Selasa, 09 Februari 2016

Maskulinitas Ibu dan Kemuliaan Kecil di Sekitarnya (Rakyat Jateng, 9 Februari 2016)

Maskulinitas Ibu dan Kemuliaan Kecil di Sekitarnya
Oleh Setia Naka Andrian

Judul Buku                : Setengah Abad
Penulis                       : Dra. Asrofah, M.Pd.
Penerbit                      : FPBS Universitas PGRI Semarang
Cetakan                      : I, Februari 2016
Tebal                          : viii + 86 halaman






Pagi itu, saya dipanggil Ibu Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPGRIS. Bu Asrofah memberikan satu bundel kumpulan puisi. Saya diminta untuk memberi ulasan kecil untuk puisi-puisinya. Ada sejumlah 61 judul puisi yang termaktub dalam dummy buku puisi bertajuk “Setengah Abad”, yang dalam waktu dekat ini akan dibukukan untuk menyambut genap usia setengah abad beliau. Selanjutnya, angin segar melingkar di benak hingga segenap tubuh saya.
Mata saya berbinar, ternyata puisi masih memiliki ruang cukup besar bagi seorang pimpinan sesibuk dekan yang setiap hari harus mengajar dan mengatur segala aktivitas akademik di kampus tempat saya bekerja ini. Batin saya, sungguh, ini wilayah mulia, puisi menjadi bagian kecil yang memiliki peran besar dalam wilayah kehidupan seseorang. Lebih-lebih, puisi kali ini ditulis oleh seorang ibu yang tentu sangat besar pula peran dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Belum lagi, jika selepas tanggung jawab kepada keluarga, ada tugas lain, yakni berkarier dalam tempat kerja tertentu. Lalu di mana wilayah yang diduduki puisi? Seperti apa kekuatan dan peran puisi dalam diri seseorang tersebut?

Puisi sebagai Spasi Hidup
Barang tentu, puisi dalam diri seseorang, diyakini lahir dari segala aktivitas kehidupan agama, kehidupan sosial, dan kehidupan individual. Segala itu direkam dan dicatat pelan oleh Bu Asrofah hingga usia setengah abad ini, usia yang sudah tidak diragukan lagi dalam ikhtiarnya untuk memenuhi kebermaknaan cinta manusia, cinta dunia, dan kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Segalanya.
Dalam buku kumpulan puisi tersebut, puisi mengambil wilayah yang cukup mendalam, lebih-lebih bagi seorang penyair perempuan. Seperti yang dialami pula oleh sederet penyair perempuan lainnya semacam Hanna Fransisca yang juga berkarier sebagai pengelola bisnis di bidang otomotif. Kemudian ada pula Rieke Diah Pitaloka Intan Purnamasari, selain berpuisi, ia juga berkarier sebagai politikus dan pemain sinetron.
Selanjutnya, ada pula penyair perempuan ‘ibu rumah tangga’ yang baru-baru ini memenangkan sebagai juara ketiga dalam ajang bergengsi Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Penyair tersebut bernama Cyntha Hariadi, dalam manuskrip buku puisinya yang berjudul “Ibu Mendulang, Anak Berlari: Kumpulan Puisi Pendek di Atas Celemek”.
Saya melihat pelan, aktivitas kreatif yang dilakukan Bu Asrofah hampir memiliki nasib segaris dengan yang dilakukan oleh beberapa deretan nama-nama penyair perempuan yang saya sebutkan tadi. Dari mulai wilayah ibu rumah tangga, pekerjaan, hingga karier yang sama-sama ditekuni ‘ibu-ibu maskulin’ tersebut. Semuanya dilakukan dengan penuh kemuliaan, dan segalanya bermuara pada puisi. Dalam posisi ini, puisi mengambil wilayah yang cukup besar sebagai penggerak wilayah-wilayah lainnya.
Saya sendiri sangat yakin, bagaimana puisi menciptakan tenaga lain dalam kehidupan seseorang. Jika secara sederhana gelimang kehidupan dan segala aktivitas berkehidupan di dunia ini adalah sederet kalimat yang sangat panjang serta membuat napas kita megap-megap, maka tugas puisi adalah sebagai spasi. Seperti halnya saya ingat sepenggal puisi cinta sederhana yang sempat saya tuliskan, “Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik.”

Puisi, Ibu, dan Kehidupan Domestik
Dalam buku kumpulan puisi ini, Bu Asrofah berupaya menyampaikan sepenuh kesederhanaan dan kelegaan berkata-kata. Upaya-upaya tersebut timbul akibat posisi strategis yang dialami dalam kesehariaanya. Saya sangat yakin, betapa seorang ibu akan lebih mendalam merespon, mengendapkan dan menyublimkan segala hal yang menampari dirinya.
Misalnya beberapa alasan yang disampaikan juri sayembara manuskrip buku puisi DKJ 2015 (Oka Rusmini, Joko Pinurbo, dan Mikael Johani), sehingga memilih puisi-puisi Cyntha Hariadi, sang ibu rumah tangga sebagai pemenang ketiga, “Puisi dengan bahasa yang simpel, berhasil memotret kekompleksan kehidupan domestik bagi seorang ibu di Indonesia. Puisi-puisi yang bercerita tentang tetek-bengek urusan rumah secara literal, sekaligus rumah sebagai metafora tubuh dan jiwa seorang ibu yang dikacaubalaukan oleh pengalaman melahirkan dan membesarkan anak.
Segala itu sangat nampak, dan begitu tegas dipaparkan Bu Asrofah dalam sebagian besar puisi-puisinya. Di antaranya pada puisi berjudul “Hari Ibu di Tenda Mina”, /”Ibu... selamat hari ibu ya”/ “Ibu sehat aja to?”/ “Ibu kalau antri makan bawa roti ya....”/ “Adik sehat kok, Bu.”/ “Salam untuk Bapak ya, Bu....”// Melalui SMSmu terhapus rasa rindu/ Terima kasih Via anakku/ Kau ingat itu/ Inilah hadiah terindah bagi seorang ibu// Anak yang saleh/ Doakan ibu ya, Nak/ Besok masih satu kali lontar jamawat wustho dan ula//.
Dari puisi tersebut nampak agung hubungan ibu dan anak-anaknya. Dalam kondisi apa pun, saat anak-anaknya berjauhan dengan kedua orangtua, maka ibu tetap menjadi posisi paling utama. Ibu menjadi pilihan pertama sebelum bapaknya. Seorang anak pasti akan lebih memilih meletakkan kepala di pangkuan ibunya terlebih dahulu sebelum tiba di pelukan bapaknya. Misalnya saya ingat lagi puisi Andy Sri Wahyudi (2012), yang sama-sama menyoal “Hari Ibu”, / Aku tak cukup laki-laki untuk menjadi ibu/.
Dalam diri Bu Asrofah, saya sangat yakin, walaupun puisi menjadi ‘spasi’ dalam kehidupannya, namun puisi memiliki wilayah utama dalam hal posisi ‘curhat’ berkemanusiaan dan bertuhannya. Puisi menjadi upaya kecil ketika segala hal tak mungkin disampaikan begitu saja. Puisi menjadi muara kecil ketika banyak ‘tembok’ yang tak begitu bersahabat dan menjadi sangat transparan menyebarkan apa saja. Misalnya pada era berkicau dalam media sosial yang sangat populer saat ini.
Puisi menjadi mahluk hidup tersendiri dalam diri penyairnya. Misalnya saja dalam puisinya berjudul, “Di Dalam Laptop” berikut, /Kupegang dalam kegamangan/ Kubuka dengan kecewa/ Kusentuh tanpa ekspresi/ Kupandangi tiada henti/ File itu sudah tidak terbaca lagi// Tersimpan dalam ketidakpastian/ Terbungkus di atas arogansi yang tiada pernah dimengerti// Sekian waktu/ Kucari/ Kumengerti/ Kutulis/ Dan terhapus di tengah perjalanan yang menantang// Semangatku hilang bersama aturan semu//.
Puisi setidaknya menjadi upaya kecil dalam pengobat jiwa serta penyakit-penyakit lainnya. Bahkan, dapat menjadi ‘penggedor iman’ dan ‘nyawa’ tersendiri dalam diri seseorang yang beraktivitas lebih luas serta berhubungan dengan khalayak. Misalnya saja yang dilakukan di kampus tempat saya bekerja, setiap hari senin, sebelum melakukan aktivitas pekerjaan, dilakukan pembacaan puisi dan doa. Awalnya saya tidak sengaja melihat aktivitas mulia tersebut. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.30, saya berniat mengambil beberapa koran langganan saya di salah satu ruang. Tenyata ada lingkaran besar yang berisi pejabat-pejabat kampus, dosen, dan karyawan.
Lalu sontak saya langsung ikut melingkar. Puisi dibacakan, puisi menjadi penyeru kebaikan, penyemangat, dan pengobat bagi jiwa-jiwa yang disentuhnya. Hingga berikutnya puisi diakhiri, dan berlanjut pada muara doa-doa. Memang sangat benar, jika posisi puisi sangat tepat bersanding dengan doa. Puisi berada tepat di bawah doa. Puisi menjadi bagian kecil dari doa. Semoga.***


─Setia Naka Andrian, penyair kelahiran Kendal, dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Tahun ini sedang menyiapkan penerbitan dua buku puisinya, “Perayaan Laut” dan “Manusia Alarm”.

Tidak ada komentar: