Jumat, 27 Mei 2016

Pak Ogah, Dirindu dan Dicaci (Wawasan, 12 Mei 2016)

Pak Ogah, Dirindu dan Dicaci
Oleh Setia Naka Andrian

Sepertinya kita seakan merasa kuwalahan sebagai pemakai jalan yang kian hari semakin padat saja. Kita tentu sangat kesusahan jika harus menyeberang di jalanan yang begitu padat. Lebih-lebih jika pagi hari, suasana jalanan begitu ramai dengan kendaraan orang-orang yang memburu waktu agar tidak telat menuju tempat kerja. Belum lagi siswa-siswa sekolah, bus, dan angkutan umum lainnya dengan segenap asap kenalpot yang terkadang begitu menyebalkan bersanding dengan parfum yang sudah kita kenakan di segenap badan, polesan wajah para perempuan pun terasa cepat kusam, itu menyakitkan. Menambah semakin cemas, lautan kendaraan bermotor berlalu-lalang seakan tanpa jeda. Hingga akhirnya, entah menjadi sebuah keberuntungan atau malah menjadi semacam pertolongan buat kita, jika tidak sedikit kita begitu dimanjakan oleh Pak Ogah, sosok berbendera dan bercadar atau berhelm yang senantiasa membantu kita menyeberang di jalan-jalan yang belum disambangi lampu merah, di persimpangan jalan atau jalan putaran balik jalan-jalan ramai di kota kita.
Pak Ogah, begitulah sebutannya. Mereka mau tidak mau, telah banyak membantu kita. Mereka tidak sedikit yang hanya meminta sekadarnya (seikhlasnya) melalui sebuah ember kecil, mengharap sebatas recehan dari para pengguna jalan. Namun ada pula, sebagian dari mereka yang ternyata cukup meresahkan dengan meminta paksa. Namun memang, kenyataan semacam itu terjadi tidak begitu saja. Tentu sangat beralasan. Entah yang dimaksudkan mereka dengan dalih membantu, atau bahkan mengemban misi soasial untuk tidak sekadar membantu pengguna jalan semata, namun meringankan beban Polisi yang sedang mengatur arus lalu lintas. Tentu itu sangat wajar, jika kita melihat jumlah pengatur lalu lintas (Polisi) di negeri ini seakan tidak sebanding dengan perempatan-perempatan atau persimpangan jalan yang begitu ramai pada tiap harinya.

Pengganggu atau Penertib
Pak Ogah, atau kerab disebut sebagai Polisi Cepek, seakan menjadi produk jalanan modern kita yang kehadirannya terkadang dirindu saat mampu menertibkan jalan, namun ada pula yang menganggap kehadirannya sangat mengganggu arus perjalanan kita. Tentu hal tersebut sangat wajar. Tidak sedikit pula sebagian dari mereka yang dinilai sangat meresahkan masyarakat. Misal saja ketika mereka yang awalnya berdalih ingin menolong ketika ada perbaikan jalan, ketika jalanan terpaksa harus dibuka dan ditutup secara bergantian. Mereka seakan mengatur dengan begitu apik. Dari sisi yang berlawanan, mereka saling berkopmunikasi jalur mana dulu yang akan diperkenankan untuk berjalan. Bahkan tidak sedikit pula di antara mereka tidak hanya menggerakkan simbol-simbol melalui bendera saja, namun sudah merelakan untuk memanfaatkan alat telekomunikasi semacam Handy Talkie (HT) atau bahkan rela menghabiskan pulsa telepon genggamnya untuk berkomunikasi mngatur jalanan.
Namun jika kita sempatkan menengok beberapa kicauan masyarakat di media sosial, atau barangkali di antara kita ada yang sempat mengalami sendiri, tidak sedikit Sdi antara mereka yang mengumpat ketika para pengguna jalan tidak memberi imbalan, menggedor kendaraan kita, sambil melotot dan marah-marah dengan teriakan-teriakannya. Lebih-lebih, sangat dimanfaatkan mereka jika perbaikan-perbaikan jalan dilalui kita pada saat malam hari atau di jalanan-jalanan yang sepi. Pada posisi tersebut, mereka seakan begitu memanfaatkan untuk memeras. Tentu sangat meresahkan. Mengingat, tidak banyak uluran-uluran tangan aparat Polisi yang menjangkau lalu lintas yang kita temui pada posisi semacam itu. Apalagi malam hari, sungguh sangat sedikit. Namun kita pun tak bisa menyalahkan. Barang tentu memang belum begitu banyak aparat penegak lalu lintas kita, mengingat negeri ini sangat luas. Masih banyak pula jalan-jalan kota, jalan-jalan daerah-daerah di negeri ini yang masih kerap rusak dan selalu ada perbaikan. Bahkan, masih banyak pula jalanan pedalaman yang masih bobrok. Di situlah, mereka para oknum yang berniat jahat mulai beraksi dengan berjuta dalih demi mendapatkan keberuntungan-keberuntungan, yang bagi mereka sangat mengasyikkan.
Keberadaan Pak Ogah hingga saat ini seakan masih terbelah antara dirindukan dan dicaci. Barang tentu, bagi para Polisi Cepek tersebut merasa sangat menguntungkan, sebab menjadi sebuah lapangan kerja tersendiri. Misal saja mengenai pengisahan Wawan (27) perantau dari Surabaya, yang saya kutip dari perbincangan dari salah satu media sosial. Dikisahkan Wawan yang sehari-harinya beroperasi di perempatan sebuah ruas jalan di Cilincing, Jakarta Utara. Ia bersama 3 orang temannya sudah setahun beroperasi. Diakui menjalani profesi tersebut karena tidak mempunyai pekerjaan lain setelah diberhentikan dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik di Jakarta Barat. Wawan dan ketiga temannya mengaku senang dengan penghasilan dari mengatur lalu lintas kendaraan di persimpangan yang cukup ramai tersebut. “Kalo dihitung-hitung mah lumayan banget. Apalagi saya setiap hari emang di sini. Enggak pernah bolos, kecuali kalau emang sakit,” tutur Wawan. Bersama ketiga temannya, Wawan berpenghasilan 60 ribu sehari dalam waktu 2 jam. Jadi sehari mereka bisa dapat kesempatan 2 kali (pagi dan sore) atau 4 jam, maka kisaran rata-rata penghasilannya mencapai 120 ribu dalam sehari. Sungguh lumaan menguntungkan bagi mereka. Doa mereka, tentu ingin selalu jalanan ramai. Namun tetap saja, segala itu masih kita tunggu bagaimana pemerintah memiliki upaya mulia untuk menyelesaikannya. Penghakiman yang tepat dan tidak merugikan bagi siapa saja. Utamanya, tidak merugikan pula bagi para Polisi Cepek tersebut. Semoga.***


─Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Penulis buku puisi, “Perayaan Laut” (April 2016), dan menyiapkan penerbitan buku puisi “Manusia Alarm”.

Selasa, 03 Mei 2016

Balutan “Luka” di Balik Perayaan Laut

Sebuah Catatan Pendek atas Kumpulan Puisi Setia Naka Andrian *)
Oleh Sawali Tuhusetya


Sebagai sebuah produk budaya, teks sastra tak pernah terlahir dalam situasi kosong. Ia berkelindan dengan berbagai persoalan dan dinamika sosial yang terjadi di seputar kehidupan sang sastrawan. Tidak berlebihan apabila teks sastra tak pernah diam; ia terus menyuarakan luka, derita, bahkan juga kegelisahan sang sastrawan. Teks sastra, dalam konteks demikian, bisa dijadikan sebagai medium sang sastrawan dalam menyuarakan kegelisahan, luka, dan derita yang mengendap dalam ruang batinnya.
Demikian juga halnya dengan teks puisi. Sebagai genre sastra, teks puisi juga tak pernah hadir dalam situasi kosong. Ia senantiasa mengusung berbagai persoalan yang berkelindan dalam diri personal sang penyair (jagat cilik) dan berbagai dinamika sosial yang terjadi di seputar kehidupan sang penyair (jagat gedhe). Melalui kepekaan intuitifnya, sang penyair senantiasa terlibat dalam pergulatan kreatif untuk menyuarakan kegelisahan yang mengerak dalam gendang nuraninya. Melalui bahasa sebagai medium utama dalam berekspresi, sang penyair melakukan transpirasi total kepenyairan sesuai dengan gaya tutur dan licentia poetica yang dimilikinya. Dalam proses pergulatan kreatif yang semacam itu lahirlah berbagai genre puisi dengan corak khasnya masing-masing.
Puisi-puisi karya Setia Naka Andrian (SNA) yang terkumpul dalam Perayaan Laut (PL) pun –dalam penafsiran awam saya– tak luput dari pergulatan yang semacam itu. SNA dengan amat sadar memilih puisi sebagai teks yang dianggap tepat untuk memberikan “kesaksian” dan menyuarakan kegelisahan yang mengendap dalam ruang batinnya. Kepiawaian dalam merawi kosakata, idiom, atau langgam bahasa agaknya dimanfaatkan benar untuk mengekspresikan berbagai persoalan yang bernaung di bawah jagat cilik dan jagat gedhe yang membayang dalam gendang nuraninya. Tak berlebihan kalau sejumlah puisi yang terantologikan dalam PL menyiratkan berbagai persoalan personal dan sosial yang menggelisahkan nuraninya; semacam cinta, idealisme, religi, atau hajat kehidupan yang yang lain.
Tema yang didedahkan dalam setiap puisinya pun tidak terjebak dalam narasi-narasi besar yang berambisi kuat untuk melakukan sebuah perubahan. SNA lebih suka mengakrabi persolan-persoalan keseharian yang seringkali luput dari perhatian banyak orang. SNA agaknya sangat menikmati betul ketika sedang berproses kreatif. Tema-tema keseharian yang diangkatnya justru mampu menumbuhkan imaji-imaji “liar” dan mencengangkan. Ibarat orang mau memetik mangga, ia tidak langsung melemparnya dengan batu, tetapi ia panjat dengan penuh kenikmatan sambil merapal mantra-mantra suci yang dianggap mampu menjadi sugesti untuk mendapatkan buah mangga yang diinginkannya. Dalam proses semacam inilah, SNA menemukan berbagai imaji dari “dunia lain” yang dianggap “liar” dan “mencengangkan”.
***
Jika ditilik dari muatan isi, 74 puisi yang terkumpul dalam anotologi PL sesungguhnya merupakan kisah tali-temali antara jagat cilik dan jagat gedhe yang yang bernaung-turba dalam kehidupan SNA. Sebagai sosok anak manusia yang secara biologis memiliki naluri sebagaimana makhluk Tuhan yang lain, SNA tak luput dari kisah pergulatan dengan masa depan yang “disembunyikan”, percintaannya dengan lawan jenis (fa?), aktivitasnya sebagai awak Teater Gema, hubungan kekerabatan dengan sanak-saudara, atau berbagai respon dan “kesaksian”-nya terhadap berbagai fenomena sosial yang mencuat ke permukaan.
Melalui kelincahannya dalam bertutur dengan permainan metafora yang secara estetik membuka ruang multitafsir, “keliaran” imaji yang mencengangkan tampak melalui dekonstruksi logika yang secara diametral sangat kontradiktif dengan logika awam. Simak saja: //Para masa depan terlihat lelah yang berjamaah/para masa depan mengantuk/lalu kita giring mereka pulang ke rumah/Kita ajak para masa depan untuk minum susu/kemudian mengajak mereka bergegas ke kamar mandi// (“Masa Depan yang Kelelahan”: 93); //kau pasti akan selalu gemetar/setiap mendengar kabar dari rumah/setiap pagi, ponselmu berkeringat/tak segan memukul mata dan telingamu// (“Perempuan Rantau”: 82); //Hari-hari telah sepakat/menjatuhkan bibir kita di laut/agar ikan-ikan semakin gemar/menidurkan petaka kita/dan membunuhnya pelan-pelan/dengan penuh ciuman// (“Perayaan Laut”: 72); //Hujan, maukah kau menjadi temanku/pagi ini sungai terlanjur menggantung dirinya/di atap kamar// (“Hujan, Maukah Kau Jadi Temanku”: 64).
Sebagai pemilik “kemerdekaan berekspresi”, tentu sah-sah saja SNA melakukan proses dekonstruksi logika untuk menciptakan metafora dalam menggarap persoalan yang dipuisikannya. Ia tidak harus mengikuti arus metafora “mainstream” yang sering didaur-ulang untuk menciptakan kekuatan dan daya estetik. Persoalan apakah puisinya bisa dipahami orang lain atau tidak, itu soal lain. “Pulchrum dicitur id apprensio”, begitulah kata filsuf skolastik, Thomas Aquinas. Adagium yang berarti “keindahan bila ditangkap menyenangkan” itu menyiratkan makna bahwa keindahan menjadi mustahil menyenangkan tanpa media sosialiasi. Begitulah, pergulatan kreatif SNA sudah tertunaikan ketika ia berhasil merawinya ke dalam sebuah teks puisi.
Yang tidak kalah menarik, selalu saja ada balutan “luka” yang membayang dalam sebagian besar puisi SNA. Simak saja pada puisi bertitel “Bidadari Tidur dalam Kitab Suci” (:11), “Beberapa Nama yang Sering Muncul di Ponselmu” (:25), “Untuk Pernikahan yang Tak Sebatas Ciuman” (:27), “Kaki dan Kenangan Kita yang Terpisah-pisah” (:29), “Dari Perempuan Elegan hingga Perempuan Es Degan” (:34), “Kita Lahir dari Musim yang Bersebelahan” (:36), “Takdir yang Mempertemukan Kita” (:38), “Seorang Pemuda di Hati Kita” (:43), “Ada yang Tenggelam di Balik Rel Kereta” (:44), “Perihal Sandiwara” (:47), “Munajat Air Mata” (:52), “Tabrakan” (:55), “Seorang Luka” (:57), “Perempuan Berhati Kaca” (:58), “Rindu” (:61), “Lampu Merah” (:62), “Kehidupan Aneh di Balik Jendela” (:63), “Hujan, Maukah Kau Jadi Temanku” (:64), “Negeri Berhidung Panjang” (:66), “Perayaan Laut” (:72), “Perempuan yang Ingin Menjadi Kereta” (:75), atau “Kematian Hari-hari yang Menjadi Kamarmu” (:80).
Meski bertutur tentang “luka”, puisi-puisi tersebut tidak lantas terjebak dalam ungkapan-ungkapan vulgar yang sarat dengan sumpah serapah. Melalui permainan metaforanya, “luka” dibalut dalam kemasan bahasa tutur yang subtil dan lembut. //kau terus membayangi perjalananku/yang semakin subuh mendoakan cinta-cinta/kepada para tetangga yang sedang asyik menyeruput malapetaka dalam rahim istrinya// (:25), //dan orang-orang di sekitar kita/akan membaca hikayat kematiannya masing-masing/yang selalu bermula-mula/karena kesepakatan kita/adalah doa pertanggungjawaban lupa// (:27), //Begitulah takdir, mempertemukan kita/dari perjalanan dan pengkhianatan-pengkhianatan/Ia yang membawa kita menelusuri jejak dan luka-luka// (:38), atau //hendak kau kirim ke mana lagi/air matamu/lihatlah, sungai tiba-tiba dangkal/kesedihan meriwayatkan senyumnya/sebab keridaan tlah tak berpenghuni,/mereka bunuh diri/menggantung kakinya/setinggi-tinggi di atas kepala// (:52).
“Luka” dalam PL agaknya bukanlah fokus dan basis utama SNA dalam berproses kreatif. “Luka” lahir sebagai bagian dari “digresi” pemaknaan arus hidup yang mustahil dihindarinya ketika luka-luka peradaban masih menganga di tengah panggung kehidupan sosial. SNA hanya sekadar mewartakan dan memberikan kesaksian tentang “luka” yang memfosil dalam ceruk kehidupan umat manusia yang belum sepenuhnya terpotong oleh sejarah. Balutan “luka” dalam konteks PL juga bisa dimaknai sebagai pengejawantahan totalitas sikap SNA yang ingin tetap “setia” pada jalur kepenyairan yang “khas” menjadi miliknya; bertutur tentang persoalan apa pun, metafora tetap menjadi bagian esensial dalam sebuah teks puisi. Dengan kata lain, esensi puisi sebagai teks sastra akan kehilangan “roh”-nya apabila menanggalkan bahasa sebagai medium utama dalam membangun kekuatan dan daya estetika.
***
Sebagai sebuah catatan pendek, tulisan ini mustahil dapat menampilkan telaah secara utuh dan lengkap terhadap puisi-puisi SNA dalam PL. Masih banyak aspek dan unsur yang terabaikan. Menelaah puisi SNA membutuhkan kecermatan interteks secara intens. Saya berharap catatan pendek ini bisa dilengkapi melalui diskusi bersama.
Nah, selamat berdiskusi!
***
—————————————————–
*) Disajikan dalam “Bedah Buku Puisi Perayaan Laut Karya Setia Naka Andrian” pada Selasa, 17 Mei 2016 (pukul 19.00-selesai) di Kedai Kopi Jakerham, Sekopek, Kaliwungu” yang digelar oleh Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK)

Sumber: http://sawali.info/2016/05/18/balutan-luka-di-balik-perayaan-laut/

Kartini dan Keajaiban Surat (Wawasan, 25 April 2016)

Kartini dan Keajaiban Surat
Oleh Setia Naka Andrian

Bulan April, seakan kerap kali menjadi beban kita saat ini. Berat rasanya jika kita mengenang momen mulia yang setiap tahun diperingati ini hanya sebatas selebrasi semata, tanpa ada upaya pemuliaan-pemuliaan di dalamnya. Kita tentu paham, ada banyak upaya besar yang disuarakan RA. Kartini pada masa itu, hingga saat ini berdampak besar bagi bangsa kita ini, khususnya bagi kaum perempuan. Misalnya saja surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada teman-temannya di Eropa. Surat-surat yang berisi pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial masyarakat kita saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Kartini dalam sebagian besar surat-suratnya mengisahkan keluhan dan gugatan-gugatan, di antaranya perihal budaya di Jawa yang seolah-olah menghambat kemajuan perempuan. Misalnya saja terkait keterbatasan pemerolehan pendidikan bagi kaum perempuan.
Selepas Kartini wafat, Mr. J. H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini kepada teman-temannya di Eropa tersebut. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda. Buku tersebut berjudul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya" (terbit 1911). Buku dicetak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. Selanjutnya pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran”, diterjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah kembali "Habis Gelap Terbitlah Terang" versi Armijn Pane (Sastrawann Pujangga Baru). Surat-surat Kartini semakin diminati di mana-mana, hingga akhirnya juga pernah terbit dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan Agnes L. Symmers. Selain itu, juga pernah diterjemahkan dalam daerah, yakni bahasa Jawa dan Sunda.
Hingga kini, kita tentu selalu mengingat, sejak kita masih duduk di bangku SD, kelahiran Kartini selalu diperingati. Setiap tahun, Jepara dan 21 April selalu terngiang-ngiang di benak kita. Walau usia hidupnya hanya seperempat abad (25 tahun) namun hal besar telah dicapai. Kartini diriwayatkan sebagai seorang tokoh perempuan Jawa yang mempelopori kebangkitan perempuan pribumi. Putri R.M. Sosroningrat dan pasangan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat ini memberi angin segar bagi kaum perempuan. Ia sepenuhnya memperjuangan perempuan agar memperoleh kebebasan-kebebasan, berotonomi dan memperoleh persamaan hukum setara dengan laki-laki. Hingga dampak besar dapat kita simak saat ini, pemimpin-pemimpin di negeri kita ini dari mulai kepala desa, kepala daerah, bahkan kepala negara sempat dipimpin oleh kaum perempuan.
Barangkali, baru kali itu terdapat surat-surat seorang perempuan pribumi yang begitu menarik perhatian masyarakat Belanda. Selanjutnya, pemikiran-pemikiran yang dilambungkan Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Kartini mengubah pandangan kita terhadap perempuan. Kita semakin meyakini dan mengamini keberadaan mereka. Bahkan suatu ketika jika perempuan begitu menakjubkan dalam sikap laku dan gerak berkehidupan, kita begitu percaya hingga mengangkat tinggi posisi mereka di atas kita. Kita sangat yakin, pemikiran-pemikiran Kartini begitu menginspirasi generasi kita. Namun apakah segala itu hanya mampu kita kenang begitu saja. Kita rayakan setiap tahun. Kita ledakkan setiap April. Sedangkan jika sejenak kita kontemplasikan kecil-kecilan, kita saat ini sudah terasa malas menarasikan segala yang kita keluhkan dan yang kita gelisahkan dalam berkehidupan ini.
Kita seakan malas beranjak untuk mencatat hal-hal kecil di sekitar kita, dan barangkali segala yang kita anggap kecil itu belum tentu hal kecil pula di mata orang-orang. Kita lebih memilih berdiam di kamar, mendekam dalam kondisi paling sepi, berpeluk gawai, lalu berkicau di beberapa media sosial, bercakap-cakap dengan beberapa teman melalui pesan pribadi, begitu serampangan, tak terarah, dan pasti tak terdokumentasikan. Kita terkadang tak merasa, begitu berarti pengisahan-pengisahan semacam yang dilakukan Kartini pada masa itu. Ia begitu rajin menulis surat-surat untuk teman-temannya di Eropa, terkait segala yang digelisahkannya tentang kehidupan perempuan pribumi yang masih begitu banyak pengekangan-pengekangan, misalnya. Kaum perempuan yang belum memiliki persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.
Walaupun begitu, perjuangan-perjuangan perempuan terhadap kaumnya hingga saat ini masih terus digaungkan, misalnya saja pengisahan Dewi Nova yang begitu memperjuangkan diri, keluarga, dan anak-anaknya, dalam buku kumpulan cerita pendeknya, Perempuan Kopi (2012), dalam penggalan cerpennya, Belum tuntas khotbah pagi itu, suara gergaji mesin di kebun kopi menghentak jemaat. Beberapa nama menjerit, menangis berguling-guling, seolah gergaji itu merobek tubuh mereka. Anak-anak menangis kencang ketakutan, dipeluk erat ibu mereka. Melalui sepenggal pengisahan tersebut, kita seakan disuguhkan kenyataan hidup kita yang masih lekat dengan posisi perjuangan kaum perempuan (ibu) yang tiada batas. Pada segala lapis kehidupan kita, sampai kapanpun posisi perempuan masih selalu kita perhitungkan.***


─Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Penulis buku puisi, “Perayaan Laut” (April 2016), dan menyiapkan penerbitan buku puisi “Manusia Alarm”.

Rabu, 30 Maret 2016

Digitalisasi Ojek dan Taksi (Wawasan, 30 Maret 2016)

Digitalisasi Ojek dan Taksi
Oleh Setia Naka Andrian

Tentu kita sangat menyadari, betapa kian hari, diri kita ini semakin malas beranjak dari titik aman dan kenyamanan. Seakan rasa-rasanya diri kita ini ingin dilayani segalanya, diantar, dibelikan, semua diimpikan datang sendiri ke hadapan kita. Seperti halnya akhir-akhir ini marak diperbincangkan kontroversi Gojek, kemudian dilanjutkan dengan kemunculan digitalisasi bagi pelanggan taksi. Keduanya serupa, seolah memanjakan diri kita dengan segenap kemudahan-kemudahan dalam berkehidupan. Sama-sama memanfaatkan aplikasi dalam hal pelayanan kepada para pelanggan.
Sempat dikabarkan di merdeka.com terkait kabar aplikasi pemesanan Gojek yang menjadi sorotan berbagai pihak. Berawal dari sikap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mendukung para tukang ojek untuk bergabung dengan aplikasi tersebut. Sontak, sikap Ahok itu dikritik oleh Ketua DPD Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan. Ditimpali tindakan tersebut melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Angkutan Umum Orang dan Barang, yakni sepeda motor bukan diperuntukkan sebagai angkutan umum orang dan barang. Lalu bagaimana dengan kemunculan digitalisasi pelanggan taksi, apa lagi timpalan yang akan mendarat sebagai dalih pembelaan terhadap gerak konvensional yang sudah lazim mereka lakukan selama berpuluh-puluh tahun?
Sebelum kemunculan kedua ‘momok’ bagi para tukang ojek dan sopir taksi ‘konvensional’, sebenarnya telah banyak beredar berbagai usaha jasa yang disertai dengan jemput dan antar barang. Misalnya saja, jasa fotokopi atau mencetak (printing) dokumen. Para pelanggan dimudahkan dengan dijemput orderannya, hingga setelah orderan jadi akan diantarkan kembali kepada pelanggan. Hal tersebut tentu sangat dekat dengan kita, terutama bagi para mahasiswa/karyawan yang tinggal indekos. Jasa cuci pakaian dilayani dengan begitu manjanya, pakaian kotor dijemput, setelah selesai dicuci, dikeringkan bahkan hingga diberi pewangi dan sudah setrika baru diantarkan kembali.

Masyarakat dan Peralihan
Jika dihadapkan pada peralihan semacam ini, pastilah di antara kita tidak sedikit yang menggunjingi atau bahkan berteriak selantang-lantangnya. Padahal, mau atau tidak mau, segalanya pasti akan berubah. Cepat atau lambat, kita akan hanya semakin disiksa jika kita tidak berupaya menatap dunia peralihan yang kian hari mengguyur diri dan kehidupan kita.
Tiada di antara kita yang kuasa menghentikan waktu. Bahkan jika kita berupaya untuk menolah perubahan, pastilah yang kita rasakan malah seakan waktu semakin kejam menenggelamkan diri kita dalam kubangan kecemasan yang panjang. Gerak waktu tak pernah mau berhenti, semakin dilawan, ia akan semakin cepat memutar jarumnya. Selanjutnya kita hanya akan merasa sangat berkesusahan. Kita menjadi sangat gelisah, jika ada hal-hal baru atau segala sesuatu yang mendahului kita.
Segala ini tentu menjadi persoalan yang tak pernah selesai. Jika diri kita masih merasa sebagai orang-orang yang terlalu mendewakan masa lalu yang begitu lazim dalam setiap gerak mengamini dan mengimani aktivitas berkehidupan. Kita tentu ingat, bagaimana pengisahan Gojek, kemudian dilanjutkan dengan kemunculan digitalisasi pelanggan taksi yang sama-sama berdalih mempermudah bahkan merajakan pelanggan. Semua dianggap sebagai pemberangusan kelaziman dan gerak konvensional kehidupan kita.
Lalu, kita akan merasa bahwa peralihan ini akan memojokkan bahkan bisa membunuh para pekerja konvensional yang telah berpuluh-puluh tahun dilakukan tukang ojek dan sopir-sopir taksi. Namun, apa daya kita, jika sesungguhnya diri kita sendiri, diri pelanggan mereka sendirilah terasa mengamini dan begitu membanggakan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan tersebut. Memang benar pula, ada kalanya kita tetap harus mendukung, perjuangan dan segala upaya yang dilakukan oleh pelaku konvensional, walaupun sudah semestinya, semuanya sama-sama memiliki pelanggan. Sama-sama memperoleh bagiannya masing-masing. Kita tentu yakin, tidak sedikit masyarakat kita yang belum menggunakan ponsel-ponsel pintar, tidak sedikit pula di antara orang-orang tua di sekitar kita yang masih merasa bertahun-tahun kesulitan beradaptasi dengan gadget di genggam tangannya.
Saya ingat, terkait pengisahan Scott Lash (1990), bahwasanya dalam beberapa dasawarsa sekitar pergantian abad menuju abad dua puluh, kehidupan kultural dalam kota-kota di dunia belahan Barat perlahan mulai berubah. Sifat dan arti perubahan pun menjadi salah satu pertanyaan yang ada dalam inti perdebatan sepanjang zaman, misalnya hingga saat ini mengenai modernitas dan modernisme. Tentu kita yakin, di belahan dunia mana pun megalami masa-masa peralihan yang serupa yang kita alami ini. Pelan-pelan, segalanya akan digiring menuju gerak digitalisasi yang membuat sebagian oang di sekitar kita merasa geram.
Semua seolah diharuskan menyelami dunia digital. Misal saja yang berkembang di segenap lembaga pemerintahan, perpajakan, lembaga pendidikan, dan lain sebagainya, semua diharuskan melaporkan hasil kerja, melaporkan proses hingga penilaian pembelajaran, dan semua harus direkam secara detail di laman yang sudah disediakan. Tentu segala ini bukanlah semacam gerakan subversif. Fenomena ini dapat kita yakini sebagai takdir dari zaman yang semakin bergerak, bergerak dan bahkan berlari. Mau tidak mau, cepat atau lambat, kita tetap akan menyinggahinya. Begitu.***


─Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Menerbitkan buku puisi pertama, “Perayaan Laut” (April 2016), dan menyiapkan buku puisi kedua “Manusia Alarm”.

Kamis, 24 Maret 2016

Urbanisme dan Riwayat Kampung (Wawasan, 23 Maret 2016)

Urbanisme dan Riwayat Kampung
Oleh Setia Naka Andrian

Ingatan saya membuka lebar menuju beberapa lagu-lagu terkait urbanisme, di antaranya Tunggu Aku di Jakarta (Sheila on 7), Sapa Suruh Datang Jakarta (Melky Goeslaw), serta Preman Urban (Slank), ketika menjadi salah satu saksi pemanggungan teater yang digelar Teater Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang, Rabu (16/3). Mereka menggarap lakon Ronggeng Keramat (RK) karya Eko Tunas yang disutradarai oleh Alfiyanto (Komunitas Panggung Semarang). Panggung teater diciptakan sedemikian rupa, bersikeras meyakinkan diri dan berupaya menyuarakan teater sebagai sebuah peristiwa. Mereka coba tunaikan tugas besar untuk menjaga peristiwa dengan memproduksi teater dari lakon yang meriwayatkan kampung serta kehidupan urban.
Jakarta dan kampung halaman menjadi dua sisi mata uang yang saling berseberangan. Jakarta menjadi kota impian untuk memanjangkan iman tentang upaya mengubah kehidupan menjadi lebih baik dalam tataran ekonomi. Sedangkan kampung, diriwayatkan sebagai tubuh yang masih alami, segala sesuatunya terasa manual, lambat dan jauh dari kemajuan-kemajuan, hingga ditakdirkan sebagai tempat yang serba sulit untuk memperoleh banyak uang (pekerjaan). Dalam cerita, dikisahkan Dukuh Keramat yang masih alami, penuh aroma bunga melati yang menjadi khas kampung dan dicita-citakan memberi kemakmuran. Namun ternyata segalanya tidak sesuai yang diimpikan,
Dalam lagu Sheila on 7, setidaknya melambungkan keyakinan Jakarya sebagai kota penancap mimpi. Penggalan syairnya, Tunggulah aku, di Jakarta mu. Tempat labuhan, semua mimpiku. Seperti halnya dalam lakon RK ini, Paijo dan Paimin, pada awal pertunjukan digambarkan sebagai warga kampung Dukuh Keramat yang hendak hijrah ke kota dengan mimpinya untuk memperoleh kemakmuran. Namun sebaliknya, ada penggambaran lain yang berkebalikan dengan Paimin dan Paijo. Terdapat dua tokoh, Raden Bos dan Katak. Keduanya merupakan kaum kota yang berkeinginan menguasai kampung.
Raden Bos, dalam kisahnya ditakdirkan sebagai orang yang sangat kaya raya, ia memiliki kekuasaan, dan Katak sebagai orang kepercayaannya. Mereka berdua berpikir bagaimana menciptakan surga buatan di kampung. Dengan dalih ‘negatif’ menyelamatkan kesenian kampung (ronggeng), mereka ciptakan tempat-tempat hiburan dan perempuan-perempuang ronggeng sebagi objek pemuas nafsu para pelanggan. Pada akhirnya, Raden Bos merasa telah memiliki segalanya, dari mulai harta, tahla, hingga akhirnya wanita menjadi titik akhir keruntuhannya. Raden Bos menyerahkan kekuasaan dan segala hartanya untuk orang kepercayaannya, Katak. Termasuk juga senjata, sebagai simbol kemenangan atas kekuasaan dalam pengisahan lakon. Akhirnya, saat Raden Bos sedang lengah dengan wanita-wanitanya (para ronggeng), ia mati ditangan Katak, ditembak dengan menggunakan senjata yang dimiliki Raden Bos sendiri.

Isu Urban dan Teater Modern
Isu-isu urbanisme, setidaknya menjadi garapan yang cukup menggairahkan bagi teater-teater modern (kontemporer) saat ini. Teater yang membentuk ingatan dan makna baru dalam setiap gagasan dalam garapan-garapannya mengenai takdir sebuah kota serta kekejaman-kekejamannya. Seperti pengisahan Radhar Panca Dahana (2001), teater modern menjadi teater yang berada di kota besar, menggunakan meode-metode kerja yang serupa yang serupa dengan teater di Barat, serta memiliki kebebasan fakultatif dalam proses kreatif maupun pemilihan idiom-idiomnya. Sebut saja, Teater Sae, Teater Koma, Teater Mandiri, Teater Garasi.
Barang tentu, proses penciptaan teater bagi para pembuat teater sangat berpengaruh gerak zaman yang selalu menjadi langkah dan pijakan manusia dalam menciptakan penanda kehidupan dan lingkungannya. Bahkan, persoalan kekalahan, kegagalan, kemuraman, menjadi dalih memperoleh keimanan kita dalam menyimak takdir panggung teater yang seolah-olah ‘sesungguhnya’. Seperti halnya kegagalan Paimin dan Paijo, setelah berjuang di Jakarta, ternyata segalanya sangat tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan dan mereka impikan sebelumnya. Jakarta menjadi tempat yang suram.
Dalam dialog, mereka mengeluhkan, “Di Jakarta, kita ini kayak coro-coro saja ya!” (Kayak coro-coro: seperti para kecoa). Itu bukti, bahka kota telah menelantarkan mereka. Hal ini seperti yang disuarakan Slank dalam lagunya Preman Urban yang mengisahkan teman dari desa yang berniat mengejar mimpi di Jakarta. Syairnya, temanku seorang pengembara, yang datang dari timur negeri ini. Mencoba mengadu nasib di Jakarta, karena di desa kelahirannya susah mengejar mimpi.
Melki Goeslaw pun seolah turut menyalahkan juga dalam lagunya, Sapa Suru Datang Jakarta. Berikut penggalan syairnya, Ado kasian yeng mama. Jauh-jauh merantau mancari hidup mama. Nasib tidak beruntung. Siang dan malam yeng mama. Jalan kesana kemari. Sanak saudara mama. Semua tidak peduli. Sapa suru datang Jakarta. Hingga pada akhir cerita, Paimin dan Paijo berkeinginan untuk pulang kampung, karena merasa kota tidak memberikan apa-apa, kota telah menelantarkan mereka. Setelah sampai di kampung Dukuh Keramat, mereka kaget, semua telah berubah. Tidak lagi mereka temukan aroma melati, yang dulu menjadi aroma khas Dukuh Keramat. Kampung tumbuh menjadi bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Kampung tak lagi mampu mengisahkan dirinya sebagai ruang gerak berkemanusiaan yang selalu dirindukan.***


─Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Menerbitkan buku puisi pertama, “Perayaan Laut” (April 2016), dan menyiapkan buku puisi kedua “Manusia Alarm”.

Rabu, 02 Maret 2016

Nasib ‘Tayangan Jalanan’ pada Era Petisi Cyber (Wawasan, 2 Maret 2016)

Nasib ‘Tayangan Jalanan’ pada Era Petisi Cyber
Oleh Setia Naka Andrian

Pada era cyber seperti yang bergulir hingga detik ini, barang tentu segalanya dapat menyebar dengan begitu cepat. Apa pun itu, terlepas dari sisi baik dan buruknya, tentu kita sebagai ‘umat digital’ yang cerdas harus menyikapi semulia mungkin. Seperti halnya beberapa hari ini, saya mendapat kiriman surat elektronik (electronic mail) dari Change.org Indonesia, dari webnya sendiri, menulis dan sekaligus menobatkan ‘dirinya’ sebagai platform petisi terbesar di dunia, memberdayakan orang di mana pun untuk menciptakan perubahan yang ingin mereka lihat.
Petisi, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaksudkan sebagai surat permohonan resmi kepada pemerintah. Saat ini sedikit bergeser, surat dimaksudkan tidak harus yang tertulis di dalam kertas saja, dan hanya satu atau segelintir orang saja yang membubuhkan tanda tangan di bawahnya. Namun, pada era cyber saat ini, penanda tangan (pendukung) petisi sangatlah banyak, bahkan mencapai jutaan. Tidak tanggung-tanggung pula, melalui Change.org telah berhasil mencatat keberhasilan petisi yang dibuat.
Sungguh sangat besar respons masyarakat terhadap platform petisi yang diudarakan oleh Change.org. Dicatatnya, hingga saat ini sudah mencapai lebih dari 70 juta pengguna di 196 negara. Saya membuktikan sendiri, setiap hari ada saja kiriman-kiriman permohonan dukungan atas petisi dari Change.org. Jika kita sudah sekali saja memberikan dukungan, maka selanjutnya secara otomatis akan dikirimi penawaran-penawaran dukungan. Petisi yang dilayangkan sangat beragam, dari mulai ersoalan lokal hingga pada persoalan global. Misalnya terkait persoalan yang sedang memanas di media, hingga persoalan-persoalan yang sebenarnya dipandang sangat sederhana namun perlu diperhatikan dan menjadi isu publik.
Misalnya, ada perjuangan seorang ibu melawan bullying di sekolah putrinya, pelanggan/perusakan lingkungan, persoalan pengeboran Lapindo di Sidoarjo, dan lain sebagainya. Petisi-petisis dengan sangat mudah dapat diluncurkan, dari mulai atas nama komunitas/lembaga tertentu hingga atas nama perorangan. Segalanya dapat dikampanyekan dengan cepat dan mudah.
Beberapa petisi yang sudah dilayangkan di antaranya, “Cabut Izin Pengeboran Baru Lapindo di Sidoarjo!” yang dibuat oleh Urban Poor Consortium Jakarta Selatan Indonesia dengan dukungan 25.064 (Februari 2016), selanjutnya ada pula petisi “Kapolri, Kapolda Metro Jaya; Copot Kapolres Jakpus yang dukung sweeping FPI!” yang dibuat oleh Damar Juniarto, warga Jakarta, dengan pendukung 37.256 orang (Januari 2016). Ada pula yang ditujukan kepada Presiden Jokowi, dengan petisi “Presiden @Jokowi, @Portal_Kemlu_RI; Tolak Donald Trump dan Bisnisnya Masuk Indonesia” dengan pendukung 45.393 orang.
Banyak yang dinyatakan petisi yang diluncurkan berhasil. Setelah para pendukung melalui surel/e-mail (surat elektronik) memberikan dukungan, pendukung akan diberi balasan secara otomatis dan jika petisi tersebut berhasil, maka akan diberitahukan pula kegembiraan kabar keberhasilan tersebut. Tak jarang pula dari para petinggi negara, bahkan hingga presiden yang menanggapi petisi dengan baik, serta mendukung atau mengabukan permintaan dari petisi yang dilayangkan memalui Change.org tersebut.

Saatnya Petisi Cyber Perangi ‘Tayangan Jalanan’
Pada minggu ini, baru saja saya mendapat kiriman permohonan dukungan terkait petisi yang dibuat oleh Generasi Pemuda Peduli Indonesia untuk Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, “@KPI-Pusat, @OfficialRCTI, Hentikan Tayangan Anak Jalanan!” KPI, sebuah lembaga independen di Indonesia  yang memiliki tugas sangat mulia sebagai alat pengatur (regulator) segala penyelenggaraan penyiaran di Indonesia, termasuk yang ditayangkan di televisi.
Memang benar, fakta membuktikan, bahkan riset kecil-kecilan saya kepada beberapa tetangga yang kebanyakan ABG, 98% sangat menggilai tayangan sinetron “Anak Jalanan”. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah terpengaruh secara penampilan, gaya, bahkan beberapa aktivitas kecil lain yang sangat dekat dan hanya digeser saja dari layar televisi menuju kenyataan hidup mereka.
Barang tentu benar jika petisi tersebut dibuat. Sinetron “Anak Jalanan” yang tayang mulai Oktober 2015 tersebut sepertinya sangat tidak cocok untuk masyarakat kita. Khususnya bagi anak muda kita, generasi penerus bangsa ini. bangsa ini sudah terpuruk, banyak persoalan yang menjangkiti para politisi, para petinggi negara ini. Maka jangan sampai anak-anak muda generasi bangsa kita juga turut dilukai akibat tayangan-tayangan televisi yang kurang mendidik. Walaupun tetap saja segalanya diserahkan pada masing-masing pribadi anak muda kita tersebut. Namun setidaknya, KPI sudah seharusnya menjalankan tugas yang seharusnya dijalankan. Benar-benar menjadi komisi yang ‘bertaring’ untuk menentukan tayangan mana yang layak dan mana yang tidak layak.
Kita tentunya akan sangat prihatin melihat dampak besar televisi bagi masyarakat kita. Tidak seharusnya pula ukuran money oriented saja yang dikejar. Ibaratnya, catatan keberhasilan yang dilakukan seseorang pastilah tidak melulu harus dihitung berdasarkan seberapa uang yang didapatkan, atau seberapa kekayaan yang dicapai. Tentunya, keberhasilan juga dapat diukur berdasarkan seberapa posisi ketercapaian moral dan spiritual seseorang dalam berkehiduan. Sudah cukup KPI membuka kran lebar terhadap segala yang kurang cocok untuk bangsa kita yang cenderung/mayoritas berbudaya timur ini. Sudah cukup hedonisme begitu diguyurkan di acara-acara televisi kita. Sudah tidak jarang lagi tayangan-tayangan televisi memberi dampak buruk serta menjadi contoh yang tidak baik bagi generasi muda kita.
Seperti halnya kekerasan yang dicontoh dari televisi, hubungan di luar batas kenormalan dalam adat dan budaya kita yang ditiru dari televisi, lalu masih banyak lagi contoh lain yang saya rasa sudah sangat akrab dengan diri kita, yang sudah tidak sebentar menjadi saksi tayangan televisi kita. Tentu, kita semua sangat berharap, KPI harus tegas dalam memberi restu terhadap tayangan-tayangan di televisi. Jangan sampai terus-terusan sajian di televisi menjadi contoh buruk dan menimbulkan efek negatif bagi generasi muda yang menontonnya.
Mari kita beri dukungan petisi yang diluncurkan Change.org baru-baru ini. Kita beri dukungan Generasi Pemuda Peduli Indonesia menggedor KPI. Sudah saatnya kita semua menjadi generasi ‘cerdas’ dan menyikapi aktivitas positif dalam menjadi penganut ‘era cyber’. Semoga kita mampu menyadarkan KPI agar menyingkirkan tayangan-tayangan semacam “Anak Jalanan” tersebut. Tentunya masih banyak pula ‘tayangan jalanan’ lain yang dirasa sangat mengganggu kesehatan pembangunan tubuh generasi penerus bangsa kita. Kita tunggu kemuliaan KPI.***


─Setia Naka Andrian, Dosen FPBS Universitas PGRI Semarang. Tahun ini akan menerbitan dua buku puisinya, “Perayaan Laut” dan “Manusia Alarm”. Salah satunya akan diluncurkan bulan April, bertepatan dengan ritual mengakhiri masa lajangnya.

Selasa, 23 Februari 2016

Bioskop Sesuai Kategori Umur (Wawasan, 23 Februari 2016)

Bioskop Sesuai Kategori Umur
Oleh Setia Naka Andrian

Saya ingat, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), kali pertama saya mulai menonton bioskop. Saat itu saya sangat penasaran dengan gedung bioskop yang ‘katanya’ menampilkan film-film yang bagus, terbaru dan tentu saya bayangkan sebagai tontonan yang begitu mutakhir. Awal perjumpaan saya tersebut bermula ketika boomming film Ada Apa Dengan Cinta (2002) yang ditulis Jujur Prananto, Prima Rusdi dan Rako Prijanto. Film cinta yang begitu romantis pada masa itu di kalangan remaja dengan sutradara Rudy Soejarwo itu menandai awal perjumpaan saya mengenal bioskop.
Meskipun awalnya saya menyaksikan film itu tidak di bioskop, melainkan melalui tayangan yang saya putar melalui VCD bajakan yang saya ambil diam-diam dari kakak saya. Video dengan gambar seadanya tersebut saya nikmati diam-diam ketika rumah sepi. Lalu karena saya penasaran dan cukup keasyikan dengan film romantis tersebut, maka saya bersama teman, tetangga yang sudah kuliah, mengajak menonton bioskop di Semarang. Mengingat saat itu saya belum berani pergi sendirian dari Kendal ke Kota Lunpia tersebut, dan pasti tidak mendapat izin dari orangtua jika akan pulang cukup malam.
Beberapa tahun kemudian, perjumpaan kedua dengan film kisah cinta yang begitu kocak, 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang ditulis dan disutradarai Upi Avianto. Kedua film tersebut menjadi sebuah penanda personal bagi saya, setidaknya juga bagi anak seusia saya pada masa itu. Itu beberapa di antara film-film remaja yang bermunculan dan terekam begitu kuat dalam ingatan saya, bahkan masih saja terngiang hingga saat ini.

Film Konsumsi Remaja Masa Kini
Kedua film pada masa saya di atas, tentu belum seberapa dengan film-film yang dikonsumsi remaja yang bermunculan saat-saat ini. Masih pada batas-batas kewajaran. Namun, kita ketahui bersama, beberapa film konsumsi remaja masa kini yang tidak mendidik bermunculan begitu saja. Seperti digelontorkan begitu deras tanpa penyaringan. Kita simak saja, film-film horor yang sangat digemari anak muda zaman sekarang dengan bumbu-bumbu panas. Entah dari mulai arwah suster-suster yang gemar keramas, ngesot, hingga segenap film-film bernada kisah anak muda dengan balutan gaya hidup hedonisme serta tampilan tubuh-tubuh perempuan seksinya.
Bahkan, fenomena semacam tersebut, pada era digital saat ini, siapa saja begitu mudah menikmati film-film dari youtube selepas ditayangkan di bioskop. Siapa saja dapat mengkonsumsinya. Walaupun jika kita ketahui, saat ini alamat website tertentu harus disesuaikan dengan umur, dan itu hanya pada umur yang dicantumkan dalam akun surat elektronik (e-mail). Tentu masih bisa dilewati dengan mudah oleh anak-anak yang belum cukup umur. Tinggal buat saja akun dengan usia yang dituakan. Beres, dan selanjutnya bisa berselancar dengan mudah menikmati unggahan-unggahan video yang belum selayaknya ditonton.
Lebih-lebih saat ini bioskop sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Ibaratnya, kalau tidak pernah nonton bioskop maka akan menyandang olokan “katrok!” Maka sudah pasti, siapa saja akan berupaya untuk mengejar agar tidak disemprot dengan ejekan tersebut. Sangat disayangkan lagi, beberapa hari yang lalu, 12 Februari. Beredar petisi “@cinema21, @CGVblitz, @cinemaxxtheater, Jual Tiket Bioskop kepada Penonton Sesuai dengan Kategori Umur!” yang dilayangkan di Change.org Indonesia oleh Fellma Panjaitan, warga Jakarta.
Fellma dengan petisinya tersebut muncul akibat kegelisahannya ketika beberapa kali melihat anak-anak menonton film-film yang belum saatnya ditonton. Barang tentu kita juga tidak jarang melihat semacam yang disaksikan Fellma tersebut. tidak sedikit film yang bergelimah bumbu sex bebas (free sex), bahasa kotor (foul language), kekerasan (violence), dan narkoba (drugs).
Mengingat segala itu sangat penting, tentu selanjutnya pihak-pihak yang terlibat dalam penyeberan film-film dalam bioskop, termasuk 21, XXI, Blitz atau Cinemaxx, harus mau mengambil langkah mulia demi keselamatan generasi penerus bangsa ini. Harus dipertegas tayangan dengan kategori Rated G (Semua Umur),  Rated PG (Bimbingan Orang Tua), Rated PG-13 (Bimbingan Orang Tua untuk Anak Dibawah 13 tahun), dan Rated R (Restricted/terbatas).
Memang saatnya itu semua digalakkan. Jangan sampai pula orang-orang tua mengajak anak-anak yang belum seharusnya menonton tayangan yang diputar di bioskop. Agar tidak lagi kita dengar berita-berita kriminal yang dilakukan oleh anak di bawah umur, agar tidak ada lagi anak di bawah umur memperkosa karena nonton porno. Ini semua terjadi di negeri kita tercinta ini. Kalau perlu, untuk mendeteksi para penonton bioskop, sepertinya mereka perlu menunjukkan tanda pengenal, termasuk KTP/SIM. Ini yang bermunculan di bioskop, lalu bagaimana dengan yang beredar luas di televisi? Sungguh, semua ini perlu ketegasan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Semoga.***


─Setia Naka Andrian, Dosen FPBS Universitas PGRI Semarang. Tahun ini akan menerbitan dua buku puisinya, “Perayaan Laut” dan “Manusia Alarm”. Salah satunya akan diluncurkan bulan April, bertepatan dengan ritual mengakhiri masa lajangnya.