Rabu, 02 Maret 2016

Nasib ‘Tayangan Jalanan’ pada Era Petisi Cyber (Wawasan, 2 Maret 2016)

Nasib ‘Tayangan Jalanan’ pada Era Petisi Cyber
Oleh Setia Naka Andrian

Pada era cyber seperti yang bergulir hingga detik ini, barang tentu segalanya dapat menyebar dengan begitu cepat. Apa pun itu, terlepas dari sisi baik dan buruknya, tentu kita sebagai ‘umat digital’ yang cerdas harus menyikapi semulia mungkin. Seperti halnya beberapa hari ini, saya mendapat kiriman surat elektronik (electronic mail) dari Change.org Indonesia, dari webnya sendiri, menulis dan sekaligus menobatkan ‘dirinya’ sebagai platform petisi terbesar di dunia, memberdayakan orang di mana pun untuk menciptakan perubahan yang ingin mereka lihat.
Petisi, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaksudkan sebagai surat permohonan resmi kepada pemerintah. Saat ini sedikit bergeser, surat dimaksudkan tidak harus yang tertulis di dalam kertas saja, dan hanya satu atau segelintir orang saja yang membubuhkan tanda tangan di bawahnya. Namun, pada era cyber saat ini, penanda tangan (pendukung) petisi sangatlah banyak, bahkan mencapai jutaan. Tidak tanggung-tanggung pula, melalui Change.org telah berhasil mencatat keberhasilan petisi yang dibuat.
Sungguh sangat besar respons masyarakat terhadap platform petisi yang diudarakan oleh Change.org. Dicatatnya, hingga saat ini sudah mencapai lebih dari 70 juta pengguna di 196 negara. Saya membuktikan sendiri, setiap hari ada saja kiriman-kiriman permohonan dukungan atas petisi dari Change.org. Jika kita sudah sekali saja memberikan dukungan, maka selanjutnya secara otomatis akan dikirimi penawaran-penawaran dukungan. Petisi yang dilayangkan sangat beragam, dari mulai ersoalan lokal hingga pada persoalan global. Misalnya terkait persoalan yang sedang memanas di media, hingga persoalan-persoalan yang sebenarnya dipandang sangat sederhana namun perlu diperhatikan dan menjadi isu publik.
Misalnya, ada perjuangan seorang ibu melawan bullying di sekolah putrinya, pelanggan/perusakan lingkungan, persoalan pengeboran Lapindo di Sidoarjo, dan lain sebagainya. Petisi-petisis dengan sangat mudah dapat diluncurkan, dari mulai atas nama komunitas/lembaga tertentu hingga atas nama perorangan. Segalanya dapat dikampanyekan dengan cepat dan mudah.
Beberapa petisi yang sudah dilayangkan di antaranya, “Cabut Izin Pengeboran Baru Lapindo di Sidoarjo!” yang dibuat oleh Urban Poor Consortium Jakarta Selatan Indonesia dengan dukungan 25.064 (Februari 2016), selanjutnya ada pula petisi “Kapolri, Kapolda Metro Jaya; Copot Kapolres Jakpus yang dukung sweeping FPI!” yang dibuat oleh Damar Juniarto, warga Jakarta, dengan pendukung 37.256 orang (Januari 2016). Ada pula yang ditujukan kepada Presiden Jokowi, dengan petisi “Presiden @Jokowi, @Portal_Kemlu_RI; Tolak Donald Trump dan Bisnisnya Masuk Indonesia” dengan pendukung 45.393 orang.
Banyak yang dinyatakan petisi yang diluncurkan berhasil. Setelah para pendukung melalui surel/e-mail (surat elektronik) memberikan dukungan, pendukung akan diberi balasan secara otomatis dan jika petisi tersebut berhasil, maka akan diberitahukan pula kegembiraan kabar keberhasilan tersebut. Tak jarang pula dari para petinggi negara, bahkan hingga presiden yang menanggapi petisi dengan baik, serta mendukung atau mengabukan permintaan dari petisi yang dilayangkan memalui Change.org tersebut.

Saatnya Petisi Cyber Perangi ‘Tayangan Jalanan’
Pada minggu ini, baru saja saya mendapat kiriman permohonan dukungan terkait petisi yang dibuat oleh Generasi Pemuda Peduli Indonesia untuk Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, “@KPI-Pusat, @OfficialRCTI, Hentikan Tayangan Anak Jalanan!” KPI, sebuah lembaga independen di Indonesia  yang memiliki tugas sangat mulia sebagai alat pengatur (regulator) segala penyelenggaraan penyiaran di Indonesia, termasuk yang ditayangkan di televisi.
Memang benar, fakta membuktikan, bahkan riset kecil-kecilan saya kepada beberapa tetangga yang kebanyakan ABG, 98% sangat menggilai tayangan sinetron “Anak Jalanan”. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah terpengaruh secara penampilan, gaya, bahkan beberapa aktivitas kecil lain yang sangat dekat dan hanya digeser saja dari layar televisi menuju kenyataan hidup mereka.
Barang tentu benar jika petisi tersebut dibuat. Sinetron “Anak Jalanan” yang tayang mulai Oktober 2015 tersebut sepertinya sangat tidak cocok untuk masyarakat kita. Khususnya bagi anak muda kita, generasi penerus bangsa ini. bangsa ini sudah terpuruk, banyak persoalan yang menjangkiti para politisi, para petinggi negara ini. Maka jangan sampai anak-anak muda generasi bangsa kita juga turut dilukai akibat tayangan-tayangan televisi yang kurang mendidik. Walaupun tetap saja segalanya diserahkan pada masing-masing pribadi anak muda kita tersebut. Namun setidaknya, KPI sudah seharusnya menjalankan tugas yang seharusnya dijalankan. Benar-benar menjadi komisi yang ‘bertaring’ untuk menentukan tayangan mana yang layak dan mana yang tidak layak.
Kita tentunya akan sangat prihatin melihat dampak besar televisi bagi masyarakat kita. Tidak seharusnya pula ukuran money oriented saja yang dikejar. Ibaratnya, catatan keberhasilan yang dilakukan seseorang pastilah tidak melulu harus dihitung berdasarkan seberapa uang yang didapatkan, atau seberapa kekayaan yang dicapai. Tentunya, keberhasilan juga dapat diukur berdasarkan seberapa posisi ketercapaian moral dan spiritual seseorang dalam berkehiduan. Sudah cukup KPI membuka kran lebar terhadap segala yang kurang cocok untuk bangsa kita yang cenderung/mayoritas berbudaya timur ini. Sudah cukup hedonisme begitu diguyurkan di acara-acara televisi kita. Sudah tidak jarang lagi tayangan-tayangan televisi memberi dampak buruk serta menjadi contoh yang tidak baik bagi generasi muda kita.
Seperti halnya kekerasan yang dicontoh dari televisi, hubungan di luar batas kenormalan dalam adat dan budaya kita yang ditiru dari televisi, lalu masih banyak lagi contoh lain yang saya rasa sudah sangat akrab dengan diri kita, yang sudah tidak sebentar menjadi saksi tayangan televisi kita. Tentu, kita semua sangat berharap, KPI harus tegas dalam memberi restu terhadap tayangan-tayangan di televisi. Jangan sampai terus-terusan sajian di televisi menjadi contoh buruk dan menimbulkan efek negatif bagi generasi muda yang menontonnya.
Mari kita beri dukungan petisi yang diluncurkan Change.org baru-baru ini. Kita beri dukungan Generasi Pemuda Peduli Indonesia menggedor KPI. Sudah saatnya kita semua menjadi generasi ‘cerdas’ dan menyikapi aktivitas positif dalam menjadi penganut ‘era cyber’. Semoga kita mampu menyadarkan KPI agar menyingkirkan tayangan-tayangan semacam “Anak Jalanan” tersebut. Tentunya masih banyak pula ‘tayangan jalanan’ lain yang dirasa sangat mengganggu kesehatan pembangunan tubuh generasi penerus bangsa kita. Kita tunggu kemuliaan KPI.***


─Setia Naka Andrian, Dosen FPBS Universitas PGRI Semarang. Tahun ini akan menerbitan dua buku puisinya, “Perayaan Laut” dan “Manusia Alarm”. Salah satunya akan diluncurkan bulan April, bertepatan dengan ritual mengakhiri masa lajangnya.

Tidak ada komentar: