesepian.
Begitulah, seseorang yang kini diperbincangkan di kampung kami. Entah kami tak tahu dari mana datangnya perempuan tua yang menebar resah itu. Ia selalu bershalawat pada setiap hari jumat di masjid kampung kami. Bertepatan ketika shalat jumat. Ia selalu melantunkan lagu yang sama, shalawat Nariyah. Itu yang kadang membuat kami gemetar.
Bagi kami ia lah orang paling misterius yang kami jumpai sepanjang hidup. Ia sangat tak terawat. Baju yang dikenakan lusuh dan kumal. Daster yang kebesaran dan terseret ke tanah. Tubuhnya pun seperti sudah kebal dengan panu atau kadas. Walau terkadang kami melihatnya menggaruk-garuk beberapa petak tubuhnya ketika ia sedang bershalawat.
Dasternya sobek-sobek berserakan dan tak khatam menutupi tubuhnya. Rambutnya yang setengah nggimbal terurai. Mencoba menelungkupi payudaranya yang terlihat kendur serta terombang-ambing ke kanan dan kekiri, ketika ia melangkahkan kaki atau sedikit menggerakkan tubuhnya. Payudara yang telah kusam, sangat kotor dan pastinya juga bau. Sungguh menjijikkan. Jika harus mengingat-ingat perempaun tua itu.
Apalagi jika ada seseorang yang sedang makan melihatnya, maka seketika orang itu pasti langsung mengaburkan mata. Bau busuknya menyengat. Barangkali melebihi mayat yang sudah berbulan-bulan mengapung di sungai. Daster yang dikenakan pun dipenuhi kotoran-kotoran. Kami sering menebaknya sebagai kotorannya sendiri yang telah menghitam dan hampir mengering. Nampak semu kekuningan yang membuat kami semakin yakin kalau yang mengotori sekujur baju dan tubuhnya itu adalah kotorannya sendiri. Bau yang bertebaran pun kami begitu akrab. Karena kami setiap pagi juga mengeluarkan kotoran itu. Jadi dengan sendirinya kami hafal aroma itu.
Jika yang melihat sedang hamil, dalam hati langsung mengucap amit-amit jabang bayi. Lalu kalau yang melihat sedang asyik dengan pacarnya, yang perempuan berbisik kepada lelakinya, “Akankah kau masih setia kepadaku bila aku seperti itu?”
***

Sepertinya daster yang dikenakan itu dulunya berwarna putih. Kini sudah berubah warna tanah akibat kotoran hitam kekuningan yang menebar. Kulit pada sekujur tubuhnya pun telah disulap matahari hingga hitam pekat. Payudaranya yang pucat kotor dan mengendur serta terombang-ambing ke kanan-kiri pun seakan menampakkan betapa tergoncang kehidupannya. Sontak, siapa pun yang melihatnya pasti sangat ketakutan, cemas dan begitu resah akibat lengking suara yang dilantunkannya itu. Walaupun itu shalawat Nariyah. Puji-pujian untuk meminta syafaat nabi.
Itulah sebabnya yang terkadang membuat para pengurus masjid, seluruh warga serta para kiai sepuh imam di masjid kami kebingungan setiap kali perempuan tua itu ikut mengisi jamaah jumat, walaupun sekadar di serambinya.
Sudah beberapa bulan ini ia datang pada setiap jumat-jumat. Seluruh warga pun sama sekali tak tahu dari mana asalnya. Entah, barangkali ia diutus Tuhan sebagai perempuan paling tidak seksi di dunia ini, atau apa pun. Kami sulit untuk menebak serta mengira-ira. Setiap malam kami berlarut-larut mendiskusikan bersama seluruh warga, hanya untuk membahas keberadaan perempuan tua itu.
Namun tetap saja tak ada yang banyak tahu tentang fenomena dadakan itu. Walau kami sering berupaya mendatangkan orang-orang hebat secara bergantian tiap diskusi yang kami adakan. Secara bergantian kami hadirkan orang-orang tersohor yang ahli mistik serta orang-orang sakti, hingga ulama-ulama terkenal yang sering muncul di televisi. Kami minta mereka untuk memberi arahan atau apa saja yang setidaknya mampu sedikit mengurangi keresahan kami.
Namun entah, orang-orang hebat yang kami undang dengan sewa yang cukup mahal itu tetap saja tak menyelesaikan. Malah kami sering disuguhi petuah-petuah yang semakin tak terarah. Hingga ujung-ujungnya tetap saja menunjuknya sebatas orang gila saja.
Memang kenyataannya semacam itu. Siapa pun pasti tak jauh menudingnya sebagai orang gila. Namun kenapa setiap hari jumat perempuan itu selalu datang ke masjid dan bershalawat? Kenapa juga yang ia lantunkan adalah shalawat Nariyah?
Siapa pun pasti akan merinding jika mendengarnya meliukkan shalawat tersebut. Terutama bagi warga kami yang sebagian besar muslim. Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang sering beredar ke telinga rumah-rumah.
***

Mbah Kiai Haji Soleh, seorang imam paling sepuh di masjid kami berpendapat. Bahwa sebenarnya tak masalah jika ia tidak melakukannya di masjid. Ia juga tidak pernah meminta imbalan apa-apa. Namun bila ia mengetuk pintu dari rumah ke rumah pasti malah banyak yang merasa iba. Pasti juga tak sedikit yang merelakan sepiring nasi dan teh hangat untuk diberikannya. Tapi jika dilakukan di masjid, bagaimana warga menanggapinya? Siapa pun pasti akan mengalami keresahan yang sama. Entah itu para pengurus masjid, seluruh warga serta para kiai sepuh pun pasti akan tetap saja mengalami keresahan yang sama seperti halnya yang sedang kami rasakan selama ini.
Lebih-lebih, ada warga yang tak sengaja mengamati perempuan tua itu. Katanya, dari hari ke hari ia semakin mendekati serambi masjid. Dari jumat satu ke jumat berikutnya, ia selalu semakin mendekat. Karena pada mulanya ia berada di luar pintu gerbang. Namun lama kelamaan semakin terus mendekat masuk ke area masjid. Sambil tetap bershalawat dengan satu alat musik yang terbuat dari tumpukan beberapa tutup botol yang dipaku pada sebuah balokan kayu kecil.
Entah alat itu dibuat sendiri atau merampas dari para pengamen yang sering berkeliaran di kampung kami. Sejauh mata kami memandang, barangkali perempuan itu tak ada bedanya dengan pengamen-pengamen liar itu. Namun pastinya lebih mencekam. Lantunan shalawatnya begitu menyayat dan melengking ngeri. Kian hari kami semakin cemas. Segala pertanyaan bercampur dengan isu terpanas saat ini. Tentang datangnya hari kiamat dengan berbagai tanda-tanda yang meraung-raung terkabarkan pada berbagai media. Meledak-ledak di telinga kami.
***

Beberapa bulan kemudian, ketakutan kami semakin menjadi-jadi. Perempuan tua itu kian hari semakin menuju ke area masjid. Hingga kali ini, kami sangat kebingungan dan tak kuasa berbuat apa-apa. Ia masuk satu barisan jamaah shalat jumat di masjid kami. Ia menelusup dengan cepat ketika adzan dikumandangkan untuk menunaikan shalat jumat.
Ketakutan kami semakin meledak. Ia tetap bershalawat ketika kami sudah mulai shalat. Melengkingkan shalawat dengan kondisi tubuh yang terus mengenduskan bau busuk. Kami pun tak kuasa melihat daster dan payudaranya yang sama-sama kedodoran, begitu kumal berwarna hitam kekuningan akibat kotorannya sendiri. Kami jijik bercampur merasa tak enak sendiri, ketika harus shalat dengan terpaksa melihat payudara kendur yang kotor bergelantungan terombang-ambing ke kanan-kiri.
Kami semakin tak kusyuk berserah kepada Tuhan. Gurauan anak-anak kecil pun serentak mengumpat dengan semangat, “Orang gila! Orang gila!”
Pikiran kami melayang kemana-mana. Ketakutan bercampur kecemasan serta keresahan yang begitu dalam. Barangkali tak terlukiskan melalui doa apa pun. Suasana menjadi ricuh. Kami semakin sulit memusatkan pendengaran untuk khidmad tertuju imam atau suara lengkingan shalawat perempuan itu. Juga hidung kami sangat terganggu, ketika bau busuk benar-benar menebar ke seluruh penjuru masjid. Hingga parfum wangi yang kami kenakan tak mampu berkutik untuk sekadar barang sesaat menyegarkan hidung pemakainya sendiri.
***

Kami beserta seluruh warga berkumpul. Mengundang semua ustadz dan kiai sepuh di kampung kami untuk membantu menyelesaikan masalah yang tidak bisa dianggap ringan ini. Kami juga terpaksa mengundang para santri dari warga kami yang telah malang melintang menimba ilmu di kota-kota santri seluruh penjuru negeri ini. Melalui orangtuanya masing-masing, mereka disuruh pulang secara paksa. Entah mereka akan pulang naik pesawat atau unta. Yang pasti kami sangat berharap jika dalam diskusi nanti mereka sudah datang.
Ketika diskusi hampir dimulai, tepat pukul sepuluh malam. Mereka, para santri telah tepat waktu untuk ikut bermusyawarah. Kebetulan kami selenggarakan di halaman masjid tempat tragedi perempuan tua itu terjadi.
Kami berunding sangat panas. Hingga dini hari kami belum juga menemukan jalan keluar. Kami sempat putus asa untuk menanggulangi kehadiran perempuan tua itu. Namun kemudian ada warga yang nyeletuk, “Bagaimana kalau masjid dipindah saja? Kita bongkar dan dibangun lagi di tempat lain.”
Akhirnya seluruh warga menyetujui ide dari salah seorang warga kami. Semua sepakat, termasuk para pengurus masjid, para santri, serta seluruh kiai sepuh yang menjadi imam di masjid kami.
***

Keesokan harinya, kami membongkar dan memindahkan masjid sesuai kesepakatan musyawarah malam itu. Kami mengevakuasi masjid beserta seisinya. Kami gunakan kembali barang-barang yang masih layak pakai, dan kami tinggalkan jika sudah tidak layak. Untungnya bahan-bahan pokok bangunan, batu-batu pondasi dan batu bata masih dapat kami gunakan kembali. Termasuk juga keramik yang masih dapat kami bongkar, dan hanya sedikit saja yang pecah ketika kami congkel satu persatu.
***

Pada suatu jumat, masjid sederhana telah dapat kami gunakan untuk kembali berjamaah. Walau masih belum sempurna jadi, namun sudah dapat kami naungi untuk beribadah. Masjid yang kelak akan menjadi sejarah tersendiri bagi anak dan cucu kami.
Seusai jumatan, kami merasa suasana semakin pagi. Hari begitu cerah. Secara tidak sengaja kami bersama-sama berjalan menuju area masjid yang lama. Kaki kami seakan memutar sendiri untuk menyambangi tempat bersejarah itu. Semua serentak mengikuti. Karena bagaimanapun inilah hari jumat pertama kami berjamaah shalat jumat di masjid yang baru saja kami pindahkan.
Selepas sampai di depan area masjid lama, kami melihat perempuan tua itu berdiri tepat pada titik yang dulu digunakan sebagai tempat imam memimpin jamaah. Ia berdiri tegak. Tetap mengumandangankan shalawat. Namun kali ini jauh lebih melengking dari sebelumnya.***

Sanggargema, Juli 2015

Selasa, 30 Januari 2018

Hikayat Penyakit Hati (Tribun Jabar, 21 Januari 2018)

Hikayat Penyakit Hati
■cerpen Setia Naka Andrian


Aku ingin suatu saat menemukan orang yang menjual hati. Merelakan salah satu organ terpenting dalam tubuhnya untuk dijual kepadaku yang kali ini sangat membutuhkan. Tentunya hati yang belum terluka seperti hatiku ini. Berapapun harganya pasti akan kubeli. Karena setidaknya aku masih memiliki sisa warisan rumah beserta tanahnya, itu satu-satunya. Apapun taruhan untuk mendapatkan hati yang baru, pasti akan kukorbankan. Aku pun mau bila orang itu menghendaki tukar tambah dengan hatiku, walaupun nantinya orang itu akan menanggung beban hatiku.
Sungguh, aku harus segera menemukan hati, kemanapun akan kucari. Karena kali ini aku merasa tak punya pilihan lain. Sakit hatiku telah terlampau akut. Tak ada yang mampu menyembuhkan. Beberapa kali berkunjung kepada bermacam-macam ahli psikologi namun hasilnya tetap saja nihil. Beberapa kali hinggap di tempat-tempat hiburan dengan berbagai macam minuman keras termahal yang kutenggak hingga ke sebuah lokalisasi dengan sejuta perempuan label atasan, namun semuanya tak mampu mengobati. Karena hati, aku telah kehilangan hatiku. Termasuk kedua orangtuaku juga seorang adikku, mereka telah mati terbunuh perempuan yang sempat mengaduk-aduk hatiku.
Perempuan itu telah menggondol seluruh isi rekening dan surat-surat tanah milik keluargaku yang sebelumnya telah dipercayakan semua kepadaku. Harta yang seharusnya digunakan untuk pengobatan bapakku yang sedang mengidap kanker mata yang sangat ganas. Akhirnya bapakku meninggal.
Selanjutnya ibuku sakit-sakitan akibat tertekan hatinya, lagi-lagi karena hati. Ibuku mati karena tertekan akibat kematian bapakku dan juga karena belum bisa menerima setelah kehilangan seluruh harta benda yang telah lama dikumpulkan, yang sebelumnya diniatkan pula untuk naik haji bapak dan ibuku. Karena ibuku terlampau memikirkan itu dengan hati, maka akhirnya ibuku menyusul bapakku.
Setelah itu giliran adik perempuanku yang sejak lahir mengidap keterbelakangan mental, dan karena sudah tidak ada lagi yang mengurus. Maka ia dibawa oleh tetangga ke sebuah panti asuhan. Namun sungguh malang nasib adikku, setelah beberapa bulan dititipkan, panti asuhan itu terlibat kasus penjualan anak.
Akhirnya adikku pun telah resmi hilang, hingga sekarang belum ada kabar yang jelas. Ada yang bilang telah dijual di luar negeri, dijadikan apa aku kurang tahu. Yang pasti dari kepolisian pun tak becus mengusut kasus tak berduit itu. Karena keseluruhan korbannya adalah anak dari orang-orang terpinggirkan dan bahkan anak-anak yang sudah tidak memiliki keluarga ataupun sanak saudara. Aku pun akhirnya mencoba ikhlas kehilangan bagian hidupku yang terakhir dan satu-satunya itu.
***

Suatu hari aku mencoba keluar rumah, berjalan mengikuti langkah yang entah menuju kemana. Yang pasti tujuan utamaku adalah menemukan hati. Setiap menemui orang, aku menanyakan di mana ada toko, warung, atau apa saja yang menjual hati. Namun mereka malah menganggap aku gila, dan mengumpat yang bermacam-macam kepadaku. Aku pun tidak mempedulikannya, aku terus berjalan dan semakin menjauh dari rumah, terus berlari meninggalkan semakin jauh.
Setelah berjalan cukup jauh, aku melihat kerumunan orang. Aku pun langsung mendekati. Siapa tahu di situ sedang ada perhelatan tawar-menawar hati. Benar, ramai sekali. Aku semakin yakin kalau di situ sedang ada tawar-menawar hati. Benar sekali, aku mendengar mereka meneriakan hati, “Hatimu rusak! Kau sungguh rusak! Kau taruh di mana hatimu, Kakek?”
Ternyata benar, kakek tua itu terluka. Darahnya mengucur di sekujur tubuh dan membasahi bajunya di sekitar dada. Ia pasti sedang ada masalah mengenai hatinya. Mungkin ia senasib denganku atau mungkin ia sedang mempertahankan hatinya yang hendak dirampas orang-orang itu. Ya, aku harus segera berbuat sesuatu untuk menyelamatkan kakek tua itu.
“Maaf, Tuan-tuan! Mau kalian apakan kakek tua tak berdaya ini? Apa salahnya hingga ia diperlakukan seperti ini?”
“Hai bocah ingusan, tahu apa kau ini? Jangan ikut campur urusan kami!”
“Ya, kau tidak tahu apa-apa! Mending kau pergi jauh dari sini! Sebelum kami akan mencelakakanmu juga!”
“Ya, cepat lekas pergi!”
Sial, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku harus cari cara untuk dapat menolong kakek tua ini. Tanpa banyak pikir, aku langsung membawa lari kakek tua itu. Kuseret dari mereka dan langsung kubopong di bahuku. Untungnya berat badannya ringan, tubuhku juga masih kekar. Jadi aku dapat leluasa membawanya lari. Walaupun dengan sedikit tergopoh aku lari dan mereka tetap mengejarku. Sampai di tikungan aku langsung menyelinap di semak. Aku mengendap-endap sambil menyibak jalan agar menghindar dari kejaran mereka.
Syukurlah, aku telah lari jauh dari kejaran mereka. Walaupun tergopoh dan sungguh terengah-engah. Kududukkan kakek tua ini di suatu tempat yang cukup aman dari kejaran mereka. Ia nampak gemetaran dan nyaris tak mampu berbuat apa-apa. Darah masih juga mengucur dan membasahi sekitar dadanya.
Hingga itu membuat aku tak tega untuk menanyakan sesuatu kepadanya. Sepertinya aku harus mencari sesuatu agar dapat menenangkannya. Mungkin ia lapar. Benar, sepertinya begitu. Wajahnya terlihat begitu pucat. Bibirnya memutih dalam giginya yang menggigil. Hingga ia tak mampu mengucap sepatah kata pun untuk merespon kehadiranku yang mungkin cukup asing baginya. Ya, aku harus segera menyarikannya makan. Apa saja, yang penting dapat mengganjal perutnya.
***

Ternyata benar, ia begitu kelaparan. Tanpa keluar kata ataupun sekadar sapa, ia langsung melahap beberapa pisang yang kubawakan dari memetik di pohon sekitar. Setelah itu ia terdiam dan memandangiku dengan penuh tanya yang aneh. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu, bibirnya nampak bergeming. Benar sekali, ia ingin berkata sesuatu. Ya, tubuhnya semakin mendekatiku dan tangannya berusaha meraih tubuhku.
“Anak muda,” datar suaranya menyapaku.
“Ya, Kek.”
“Kenapa kau menolongku?”
“Karena Kakek sedang membutuhkan pertolongan, maka aku berhak untuk menolongmu, Kek.”
“Sederhana itukah?”
“Sebenarnya tidak juga, Kek.”
“Lalu?”
“Awalnya aku tertarik ingin mendekati kerumunan waktu itu karena aku mengira saat itu sedang ada perdebatan tawar-menawar hati, maka seketika aku langsung berniat untuk mendekat.”
“Adakah sesuatu tentang hati yang kau maksud?”
“Aku sedang ingin mencari hati untuk menggantikan hatiku, Kek.”
“Maksudmu, hati yang termasuk salah satu organ tubuh manusia atau hati tentang perasaan manusia?”
”Keduanya, Kek.”
“Hahahahahahahahahaha.”
“Kenapa Kakek tertawa?”
“Kau gila!”
“Aku gila, Kek?”
“Ya, kau gila yang akut.”
“Maaf Kek, bukannya kata mereka hati kakek juga gila?”
“Ya, benar katamu. Hatiku memang gila. Tapi kenapa kau mau menolongku? Yang ternyata kau sudah tahu kalau hatiku gila. Apakah kau ingin mencari hati yang gila? Hahahahahahaha,”
“Sebenarnya ya tidak, Kek. Aku ingin mencari hati yang masih bersih. Hati yang mampu memberiku ketenangan, hati yang mampu meneduhkan hidupku, intinya ya hati yang tidak seperti hati yang kumiliki sekarang ini, Kek. Sakit hatiku telah terlampau akut. Tak ada yang mampu menyembuhkan. Beberapa kali berkunjung kepada bermacam-macam ahli psikologi namun hasilnya tetap saja nihil. Beberapa kali hinggap di tempat-tempat hiburan dengan berbagai macam minuman keras termahal yang kutenggak hingga ke sebuah lokalisasi dengan sejuta perempuan label atasan, namun semuanya tak mampu mengobati. Karena hati, aku telah kehilangan hatiku. Termasuk kedua orangtuaku juga seorang adikku, mereka telah mati terbunuh perempuan yang sempat mengaduk-aduk hatiku. Perempuan itu telah menggondol seluruh isi rekening dan surat-surat tanah milik keluargaku yang sebelumnya telah dipercayakan semua kepadaku. Harta yang seharusnya digunakan untuk pengobatan bapakku yang sedang mengidap kanker mata yang sangat ganas. Akhirnya bapakku meninggal. Selanjutnya ibuku sakit-sakitan akibat tertekan hatinya, lagi-lagi karena hati. Ibuku mati karena tertekan akibat kematian bapakku dan juga karena belum bisa menerima setelah kehilangan seluruh harta benda yang telah lama dikumpulkan, yang sebelumnya diniatkan pula untuk naik haji bapak dan ibuku. Karena ibuku terlapau memikirkan itu dengan hati, maka akhirnya ibuku menyusul bapakku. Setelah itu giliran adik perempuanku yang telah lama mengidap keterbelakangan mental, dan karena sudah tidak ada lagi yang mengurus. Maka ia dibawa oleh tetangga ke sebuah panti asuhan. Namun sungguh malang nasib adikku, setelah beberapa bulan dititipkan, panti asuhan itu terlibat kasus penjualan anak. Akhirnya adikku pun telah resmi hilang, hingga sekarang belum ada kabar yang jelas. Ada yang bilang telah dijual di luar negeri, dijadikan apa aku kurang tahu. Yang pasti dari kepolisian pun tak becus mengusut kasus tak berduit itu. Karena keseluruhan korbannya adalah anak dari orang-orang terpinggirkan dan bahkan anak-anak yang sudah tidak memiliki keluarga ataupun sanak saudara. Aku pun akhirnya mencoba ikhlas kehilangan bagian hidupku yang terakhir dan satu-satunya itu. Begitulah ceritanya, Kek.”
“Ya, aku cukup paham dengan masalahmu. Maukah kau menukar hatimu dengan hatiku?”
“Kakek yakin mau memberikan hati itu untukku?”
“Bila kau mau, ambillah. Silahkan, aku juga sudah terlalu tua dan aku rasa kau yang lebih membutuhkan hatiku yang sudah terlampau renta ini, hidupku pun pasti tidak akan lama lagi.”
“Tapi Kakek tidak memiliki penyakit hati kan? Selain hati yang gila itu, Kek?”
“Ya, tak ada. Aku hanya memiliki penyakit itu saja, hati yang gila, itupun hanya kata orang saja.”
“Ya, kalau begitu aku mau, Kek.”
***

Aku sangat bahagia. Langsung saja Kakek dan aku sepakat untuk bertukar hati. Terasa tak percaya dan tak sadar, aku merobek dadaku dan dada Kakek itu dengan sebilah batu tajam. Lalu kami saling bertukar hati, kakek itu merasa sangat kesakitan setelah kucongkel hatinya, begitu pula aku. Setelah hati kami bertukar, tubuh dan perasaanku terasa ringan dan melayang-layang. Sepertinya ada sesuatu yang aneh, begitu pula yang terjadi di sekitarku.
Pohon-pohon dan segala tumbuhan berubah menjadi warna-warni yang menyala indah dengan beraneka wewangiannya. Kakek itu pun tiba-tiba lenyap entah kemana, dan tiba-tiba banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka mendekatiku, tangan mereka mencoba meraihku dan sepertinya hendak mengambil hatiku. Mereka meremas-remas dadaku. Semakin keras dan menggila, terus meremas dan mengeroyok berebut tubuhku, mereka berteriak, “Beri aku hati! Hatiku kesakitan! Aku ingin memiliki hati yang sehat! Beri aku hatimu! Aku ingin memiliki hati yang suci! Hati itu ada di tubuhmu!”


Sanggargema, Desember 2016-2017

Minggu, 26 November 2017

Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 26 November 2017)




Menulismu Adalah

menulismu adalah
puisi di dalam lekuk pipi
yang tiba sesaat
selepas aku malu-malu
berselancar lemas
di atas telapak tanganmu

menulismu adalah
meneguk anggur
saat dunia sedang sibuk
memilih bercuriga
kepada kamu
kepada siapa saja
yang kerap urung bertemu

menulismu adalah
menyibak cahaya
yang kerap melarikan diri
dari balik jendela rumah
dari balik dada
yang melambatkan degubnya

menulismu adalah
tanda tanya
yang tak sempat
dikirimkan
sebagai pesan dan janji
yang tak pernah kunjung matang

menulismu adalah
kalimat pertama
yang sering kita lupakan bersama
sebelum memulai merapal tanya
mana luka
mana duka
mana binar matamu
yang sederhana

Kendal, November 2017


Aku Pesan Namamu

aku pesan namamu
dalam secangkir kopi
selepas adzan tak lagi bunyi
selepas kehilangan
tiada pernah dibaca lagi

aku pesan senyummu
dalam sekental rindu
selepas segalanya
urung mengetuk pintu
lupa datang di pagi-pagi

aku pesan namamu
dalam segelas teh pahit
dalam keheningan
yang diciptakan
dari gelagat matamu
yang tak lagi wajar
mengunjungi sunyi-sunyi

aku pesan namamu
saat semua orang tahu
jika aku adalah kegagalan itu
yang memilih pulang
untuk menemukan
nama-nama baru
selain dari nama-namamu

Kendal, November 2017


Jumat, 17 November 2017

Masyarakat Penerima dan Penyebar Saja (Wawasan, 16 November 2017)

Masyarakat Penerima dan Penyebar Saja
Oleh Setia Naka Andrian

Gerak kemajuan teknologi informasi seakan tak sebanding dengan jagat nalar masyarakat kita. Kini segala sesuatu dapat dengan mudah diterima dan betapa entengnya disebarkan begitu saja, kapan saja, di mana saja. Setiap detik, kita seakan kerap dibanjiri informasi yang tak lagi mampu terbendung. Hadir melalui beragam aplikasi media sosial di gawai dalam genggaman tangan kita.
Sungguh tak terbayangkan lagi, apa jadinya jika kita menjadi masyarakat yang begitu saja berterima atas informasi massal yang setiap detiknya menggedor ponsel kita. Kemudian kita tergoda untuk bergegas menyebarluaskannya, disalin dan disebar dengan menugaskan kepada ibu jari semata. Maka sudah, ratusan bahkan ribuan atau jutaan orang akan menerima informasi itu. Selanjutnya disebarkan lagi, lagi dan lagi oleh si penerima informasi itu. Kita seakan begitu saja lengah dengan godaan pahala jika turut serta menjadi penyebar informasi yang (masih) dianggap sangat bermanfaat itu.
Dengan dalih, apa salahnya jika turut membantu penyebaran informasi itu. Tidak memakan waktu, tidak memakan pulsa mahal, hanya dengan menekan tidak lebih dari tiga kali ketukan di layar sentuh ponsel pintar kita. Tentu akan beda dengan apa yang telah dilakukan oleh generasi pengguna telepon genggam saat masih berfungsi hanya untuk mengirim pesan singkat atau melakukan panggilan suara.
Kala itu, tentu dengan sangat pelan, santun, hati-hati, dan penuh perhitungan ketika hendak mengirim pesan singkat. Bahkan batasan karakter yang menentukan tingkat kemahalan pemakaian pulsa pun turut diperhitungkan. Dari hal itu, entah sadar atau tidak, kita seakan dipaksa agar menjadi para pengguna alat seadanya, seperlunya, tidak cerewet, dan tidak menjadi seseorang yang ketergantungan telepon genggam.
Ketika itu, belum didapati tradisi salin-menyalin dan tempel menempel menyebar informasi yang belum fasih kebenarannya. Belum ada pula penyebaran pengisahan-pengisahan yang tak menentu tuannya. Bahkan, belum kita dapati orang-orang yang seakan begitu mudah menjadi pendakwah, yang kerap kita temukan dalam berbagai grup di berbagai aplikasi di ponsel pintar kita.

Kembali ke Masa Silam
Tradisi yang kita alami melalui ponsel pintar saat ini, seakan menggiring kita untuk kembali pada masa silam yang telah jauh terlewatkan. Pada zaman ketika kita masih mengamini penyebaran-penyebaran kisah, cerita, informasi, atau segala apa pun tanpa mengenal siapa yang menuliskan atau menciptakannya. Kita kenali dengan karya cipta dari NN. Jika ada sesuatu yang bermasalah dari apa yang kita sebarkan, maka akan segera bilang, “Itu bukan saya yang membuat, saya sekadar menyebar saja, menyalin dari grub sebelah!” Beres, merasa aman dan lari dari tanggung jawab!
Namun bagaimana lagi. Kini ponsel pintar telah begitu melekat di genggaman kita. Siapa pun seseorang itu, ketika nampak dalam sebuah pertemuan khalayak ramai, di ruang publik, saat menunggu angkutan, saat menunggu jadwal penerbangan, bahkan saat berpose untuk mengabadikan momen yang (dianggap) istimewa dalam hidup, selalu nampak mentereng dengan genggaman ponsel pintar yang tentu dengan harga tak murah. Lengkap dengan ragam aplikasi yang menggairahkan dan menggoda untuk selalu disentuh.
Sudah sangat jarang, bahkan semakin tiada lagi orang-orang menyentuh buku-buku, koran, atau majalah ketika menghabisi waktu tunggu. Bahkan di sudut-sudut kampus atau di segenap lembaga pendidikan sekalipun. Jarang kita temukan seseorang berkhusyuk menyibak berlembar-lembar kertas bacaan di pangkuannya. Seakan sudah tak terelakkan lagi, kita lebih memilih memenuhi kuota (pulsa) internet dari pada memasukkan judul-judul buku atau berlangganan media massa dalam daftar belanja bulanan.
Upaya pemenuhan nutrisi berliterasi seseorang seakan telah sangat cukup hanya dengan bersentuhan dan menggeser berjubel tawaran informasi yang menggoda di layar ponsel pintarnya. Sudah tentu, tidak sedikit kita temukan tawaran-tawaran itu sebatas informasi yang terpenggal-penggal. Masih dalam permukaan dan sangat perlu ditimbang lagi kedalamannya.
Untuk kali kesekian, kita akan kerap mengamini untuk tidak sanggup mengelak. Bahwa ponsel pintar seakan sudah terlanjur begitu lekat di genggaman tangan. Tiada lagi jarak antara ponsel dan tubuh kita. Seakan tiada pula upaya yang mampu menuntun kita untuk lebih ketat dalam menyaring segala sesuatu yang menggedor pintu ponsel pintar kita. Memilah segenap informasi yang kerap mengguyur dalam setiap detiknya. Kita begitu lemas, kekenyangan, kebingungan, seakan dibuat tak kuasa berkilah apa-apa.

Manusia Gemar Bercuriga
Lebih-lebih saat ini, telah begitu marak grup-grup diciptakan di berbagai aplikasi di ponsel pintar kita. Dari mulai grup alumni sekolah, komunitas, teman kerja, hingga grup warga, yang kerap kali memicu timbulnya persoalan-persoalan baru. Padahal yang sudah seharusnya, grup yang diciptakan melalui beberapa aplikasi dalam ponsel pintar kita menjadi ajang silaturahmi dan bertegur sapa. Namun naga-naganya, segala itu justru semakin memicu kita untuk semakin lebih bertaring untuk berpendapat, menghujat, mengumbar, dan bahkan menebar kebencian-kebencian. Kita seakan selalu dibuat belum usai membersihkan prasangka terhadap sesama, dalam ruang-ruang media sosial kita.
Disadari atau tidak, kini kita seakan semakin berterima menjadi manusia yang lebih gemar bercuriga daripada berpositif pandang terhadap sesama. Segala sesuatu dengan mudahnya menjadi nyinyir batin, begitu sensitif, bahkan membuat kita semakin bersumbu pendek atas segala yang nampak atau hadir di hadapan kita, dalam layar grup di ponsel kita. Entah terkait kebahagiaan, kesuksesan, atau bahkan kegagalan yang sedang melanda sesama kita.
Tentu, segala itu contoh sederhana dari muara kemalasan kita untuk menekuri menjadi masyarakat pencipta. Bukan semata menjadi generasi penerima dan penyebar saja. Generasi yang sibuk menyuntuki banyak hal yang diterima dan kemudian disebarkan begitu saja, tanpa berupaya untuk menjadi generasi pencipta dan kemudian menyebarkan gagasan/ide-idenya. Dan, sepertinya kita sebagai generasi yang (merasa) lebih dewasa, mengemban pekerjaan rumah yang tidak enteng. Jika keseharian kita saja masih terasa diperbudak alat, lalu bagaimana dengan nasib dan masa depan jagat nalar generasi di bawah kita?***